K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

[Tulisan Imajiner] Pep: “Sepakbola Indonesia Butuh Orang Gila, Itulah Sebab Saya Di sini!”

January 4, 2016

 

Pasca pencabutan sanksi FIFA untuk Indonesia, PSSI membuat kejutan dengan mengkontrak Pep Guardiola. Federasi negeri antah berantah berperingkat 170 dunia mampu menggaet pelatih terbaik di muka bumi ini. Gilanya, Pep berpetualang menjadi pelatih Timnas Indonesia setelah meraih treble di 2016 ini bersama FC Bayern.

 

Debut Pep di Timnas Indonesia kurang meyakinkan pada awalnya. Kontra Malaysia dan Singapura, Timnas menelan kekalahan. Tapi, di pertandingan ke-3, fans Garuda mulai sumringah. Meski bermain imbang 1-1 dengan Qatar, Zulfiandi dkk mendominasi permainan dan peluang. Puncaknya, pekan lalu Skuad Garuda mulai mengepakkan sayapnya saat sukses menghajar Arab Saudi 5-0 dengan permainan aduhai.

 

KickOff! Indonesia melakukan wawancara eksklusif dengan Pep. Berikut rangkuman wawancaranya.

 

K! 

Kami ingin memulai dengan pertanyaan yang semua orang pasti ajukan. Apa yang membuat Anda kemari?

 

Pep

Semua terjadi begitu saja. Pasca final, Presiden PSSI (Erik Thohir) mengundang saya dan Txiki makan siang di sebuah restoran mungil di Milan. Ia bercerita banyak soal impian sepakbola Indonesia-nya. Terakhir, ia memperlihatkan saya pertandingan ISL. Saya langsung sakit perut menontonnya. Saya kaget ada permainan sepakbola seburuk itu di muka bumi ini. Perut mulas membuat saya berpikir apakah pelatih terbaik di dunia sekalipun mampu mengubahnya.

 

Jangan-jangan benar kata Mourinho bahwa saya berprestasi karena selalu memilih klub dan liga yang mudah! Padahal apa yang Mou sampaikan amat bertolak belakang. Saya adalah petualang kreatif yang tidak menyukai zona nyaman. Saya makin mulas, kemudian berpikir Indonesia adalah tantangan yang tepat. Sontak saya pun menawarkan diri untuk ke Indonesia. Kami pun bersepakat!

 

K!

Luar biasa! Setelah tiba di Indonesia dan melihat sendiri kondisi sepakbola Indonesia, apa impresi Anda?

 

Pep

Luar biasa! Luar biasa buruknya! Organisasi amburadul, struktur pembinaan dan kompetisi nol besar. Pelatih dan pemainnya bodoh-bodoh. Mereka bermain bola tanpa struktur dengan tempo begitu lambat. Sejujurnya, sepakbola Indonesia tak punya harapan.

 

K!

Jika tak ada harapan, mengapa Anda datang kesini?

 

Pep

Masih ada satu-satunya harapan, yaitu SAYA. Sepakbola Indonesia butuh orang gila, makanya saya di sini!

 

K!

Anda katakan pemain Indonesia bodoh. Setelah berinteraksi, masihkah miliki pendapat yang sama?

 

Pep

Titik nol mereka adalah bodoh. Langkah pertama pemain harus sadar bahwa mereka bodoh. Misal seorang striker wajib melakukan pressing dari depan dengan arah, timing dan kecepatan tertentu. Tugas saya dan staf pelatih adalah beri cermin padanya melalui latihan dan video tentang kesalahan pressing tersebut.

 

Dua kemungkinan, pemain mau sadar atau tetap tidak sadar! Pemain yang tidak sadar bahwa mereka bodoh, kami coret. Pemain yang sadar bisa masuk ke langkah pengembangan berikutnya. Yaitu apakah pemain tersebut mampu untuk berubah sesuai tuntutan taktikal tersebut? Sebab ada pemain yang sadar dan mau belajar suatu taktik, tapi tak semuanya mampu mengaplikasikan.

 

Sepakbola adalah permainan tim. Semuanya harus berjalan sesuai kesepakatan. Jika kesepakatan tim adalah PRESS, maka pemain harus PRESS apapun alasannya. Pemain yang tidak PRESS harus angkat kaki dari tim. Proses ini yang sedang berlangsung di timnas. Langkah pertama membuat mereka sadar masih bodoh. Saya bersyukur saya Guardiola, semua pemain yang punya akal sehat pasti percaya saya.

