KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Sepakbola Kita Tertinggal Soal Taktik

October 15, 2015

 

Setahun silam, penulis sempat mengikuti konferensi kepelatihan di manca negara. Kebetulan waktu konferensi bertepatan dengan pelaksanaan Piala Dunia 2014 di Brasil. Tentu kurang pas, bila momen pagelaran sepakbola sejagad raya tersebut tidak dijadikan objek belajar oleh peserta konferensi. Jadilah hampir setiap malam, kami belajar menganalisa pertandingan.

 

Salah satu topic konferensi adalah tentang Marcelo Bielsa, pelatih kawakan asal Argentina. Ketika itu dikupas tuntas tentang bagaimana filosofi sepakbola dan aplikasi taktikalnya di lapangan. Saya pun mulai tersenyum kecut karena bengong dan bingung. Masih teringat, satu poin yang disampaikan adalah konsep flexible backline. Dimana Chile selalu mengubah backline secara dinamis antara back 3 dan back 4 menyesuaikan jumlah penyerang lawan.

 

Dijelaskan, Chile misalnya bisa memulai game dengan formasi 1-4-3-1-2. Lalu karena lawan gunakan 2 striker, maka gelandang bertahan Chile akan turun menyelip diantara dua stoper menjadi back 3. Kemudian dua fullback Chile akan agresif naik, sehingga formasi bisa seperti 1-3-3-4 bahkan 1-3-2-5. Mereka juga menciptakan situasi 3v2 di pinggir dengan kombinasi stoper, fullback dan striker yang melebar.

 

Mendengar penjelasan tersebut, otak bodoh saya menyangkal: “Ah, mana mungkin!”. Terbukti memang saya bodoh. Siaran langsung Chile vs Belanda ternyata menampilkan persis seperti kupasan topik tersebut. Baru sadar, selama ini saya hanya memperhatikan aksi dan kejadian dengan atau dekat bola. Terfokus pada “apa?”, bukan “bagaimana dan mengapa?”.

 

Sesi review taktikal pasca game lebih menohok lagi. Pembicara bercerita bahwa Chile ciptakan 3v2 di belakang untuk build up. Persoalannya Robben dan Lens sebagai striker melebar saat defend, sehingga Chile kesulitan lakukan build up via stoper kiri dan kanan. Peserta berandai stoper tengah Chile bisa dribble ke arah Sneijder untuk ciptakan 2v1 di tengah untuk progresi ke depan. Saya pun makin terbengong karena merasa tidak melihat situasi itu meskipun ikut nonton bersama.

 

 

 

Sadar Bodoh

Bagaimana dengan Anda? Untuk mengecek seberapa melek Anda tentang taktik sepakbola, bisa dilakukan beberapa eksperimen sederhana. Dari eksperimen berikut, Anda bisa mengukur kemampuan baca permainan (read the game) sebagai dasar dari pemahaman taktik. Di kategori manakah Anda? Jago read the game atau masih bodoh seperti saya?

 

Pertama, cobalah menonton dan menganalisa suatu pertandingan sepakbola.  Sebagai pelatih, tentu tak sulit untuk bisa segera menentukan formasi kedua tim. Juga begitu mudah tentunya untuk mengatakan APA yang terjadi pada game tersebut. Misalnya tim A cenderung menguasai possession. Tim B cenderung menunggu di setengah lapangan untuk rebut bola dan lakukan counter attack. Tim A lama kuasai bola di area sendiri tapi sulit ke depan. Mereka selalu hilang bola setelah long passing.

 

Nah persoalannya, mampukah seorang pelatih bukan hanya menjelaskan hal di atas. Tetapi juga mendeskripsikan misalnya BAGAIMANA Tim A lakukan build up di bawah? Lalu MENGAPA Tim A selalu harus lakukan long passing yang berujung pada hilang bola dan Tim B dapat counter attack. Sebaliknya, seorang pelatih juga harus jelaskan BAGAIMANA Tim B lakukan pressing terhadap build up tim A dan memaksa mereka selalu long passing?

