K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Gunakanlah Kacamata Sepakbolamu!

September 15, 2015

 

Diagram di atas menggambarkan suatu situasi sepakbola yang disederhanakan. Dimana tim kuning melakukan serangan dari sayap kiri (11). Kemudian satu backpass ke gelandang (6), berpindahlah bola lewat long passing ke sayap kanan (7) lawan. Bek kiri hitam (5) berusaha lakukan pressing, tetapi sayap kanan kuning selalu berhasil melewati dengan kecepatan tinggi. Lalu,  bagaimana menganalisa masalah sepakbola ini dan menyelesaikannya dalam implementasi perencanaan latihan?

 

Ada beberapa analisa yang kemudian bisa berkembang. Pertama, sudah jelas dari fakta di lapangan, Bek Kiri Hitam (5) selalu kalah CEPAT dalam adu lari 1 vs 1 di pinggir lapangan. Dengan kata lain, dapat disimpulkan problemnya ia adalah pemain yang LAMBAT! Solusinya, pemain tersebut harus lakukan LATIHAN KECEPATAN. Harapannya dengan menjadi semakin CEPAT, ia takkan dilewati sayap kanan lawan.

 

Hal yang selanjutnya terjadi adalah pelatih memberikan menu latihan kecepatan. Tentunya dalam bentuk lari sprint kecepatan tinggi dari satu cone ke cone yang lain. Sesuai prinsip latihan untuk tingkatkan kecepatan, maka dilakukanlah repetisi sprint maksimal dengan durasi rest yang maksimal juga. Supaya setiap memulai sprint, pemain dalam keadaan segar. Tanpa rest maksimal, latihan kecepatan dapat bergeser menjadi latihan daya tahan kecepatan.

 

Analisa Sepakbola

Model analisa dan latihan ini amatlah popular dilakukan pelatih sepakbola pada umumnya. Menolongkah? Jelas pasti menolong! Pertanyaannya, apakah analisa tersebut akurat? Lalu, berapa signifikan peningkatkan kecepatan waktu tempuh dengan melakukan latihan sprint tersebut? Kita pun mengerti, bahwa seorang sprinter harus bersusah payah hanya untuk menaikkan kecepatan 0,01 detik saja. Kalaupun kecepatan Bek Kiri Hitam meningkat sepersekian detik, apakah cukup untuk tidak dilewati sayap lawan?

 

Dalam sebuah artikel di majalah Insight Issue 2, Volume 6 terbitan FA Inggris, Raymond Verheijen menceritakan sebuah metafora menarik tentang perlombaan lari sprint 100m. Karakteristik lomba sprint 100m adalah murni soal kecepatan. Semua atlet memulai dari garis yang sama, di waktu yang sama dengan jarak tempuh sama. Mereka selalu mencurahkan seluruh latihannya untuk sekedar meningkatkan kecepatannya 0,0001 detik sekalipun.

 

Sebenarnya ada cara yang lebih mudah untuk memenangkan lomba sprint 100 m. Trik pertama adalah berlari lebih dulu sebelum pistol berbunyi. Trik berikutnya adalah memajukan garis start beberapa meter. Puncaknya, trik terakhir adalah pelari boleh berpindah lintasan untuk menghalagi kompetitornya.

Tentu trik tersebut diharamkan di dunia atletik. Meski demikian, bila trik di atas diperbolehkan, tentu para sprinter akan sibuk mempelajari trik ini. Ketimbang bersusah-payah tingkatkan kecepatan yang begitu sedikit hasilnya dalam waktu lama, lebih baik mahirkan trik efektif ini. Seorang Suryo Agung pun akan cetak rekor dunia bila gunakan trik ini.

 

Kabar gembiranya, trik ini dihalalkan di sepakbola. Trik ini kita kenal dengan “membaca permainan”. Yes, dengan kejelian dalam membaca situasi yang berkembang di lapangan, seorang pemain senantiasa dapat mengambil keputusan dan mengeksekusinya secara cepat dan tepat.

 

Di samping itu konsep kecepatan di sepakbola begitu unik. Johan Cryuff pernah katakan, “seorang pemain dikatakan cepat, bila ia berada 1-2 langkah di depan lawannya”. Berada 1-2 langkah di depan lawan tidak selalu gambarkan kecepatan. Bisa saja yang terjadi adalah pemain tersebut berangkat lebih dulu.  Memang kecepatan hanyalah satu komponen kecil yang mendukung suatu aksi sepakbola. Komponen lain seperti posisi, momen dan arah juga menentukan.

 

 

 

Kembali ke kasus bek kiri di awal artikel ini, tentu dalam menganalisa masalah juga harus gunakan kacamata sepakbola. Analisa sepakbola katakan dilewatinya bek kiri oleh sayap bukan semata karena kalah cepat, tetapi karena salah dalam ARAH pressing. Akibat salah ARAH ini, kemudian ia harus beradu cepat dan jelas ia kalah. Dengan analisa sepakbola, ditemukan problem sepakbola, lalu diformulasikan solusi sepakbola pula.

 

Problem sepakbola adalah salah arah pressing, solusinya adalah perbaiki arah pressing. Pertama, pelatih perlu ajarkan arah pressing yang tepat (lihat gambar). Dimana pemain No.5 haruslah mengambil keputusan apakah dia ingin memotong umpan lambung. Atau ambil keputusan untuk pressing setelah lawan mengkontrol. Bila pilihan kedua yang diambil, maka pemain No.5 harus lakukan pressing dengan melindungi jalur ke gawang. Latihannya? Ya latihan pressing. Sederhana! Setelah itu, pelatih bisa lakukan pengulangan dengan prinsip serupa. Demi tingkatkan kualitas pressing, harus dilakukan repetisi pressing maksimal dengan rest maksimal.

 

Tulisan ini bisa menjadi refleksi bagi kita semua. Berapa banyak waktu latihan sepakbola kita yang terbuang percuma untuk sesuatu yang minim manfaat. Bisa dibayangkan bila SSB dengan jumlah hari latihan hanya 1-2 kali/minggu, masih harus banyak lakukan latihan non sepakbola. Efektifkah? Tentu Tidak! Untuk itu, mari kita gunakan kacamata sepakbola dan teruslah berlatih sepakbola! <>

Please reload