 

K!

Di dua pertandingan awal tidak mulus. Bagaimana kisahnya?

 

Pep

Saya memanggil pemain-pemain terbaik dari Timnas sebelumnya. Umumnya pemain berpengalaman. Mereka terbiasa bermain tanpa struktur. Bermain dengan bekal formasi, tapi tanpa rencana permainan yang jelas dari suatu fase ke fase lainnya. Begini, sepakbola begitu sederhana. Di sepakbola ada 3 momen: menyerang, bertahan dan transisi diantara keduanya.

 

Momen menyerang perlu melalui fase build up sebelum diakhiri fase goalscoring. Sebaliknya, momen menyerang melalui fase press build up lawan dan fase cegah goalscoring lawan. Baru diantara kedua momen tersebut, terdapat momen transisi. Dari bertahan ke menyerang disebut transisi positif. Lalu dari menyerang ke bertahan disebut transisi negatif.

 

Pada setiap momen dan fase tersebut, tim harus menyepakati suatu rencana terkait situasi yang berkembang. Misalnya pada fase build up, tim bermain 1433 lawan tim bermain 1442. Lawan lakukan pressing dengan 2 striker dan 2 sayap. Semua pemain harus tahu cara melakukan build up pada situasi tersebut sesuai kesepakatan taktik tim. Tanpa kesepakatan taktik tersebut, mustahil tim dapat keluar dari pressure. Saya percaya bila pemain tidak mampu menjelaskan solusi di papan taktik, pemain takkan mampu memainkannya di lapangan.

 

Nah, di dua game awal saya menemukan banyak pemain yang kesulitan dengan hal ini. Sebagian tidak sadar bahwa mereka bodoh, sebagian lagi sadar tapi tidak mampu berubah!

 

Skuad Timnas Indonesia ke Tur Timur Tengah 2016

 

K!

Di game Tur Timur Tengah ada perombakan, bisa diceritakan?

 

Pep

Saya mengubah banyak hal pada training center persiapan ke Timur Tengah. Sebagian pemain senior yang masih ingin belajar saya pertahankan. Dikombinasi dengan pemain muda yang belum memiliki karakter taktikal kuat. Lalu saya juga memanggil banyak gelandang dan menyulapnya bermain di posisi lain.

 

Posisi kiper, saya masih percaya pada Andri dan Made. Kemampuan attacking mereka sebenarnya masih belum ideal. Tetapi, saya mengapresiasi mereka mau belajar hal baru. Untuk lini belakang, saya panggil Zulfiandi dan Bima. Zul adalah Boateng saya. Ia adalah pemain kunci dalam flexible backline. Bima saya butuhkan untuk beri keyakinan pada bek-bek senior pentingnya bangun serangan dari bawah. Bima akan jadi pelatih hebat. Ia sudah melakukannya sekarang!

 

Di tengah, Ian Kabes adalah anugrah. Ia bisa melebar dan mainkan classic winger, juga menjadi pivot di tengah. Evan bisa belajar banyak dari Ian Kabes. Sejatinya Evan memiliki potensi untuk bermain di kedalaman, melebar dan merengsek ke depan. Jika ia sadar dan mau belajar lebih banyak soal posisi, Evan pantas bermain di Eropa.

 

Sektor sayap menjadi perombakan terbesar. Kriteria yang dituntut bukan cuma sekedar jago 1vs1. Sayap juga harus mampu main sebagai pemain jarum di area tengah. Masuk ke kotak pinalti untuk menjadi striker. Bahkan menjadi pivot di kedalaman. Situasi permainan saat tim harus membongkar compact defense seringkali menuntut banyak rotasi posisi. Terens dan Diego adalah kejutan!

 

Starting XI vs Saudi Arabia

 

K!

Bagaimana soal formasi?

 

Pep

Saya mencoba mengaplikasikan permainan berbasis 1-3-4-3 Diamond sebagai dasar pada game tur Timur Tengah. Alasan utamanya saya ingin memainkan sebanyak mungkin gelandang dan mengokupansi area tengah. Di sisi lain saya juga tetap menginginkan classic winger yang merupakan pemenang 1v1. Saya akan kelihatan bodoh bila tidak memainkan  Terens. Formasi ini bisa mengakomodasi semuanya.

