K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Pep Guardiola Sebagai Desainer Pertahanan Terbaik

January 7, 2015

 

Setelah menghabiskan satu musim untuk melakukan adaptasi di Bayern Munchen, sekarang Pep Guardiola membawa timnya memasuki musim baru dengan tampang lebih menyeramkan. Dominasi tim asal Bavaria tersebut tidak lagi terelakkan, baik di Bundesliga dan Liga Champions Eropa.

Di Bundesliga hingga pekan ke 14, Bayern meninggalkan saingan terdekatnya, Wolfsburg, dengan tujuh angka. Di Liga Champions, tim elit Serie A, AS Roma, dihantam dengan skor 9-1 dalam dua pertemuan di fase grup. Dari 20 laga yang sudah dijalani musim ini, mereka hanya kalah sekali dari Manchester City, dan itu pun karena harus bermain 10 orang.

Musim pertama Guardiola di Bayern tidak bisa dikatakan buruk karena berhasil menjadi jawara Bundesliga, sekaligus merebut trofi juara dunia antar klub. Hanya saja ekspektasi memang sangat tinggi yang dibebankan kepadanya, mengingat status mereka sebelumnya adalah juara Eropa. Bayern gagal di semifinal Liga Champions. Mereka dihajar Real Madrid di dua leg dan Guardiola gagal mengulangi pencapaian Jupp Heynckes.

Pihak klub pun bergerak cepat di bursa transfer musim panas lalu untuk melakukan upgrade di beberapa posisi. Robert Lewandowski didatangkan dari Borussia Dortmund untuk menggantikan Mario Mandzukic yang kerap merusuh jika tidak starter. Xabi Alonso direkrut dari Madrid untuk menggantikan Toni Kroos yang selalu tidak puas dengan nilai kontraknya lebih kecil dari pemain lain.

Dengan punggawa yang sudah semakin mahir melafalkan bahasa sepakbola ala Guardiola, musim ini Bayern sudah leluasa untuk bereksperimen di lapangan tanpa tim harus kolaps. Beberapa variasi kerap dicoba oleh Guardiola musim lalu, terutama setelah mereka menasbihkan diri juara Bundesliga. Tapi modifikasi taktik ini masih sering harus direvisi karena justru menurunkan performa tim.

Pep sempat bereksperimen dengan transformasi 4-1-4-1 ketika bertahan, yang menjadi 3-2-2-3 ketika menyerang, dengan dua fullback masuk ke tengah daripada melakukan overlap. Sedangkan gelandang bertahan turun sejajar bek tengah dan membentuk back three. Ide ini berhasil membekuk Manchester United di Liga Champions, namun justru kolaps ketika meladeni Dortmund di final DFB Pokal. Bayern coba bermain aman dengan kembali ke format awal untuk menahan Real Madrid, tapi yang terjadi ritme permainan justru hilang dan mereka akhirnya takluk.

Variasi taktikal semacam inilah yang dulu membesarkan Barcelona milik Guardiola sehingga serupa monster. Seringkali rutinitas ini dilakukan untuk mencari solusi sulitnya membongkar pertahanan lawan, yang sekaligus menjadikan cara menyerang mereka jadi sulit ditebak. "Yang saya lakukan adalah mengamati lawan dan mencoba meluluh lantakkan mereka," ujar Guardiola.

Itu juga yang coba dicapai olehnya di Bayern. Tapi di musim pertama dia tidak bisa langsung leluasa melakukan eksperimen. Guardiola harus menunggu hingga detail fundamental filosofinya telah mengakar erat untuk menghindari timnya drop jika situasi di lapangan tidak sesuai rencana.

Di Barcelona sebelumnya, Pep bisa langsung unjuk gigi sejak awal, karena memang fundamental filosofinya telah dijejalkan sejak para pemain masih di akademi La Masia. Saking fasihnya para pemain akan dasar-dasar filosofi yang dimainkan, El Barca bisa mengubah posisi banyak pemain di tengah laga hanya untuk melakukan counter tactic lawan.

