K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Mulailah dari Sepakbola, Lupakan yang Lain

December 1, 2014

 

 

Perjalanan pencarian ilmu sepakbola sejenak berlabuh di Clarens, kota mungil bagian dari Propinsi Free State yang merupakan salah satu tempat terindah di Afrika Selatan. Di Clarens, tepatnya di Golden Gate Highlands National Park berlangsung “3rd WFA Expert Meeting 2014”. Perpaduan lokasi pertemuan berpemandangan aduhai dengan praktisi sepakbola top adalah kombinasi menakjubkan.

 

Expert Meeting sendiri merupakan pertemuan tahunan bagi praktisi sepakbola anggota World Football Academy (WFA) besutan Raymond Verheijen. Grup beranggotakan 50 pelatih dari 30 negara dengan berbagai latar belakang. Diantaranya terdapat praktisi top seperti Magnuss Pahrsson (timnas Estonia) dan Anson Dorrance (UNC). Juga praktisi lain dari timnas Jerman, timnas Afrika Selatan, Stoke City, Tottenham Hotspur, Dinamo Zagreb, dll. Kebanggaan besar bagi Penulis bisa jadi bagian dari Expert Group setelah melalui tahapan kursus tingkat dasar dan lanjutan.

 

Expert Meeting tahun ini menyajikan barisan pembicara papan atas. Diantaranya Marcel Lucassen (Pelatih Teknik Individu timnas junior Jerman), Shawn Baxter (Kaizer Chiefs), Ernst Middendorp (Celtic), Damian Roden (Stoke City), Leon Vlemmings (KNVB), Jed Davies (Oxford), Nikos Overheul (Opta), dan masih banyak lagi. Tulisan berikut merupakan seri pembuka tentang penggunaan referensi sepakbola sebagai titik awal sepanjang jalannya pertemuan. Bongkahan materi cerita dari para praktisi akan terangkum di seri tulisan berikutnya.

 

Aturan Emas

Pertemuan WFA Expert Meeting 2014 dibuka oleh Raymond Verheijen selaku mentor kami. Seperti biasa, Raymond adalah sosok panutan yang sangat menuntut standar tinggi, terus terang dan disiplin. Ia membuka pertemuan dengan menyampaikan beberapa aturan emas yang perlu disepakati bersama. Raymond menginginkan ruang kelas kami menjadi ruang ganti pemain. Dengan mengandaikan ruang kelas sebagai ruang ganti, peserta bisa langsung belajar “praktek melatih sepakbola”.

 

Aturan pertama adalah SEMUANYA HARUS 100%. Segala proses pembelajaran dari mulai presentasi, hearing, diskusi, tanya jawab harus dilakukan dengan standar tinggi. Kami diminta untuk mengandaikan diri kami adalah Mourinho yang merupakan pelatih berstandar tinggi. “Refleksikan semua tindak-tanduk kalian dalam pertemuan ini. Apakah Mourinho akan melakukan hal yang sama?” seru Raymond lugas. “Kalau anda ingin seperti Mourinho, anda perlu mulai berpikir dan bertindak sepertinya,” tambahnya. RAISE YOUR BAR!

 

SEIYA, SEKATA dan SEPERBUATAN adalah aturan emas lainnya. Pelatih adalah teladan. Untuk pelatih dan seluruh stafnya harus mampu memberikan contoh pada pemain. Contoh tersebut tentu saja dengan mengaplikasikan apa yang sering kita ucapkan sebagai pelatih. Jadi, apakah handphone diperbolehkan selama pertemuan? Pertanyaan tersebut dijawab dengan pertanyaan: Apakah Anda sebagai pelatih senang bila di tengah team briefing, pemain Anda bermain dengan handphone? PRACTICE WHAT YOU PREACH!

 

Aturan berikut adalah TIDAK ADA ABU-ABU!! Semua harus jelas hitam atau putih. Kami diharuskan untuk selalu membuka diri dan mengatakan apa adanya terhadap apapun dan siapapun. Persoalan terbesar pada pengembangan diri adalah kita dikelilingi oleh orang yang katakan baik-baik saja. Kritikpun disampaikan penuh basa-basi dengan kalimat berputar. Raymond ajarkan kami harus dikelilingi orang yang berani katakan: “APA YANG KAMU BUAT ITU T*I…” demi kemajuan.

 

PROFESIONAL bukan PERSONAL! Raymond dengan cerdik jelaskan bahwa ketika ada kalimat “Si X T*I”, keberadaan “X” di sini hanyalah metafora. “Ini tidak melulu bicara soal X, tapi X ini bisa jadi siapapun, termasuk Anda,” ujarnya kembali menyentil. Jadi logika kritis yang dibangun tidak tertuju pada orangnya, tetapi lebih pada produk pemikiran dan perbuatannya dalam dunia kepelatihan sepakbola.

Awalnya buat penulis, berbagai aturan ini sangat menekan. Takut membuat salah terus membayangi, karena mungkin penulis belum siap dibilang “T*I”. Meski demikian, “T*I” adalah awal dari pengembangan diri. Lagipula, siapa yang hendak terbang ribuan kilometer ke negeri Nelson Mandela hanya untuk mendengar hal-hal baik yang selalu kita dengar di negeri sendiri.

