K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Cinta dan Solidaritas untuk Pengembangan

December 20, 2014

 

FIFA selalu bangun sepakbola berbasis fair play dan solidaritas. Hal ini diwujudkan dengan penerapan aturan “FIFA Training Compensation & Solidarity Mechanism” yang berbunyi

 

“Kompenasi latihan harus dibayarkan pada klub pembina saat (1) Pemain menandatangani kontrak profesional pertamanya, (2) Setiap pemain berpindah klub profesional sampai dengan musim pemain berulang tahun ke-23. Pembayaran dilakukan pada saat kontrak atau perpindahan berlangsung”.

 

Pertama kali pahami aturan ini, pikiran langsung menerawang jauh ke SSB Tulehu di Tanah Maluku. Inilah SSB pencetak pemain pro terhebat di tanah air. Dari jaman Khairil Anwar dan Imran Nahumarury, hingga kini era Manahati, Ramdani Lestaluhu dan masih banyak lagi.

 

Bila aturan FIFA ini ditegakkan, SSB Tulehu akan menjadi SSB kaya dan maju fasilitasnya. Tabungan komepensasi latihan selama 1 dekade bisa untuk bangun lapangan, gym atau bayar pelatih berlisensi tinggi. Sehingga diyakini 5-10 tahun lagi, akan muncul generasi yang lebih dahsyat dari Manahati Lestusen dkk.

 

Sayang, itu Cuma khayalan. Klub pro pengguna jasa para pemain SSB Tulehu memang tak pernah “patuh” bayarkan kompensasi latihan. SSB Tulehu pun harus puas untuk berlatih di lapangan dan pelatih yang itu-itu saja. Juga fasilitas dan sistem latihan yang gitu-gitu saja. Alias jalan di tempat!

 

Semua Jadi Lebih Baik

Aturan kompensasi latihan FIFA sederhana, namun punya dampak magis pada semua pihak. Untuk ssb/akademi, maupun pada klub profesional. Dampak positif pada ssb/akademi dan klub pro berefek domino bagi pemain serta kompetisi. Ujungnya, muncul generasi timnas yang kuat!

 

Dampak positif langsung terjadi pada ssb/akademi. Dengan uang kompensasi latihan, ssb/akademi bisa tingkatkan sarana prasarana, kepelatihan dan manajemen. Jika dulu Ramdani Lestaluhu berlatih di lapangan botak dengan bola terkelupas. 5-10 tahun lagi, adik-adiknya berlatih di lapangan mulus dengan bimbingan kepelatihan mumpuni!

 

Aturan juga memaksa ssb/akademi untuk perbaiki administrasi. Database pendaftaran dan paspor pemain dikelola lebih baik, karena administrasi ini yang akan jadi bukti keterlibatan pembinaan pada seorang pemain. Dampak terspektakuler ialah dijamin ssb/akademi jadi tidak mengedepankan menang dan gelar juara dalam bina pemain. Untuk apa Piala, kalau bisa dapat uang besar dari cetak pemain?

 

Untuk klub pro sendiri,  dampak jangka panjangnya adalah pembinaan di ssb/akademi makin berkualitas. Peningkatan kualitas dipercaya akan produksi pemain berkualitas pula. Pasokan pemain muda jadi berlimpah (supply), harga pemain jadi murah. Nah, ujungnya klub pro tetap untung! Kewajiban bayar kompensasi latihan ke ssb/akademi buat klub pro terangsang bikin akademi sendiri. Kalau bisa bayar kompensasi ke kantong sendiri, kenapa harus ke pihak lain? Tanpa dipaksa, klub pro dengan senang hati akan buat akademi!

 

Jalankan!

Pembinaan usia muda di ssb/akademi makin bergairah dan berkualitas. Klub pro juga makin berkualitas dalam hal kualitas pemain dan manajemen. Tentu saja kompetisi pro kita juga akan makin kompetitif. Puncak dari semua itu adalah naiknya level kualitas timnas Indonesia. Siapa yang gak kepingin timnas kita naik level hanya dengan penerapan aturan sederhana ini?

 

Mekanismenya pun sederhana, PT Liga cukup cantumkan persyaratan kuitansi pembayaran kompensasi latihan untuk pendaftaran pemain. Pembayaran kompensasi pemain harus dibayarkan secara proporsional pada klub pembina dari usia 12-23 tahun. Jadi misal Persib Bandung daftarkan Dedi Kusnandar tanpa kuitansi pembayaran kompensasi ke UNI, maka pemain belum dapat dimainkan.

 

Asosiasi Pemain juga harus mendorong aturan ini ditegakkan. Harus ada edukasi pada anggota, bukan cuma untuk “menuntut hak”, tapi “tunaikan kewajiban. Perlu diberi sanksi tegas bagi pemain yang memanipulasi paspor riwayat bermain untuk hindari kewajiban ini. Kompensasi latihan dibuat FIFA agar insan sepakbola memiliki cinta dan solidaritas pada pengembangan sepakbola. Pertanyaannya, masih adakah cinta dan solidaritas itu?

 

@ganeshaputera

Tulisan asli dimuat di Harian BOLA - 15/12/14

 

Please reload