KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

[Analisa Leverkusen vs Bayern Munich] Pertunjukan Taktik Kelas Dunia ålå Pep & Schmidt

February 10, 2016

Kabar kepindahan Pep ke Inggris membuat penulis mendua hati. Di satu sisi menarik mengamati kiprah Pep di Inggris yang dikenal memiliki perkembangan taktik kuno. Di sisi lain, kita kehilangan duel taktik intensitas tinggi Pep dengan Roger Schmidt, pelatih Leverkusen saat ini. Pada game terakhir, meski berakhir kacamata, tapi mempertontonkan kepada kita sebuah suguhan adu taktik kelas dunia.

 

Susunan Pemain

 

Pada pertandingan ini, Schmidt menurunkan formasi 1-4-2-2-2. Bellarabi dan Calhanoglou bermain sebagai no.10. Dimana orientasi pergerakan mereka adalah halfspace. Bukan sebagai sayap yang menyisir sisi lapangan. Keduanya membantu duo Kiessling-Hernandez dalam melakukan blokade aliran bola Bayern ke area sentral dan halfspace. Lalu, mengarahkannya ke sisi lapangan.

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali bertanding kontra Schmidt, Pep gemar memainkan formasi tiga bek. Hal yang sama juga dilakukannya dalam pertandingan ini. Hanya, skema tiga bek-nya kali ini merupakan hasil transposisi dari formasi dasar 1-4-1-4-1 ke 1-3-2-4-1. Lahm yang diplot sebagai bek kanan masuk ke area tengah. Di ruang yang sama dengan Alonso. Keduanya bertugas membantu trio lini belakang Alaba, Badstuber dan Kimmich dalam mengkonstruksi serangan.

 

Satu-satunya kejutan dalam susunan pemain yang diturunkan oleh Pep adalah tidak dimasukkannya nama Thomas Muller dalam starting XI. Hal ini berarti integrasi permainan di ruang antar lini akan dibebankan pada Costa atau Vidal. Alhasil progresi permainan Bayern tidak maksimal karena adanya sejumlah keputusan buruk di antara keduanya.

 

Progresi via Area Sentral

Penggunaan Lahm di ruang yang sama dengan Alonso ini amat menarik. Dimana Pep telah menyadari penggunaan orientasi man-marking yang dilakukan oleh salah satu dari kedua no.6 Leverkusen, terutama Kampl. Dengan demikian akan muncul situasi 2vs1 di area no.6 milik Bayern untuk mendukung progresi melalui area sentral.

 

Dalam beberapa momen hal ini mampu menciptakan sejumlah permasalah bagi Leverkusen, namun sejumlah keputusan yang buruk (terutama dari Vidal dan Costa) serta tingginya tingkat compactness dalam blok struktural Leverkusen dapat mencegah progresi lebih lanjut.

 

 

Selain situasi 2vs1, keberadaan Lahm di ruang yang sama dengan Alonso akan memungkinkan Alonso turun lebih dalam ke lini pertama. Pertimbangan dari pengambilan keputusan ini mungkin didukung dengan cederanya Boateng. Bek timnas Jerman ini merupakan pemain kunci Bayern. Kemampuan spesialnya dalam melepaskan umpan jauh akurat menjadi senjata build-up Bayern di bawah kepelatihan Pep. Dengan turunnya Alonso ke lini pertama diharapkan dirinya dapat menggantikan peran Boateng.

 

Ide Pep tampaknya telah diantisipasi oleh Schmidt dengan jeli. Alonso mendapat kesempatan untuk turun ke lini pertama hanya ketika bola berada di area sentral. Sementara itu Kiessling dan Hernandez memosisikan diri mereka untuk menjaga akses terhadap Kimmich dan Badstuber, dengan demikian peluang untuk munculnya relokasi bola ke sisi jauh dapat dicegah.

 

Pada beberapa kesempatan, Bayern memang masih dapat melakukan perpindahan bola ke sisi jauh. Hanya pemain yang menjadi pemindah bola bukanlah Alonso, melainkan Kimmich. Meskipun akurasi Kimmich cukup bagus, tapi tak memaksa blok pertahanan Leverkusen bergeser jauh. Sehingga perpindahan bola ke sisi jauh ini mudah diantisipas dan tak timbulkan penetrasi berbahaya.

 

Progresi dari Sisi Lapangan

Buruknya alur perpindahan bola ke sisi jauh ini terlihat cukup dipengaruhi oleh mekanisme progresi via sisi lapangan. Mekanisme progresi via area ini menjadi krusial ketika harus melawan sistem pressing yang diterapkan oleh Schmidt. Kedua no.10 Leverkusen dalam 1-4-2-2-2 ini memiliki kordinasi dengan kedua no.6 dengan membentuk mekanisme pendulum (untuk mengetahui contoh penggunaan mekanisme pendulum dapat di baca di sini).

 

 

Mekanisme pendulum ini akan mempengaruhi jumlah pemain Leverkusen yang terlibat di lini pertama, staggering yang terbentuk menjadi 1-4-3-3 yang merupakan transposisi dari 1-4-2-2-2. Dalam situasi ini aliran bola lawan akan dipaksa ke sisi lapangan untuk kemudian dijebak.

 

Dalam pertemuan pertama keduanya di musim ini, Pep sebenarnya telah sukses mengakali sistem jebakan pressing Schmidt (baca area jebakan Leverkusen di sini). Akan tetapi, pada pertandingan ini Pep mencoba variasi lain untuk mengksploitasi area jebakan ini. Model permainan Pep ini bersifat ambivalensi. Sisi buruknya yaitu terlalu banyak pergerakan out of position. Ini menyebabkan lemahnya timnya dalam transisi.

