K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Belajar dari Indahnya Goyang Gamba Osaka!

January 31, 2015

 

Kehadiran Gamba Osaka ke Jakarta meladeni perlawanan Persija Jakarta menjadi pelajaran taktikal berharga bagi Indonesia, negara yang sepakbolanya terbelakang. Juara Liga Jepang 2014 ini menyajikan permainan sepakbola menyerang yang atraktif dengan organisasi rapi. Dimana individu-individu cerdas Gamba sangat terikat oleh taktik tim brilian.

 

Pelajaran taktikal terpenting dari Gamba Osaka adalah menjadi tidak relevannya posisi dan formasi. Keberadaan formasi dasar dengan posisi berdiri rigid hanya digunakan sebagai panduan dalam momen defending saat lawan melakukan restart play, utamanya goalkick. Sedangkan pada momen lain, terutama attacking, pemain bergerak dan berotasi begitu cair.

 

Ini sesuai dengan konsep sepakbola modern, dimana pemain tidak bergerak secara “zone dependant”, melainkan “space dependant”.  Artinya pemain tidak mengambil keputusan untuk bergerak berdasarkan zona dan posisi yang sudah ditentukan secara baku. Akan tetapi pemain bergerak menyesuaikan dengan ketersediaan ruang yang tercipta dalam situasi permainan. 

 

Formasi Dasar Persija (Merah) v Gamba Osaka (Biru) – Babak I

 

1442 Fleksibel

Gamba Osaka memainkan formasi dasar 1442. Formasi klasik ini beradu dengan racikan Coach RD yang memainkan formasi dasar 14141. Bila menilik formasi dasar ini tanpa mempertimbangkan pergerakan pemain, maka logikanya Persija akan menguasai lini tengah.

 

Head to head 1442 vs 1433 tentunya akan menciptakan natural overload di berbagai sector. Di sector tengah Persija akan unggul jumlah pemain, dimana secara natural akan tercipta 3v2. Sedangkan di pinggir jumlah adalah sama, yaitu 2v2. Persija diperkirakan sulit lakukan build up, mengingat terjadi situasi 2v2 di belakang. Sebaliknya Gamba akan mudah lakukan build up dengan keunggulan jumlah 2v1.

 

Natural Overload dari Head to Head Formasi

 

5v3: Midfield Overload Gamba Osaka

 

Hanya saja, adu taktik yang terjadi tidak sesederhana itu. Natural overload akibat head to head formasi hanyalah isapan jempol belaka. Gamba Osaka tidak terikat pada formasi baku. Pemain terus bergerak dan berotasi untuk secara konsisten menciptakan jumlah orang lebih di seluruh penjuru lapangan.

 

Pergerakan paling dominan adalah turunnya Striker Gamba Osaka No. 93 (No.9 Babak II)  drop deep ke kedalaman menjadi extra midfield. Hal tersebut diikuti juga oleh  kedua sayap Gamba No. 13 & 10 (No.19 & 38 Babak II) yang masuk ke dalam juga menjadi extra midfield. Ruang yang ditinggalkan kedua sayap di sector pinggir dieksploitasi oleh fullback No. 22 & 30 (No. 4 & 14 Babak II) yang menjaga kelebaran Gamba saat attack.

 

Pada formasi 1442, awalnya hanya ada dua midfield yang dimiliki Gamba. Kini dengan taktik Gamba yang ingin menciptakan menang jumlah orang di tengah, maka ada pemain dari sector lain yang bergabung ke tengah. Hadirnya dua sayap dan satu striker ke tengah menciptakan situasi 5v3. Jumlah lebih banyak di area sentral merupakan kunci Gamba untuk terus menguasai bola dan mencari peluang ke depan.

 

2v1 di Depan Boks

Johan Cryuff, maestro Belanda pernah memberi analogi cerdas tentang ruang. Ia mengatakan bahwa bek medioker akan menjadi bek hebat bila ia hanya perlu menjaga area selebar pintu. Sebaliknya bek hebat akan menjadi bek bodoh bila ia harus menjaga area seluas halaman rumah.

 

Analogi Cryuff ini yang terjadi pada Amarzukih (Persija No.21) yang bermain sebagai holding midfield. Penampilan Amarzukih sebenarnya amat istimewa. Ia bekerja ekstra keras hingga beberapa kali sukses menutup laju gelandang Gamba. Hanya saja, ia tampak buruk karena ia harus terus menerus menjaga area yang luas, plus jumlah lawan yang lebih banyak. Usami, striker Gamba No. 39 secara konstan turun ke lini tengah menjadi gelandang. Bersama Gamba No. 10 atau No.13 ciptakan situasi 2v1 mendatangi Amarzukih.

 

2v1 Di Depan Back 4 Persija

 

Usami, striker Gamba No. 39 secara konstan turun ke lini tengah menjadi gelandang. Bersama Gamba No. 10 atau No.13 ciptakan situasi 2v1 mendatangi Amarzukih. Kondisi ini menjadi mimpi buruk bagi Amarzukih. Terlebih gelandang serang Persija No. 9, apalagi No.5 selalu terlambat untuk menyamakan jumlah di tengah.

 

Kondisi kalah jumlah 1v2 di depan back four Persija sebenarnya segera disadari oleh oleh centerback Persija No.6 dan No. 52, dengan sesekali lakukan pressing ke depan untuk menyamakan jumlah. Sayangnya, harmoni back four Persija belum cukup cepat menyesuaikan dengan intensitas pergerakan Gamba. Dimana fullback Persija No.14 dan 4 sering terlambat mengecil untuk menutup area yang ditinggalkan centerback No.6 dan No.52.

 

Lobang saat CB No.6 marking striker Gamba yang turun.

 

Fondasi Kuat

Implementasi taktikal Gamba Osaka yang terorganisir rigid dan rapi jelas bukan kerja semalam yang instant. Dipastikan Gamba Osaka melakukan latihan taktik intensif berulang-ulang untuk mencapai kesempurnaan pergerakan dengan intensitas yang terus meningkat.

 

Fakta bahwa 16 dari 24 pemain Gamba Osaka merupakan jebolan Akademi Gamba Osaka sendiri memperkuat asumsi bahwa aplikasi taktik tim utama mereka ditopang fondasi pembinaan kuat. Taktik tim utama telah dibangun lewat individu-individu yang dididik oleh Akademi. Dimana wawasan taktikal telah diberikan sejak usia dini.

 

Untuk itu tak salah bila kita belajar dan mencontoh modernitas sepakbola yang disajikan oleh Gamba Osaka. Belajar untuk mencontoh sepakbola yang tidak zone dependant, melainkan sepakbola yang space dependent. Sehingga formasi dan posisi tidak lagi terlalu relevan. Tentu saja untuk wujudkan hal tersebut harus melalui proses pembinaan panjang, dengan fondasi akademi yang kuat. Ayo belajar dari Goyang Gamba Osaka!!

 

 GP

Please reload