K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Jurus Jitu Jurgen Klopp Taklukkan Guardiola

May 3, 2015

 

 

Hari Rabu yang lalu (29/4/15) Bayern Munchen menghadapi Borussia Dortmund di partai semifinal DFB Pokal (Piala Jerman). Partai ini merupakan partai yang sangat penting bagi Jurgen Klopp karena ini merupakan pertemuan terakhirnya dengan Pep Guardiola musim ini dalam seragam der Klassiker. Sejak kedatangan Pep musim lalu ke ranah Jerman, der Klassiker menjadi jauh lebih menarik untuk diamati. Pertarungan antara Pep dengan Klopp mengingatkan kembali pada serunya pertarungan antara Pep dengan Jose Mourinho - dalam hal taktik.

 

Susunan pemain

Pada pertandingan ini Pep menggunakan formasi 3-5-2/3-1-4-2. Manuel Neuer masih menjadi andalan utama di bawah mistar gawang. Mehdi Benatia yang beru saja pulih dari cedera mendapat kepercayaan untuk mengawal lini belakang bersama Jerome Boateng dan Rafinha. Mitchell Weiser yang belakangan ini tampil cukup bagus - ketika menggantikan Arjen Robben yang cedera - kembali dipercaya sebagai wingback kanan. Robben yang baru saja pulih dari cedera hanya duduk di bangku cadangan. Di posisi wingback kiri, Juan Bernat masih menjadi andalan utama Pep. Trio gelandang tengah the Bavarian diisi oleh Xabi Alonso, Philip Lahm dan Thiago Alcantara. Sementara itu di lini depan Pep menduetkan Robert Lewandowski dengan Thomas Muller.

 

Klopp yang pada pertemuan sebelumnya beralih dari 4-3-1-2 ke 4-2-3-1 kini kembali menggunakan 4-3-1-2/4-3-3. Mitchell Langerak menjadi andalan Klopp di bawah mistar gawang pada laga kali ini. Di lini belakang Klopp menurunkan Matts Hummels dan Sokratis Papastathopoulos sebagai bek tengah, keduanya diapit oleh Erik Durm dan Marcell Schmelzer di posisi fullback. Trio gelandang tengah Dortmund dipercayakan Klopp kepada Jakub ‘Kuba’ Blaszczykowski, Sebastian Kehl dan Ilkay Gundogan dengan Kehl bermain sebagai no.6. Di barisan depan terdapat Marco Reus, Pierre-Emerick Aubameyang dan Shinji Kagawa. Ketika Dortmund menguasai bola Kagawa bermain sebagai no.10, namun ketika Munchen yang menguasai bola ketiga pemain ini berdiri sejajar.

 

4-3-1-2/4-3-3 Klopp

Pada pertemuan kedua tim di putaran kedua Bundesliga musim ini Klopp beralih menggunakan formasi 4-2-3-1 untuk mendapatkan akses pressing ke kedua halfback Munchen via kedua sayapnya. Namun pada pertandingan ini Klopp lebih memilih untuk menurunkan intensitas pressing-nya dan menutup akses Munchen ke area sentral. Ketika the Bavarian melakukan build up dari belakang Reus-Kagawa-Aubameyang yang berdiri sejajar menjaga agar ketika Alonso atau Lahm menerima bola keduanya tidak dapat berbalik badan dan menghadap ke depan.

 

 

Sekalipun keduanya dapat berbalik badan, opsi umpan yang mereka miliki hampir tidak ada. Thiago yang berada di depan keduanya berada dalam kepungan tiga gelandang Dortmund, sedangkan Muller dan Lewandoswski mendapat pengawalan ketat dari keempat bek sejajar Dortmund. Hal ini memungkinkan terjadi dikarenakan wingback Munchen harus memposisikan dirinya lebih dalam untuk membantu progresi bola dari belakang. Sehingga ketika Munchen mencoba untuk memberikan bola direct (vertikal) ke kedua penyerangnya, fullback dan bek tengah Dortmund dapat bahu membahu untuk memenangkan bola dalam situasi 2vs1 atau 3vs2. Klopp lebih memilih untuk membiarkan anak asuh Pep mengirim bola ke sisi lapangan - di mana kedua wingback Munchen tidak terkawal - sebelum mempersempit ruang yang mereka miliki. Lalu bagaimana dengan overload di sisi lapangan?

