KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Menyegarkan Timnas, Menaikkan Level Sepakbola

June 23, 2016

Dicabutnya sanksi FIFA adalah momentum bagi PSSI menyegarkan timnas dengan tujuan menaikkan level sepakbola. Mengapa menaikkan level sepakbola, bukan juara AFF? Puncak pencapaian prestasi timnas adalah Piala Dunia. Untuk ke Piala Dunia, kita cukup jadi 4 besar Asia. Tak perlu Juara Piala Asia, Asian Games, apalagi cuma AFF dan SEA Games. Untuk (terus) jadi 4 besar Asia, kita perlu naikkan level permainan timnas kita.

 

Berangkat dari misi menaikkan level sepakbola kita, satu-satunya cara adalah melakukan penyegaran tim nasional. Penyegaran selain menyasar pada regenerasi pemain, tetapi juga pada cara bermainnya. Menyegarkan taktik permainan merupakan harga mati. Sebab sepakbola kita hanya bisa meningkat levelnya bila mampu memenuhi tuntutan permainan sepakbola level tinggi.

 

Euforia kegembiraan kembalinya timnas berkiprah di ajang internasional merangsang lamunan produktif. Sebuah lamunan ide tentang tim nasional rasa baru yang segar. Tim nasional yang merupakan gabungan pemain berpengalaman dan pemain debutan. Dengan permainan yang memenuhi tuntutan sepakbola masa kini.

 

Komposisi Skuad

 

Berdasarkan perkembangan terakhir di kompetisi ISC A, lamunan penulis membawa pada khayalan 22 nama. Sesuai janji, timnas merupakan kombinasi pemain debutan-veteran yang terbaik. Tidak peduli naturalisasi atau bukan. Atau main di liga local atau luar. Made, Maman, Ricardo dan Boas mewakili generasi pemain senior. Sedangkan Yanto, Evan, Zulfiandi, Ichsan dan Terens mewakili generasi baru pemain timnas senior. Komposisi makin klop dengan kehadiran pemain naturalisasi seperti Gonzales, Lilipaly, Irfan atau Maitimo.

 

Formasi yang dipilih adalah 1433. Andri menjadi pilihan utama di bawah mistar. 4 bek dipercayakan pada kuartet Maitimo, Maman, Yanto dan Hendro. Gelandang dimotori oleh Zulfiandi sebagai pivot berkolaborasi dengan Lilipaly dan Bachdim. Trio lini depan diisi Boas di kiri, Gonzales memerankan nomor 9 murni, diapit oleh Terens di kanan. 

 

Timnas juga didukung oleh kedalaman skuad variatif. Timnas masih memiliki kartu as dalam diri Andik Vermansyah dan Evan Dimas. Andik akan tampil dengan gaya baru yang lebih simple setelah lama beraksi di Malaysia. Sedangkan Evan diharapkan mampu memperagakan permainan posisi (juego de posicion), bekal belajar dari Espanyol. Jangan lupakan Van Dijk yang bisa menjadi alternatif, bila timnas harus memainkan direct play.

 

Di samping itu, kedalaman skuad timnas ini juga memiliki memungkinkan pelatih lakukan rotasi posisional. Katakanlah Boas, Bachdim dan Andik bisa bermain sama baiknya di semua posisi serang. Baik di areal sayap, maupun sebagai striker yang selalu turun untuk menjadi extra midfield.  Lalu ada Maitimo yang mampu bermain di pesisir, maupun di kerumunan antar lini tengah lawan. Sungguh skuad yang menjanjikan!

 

Cara Menyerang

Ibarat nomor telepon, keberadaan formasi 1433 sebenarnya hanyalah deretan angka belaka. Formasi ini hanyalah posisi dasar awalan saja. Pada situasi permainan, formasi ini tidaklah kaku, melainkan cair mengikuti ketersediaan ruang akibat tumbukan dengan formasi lawan. Tentu ini sesuai dengan tuntutan sepakbola modern. Dimana pemain tidak berorientasi pada zona tertentu (zone dependant), melainkan pada ketersediaan ruang (space dependant).

 

Melihat karakter skuad ini, maka playing style yang paling cocok adalah memainkan effective possession saat attacking, serta melakukan effective pressing saat bertahan. Untuk itu penulis menetapkan momen utama sepakbola sebagai referensi yang objektif. Yakni cara bermain timnas saat menguasai bola, saat transisi kehilangan bola, saat lawan menguasai bola dan saat merebut bola.

 

Saat menguasai bola, katakanlah dari kiper saat terjadi goalkick. Alih-alih melakukan tendangan gawang jauh melambung tak terarah, pilihan terbaik adalah lakukan patience build up. Dimana kiper memulai dengan passing pendek ke lini belakang, kemudian tim mengkontruksi dengan kombinasi passing untuk dapat melakukan progresi ke area penciptaan peluang.  

 

Hal ini dilakukan mengingat jumlah pemain lini belakang timnas ada 4 orang. Dengan mengandaikan lawan gunakan formasi populer 1433 misalnya, maka akan selalu tercipta 4 (+1GK) vs 3 striker lawan.  Menariknya, semua fullback pilihan penulis sejatinya adalah gelandang tengah yang pernah bermain sebagai fullback. Pilihan pada Maitimo, Hendro, Kim dan Amarzukih terkait pada fungsi dan cara bermain timnas saat menyerang.