Wajar saja jika pemain Bayern memerlukan waktu untuk meresapi semua ide baru tersebut, karena memang filosofi Guardiola hampir bertolak belakang dengan cara main di era Jupp Heynckes . Guardiola sendiri mengakui jika selepas enam bulan pertama di Bayern, para pemain masih sering lupa dengan cara-cara baru yang telah disepakati, dan dengan sendirinya pemain kembali ke cara main lama. Hal inilah yang sering membawa hasil buruk, terutama di laga sulit.

Guardiola memperkenalkan tiga konsep sebagai fundamental dari filosofinya, sebelum akhirnya dia membangun berbagai macam variasi di atasnya untuk menghempaskan berbagai tipe lawan. Walaupun dikenal sebagai penganut sepakbola positif dengan total menyerang, ternyata semua poin dari ide paling dasar filosofi Guardiola adalah untuk mengakomodasi pertahanan.

Sama seperti konsep sepakbola modern lainnya, Pep juga membangun timnya dari pertahanan. Kadang di situasi tertentu sebenarnya tim milik Pep sedang menyusun pertahanan, tapi banyak yang menganggap mereka sedang menyusun serangan.

Pendekatan Guardiola tersebut memang sulit dimengerti karena dia mempunyai logika-logika sendiri dan seakan bisa melihat game 11 vs 11 dalam sudut pandang lain. Ada tiga konsep dasar filosofi milik Guardiola. Mari kita dalami satu-persatu.

1. High Defensive line
Posisi garis pertahanan adalah prioritas awal bagi Guardiola. Dengan menentukan posisi offside line, Bayern bisa mengontrol ruang yang tersedia untuk menentukan di mana lawan harus memainkan bola. Dengan menempatkan garis pertahanan sangat jauh dari kotak penalti sendiri, hampir bisa dipastikan lawan akan lebih banyak bermain di area sendiri jika sedang menguasai bola.

Guardiola memaksakan backline setinggi sampai 45 meter dari gawang Manuel Neuer di fase awal, dan akan naik lagi menjadi 56 meter jika bola sedang di area kotak penalti lawan. Posisi ini meningkat drastis dari rataan defensive line Bayern di era Jupp Heynckes yang hanya 36.1 meter di depan gawang.

Fungsi pertama dari defensive line yang sangat agresif adalah untuk menetukan area main ketika tanpa bola. Sangat penting jika alur game berjalan sesuai skenario kita dan bukannya skenario musuh. Dengan offside trap yang hampir berada di garis tengah, area main bisa diisolir hanya di area lawan.

Tidak banyak tim yang seagresif ini dalam menentukan posisi garis pertahanan. Karena berstatus langka inilah Bayern bisa memaksa lawan untuk tidak memainkan skema yang biasa dipergunakan. Di sini Guardiola bisa mengambil keuntungan dari game yang dimainkan dengan skenario miliknya, bukan milik sang lawan.

Selanjutnya yaitu untuk mempersempit defensive zone. Lawan yang menguasai bola menginginkan area yang lebih longgar untuk memudahkan umpan-umpan pendek terus mengalir. Dengan mengisolir menjadi setengah lapangan, Bayern lebih mudah mempersempit passing lane lawan daripada jika harus bertahan di satu lapangan penuh.

Semakin sempit area yang ada, semakin dekat pula jarak semua pemain. Situasi ini sengaja dicari Guardiola untuk bisa melakukan high up pressing dan merebut bola sedekat mungkin dengan gawang lawan, yang kemudian dilanjutkan dengan fast break. Situasi ini adalah salah satu favorit Guardiola, di mana tim bisa melakukan serangan yang diawali dari posisi sangat dekat dengan gawang, sekaligus musuh hanya memiliki sangat sedikit waktu untuk merapikan defensive block.