 

 

Munchen tidak dapat memanfaatkan natural overload di sisi lapangan via halfback dan wingback-nya. Hal ini karena tiga pemain depan Dortmund berdiri sejajar dalam skema yang menyerupai 4-3-3 bukan 4-3-1-2. Sehingga mereka memiliki akses yang cukup untuk memberikan pressing ke halfback Munchen dan menutup jalur umpan ke/dari wingback Munchen. Lalu, apa kelemahan sistem pressing Dortmund?

Bola diagonal

 

Secara detail, strategi Klopp untuk menutup akses Munchen ke area sentral akan melibatkan kerapatan secara vertikal (jarak antar lini) dan horizontal (jarak antar pemain dalam satu lini) pemain-pemainnya. Karena Klopp menggunakan dua lini pressing yang masing-masing terdiri dari tiga pemain (tiga gelandang dan tiga penyerang), maka akan terjadi dilema dalam hal menjaga kerapatan dan mempertahankan ruang yang harus dijaga (zonal coverage).

 

 

Dengan hanya menggunakan tiga pemain dalam satu lini pressing maka akan sulit untuk  tidak meninggalkan ruang yang jauh dari bola tidak terkawal. Pada diagram kelemahan sistem pressing Dortmund terlihat bahwa sisi yang jauh dari bola tidak terkawal oleh pemain-pemain Dortmund. Pemain-pemain Dortmund harus menjaga kerapatan horizontal lini pressing mereka.

 

Pada diagram tersebut juga terlihat bagaimana pengambilan posisi yang dilakukan Reus tidak jelas - dan membiarkan Xabi Alonso bebas. Dalam sistem pressing yang menggunakan skema semacam ini (lini pressing terdepan berisikan tiga orang) maka setiap penyerang akan memiliki zonal coverage sendiri-sendiri. Apabila salah satu dari penyerang melanggar zonal coverage-nya maka tim lawan dapat mengeksploitasi zona yang ditinggalkan tersebut dengan mudah.

 

Pada situasi tersebut terlihat Reus tidak dapat meninggalkan zonanya dan mengikuti Xabi Alonso untuk mengantisipasi kemungkinan pemindahan bola dari Benatia ke Rafinha. Harapannya, Reus akan memiliki akses pressing ke Rafinha jika sewaktu-waktu bola dipindahkan. Akses pressing ini menjadi sangat penting karena terdapat ruang kosong yang cukup besar di belakang Reus. Sehingga dengan adanya akses pressing maka percobaan eksploitasi yang dilakukan Bayern dapat dihambat. Namun hal ini justru membuat Xabi Alonso bebas dan dapat memberikan bola-bola diagonal untuk meningkatkan progresi permainan Munchen.

 

Umumnya sistem pressing dengan lini pertama yang berisikan tiga pemain, akan dilapisi oleh empat pemain di lini kedua. Hal ini untuk menjaga agar ketika salah satu penyerang - dalam kasus ini Reus - harus meinggalkan zonal coverage-nya maka ruang yang ada di belakangnya dapat ditutup dengan baik. Sistem tersebut juga umumnya diikuti dengan pressing yang konstan untuk menutupi kelemahan naturalnya, yaitu hanya menyisakan tiga pemain di lini belakang. Sistem ini biasanya dinotasikan sebagai formasi 3-4-3.

 

Pep beralih ke 3-4-3

Namun eksploitasi dalam bentuk bola diagonal ini kurang efektif, karena untuk memperebutkan bola diagonal ini situasinya hanya 1vs1 (Bernat vs Durm atau Weiser vs Schmelzer). Pada babak pertama Pep mencoba Lahm untuk lebih sering ikut bergerak naik ke sisi kanan membantu Weiser, begitu pula di sisi kiri di mana Thiago membantu Bernat. Namun hal ini kurang efektif karena zonal coverage Lahm menjadi sangat luas - dari posisi no.6 bersama Alonso hingga halfspace kanan.

