K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Penanganan Cedera untuk Bakat Kelas Satu

October 17, 2014

 

Menyimak presentasi Marcel de Geus, Kepala Fisioterapis Feyenoord Academy serta menyaksikan timnya bekerja membuktikan bahwa pemain adalah harta terbesar yang harus dipelihara.

 

 

Sepakbola adalah olahraga kontak tubuh. Dimana di dalam permainan senantiasa terjadi sentuhan, duel dan benturan. Sepakbola juga bukan tinju yang mengenal kelas berat badan. Dalam pertandingan, terdapat 22 pemain yang memiliki karakter postur tubuh dan kemampuan fisik beragam. Tinggi-pendek, cepat-lambat, kuat-lemah, lincah-kaku semuanya saling berpadu dengan proporsi berbeda yang dimiliki pemain. Kondisi inilah yang membuat sepakbola menjadi olahraga dengan resiko cedera.

 

 

Perjalanan talenta muda menuju sepakbola top profesional membutuhkan waktu lama dan proses berliku. Untuk dapat mengantarkan pemain ke level tersebut, pemain harus bebas dari cedera. Terlalu banyak contoh sudah pemain berhenti sebelum sampai ke puncak karier akibat cedera. Di Feyenoord Academy, pemain adalah harta terbesar. Departemen Fisioterapi Feyenoord Academy berkomitmen menjaga harta ini dengan memberikan pencegahan dan penangan cedera kelas satu.

 

 

Penanganan cedera kelas satu ini diwujudkan dengan suatu visi memberikan penanganan cedera agar pemain dapat kembali ke kebugaran puncak secepat mungkin secara bertanggung jawab. Arti dari bertanggung jawab adalah bukan asal cepat, tetapi menjalani proses yang sesuai dengan kemampuan pemain. Di samping itu tanggung jawab juga berarti penanganan cedera tanpa drugs, anti inflamasi dan taping.

 

 

Banyak Pertimbangan

Marcel de Geus, merupakan fisioterapis berpengalaman. Telah berada di klub Rotterdam ini sejak 2003 saat menjadi fisioterapis Feyenoord 1st Team. Tahun 2008, ia dipercaya menjadi Kepala Fisioterapis Feyenoord Academy. Dalam menjalani pekerjaannya, ia dibantu oleh 8 orang fisioterapis paruh waktu. Ini memungkinkan setiap hari terdapat minimal 2-3 fisioterapis yang stand by di lokasi latihan. Mereka melakukan program latihan pencegahan cedera, latihan rehabilitasi cedera dan perawatan cedera.

 

 

Pekerjaan utama mereka di awal musim adalah melakukan serangkaian tes. Berbagai tes ini dilaksanakan untuk dapat mendeteksi cedera sedini mungkin. Di samping itu tes juga akan memberi info tentang kelebihan dan kelemahan otot-otot dari tiap pemain. Dari situlah kemudian, fisioterapis bersama pelatih dan spesialis merancang program individu pencegahan cedera. Dengan cara melakukan latihan pada otot spesifik yang lemah.

 

 

Tes yang dilakukan meliputi banyak hal. Pertama, pemain akan mengisi kuesioner POMS (Profile of Mood Statement). Dari kuesioner tersebut dapat digali informasi tentang keluhan pemain saat melakukan aksi-aksi sepakbola tertentu. Kedua, dilakukan serangkaian tes seperti: FMS (Functional Movement Screen), Performance Stability, Optojump, Sprinting 0-30m dan tentunya Interval Shuttle Run (Blip Test). Menariknya Blip Test yang dilakukan adalah dengan metode Sub-Maksimal. Yakni semua pemain akan berhenti di level 10 atau 12 (tergantung kelompok usia), kemudian dihitung denyut nadinya dari Inmotio System. “Kami tidak tertarik dengan angka VO2Max, perkembangan dari waktu ke waktu lebih penting,” ujar De Geus.

 

 

Ketiga, observasi pelatih dalam eksekusi aksi sepakbola. Pelatih yang setiap saat bersama dengan pemain akan selalu menemukan informasi baru yang sangat spesifik. Sebab, pelatih melihat pemain melakukan aksi sepakbola. Biasanya dari observasi pelatih kemudian ditemukan problem spesifik berupa disfungsi gerak atau kelainan dalam mobilitas. Misal pernah ditemukan seorang kiper tidak dapat menaikkan dahinya saat kedua tangannya naik ke atas menggapai bola udara.

 

 

Kuesioner, tes dan observasi juga masih dipadu dengan pertimbangan lain. Banyak situasi yang secara alami akan berpotensi membuat resiko cedera menjadi tinggi. Hal yang sering terjadi adalah pubertas. Dalam masa pertumbuhan cepat (0,8 cm per bulan), pemain akan mengalami penurunan koordinasi gerak. Di sinilah cedera sering terjadi. Itu sebabnya Feyenoord Academy selalu mengurangi frekuensi latihan pada saat pemain menjalani fase pubertas ini.