Variasi lain untuk mendapatkan fast break seperti ini yaitu dengan memakai counter pressing, yang dalam bahasa Jerman sering disebut gegen pressing, dan Guardiola sendiri menyebutnya four seconds pressing. Selama empat detik awal setelah bola terlepas di area lawan, semua pemain melakukan pressing balasan dengan serempak, untuk memanfaatkan lawan yang belum dalam positioning ideal untuk menjaga ball possession.

Hitungan empat detik ini ditentukan karena hanya selang waktu itu pemain bisa memakai intensitas penuh untuk sprint dengan kecepatan maksimal ketika melakukan pressing. Dengan perhitungan ini, bisa diharapkan efektifitas dari pressing untuk memaksa lawan melakukan error. Jika bola masih belum juga direbut, mereka akan mengorganisir ulang marking dan mulai melakukan tekanan lagi jika passing lawan mulai belepotan.

Guardiola memaksakan bertahan setengah lapangan ini juga untuk menjaga agar pemain-pemainnya tidak harus melakukan tracking terhadap lawan terlalu jauh. Tentunya akan sangat melelahkan seumpama Frank Ribery harus turun 80 meter menutup overlap fullback lawan. Situasi ini juga sangat mempermudah pemainnya menjadi out of position dan merusak defensive shape secara keseluruhan.

Dengan sempitnya area main yang tersedia, maksimal Ribery sebagai winger hanya melakukan tracking sekitar 40 meter. Memperkecil area main ini cukup bisa diandalkan untuk menjaga intensitas pemain, yang juga sekaligus tidak terlalu menguras stamina. High up pressing memang dikenal boros akan stamina pemain, tapi tidak jika defensive line bisa ditahan dan area main tetap dijaga setengah lapangan.

Melakukan cara bertahan seperti ini resikonya paling minim karena sangat jauh dari gawang sendiri. Tapi bagian tersulit ada di proses menyiapkan ke empat defender untuk siap bermain offside trap dengan posisi hampir menyentuh garis tengah lapangan. Masalah tersebut yang sangat menyita waktu bagi Guardiola di awal kehadirannya di Bayern.

 

 

 

High defensive line dan high up pressing Bayern Munchen

 

High block disusun jika counter pressing gagal

 

Guardiola ingin 4 bek miliknya bergerak se-otomatis mungkin dalam fase bertahan. Semua pemain harus dalam konsentrasi penuh dan proses berpikir yang terlalu lama harus diminimalisir. Dia memberi poin dasar untuk mempermudah pemainnya agar cepat memahami konsep tersebut secara tim, walaupun nyatanya mereka butuh beberapa bulan sebelum akhirnya benar-benar memenuhi standar yang diinginkan.

Poin penting pertama yaitu backline harus tetap berjumlah empat pemain karena kebutuhan agar pertahanan memiliki lebar yang bisa cepat menutup flank. Jika salah satu dari bek harus naik melakukan tracking terhadap forward lawan, maka defensive midfielder harus menutup lubang yang ditinggalkan.

Selain untuk menutup celah-celah through pass, memastikan backline tetap berisi empat pemain juga ditujukan agar defensive block tidak cepat turun. Area pertahanan yang paling mudah ditekan dan berefek defensive line harus turun adalah di sisi fullback. Untuk mencegahnya, diharuskan fullback selalu berada di depan winger lawan jika melakukan covering, bukan di samping, yang memungkinkan lawan melakukan dribbling naik. Jadi jumlah empat pemain tetap di belakang tidak bisa ditawar lagi.

Poin selanjutnya tentang siapa pemain yang menentukan di mana offside line harus berada. Guardiola berusaha menyederhanakan konsep ini dengan memakai posisi bola sebagai penanda. Bek yang terdekat dengan bola adalah yang menentukan posisi offside line. Sang pemain terdekat harus mengambil jarak beberapa meter dari bola dan tiga bek lain harus mengikutinya.