 

Pada babak kedua Pep menarik Thiago dan menggantikannya dengan Arjen Robben. Skema permainan the Bavarian berubah dari 3-5-2 menjadi 3-4-3 dengan Robben bermain sebagai inside forward kanan, Muller bermain di sisi yang berseberangan dan Lewandowski sebagai no.9. Harapannya adalah kedua inside forward ini dapat menciptakan situasi 2vs1 ketika memperebutkan bola diagonal tanpa menambah beban zonal coverage.

 

Perubahan ini bukan berarti Pep telah menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi timnya. Setiap perubahan tentu memiliki konsekuensi baik positif maupun negatif. Dalam kasus ini, perubahan ke 3-4-3 mengurangi pengaruh di lini tengah karena hanya menyisakan Alonso dan Lahm. Klopp bereaksi dengan menarik Kagawa dan menggantikannya dengan Henrik Mkhitaryan. Skema Dortmund berubah dari 4-3-1-2 menjadi 4-4-2 dengan Mkhitaryan bermain di sisi kiri sedangkan Kuba bergeser ke sisi kanan. Mungkin Klopp beranggapan bahwa situasi 2vs2 di area sentral sudah cukup. Perubahan ini memang membuat Dortmund menjadi lebih efektif baik dalam bertahan maupun menyerang.

 

4-4-2 Klopp

Dengan skema ini, sistem pressing Dortmund menjadi lebih efisien dalam hal zonal coverage. Akses pressing ke sisi lapangan menjadi lebih mudah didapatkan, ditambah dengan hanya adanya dua gelandang di barisan tengah Munchen maka pressing Dortmund menjadi lebih efektif.

 

 

Dari sisi serangan, Dortmund sangat terbantu dengan hanya adanya dua gelandang Munchen. Ketika halfback Munchen harus keluar dari kotak penalti untuk memberikan pressure ke sayap Dortmund, maka salah satu dari Alonso atau Lahm harus mengisi posisi yang ditinggalkannya. Hal ini menyebabkan area di depan kotak penalti hanya dijaga oleh satu orang saja, atau bahkan tidak ada jika gelandang Munchen lainnya harus menjaga pemain Dortmund yang berlari masuk ke kotak penalti.

 

Gol penyeimbang Dortmund terjadi dari situasi semacam ini, di mana Alonso harus meng-cover posisi Rafinha dan Boateng yang mencoba memberikan pressing ke Aubameyang di sisi kiri pertahanan. Sementara itu Lahm harus menjaga Reus yang berlari masuk ke kotak penalti. Akibatnya di depan kotak penalti Munchen tidak terkawal. Aubameyang yang melihat Kuba berdiri bebas didepan kotak penalti memberikannya bola yang kemudian diteruskan ke Mkhitaryan di sisi jauh yang berdiri cukup bebas. Mkhitaryan kemudian mengirim umpan silang yang disambar Aubameyang untuk mencetak gol penyeimbang.

 

Melihat lini tengahnya kewalahan Pep memasukkan Schweinsteiger menggantikan Muller. Bayern kembali bermain dalam skema 3-5-2 dengan Robben dan Lewandowski berduet di lini depan. Di menit ke-84 Arjen Robben mengalami cedera sehingga harus ditarik keluar, Pep menggantikannya dengan Gotze dan beralih ke 4-3-3/4-1-4-1. Gotze bermain sebagai sayap kiri, di sisi yang berseberangan di tempati oleh Weiser. Sementara itu Rafinha yang semula bermain sebagai halfback kiri berpindah sebagai fullback kanan sedangkan Bernat bermain sebagai fullback kiri.

 

Di babak extratime energi kedua tim terlihat cukup terkuras sehingga tidak banyak yang terjadi. Intensitas pressing juga sedikit menurun, begitu pula energi untuk membawa bola ke depan. Di akhir laga Munchen harus merelakan tiket partai final direbut Dortmund setelah tidak satupun penendang penalti mereka yang sukses. Adu taktik papan atas kali ini pun dimenangkan Klopp dengan elegan!

 

@NovalAziz

Penulis adalah mantan atlet catur yang menggilai taktik sepakbola. Merupakan kontributor utama untuk www.fandom.id

 

 

Please reload