 

 

Hal lain yang perlu dimasukkan dalam pertimbangan adalah kepadatan kegiatan. Biasa ini dialami oleh pemain yang mengikuti Timnas Junior. Biasanya sepulang dari Timnas, Feyenoord Academy akan memberikan libur. Problem psikologis seperti ujian sekolah, keluarga, pergaulan juga berpotensi menimbulkan cedera. “Saat pikiran pemain tidak sepenuhnya pada sepakbola, disitu koordinasi gerak akan menurun dan resiko cedera besar,” tutur De Geus menasehati.

 

 

Rehabilitasi Berkarakter Sepakbola

Mekanisme kerja De Geus dkk berlangsung saat terjadinya cedera saat latihan atau pertandingan. Langkah awal yang dilakukan biasa berupa pertolongan pertama seperti kompres es misalnya. Feyenoord Academy termasuk konservatif dalam merespon cedera. Kebanyakan pemain yang terkena cedera, langsung dilarang berlatih dengan tim. Seluruh kejadian cedera sekecil apapun dicatat pada papan informasi di Ruang Fisioterapis.

 

 

 

 

Pada rapat Senin pagi seluruh kejadian cedera di minggu sebelumnya dilaporkan dan dibahas. Di rapat inilah kemudian ditentukan program untuk seminggu ke depan dalam rangka rehabilitasi cedera. Kemudian pembahasan pemain cedera ini kembali dilakukan pada rapat hari Jumat. Dimana di rapat ini ditentukan jumlah menit bermain untuk Game hari Sabtu bagi pemain yang baru sembuh dari cedera.

 

 

Khusus untuk program Injury Prevention pada individu yang membutuhkan, fisioterapis melakukannya mulai pada Tim O13 ke atas. Biasanya mereka berkolaborasi dengan program CORE Stability dari Ruud Wiellart yang dilakukan hari Kamis sebelum Game 11 vs 11. Selain itu bila diperlukan, fisioterapis juga dapat menambahnya di hari latihan lain sebelum sesi lapangan.  Tentunya latihan Injury Prevention yang diberikan akan berbeda pada tiap individu. Tergantung pada kelemahan otot spesifiknya.

 

 

Bagi pemain cedera yang harus lakukan program rehabilitasi, akan dibuatkan program mingguan dengan Periodisasi Rehabilitasi. Feyenoord Academy menolak keras rehabilitasi dengan continous method (kecepatan statis dalam waktu lama). Alasannya, sepakbola adalah olahraga interval, dimana di dalamnya terdapat aksi eksplosif yang diikuti recovery sebelum melakukan aksi eksplosif lagi.

 

Atas dasar itu, latihan rehabilitasi cedera pemain sepakbola juga harus berbasis latihan interval. De Geus menjelaskan dengan pendekatan tradisional, pemain pasca operasi lutut katakanlah selalu harus memulai latihan dengan continous method. Alasannya lutut pemain tersebut hanya sanggup katakanlah hipotesa berlari di treadmil 10mph secara konstan. Serta tidak mungkin pemain dapat menaik-turunkan kecepatan antara 10mph dan 12mph secara interval.

 

 

Ia justru secara cerdas membantah hipotesa kaum tradisionalis dengan mengajukan hipotesa baru. Ketika pemain belum siap berlari di antara 10mph hingga 12mph, maka pelatih bisa memberikan latihan interval antara 10mph dan 8mph. Baru kemudian menaikkan kecepatannya secara perlahan. Seluruh konsep latihan interval ini terus dipakai dalam perkembangan selanjutnya. Menariknya permainan sepakbola kembali menjadi dasar. Game besar 11v11-8v8 direplikasi dengan Lari Interval A, terdiri dari akselerasi, jogging dan berjalan dalam varian jarak 40m. Sedangkan game kecil 4v4-3v3 direplikasi dengan Lari Interval C, akselerasi, jogging dan berjalan dalam varian jarak 20m.

 

 

 

 

Penentuan jumlah blok interval dibuat berdasar keselarasan antara prediksi beban latihan tim dan waktu kesembuhan pemain. Bila seorang pemain cedera diperkirakan sembuh empat bulan, maka fisioterapis harus mengecek beban latihan tim di waktu tersebut. Prediksi beban latihan tim empat bulan lagi menjadi titik awal untuk ditarik mundur membuat langkah demi langkah periodisasi rehabilitasi. Pada akhirnya setelah 4 bulan, pemain yang sembuh dari cedera dapat kembali berintegrasi dengan tim tanpa kesulitan akibat keselarasan periodisasi. Berikut contoh Periodisasi Rehabilitasi Feyenoord Academy:

 

 

Senin

Quality Session = Athletic Work

Selasa

Quantity Session = Interval Run 2B

Rabu

Libur

Kamis

Quality Session = Coordination

Jumat

Quantity Session = Interval Run 3B

Sabtu

Therapy

Minggu

Libur

 

 

Dari contoh model periodiasi rehab di atas, tergambar jelas bahwa sangat mirip dengan periodisasi tim. Pemain cedera berlatih di hari tim juga berlatih. Kemudian pemain cedera juga menjalani libur di hari yang sama dengan tim. Ini strategi periodisasi untuk tetap menyamakan ritme kerja individu dengan ritme kerja tim. Latihan bersamaan dengan tim juga menambah motivasi pemain cedera, karena pemain selalu merasa bagian dari tim dan tidak kesepian.

 

 

-Bersambung-

Please reload