Bek terdekat dengan bola memang harus berkonsentrasi penuh dengan situasi di depannya. Tidak ada waktu baginya untuk menyempatkan diri melihat posisi rekan di samping. Bek lain yang lebih jauh dari bola yang menyesuaikan posisi, karena dari tempatnya berada, jauh lebih mudah melihat bola, sekaligus melihat posisi rekan bek yang paling dekat dengan bola.

Prosesi ini harus berlangsung secara otomatis, organisasi sebagai satu unit yang harus presisi dan sudah menjadi natural action bagi para pemain tanpa banyak berpikir. Semua harus berjalan otomatis layaknya mesin. Jika tidak, ide-ide lain yang dibangun di atas konsep high defensive line ini akan mentah.

2. 15 Passing Awal
Jika high defensive line menjadi kebutuhan wajib, maka pertanyaannya adalah bagaimana agar mendapat situasi seperti itu sesering mungkin. Tentunya sebagai salah satu master dalam detail taktik, Guardiola sudah memiliki jawaban atas masalah ini.

Guardiola dan Barcelona miliknya dulu merupakan salah satu yang mempopulerkan build up from the back di sepakbola modern. Sebisa mungkin timnya menyusun serangan sejak dari kiper. Dengan serangkaian umpan datar, seluruh personel berusaha mengawal bola dengan nyaman sampai ke depan. Long goal kick atau sejenisnya dikurangi drastis, karena menyebabkan situasi yang dari on ball menjadi fifty-fifty, di mana bola kemungkinan besar terlepas.

Guardiola tidak terlalu tertarik dengan melakukan long pass dari bek jauh ke para penyerang sejak awal dari area sendiri. Dia juga mengurangi clearence dengan membuang bola sejauh mungkin dan sebisa mungkin memakai umpan pendek. "Semakin cepat bola ke depan, maka akan semakin cepat pula akan kembali," katanya.

Ide untuk memaksakan terus memakai umpan pendek sejak awal bukanlah tanpa tujuan. Menurut Guardiola, jika awal serangan tidak melalui 15 umpan yang mengalir mulus di awal, maka pertahanan yang baik tidak akan pernah terbentuk. Prosesi ini pula lah yang banyak disebut orang sebagai tiki-taka.

Logika yang dipakai di sini adalah 15 umpan awal yang sukses sudah cukup untuk mementahkan counter pressing lawan dan secara natural akan mengembalikan sebagian besar pemain lawan ke area mereka sendiri. Setelah situasi ini didapatkan, Bayern bisa memasang lagi high defensive line dan bola akan kembali berkeliaran hanya di area lawan. Ini merupakan keterkaitan antara konsep high defensive line dan 15 umpan awal.

Pendekatan yang dipilih Guardiola ini ditujukan untuk menyiapkan timnya agar nanti memiliki transisi yang baik ketika bertahan, sebelum mereka mulai benar-benar melakukan manuver untuk menyerang. Tapi tentu saja prosesi ini menjadi terkesan lambat dalam transisi menyerang dan membuang kesempatan serangan balik.

Filosofi dasar Guardiola memang tidak terlalu menekankan kepada counter attack. Serangan yang terlalu vertikal dianggapnya akan mengorbankan positioning pemain jika tiba-tiba bola terlepas. Situasi ini dikhawatirkan akan berakibat fatal kepada high defensive line ekstrem yang dipakai.

Tapi konsep lambat ketika transisi menyerang bukan berarti tanpa kompensasi positif dari tidak bisa memakai serangan balik. Cara ini lebih mudah untuk mendapatkan fast break karena jarak pemain selalu dipastikan rapat secara vertikal. Jarak rapat ini memungkinkan pressing bisa cepat dilakukan jika bola terlepas. Sistem counter attack yang justru akan sulit mendapatkan situasi fast break, karena lini kedua sering kali tertinggal agak jauh di belakang.

Konsep 15 umpan awal juga mengakomodasi skenario jika lawan lebih agresif melakukan pressing dan tidak mudah menyerah untuk cepat kembali ke areanya. "Ketika tim mencoba mengalirkan bola 15 kali dan sekaligus mengorganisir posisi untuk menjaga bola, musuh bisa terus mengejar bola kesana kemari. Saat itulah dengan tidak sadar musuh kehilangan organisasi bertahannya," Ujar Guardiola.

