KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Membangun Serangan dari Bawah Sejak Muda

October 5, 2015

 

Tren sepakbola modern dalam satu dekade terakhir mengarah ke pentingnya penguasaan bola. Sportivitas terbesar dalam olahraga adalah bermain untuk menang, bukan bermain untuk tidak kalah. Faktanya di sepakbola, tim hanya bisa cetak gol saat kuasai bola. Saat tidak pegang bola, tim hanya bisa cegah lawan cetak gol. Artinya tanpa kuasai bola, hasil maksimal yang dapat dicapai adalah seri. Sedangkan dengan penguasaan bola, hasil maksimal yang dapat dicapai adalah kemenangan.

 

Harus diingat bahwa penguasaan bola adalah cara, bukan tujuan. Tim menguasai bola bukan untuk menguasai bola, tetapi menguasai bola untuk mencetak gol. Untuk itu diperlukan suatu penguasaan bola efektif. Pengertian efektif disini adalah berorientasi ke depan (target gawang lawan). Pertanyaannya, bagaimana cara melakukan penguasaan bola yang selalu berprogresi ke depan?

 

Secara umum, ada dua style model progresi ke depan saat menguasai bola. Pertama adalah Direct Play. Yaitu melakukan progresi ke depan dengan satu umpan panjang. Baik dari kiper langsung ke striker saat terjadi goalkick, maupun dari posisi manapun langsung ke striker saat permainan terbuka. Gaya lain adalah apa yang disebut build up play. Membangun serangan dari bawah dengan passing-passing pendek konstruktif merangkak ke depan. Suatu gaya yang fasih dimainkan Barcelona atau Bayern Munchen.

 

 

Mengapa Build Up Play?

Lalu manakah playing style yang lebih baik? Jawabannya tentu saja amat bergantung pada konteks dan situasi aplikasi berlangsung. Pada konteks sepakbola pro, kemenangan adalah segala-galanya. Jika direct play mampu menolong tim meraih kemenangan, maka lakukanlah! Sebaliknya jika build up play yang berguna untuk menang, maka maksimalkan build up play. Ini membuat playing style pun menjadi dinamis. Benar, Barca atau Munchen berbasis permainan build up, tetapi mempertimbangkan situasi dan karakter pemain, mereka pun tak gentar lakukan direct play.

 

Bagaimana di pembinaan usia muda? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali ke falsafah bahwa pembinaan usia muda adalah untuk mencetak pemain profesional di masa mendatang. Artinya pemain muda belajar untuk menang, tetapi kemenangan bukanlah segala-galanya. Kemenangan tidak boleh mengorbankan proses belajar yang pada akhirnya justru menghambat proses perkembangan pemain ke level profesional.

 

Nah, sebagai suatu cara bermain, direct play kurang menyajikan momen belajar untuk semua pemain. Bisa dibayangkan model ini hanya melibatkan sedikit orang dengan sedikit sentuhan bola. Ketika kiper langsung menendang bola jauh ke depan menuju strikernya, maka pemain belakang dan pemain tengah dipastikan tidak menyentuh bola. Kemampuan passing, kontrol, cari ruang juga tidak terasah. Sebab biasanya pada direct play, pemain depan cukup berdiri di posisi tertentu untuk menerima tendangan lambung dari kiper.

 

Problem lain ialah begitu diskriminatifnya direct play sebagai sebuah gaya bermain. Ya, gaya bermain ini tidak bisa dimainkan semua pemain, sejago apapun kemampuan sepakbolanya. Secara umum, hanya pemain yang memiliki postur tinggi yang fasih memainkan gaya ini. Itupun juga bergantung pada lawan langsung yang beradu heading dengannya. Mengingat direct play berbasis duel udara 1v1, maka sering tercipta situasi 50-50. Pada kondisi imbang, kemungkinan 50% bola dimenangkan striker tim kita, dan 50% oleh bek lawan. Itu berlaku juga dengan bola kedua. 50% bisa dimenangkan tim kita, 50% lawan.