 

Sepakbola: Titik Awal

Seperti pada tiap kursus WFA, pertemuan kali ini juga dibuka dengan materi “Referensi Sepakbola”. Buat grup kami, referensi ini seharusnya sangat membosankan. Mungkin telah ratusan kali dihadapkan pada model Sepakbola yang berbasis pada “Action Theory” ini. Akan tetapi, kedahsyatan model ini memang luar biasa. Mampu menjelaskan sepakbola secara holistik. Juga membuat struktur berpikir kami mampu menempatkan banyak hal non sepakbola penunjang sepakbola ke dalam kerangka yang pas.

 

Dalam beberapa dekade terakhir ini, keberadaan multi disiplin yang bertajuk Sports Science di sepakbola menjadi isu amat seksi. Pelatih sepakbola yang gagap Sports Science dianggap kuno, ketinggalan jaman dan kurang gaul. Untuk itu banyak pelatih berusaha mengakomodir keberadaan Sports Science demi meningkatkan performa sepakbola timnya. Sayang sekali, pada banyak kasus hal tersebut bertepuk sebelah tangan.

 

Alih-alih Sports Science “menunjang” sepakbola, kenyataannya Sports Science justru “menjajah” sepakbola. Realitas yang terjadi dimana-mana ialah Sports Science menggeser pemain sepakbola untuk banyak lakukan aktivitas non sepakbola, daripada sepakbola itu sendiri. Ekspansi “koboi iptek” paling terasa terjadi dalam hal peningkatan kondisi fisik pemain. Dimana pemain sepakbola kini banyak berlari, bersepeda, angkat beban ketimbang bermain sepakbola.

 

Penjajahan juga terjadi dalam hal bahasa. Pelatih sepakbola kini lebih suka menggunakan istilah endurance, VO2Max, mental, fokus, dan lain-lain, yang tidak berarti di sepakbola. Ketimbang bahasa sepakbola sepertipassing, creating space, pressing, dll. Bahasa asing yang menjajah sepakbola ini menghambat perkembangan kemajuan sepakbola. (Lebih lanjut di bawah).

 

Sepakbola pada Khitahnya

Fenomena ini harus dihentikan. Tentu saja para praktisi sepakbola yang paling bertanggung jawab untuk mengembalikan sepakbola pada khitahnya. Cara terbaik adalah dengan penggunaan model referensi sepakbola yang objektif dan universal. Dimana sepakbola didefinisikan sebagai permainan 11vs11 yang terdiri dari menyerang, bertahan dan transisi. Dalam tiap momen tersebut ada banyak aksi sepakbola.

Untuk meningkatkan sepakbola, kita membutuhkan:

  • Aksi yang lebih baik.

  • Aksi yang lebih sering dalam 1 menit.

  • Memelihara aksi baik 90 menit.

  • Memelihara aksi sering 90 menit.

Berangkat dari model referensi sepakbola seperti di atas, kami dimampukan untuk memetakan banyak hal dalam konteks sepakbola. BENAR, sepakbola membutuhkan Sports Science untuk menunjang performanya. Akan tetapi berbagai disiplin ilmu dalam Sports Science haruslah menyesuaikan konteks permainan sepakbola, bukan sebaliknya.

 

Contoh sederhana adalah pada sebuah pertandingan sepakbola menit ke-60, tim kehilangan bola. Tugas pemain sayap kanan (No.7) adalah melakukan transisi dari menyerang ke bertahan dengan melakukan aksi “squeezing inside” untuk mengawal pemain lawan yang lakukan counter attack. Kenyataannya pemain No.7 hanya jalan kaki di sekitarnya. Untuk mendapat solusi tepat, pelatih perlu tahu masalahnya. Bila pelatih menyatakan masalah pemain No. 7 adalah “kurangnya aerobic endurance”, maka kekacauan mulai terjadi.

 

Pelatih kemudian menyelesaikan masalah dengan memberi latihan Aerobic Endurance. Lalu pemain lakukan latihan lari, sepeda, dll untuk tingkatkan Aerobic Endurancenya. Persoalannya, pemain No. 7 tidak butuhkanaerobic endurance lebih baik. Ia butuh kemampuan memelihara sering squeezing in saat transisi selama 90 menit. Bahwa untuk mencapainya, di dalamnya sebagian membutuhkan elemen aerobic endurance itu BENAR. Sayangnya, aerobic endurance tidak berdiri sendiri, tetapi harus berpadu dengan keputusan (wawasan taktik) misalnya.

 

Bila aerobic endurance berdiri sendiri, maka mustahil tujuan untuk dapat memelihara aksi sering selama 90 menit bisa tercapai. Untuk itu latihan yang dibuat bukanlah latihan aerobic endurance yang bisa berupa lari, bersepeda atau berenang. Latihan yang dibuat adalah latihan sepakbola. Bila anda ingin tim memelihara aksi sering selama 90 menit, maka tak lain dan tak bukan anda perlu berlatih sepakbola dalam durasi lebih lama. SEDERHANA! <>

 

@ganeshaputera

Tulisan asli dimuat www.goal.com

 

Please reload