 

Build up from the back dengan intensif memakai kiper

 

Secara tidak langsung alur umpan mengacaukan bentuk pertahanan lawan
 


"Jika ternyata bola bisa direbut dari pemain kita, maka pemain musuh tersebut seringkali akan sendirian diantara pemain kita yang mengitarinya. Tim akan bisa cepat merebut bola lagi, atau setidaknya mencegah pemain lawan tersebut bisa melakukan manuver cepat. 15 umpan awal ini yang mencegah musuh memiliki transisi menyerang yang terorganisir."

3. Mengontrol Lawan Yang Bebas
Bagian akhir dari pondasi filosofi Guardiola adalah mendapatkan kontrol di mana saja posisi pemain lawan yang berdiri bebas ketika tim sedang menguasai bola. Di situasi ini, prosesi ball possession juga harus dibarengi prosesi menyusun posisi terbaik untuk bertahan, jika nanti tiba-tiba bola direbut lawan.

Menurut Guardiola, di tengah lapangan ada dua jenis kontrol yang tersedia. Jika ada tim yang ingin mengontrol pertandingan dengan bola, maka pihak musuh mendapatkan kesempatan mendapat kontrol atas ruang. Filosofi yang dipakainya lebih memilih untuk mengontrol dengan bola, maka dia harus mencari cara agar kontrol atas ruang yang dipunyai lawan tidak menimbulkan kerusakan untuk timnya.

Ancaman paling nyata dari possession football yang dimainkan oleh Guardiola terletak di striker atau gelandang sang rival yang pandai menempatkan diri di ruang kosong sesaat ketika mereka bisa mencuri bola. Seketika lawan merebut bola dan disodorkan ke pemain-pemain ini, apapun antisipasi yang dilakukan tim akan jadi sering terlambat.

Ada empat poin penting yang harus diaplikasikan pemainnya untuk bisa menghindari situasi tersebut. Mereka harus tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan ketika sedang menguasai bola. Jika hal tersebut dilanggar, besar kemungkinan lawan akan bisa menciptakan gol.

Yang pertama yaitu pemain tidak boleh kehilangan bola di tengah. Counter attack paling berbahaya jika pemain tengah semberono dan kehilangan bola di sentral lapangan, karena itu artinya para bek tidak akan mempunyai filter lagi untuk menghadapi ancaman tersebut.

Karena tugas pemain tengah ini begitu vital, di musim pertama Guardiola membawa serta Thiago Alcantara dari Barcelona untuk mempercepat pemahaman pemain lama Bayern atas konsep ini. Sayangnya pemain yang juga putra legenda Brazil, Mazinho, tersebut sangat sering cedera panjang, sehingga Guardiola terpaksa mencari pengganti dari pemain lama yang ada.

Uniknya, pemain yang dirasa paling cocok adalah sang kapten, Philipp Lahm, yang posisi awalnya adalah bek kanan. Guardiola tidak punya pilihan lain karena Lahm memang pemain paling cerdas dalam tim dan paling pas untuk peran ini. Lahm seringkali disandingkan dengan Kroos yang juga memiliki kemampuan umpan paling terukur.

Poin kedua adalah 15 passing awal harus dilakukan karena prosesi ini akan secara tidak langsung mengirim pemain lawan menjauh dari gawang Bayern. Semakin jauh lawan memulai serangan, semakin mudah juga diantisipasi. Poin ini juga merangkai tiga konsep dasar filosofi Guardiola sehingga saling terkait.

Yang ketiga yaitu memastikan jika pemain kehilangan bola, dia harus cepat melakukan counter pressing agar bola tidak mudah dialirkan lawan ke depan. Sedangkan pemain lain terus mengawasi kemungkinan bola akan dialirkan lawan kemana setelah itu, dan dia harus cepat melakukan pressing seketika umpan dilepaskan.

