K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Sepakbola vs Budaya: Siapa Bosnya?

February 24, 2016

 

Dua hari yang lalu, penulis menemukan sebuah tulisan refleksi cantik dari Coach Alex Weaver di voxsports.co. Alex dengan cerdik gunakan pertandingan antara Tim Albirex Niigata kontra The Young Lions (Singapore U23) sebagai pelatuk tulisan.

 

Menariknya lewat pelatuk momen tersebut, Alex dengan lihai ingin menggambarkan kegagalan Singapura dalam usaha menyerap ilmu praktisi ahli asing. Albirex adalah contoh konkretnya. Kehadiran tim asing asal Jepang ini dicibir karena dianggap tak berkontribusi apapun. Padahal di game tersebut, Alex mencontohkan banyak sekali pelajaran taktikal yang dipertontonkan oleh pemain-pemain “kelas bawah” Jepang itu.

 

Kekalahan The Young Lions juga jadi contoh betapa sulitnya praktisi dan public sepakbola local menerima ide baru praktisi expert asing. Sejak tahun lalu, Singapura menyewa jasa Michael Sablon dari Belgia sebagai Technical Director FAS. Sablon adalah manusia kunci di balik reinkarnasi Belgia menjadi negara sepakbola terbaik di dunia (Ranking 1 FIFA). Praktisi dan public local kini mulai menagih kinerja Sablon.

 

Padahal, sentuhan Sablon mulai terlihat di The Young Lions. Meski kalah telak kontra Albirex, mereka selalu konsisten membangun serangan dari bawah secara terstruktur. “Metode belajar suatu gaya bermain terbaik adalah memainkan gaya bermain tersebut melawan tim kuat, meskipun beresiko gagal dalam jangka pendek,” puji Alex. 

 

Adaptasi dengan Budaya?

Bagian paling menohok tulisan tersebut adalah kritik Alex pada persepsi orang Singapura terhadap praktisi ahli asing. Dari riset sederhananya, ia temukan bahwa public beranggapan praktisi ahli asing selalu gagal karena tak mampu beradaptasi dengan budaya local.

 

Fakta subjektif ini begitu aneh menurut Alex. Bagaimana mungkin seorang Michael Sablon yang sukses merevolusi sepakbola Belgia jadi nomor satu di dunia harus ikuti budaya Singapura, negeri rangking 148 FIFA? Lalu “haruskah Sablon beradaptasi dengan kepelatihan sepakbola Singapura yang masih menerapkan metode tahun 80-an?” kritiknya.

 

Akhir tulisan Alex menjadi gong yang sangat sentimental. Dengan puitis, ia mengutip Mary Ann yang mengatakan “Melihat langsung bulan bersinar berbeda dengan melihatnya dari belahan bumi yang lain.” Ya, Sablon bukan cuma melihat langsung bulan. Ia juga hidup bersama sinar bulan tersebut. Bukankah sebaiknya praktisi local mengikuti Sablon?.

 

Tulisan Alex menjadi menginspirasi penulis untuk merenda cerita pada konteks sepakbola Indonesia. Cerita berawal dari Bernard Schumm, Direktur Teknik PSSI di era 90-an. Schumm membawa ide revolusioner. Salah satunya adalah pesepakbola haram melakukan static stretching. Pelatih berkepala plontos asal Jerman itu mengatakan stretching hanya buang-buang waktu.

 

Ide Schumm sulit diterima oleh pelatih local. Ketika itu static stretching masih menjadi budaya di kepelatihan sepakbola kita. Schumm secara objektif telah jelaskan alasan ilmiah kerugian static stretching untuk sepakbola. Tapi penjelasan objektif tersebut terus dibantah oleh penjelasan subjektif tak masuk akal. Kalimat “Schumm benar, tapi stretching sudah menjadi budaya pemain kita,” menjadi pembenar paling popular.

 

Era Schumm berlanjut ke Peter Withe asal Inggris. Di awal 2000an menukangi tim nasional, Withe mencoba menerapkan sistim pertahanan Zona Marking. Implementasinya dengan menghilangkan libero dan main flat back four. Lagi-lagi ide baru ini dikritik banyak praktisi local. Umumnya semua merasa ide Withe sangat bagus. Tapi tidak cocok dengan budaya sepakbola Indonesia yang terbiasa main libero.

 

Withe yang digadang oleh PSSI untuk “mengajarkan” sepakbola yang benar mulai mengalah. Ia pun akhirnya kembali mainkan sistim trio bek di belakang. Seingat penulis, sebenarnya Withe mengakali public. Ia bilang kembali ke gaya lama. Padahal implementasinya, Withe tetap memainkan zona marking dengan modifikasi flat back three.

 

Kejadian paling gres adalah kiprah Pieter Huistra, Dirtek PSSI yang sempat membesut PBR di Piala Jendral Sudirman. Meneer Belanda ini menjadi bahan pergunjingan publik sepakbola kita, setelah gagal total bersama PBR. Cacian “sepakbola Indonesia jangan dipaksa mengikuti gaya sepakbola Belanda!” menjadi begitu popular.

 

Anehnya, semua pihak seolah seperti menyetujui asumsi sesat tersebut. Seolah jika Pieter ingin berhasil, ia harus mengikuti gaya bermain Indonesia. Sebuah gaya sepakbola yang tak membawa Indonesia kemana-mana. Mengapa media dan pelatih tak ada yang tertarik mempelajari model “midfield man to man marking” yang dibuatnya? Mengapa tak satupun membahas pertunjukan taktikal kelas atas Huistra yang memaksa Gunawan Dwi Cahyo terus memainkan long passing tanpa arah? Publik dan praktisi tak peduli atau memang tak mengerti?

 

Sepakbola adalah Bos!

Seklumit cerita di atas memberi pelajaran besar. Pengembangan sepakbola memang harus mempertimbangkan budaya. Akan tetapi budaya tidak boleh menjadi titik awal fondasi suatu pengembangan sepakbola. Sepakbola lah yang harus jadi titik awal. Jika kita ingin mengembangkan sepakbola ke level tertinggi, maka budaya lah yang harus ikuti tuntutan sepakbola level tinggi tersebut. Sepakbola adalah bosnya!

 

Tidak mungkin misalnya seorang Pep Guardiola datang ke Indonesia dan harus beradaptasi dengan budaya kita. Pep harus menyesuaikan jam latihannya dengan budaya jam karet. Lalu Pep harus membiarkan pemainnya diurut pasca cedera. Kemudian mengijinkan pemain ikut tarkam. Puncaknya di lapangan, Pep harus relakan kipernya tendang bola jauh ke depan tanpa arah.  Mana mungkin?

 

Jika hari ini Pep bekerja membangun sepakbola Indonesia. Apakah kita berani ikuti Pep? Atau kita masih menggerutu bilang ilmu Pep ketinggian dan tidak cocok dengan budaya Indonesia? Hidup itu memang pilihan. Celakanya, menjadi bodoh dengan menikmati kualitas sepakbola yang gini-gini saja juga sebuah pilihan. Selamat menjadi bodoh! <>

 

@ganeshaputera

ganesha@kickoffindonesia.com

Please reload