 

Eksperimen kedua adalah melakukan pengulangan nonton rekaman video pertandingan. Cek, seberapa banyak hal baru yang ditemukan saat menonton pertandingan untuk kedua bahkan ketiga kalinya? Pengalaman mengatakan, kita menemukan banyak hal baru saat nonton kedua kali dan lebih banyak lagi saat ketiga kali. Fakta ini tentu mengerikan untuk pelatih. Sebab dalam situasi pertandingan sebenarnya, pelatih tidak bisa menonton ulang berkali-kali. Pelatih harus lakukan analisa langsung di tempat, definisikan problem dan memutuskan solusinya.

 

Eksperimen ketiga adalah membandingkan analisa Anda dengan analisa di dunia maya. Era informasi memungkinkan tersajinya informasi analisa taktik termutakhir. Bandingkan dengan analisa di www.spielvelagerung.com www.dribble9.com www.fandom.id atau www.kickoffindonesia.com. Jika analisa cenderung sama dan tidak menemukan hal baru di tulisan, maka Anda adalah seorang master dalam analisa taktik.

 

Eksperimen keempat adalah merekam briefing taktik setengah main Anda. Katakanlah di babak pertama terjadi situasi tim Anda selalu gagal dalam build up play dan hilang bola. Tim Anda memainkan formasi 1-4-3-3 kontra 1-4-4-2. Ada dua opsi yang bisa diambil. Pelatih bisa sampaikan hal yang superfisial: “Kita selalu hilang bola di area sendiri, passing kita jelek. Di babak kedua, kita harus lebih tenang dalam pegang bola, passing lebih baik lagi!”

 

Atau pelatih bisa sampaikan problem riil yang terjadi: “Lawan pakai 2 striker dan 2 sayap untuk press 4 bek kita. Terjadi situasi 4v4! Babak kedua, kiper aktif ciptakan 4v2. Dua fullback harus push ke depan agar sayap lawan turun dan tercipta ruangan. Dua stoper bisa lebih lebar. Kalau striker lawan ikut ke dua stoper, maka kiper bisa through pass ke gelandang bertahan. Kalau tidak ikut, berarti stoper free!”

 

 

Jika rekaman audio saat briefing setengah main menyajikan suasana kamar ganti seperti pada contoh kedua, maka Anda merupakan pelatih yang brilian. Tetapi jika rekaman memunculkan banyak kalimat “abstrak” seperti: “lebih tenang”, “lebih baik”, “konsentrasi” atau “semangat”, maka terkonfirmasi sudah betapa tertinggalnya wawasan kita soal taktik.

 

Ayo Belajar!

Sepakbola kita jelas tertinggal soal Taktik. Cerita di atas bukan menggurui, tetapi sekedar mengajak untuk sama-sama bercermin dan introspeksi diri. Jika eksperimen menunjukkan Anda adalah seorang pelatih dengan wawasan taktik mumpuni, harapannya Anda bersedia berbagi. Menolong sesama kolega pelatih untuk berkembang adalah suatu ibadah mulia.

 

Jika eksperimen terbukti sebaliknya, harapannya semua tersadar bahwa kita masih bodoh dan tidak tahu apa-apa soal sepakbola! Momen ini patut disyukuri, karena perjalanan menuju cerdas selalu diawali dengan kesadaran bahwa masih bodoh. Paling tidak kesadaran dan pengakuan diri bahwa masih bodoh akan jadi motivasi awal untuk terus belajar.

 

Langkah selanjutnya adalah belajar. Dalam hal ini praktisi kepelatihan sepakbola harus menganut motto, “Coaches are longlife student of the game”. Artinya pelatih adalah pelajar permainan seumur hidup. Di sini kita bisa belajar dari siapapun, kapanpun dan dimanapun.  Kursus pelatih, buku kepelatihan, situs kepelatihan, artikel kepelatihan bisa membantu tingkatkan wawasan taktik. Tetapi, takkan ada alat belajar yang lebih mujarab, selain permainan sepakbola itu sendiri! Selamat sadar masih bodoh dan berkembanglah!

 

@ganeshaputera

 

 

Please reload