 

Hanya saja, saya tidak mau pemain terjebak dengan formasi ini-itu. Itu hanya angka belaka. Sepakbola modern tidak formation dependent atau terkait formasi. Sepakbola masa kini bersifat space dependent atau terkait ruang. Pemain terbaik di sepakbola modern adalah mereka yang mampu menciptakan dan memanfaatkan ruang dengan positioning akurat.

 

Itulah sebabnya pemain harus belajar untuk nyaman bermain di seluruh penjuru lapangan. Seorang gelandang yang bertugas sebagai pivot di kedalaman terkadang harus melebar, bahkan menusuk ke depan. Sebaliknya, sayap terkadang harus masuk ke tengah jadi gelandang serang atau malah jadi pivot di kedalaman. Tidak ada posisi yang statis. Ketersediaan ruang selalu berubah sepanjang pertandingan.

 

K!

Bagaimana cara bermain yang Anda inginkan?

 

Pep

Tentu saya menginginkan tim membangun serangan dari bawah. Kontruksi terstruktur dengan kesabaran yang cermat. Saya selalu menekankan 15 pass rule. Sebisa mungkin tim memainkan possession dengan banyak passing terlebih dahulu untuk memaksa lawan turun ke areanya sendiri. Cara kita menyerang adalah cara kita bertahan. Dengan memaksa lawan turun ke area sendiri, tim kita akan lebih aman dari ancaman serangan balik.

 

Untuk fase finalisasi di sepertiga depan, saya memberikan beberapa ide kepada pemain. Meski demikian, area sepertiga depan adalah area yang paling sedikit ruang karena lawan pasti sudah begitu padat menutup kotak pinalti. Untuk itu prinsip utama yang harus dijunjung adalah siapapun boleh masuk ke kotak pinalti, tetapi tidak satupun boleh berdiri di sana. Saya juga sangat memberikan kebebasan berkreasi pada pemain di sepertiga depan. Tugas saya adalah memberi struktur posisional agar tim dapat melakukan progresi dari sepertiga bawah hingga ke sepertiga depan. Selanjutnya, tugas pemain untuk menyelesaikannya.

 

Hal yang saya ingin jelaskan adalah soal antisipasi serangan balik lawan. Di dua game perdana kontra Malaysia dan Singapura, kami kebobolan akibat serangan balik lawan. Media mengkritik dan meminta saya memperbaikinya. Jelas, saya perbaiki kekurangan tersebut. Tetapi pembenahan harus dilakukan pada sumber masalahnya. Apa itu? Pertama, posisional buruk saat menyerang buat tim sering hilang bola. Kedua, posisional buruk tadi juga membuat counter pressing sulit dilakukan karena pemain harus berlari dalam jarak tidak masuk akal.

 

Sebagai pelatih kita harus cermat menganalisa hal tersebut. Media hanya menilai end resultnya saja. Tim kebobolan karena counter attack lalu pelatih harus asah antisipasi counter attack. Omong kosong! Cara kita menyerang adalah cara kita transisi dan cara kita bertahan.

 

Kontra Qatar dan Saudi, struktur posisional membaik. Membentuk berlian di segala tempat dengan jarak dan bentuk staggering ideal. Tim nyaris tak pernah kehilangan bola sebelum masuk sepertiga depan. Kemudian Counterpress aturan 6 detik juga berjalan sempurna, karena semua pemain saling berdekatan.

 

Untuk bertahan, saya menginginkan garis pressing yang tinggi. Merebut bola di kedalaman, kemudian harus mengolahnya 40-60 meter ke depan untuk cetak gol bukanlah ide menarik. Dengan rebut bola di depan, jarak gawang begitu dekat untuk cetak gol. Pressing tinggi juga hindari lawan lakukan direct play dan adu duel udara di kotak pinalti. Hanya orang bodoh yang membiarkan lawan mengangkat bola sehingga Zul atau Bima harus beradu heading.

 

K!

Di dua game terakhir, timnas mem-build up serangan dengan baik. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Bagaimana tim melakukannya?

 

Pep

Persoalan terbesar sebenarnya bukan kemampuan teknik. Pemain Indonesia kesulitan sebab mereka tidak memiliki wawasan tentang ruang dan posisi. Sekali lagi, saya katakan jika pemain tak mampu jelaskan di papan taktik, ia takkan mampu memainkannya.

 

Build up sangat bergantung pada bagaimana lawan melakukan pressing. Zulfiandi adalah pemain kunci dalam build up. Jika lawan gunakan 2 striker Zulfiandi akan menginisiasi build up dengan ciptakan situasi 3v2. Ryuji dan Diego harus melebar layaknya seorang fullback untuk men-stretch dua striker lawan. (Gambar di bawah).