 

Mengontrol lawan yang bebas

 

Mengantisipasi arah umpan tersebut juga menjadi poin ke empat. Lawan akan selalu mencari rekannya yang berada di ruang kosong dan akan mengirimkan bola ke arah tersebut. Kewajiban pemain Bayern adalah untuk mengantisipasi arah bola dan harus bergerak lebih cepat daripada pemain lawan.

Empat poin tersebut tidak boleh luput diaplikasikan sedikit pun selama 90 menit. Sangat penting untuk tetap mendapat kontrol atas pemain-pemain lawan yang sedang free, sehingga ancaman counter attack bisa ditekan seminim mungkin.

Menyerang Memukau

Itulah tiga konsep dasar dari filosofi milik Guardiola beserta detail yang menyusun di dalamnya. Bisa kita lihat kemiripan dari Bayern Munchen dan Barcelona untuk mengeksekusi fase ini. Oleh karena itu tiga konsep ini disebut dasar dari filosofi. Kemudian Pep akan membangun variasi di atasnya untuk menyerang.

Di fase menyerang inilah Guardiola akan unjuk gigi memainkan kelihaian analisanya atas cara bermain lawan dan juga tipe pemain yang dia miliki. Solusi yang dipakainya bisa sangat berbeda, seperti yang bisa disaksikan dari tidak identiknya cara menyerang Bayern dan Barcelona.

Memang kelihatan aneh jika ternyata tim yang begitu dikenal dengan sepakbola total menyerang nan begitu memukau, ternyata dibangun di atas pondasi pertahanan yang kokoh terlebih dulu. Tapi memang memiliki tim yang sangat ganas menyerang tapi tanpa pertahanan yang baik akan terlihat percuma.

Banyak tim besar seperti ini yang menumpuk pemain tengah atau penyerang kelas wahid agar dominan menyerang, tapi begitu rapuh jika diserang. Seringkali tim seperti ini akan sulit mendapatkan konsistensi dan mudah sekali drop, walaupun menghadapi tim-tim yang lebih kecil. Tanpa konsistensi, mustahil menjadi juara, terutama di kompetisi yang cukup panjang.

Hal seperti itu tidak akan terjadi kepada tim milik Guardiola, baik ketika dia di Barcelona B, Barcelona senior atau di Bayern Munchen, terutama di musim kedua. Sangat jarang mereka kecolongan gol-gol mudah. Di situasi yang paling buruk pun minimal mereka bermain imbang. Hingga pekan ke 14, Bayern tercatat hanya kemasukan satu gol saja.

Contoh kasus paling masuk akal bisa dilihat di Barcelona selepas Guardiola meninggalkan mereka. Tim Catalan tersebut masih menyerang dengan cara yang sama, tapi mereka meninggalkan pondasi dasar milik Guardiola ini sedikit demi sedikit. Akhirnya prestasi mereka pun ikut konsisten menukik.

Bisa dianalisa bersama jika Barcelona tidak lagi konsisten memakai high defensive line. Pelatih anyar mereka, Luis Enrique membiarkan beberapa kali timnya memakai low block. High up pressing juga terus memudar dengan banyaknya pemain didatangkan dari luar La Masia dan beberapa pemain kunci yang semakin berumur. Enrique sendiri juga mulai mempersenjatai timnya dengan counter attack.

Banyak tim tidak lagi tergetar jika mau bertemu Barcelona, walaupun sekarang memiliki trisula Neymar, Lionel Messi dan Luis Suarez. Lawan masih sempat menyusun rencana menyerang untuk mencuri kemenangan. Tapi tidak ketika mereka akan bertemu Bayern Munchen. Mencetak gol serasa mustahil dan mereka akan lebih memilih berkonsentrasi bagaimana tidak kebobolan. <>

 

Rochmat Setiawan @dribble9

Football Tactics Analist

www.dribble9.com

Please reload