 

Fenomena 50-50 ini menjadi isu menarik di pembinaan usia muda. Sudah barang tentu dalam proses belajar awal, build up play masihlah prematur. Model bangun serangan dari belakang merangkak ke depan sajikan probablitas lebih mengerikan. Bukan 50-50, tapi malah misalnya 10-90. Dimana 9 dari 10 percobaan build up selalu berakhir dengan kehilangan bola. Celakanya dari 9 kali kehilangan bola, kebanyakan terjadi di dekat gawang kita dan sebagian mampu dikonversi lawan jadi gol. Sehingga kemudian muncul pertanyaan meragukan dari pemain. Masihkah perlu build up? Bukankah 50-50 lebih baik ketimbang 10-90?

 

Keraguan pemain tentang konsep build up play haruslah terjawab dengan penjelasan sepakbola logis. Kembali ke falsafah pembinaan usia muda untuk cetak pemain profesional masa depan, pemain muda harus paham bahwa perjalanan mereka masih panjang. Dengan usia muda, mereka masih miliki waktu panjang untuk belajar. Di samping itu pemain harus mengerti potensi dan prospek yang mereka miliki.

 

Penjelasan paling mudah adalah bila di tim usia muda tersebut tidak ada striker yang secara natural berpostur tinggi. Tentu pemain mudah setuju bahwa pembinaan selama 6-8 tahun ke depan tidak akan cukup maksimal untuk menaikkan probabilitas direct play 50-50 menjadi 60-40, 70-30, dst. Sedangkan dengan potensi yang ada, dalam jangka waktu panjang, pemain yakin akan tingkatkan probabilitas sukses build up playnya dari 10-90 jadi 20-80, 30-70 hingga akhirnya 90-10.

 

Persoalan muncul jika di tim usia muda tersebut terdapat pemain yang secara natural sering menang duel heading. Sehingga titik awal probabilitas sukses direct play mungkin sudah 60-40. Striker ini bahkan berpotensi meningkat ke probabilitas lebih baik. Pada kasus ini, harus diberikan penjelasan bahwa proses belajar sepakbola adalah untuk semua. Model direct play akan mematikan proses belajar pemain lain. Meski demikian, secara berkala tim juga harus mainkan model direct play agar perkembangan individu striker ini terasah. Miliki striker ini di tim usia muda adalah BONUS BESAR!

 

 

Tunjukkan Keberhasilan

Tentu terus konsisten bermain build play dengan titik awal probabilitas sukses hanya 10-90 adalah sebuah pekerjaan pembinaan menantang. Pembelajaran bukan hanya terjadi pada pemain, tetapi juga pada pelatih dan orang tua. Pada masa belajar ini, tim ada kalanya akan mengalami berbagai kegagalan. Lalu orang tua pun mulai menghardik: “udah tahu gak bisa main dari belakang, kok dipaksain terus” atau “tendang jauh, kita menang di depan!”

 

Peran pelatih tim usia muda menjadi figur sentral di sini. Pertama ia harus meyakinkan dirinya bahwa permainan “build up play” adalah media belajar sepakbola paling efektif untuk semua. Kedua, berangkat dari keyakinan itu, ia harus konsisten mengaplikasikan cara bermain tersebut. Ketiga, ia harus mengajarkan cara bermain ini pada pemain dan orang tuanya dengan tekun dan sistematis.

 

Cara paling efektif untuk meyakinkan konsep ini adalah dengan menunjukkan keberhasilan. Katakanlah titik awal probabilitas tingkat sukses cara bermain ini adalah 10/90. Pelatih harus memberikan tekanan pada 10 yang berhasil tersebut. Misal selama 90 menit, mereka bisa memainkan gaya bermain konstruktif tersebut selama total 10 menit. Keberhasilan 10 menit tersebut harus diapresiasi. Tinggal tim kembali belajar untuk meningkatkannya jadi 15 menit pada game berikut. Sampai akhirnya bisa konsisten selama 90 menit.

 

Tulisan ini ingin menggugah para pembina usia muda untuk mengajarkan pemain belia untuk menang dengan bermain sepakbola yang baik. Gaya sepakbola yang mampu menaikkan level sepakbola kita ke tingkat lebih tinggi. Jika kita tidak memulainya hari ini, maka kita turut berdosa bila timnas senior kita masih main asal tendang ke depan. Lagipula apa serunya sih memenangkan turnamen usia muda dengan main bola tendang jauh langsung ke depan? Ayo bangun serangan dari bawah sejak muda!

 

 

 

@ganeshaputera

 

 

Please reload