 

 

Jika hadapi lawan dengan dengan 3 striker seperti Saudi, posisional Zul menjadi makin krusial. Ia harus naik ke depan, agar tidak dapat dilihat oleh striker lawan. Di saat bersamaan ia juga harus kelihatan untuk bisa dipassing oleh Andritany, Ryuji dan Diego. Misal inisiasi build up dimulai dari Andri ke Diego. Lalu sayap kiri lawan mem-press Diego. Ketika itu, Diego punya pilihan mudah sebab terjadi 2v1 di tengah! Bila striker mengikuti Zul, berarti Andri kosong. Sebaliknya jika striker menjaga zona atau mem-press Andri, maka Zul bebas. (Gambar di bawah).

 

 

Setelah 2-0, Saudi melakukan pressing yang berbeda. Striker mereka cenderung berorientasi man to man ke Zul. Ini membuka jalan Andri untuk diagonal pass ke Ian Kabes dan Maitimo yang melebar. Mereka dapat melakukannya dengan mudah karena tingginya posisi Terens dan Andik membuat fullback Saudi tak dapat lakukan pressing lebih tinggi. (Gambar di bawah).

 

 

K!

Timnas menang besar di game tersebut. Apa resepnya?

 

Pep

Kami selalu dapat mengakses area tengah. Dimana kami memiliki jumlah pemain lebih. Bert Van Marwijk gunakan 1-4-2-3-1 dengan memainkan 3 gelandang di tengah. Ini membuat secara natural situasi 4v3 selalu terjadi. Sebenarnya meski Stefano free, tetapi ia cenderung tidak terakses. Zul bermain luar biasa malam itu. Ia selalu mengkoneksi progresi dari belakang ke tengah. Naiknya Zul membuatnya bersama Manu mendapat situasi 2vs1 lawan No.10 Saudi.  Ini membuat Stafano terakses. (Gambar di Bawah).

 

 

 

Hal lain adalah kejutan Diego. Kami melakukan sedikit rotasi di sebelah kanan. Andik yang mainkan peran sayap klasik menyita focus bek kiri Saudi. Lobang besar di halfspace (lihat terjemahan di sini) selalu dieksploitasi Diego yang melakukan lari vertical panjang muncul dari belakang. Diego juga selalu mengancam dengan long range shoot dari depan bok. Terima kasih juga pada Maitimo yang menjaga keseimbangan di kedalaman. (Gambar di Bawah).

 

 

 

K!

Anda puas dengan level permainan timnas yang telah dicapai?

 

Pep

Jauh dari puas! Perlu diketahui, kemenangan besar kontra Saudi tidak sepenuhnya terjadi karena kehebatan Timnas. Faktor terbesar adalah ketidaksiapan Saudi mengantisipasi permainan timnas. Gaya permainan yang kami mainkan belum dikenal banyak negara lain. Jika malam ini kami harus kembali hadapi Saudi, pertandingan akan menjadi sangat sulit!

 

Seiring waktu banyak negara akan pelajari gaya bermain timnas dan mempersiapkan kontra taktik peredamnya. Untuk itu kami harus meningkatkan kualitas eksekusi taktik di lapangan dengan intensitas jauh lebih tinggi. Selain itu, segala situasi pertandingan kemarin masih berlangsung sesuai rencana permainan. Kami menganalisa Saudi dan kebetulan semuanya akurat terjadi seperti perkiraan.

 

Di level yang lebih tinggi, Anda harus bersiap dengan segala kemungkinan perubahan. Dalam hitungan detik, berkas rencana taktik dapat dibuang ke tong sampah. Mungkin tim Anda kebobolan, lalu lawan mengubah garis pressingnya. Bisa juga pemain Anda di kartu merah sehingga tim kalah jumlah pemain. Lalu pergantian pemain dan taktik permainan. Situasi dinamis ini harus disikapi secara dinamis juga. Jujur saja, pemain Timnas Indonesia belum sampai pada level itu!

 

K!

Muchas Gracias Pep. Sukses untuk kita semua!

 

Pep

De Nada. Hasta luego! <>

 

 

@ganeshaputera

ganesha@kickoffindonesia.com

 

*artikel ini adalah tulisan imajiner belaka, tidak benar-benar terjadi, kesamaan nama dan tempat hanya digunakan untuk mendukung artistik tulisan.

 

Please reload