 

Variasi Lahm-Costa-Robben

Dalam 1-4-1-4-1 ini Lahm akan berperan sebagai no.6/8. Sementara, Costa berperan sebagai no.8/10. Orientasi utama pergerakan Costa pada mulanya adalah pergerakan vertikal untuk mengakomodasi Lewandowski turun ke ruang antar lini dan Robben ke area jebakan. Hanya saja orientasi pergerakan Lewandowski di ruang antar lini tidak sebaik Muller.

 

Dengan demikian ketika bola dimainkan ke area jebakan tidak ada pemain yang mampu memberikan bantuan di area halfspace atas. Hal ini memudahkan kedua no.6 Leverkusen dalam mengorientasikan diri mereka. Mereka dapat dengan mudah menutup aliran bola kembali ke lini pertama sehingga tidak ada kemungkinan terjadinya relokasi bola ke sisi jauh.

 

Dalam beberapa momen Pep mencoba manfaatkan Costa yang bergerak ke area jebakan ini. Sementara Robben akan bergerak ke halfspace atas. Hanya, pemosisian Costa sering terlalu tinggi. Terkadang juga ia mengambil keputusan yang buruk dengan bola. Ada momen saat Lahm berdiri bebas di halfspace yang dekat dengan bola. Anehnya, Costa justru memilih memainkan bola ke Robben yang akhirnya mudah dipressing lini belakang Leverkusen. Andai bola dimainkan ke Lahm, terdapat peluang untuk melakukan perpindahan bola ke sisi jauh.

 

Variasi lainnya adalah Lahm akan tetap berada di sisi lapangan sementara Costa tetap berada di halfspace. Dalam variasi ini, sejumlah jarak pemosisian kurang ideal. Hal paling krusial tentu saja minimnya dinamika pergerakan antar pemain. Leverkusen pun dapat dengan mudah mengembangkan akses pressing terhadap aliran bola Bayern.

 

 

Seperti disebut di awal, terdapat asimetri antara pemosisian Lahm dan Alaba. Dimana Lahm berada di depan lini pertama. Sedangkan Alaba mengisi lini pertama. Sayangnya, Alaba tidak sepenuhnya berada di lini pertama bersama Badstuber dan Kimmich. Terdapat asimetri antara Alaba dan Kimmich yang sama-sama berperan sebagai halfback. Alaba memosisikan dirinya sedikit lebih tinggi dibanding Kimmich dengan orientasi pergerakan yang lebih vertikal pula. Hal ini merupakan variasi yang ingin dicoba oleh Guardiola.

 

Variasi ini sebenarnya berjalan lebih baik dibandingkan sisi kanan berdasarkan struktur posisi yang terbentuk. Sial bagi Pep, sejumlah pengambilan keputusan buruk menjadi penghambat. Terutama dilakukan Vidal. Seringkali Vidal berada di posisi terlalu tinggi untuk memberikan koneksi. Jika Vidal harus keluar ke area jebakan, ia tidak memiliki pressing resistance mumpuni untuk membawa bola keluar dari zona jebakan.

 

Perubahan Pep

Setelah turun minum, kedua pelatih melakukan sejumlah perubahan. Schimdt menarik Jedvaj diganti Hilbert. Sedang, Pep mengganti Vidal dan Robben dengan Thiago dan Muller. Dari sudut pandang taktik, masuknya Thiago memberi angin segar bagi Bayern. Terutama dalam hal dinamika di sisi kiri. Rotasi apik Thiago dengan Alaba menghasilkan sirkulasi bola yang lebih baik.

 

Kombinasi pergerakan utama di antara keduanya adalah Thiago bergerak ke zona jebakan. Lalu, Alaba akan melakukan underlap via halfspace. Sementara itu, Costa tetap berada di sisi lapangan untuk mengunci Hilbert. Dalam situasi ini kehebatan pressing resistance Thiago membantu Bayern lakukan progresi. Ditambah keberadaan Muller di ruang antar lini yang mengintegrasikan permainan.

 

Masuknya Muller menggeser Costa ke sisi kiri sebagai pemain no.11. Coman beralih ke sisi kanan sebagai no.7. Kelihaian Muller di ruang antar lini memberi perubahan signifikan pada ketajaman alur serangan FC Bayern. Dalam waktu kurang dari 10 menit Muller mendapat dua peluang dari dalam kotak penalti, hasil progresi serangan apik. Sayang, peningkatan signifikan dalam sirkulasi dan progresi Bayern tidak diikuti finishing membunuh. Beberapa peluang menjanjikan terbuang percuma.

 

Rencana taktik Pep pada pertandingan ini sebenarnya sangat menarik. Sayang, keputusan kurang tepat beberapa pemainnya membuat tidak berjalan baik. Pergantian di babak kedua membuat Bayern menjadi lebih baik. Hanya tak diikuti eksekusi akhir sempurna. Schmidt sendiri kembali menunjukkan eksistensinya sebagai pelatih cerdas dengan taktik pressing tinggi yahud. Ia memberi teladan bahwa untuk melawan tim sekelas FC Bayern tidak harus memainkan blok pertahanan rendah. Sungguh sajian adu taktik berkelas untuk menutup perjumpaan keduanya di Bundesliga!

 

@novalaziz

Analis Taktik Sepakbola, kontributor fandom.id

Please reload