 

Saat membangun serangan, katakan bola di Maman. Bentuk diamond dibuat dengan sedikit wide rotation. Dimana di sebelah kiri, Maitimo akan masuk ke tengah, Bachdim turun sebagai fullback kiri dan Boaz akan masuk ke halfspace, berdiri di belakan lini gelandang bertahan lawan. Lilipaly juga lakukan hal yang sama. Di saat yang sama, Hendro juga masuk ke tengah di sisi lapangan jauh dari bola. 

 

 

Sehingga Maman memiliki opsi passing prioritas ke depan via Maitimo. Bila tidak memungkinkan bisa ke Bachdim di kiri dan Zulfiandi di kanan. Bila lawan disiplin lakukan pressing dengan pergeseran dan kerapatan sempurna, Maman bisa mengubah arah serangan ke sisi Yanto, langsung atau via Andritany.

 

 

Segitiga Maman, Bachdim dan Maitimo menjadi kekuatan dahsyat timnas dalam melakukan build up serangan. Jika jalur passing yang terbuka adalah ke Maitimo, maka ia bisa lakukan turning jika tak terjaga. Bila gelandang bertahan lawan memutuskan untuk naik memarking Maitimo saat Maman melepas bola, Maitimo bisa lakukan layoff ke Bachdim. Dimana Irfan bisa segera meneruskan progresi serangan dengan passing ke Boaz. Ya, dengan masuknya 2 fullback timnas ke tengah, akan selalu tercipta 5v3. Pada kasus ini, Boas jadi pemain tak terjaga.

 

Sebaliknya bila jalur passing yang terbuka adalah dari Maman ke Bachdim, maka kembali Irfan bisa memilih untuk mem-passing bola ke Maitimo atau Boas. Salah satu dari keduanya pasti akan free. Sebab gelandang bertahan lawan pasti harus memilih untuk jaga kedalaman (dekat dengan Boas) atau naik me-marking Maitimo. Kemungkinan ekstrim lain adalah Boas terpaksa harus di-marking oleh stoper lawan. Situasi ini memungkinkan Bachdim mengirim bola direct behind the line ke Gonzales.

 

 

Andaikan saja bola diprogresi melalui Maitimo. Ada dua skenario yang bisa terjadi saat Maitimo memegang bola. Pertama, Maitimo akan dipressing oleh gelandang bertahan lawan. Situasi ini memungkinkan Maitimo memprogresi bola ke depan via Boas, Bachdim dan Lilipaly. Termasuk juga yang paling vertical ke Gonzales sekalipun.

 

 

Skenario lain yang lebih menarik adalah bila Maitimo dipressing oleh No.10 lawan. Situasi ini membuat Zulfiandi dan Hendro menjadi free. Maitimo dapat dengan mudah melakukan switching play via Zul dan Hendro. Kemudian Zul atau Hendro dapat mengirim bola vertical ke depan atau diagonal ke Terens. Dimana si bocah gesit ini akan mendapatkan situasi 1v1 di area yang luas. It’s time for solo penetration!

 

 

Hakekat utama dari berbagai rotasi tadi adalah untuk membentuk form 12323. Dimana pada area penciptaan peluang di sepertiga akhir, ada lima pemain yang berdiri di belakang lini gelandang bertahan lawan. Sehingga selalu tercipta situasi menang jumlah orang 5v4 secara keseluruhan. Serta 3v2 atau 2v1 di area tertentu di dekat boks penalty lawan.

 

 

 

Immediate Pressing

Cara timnas menyerang adalah cara timnas bertransisi saat kehilangan bola. Sekali lagi di sini struktur posisional yang tertata rapi merupakan pra-organisasi untuk melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Mengingat timnas ingin memainkan sepakbola berbasis effective possession, maka pilihan terbaik adalah melakukan pressing seketika setelah kehilangan bola (immediate pressing). Alias merebut bola secepat mungkin pada saat transisi negative.

 

Pada konteks ini, makin terang tergambar mengapa timnas memilih menyerang dengan form 12323. Dimana kedua fullback yang dimainkan oleh pemain tipe gelandang wajib masuk ke area tengah. Tepatnya beroperasi di area halfspace bawah. Keberadaan gelandang bertahan plus dua fullback di kedalaman area tengah memungkinkan timnas lakukan immediate pressing dari segala arah. Dimana saat menyerang pemain sudah saling berdekatan dengan jumlah pemain cukup.

 

Di gambar bawah terdeskripsikan skenario bila serangan timnas dipotong oleh gelandang bertahan lawan. Di situasi tersebut, pemain sudah begitu dekat, dimana Hendro bisa segera melakukan pressing, mengkeroyok pemain dengan bola bersama Lilipaly, Terens, Gonzales, dll. Sedangkan pada gambar berikutnya dijelaskan skenario bila serangan timnas patah di area sayap.

 

 

Bertahan dengan 1442

Formasi timnas bertransformasi menjadi 1442 Narrow pada momen bertahan. Organisasi ini dilakukan saat lawan telah terorganisir dengan baik. Ada beberapa alasan logis penerapan organisasi defending ini. Pertama, diyakini semua lawan timnas akan menggunakan formasi flat back four. Situasi yang akan terjadi adalah dua stoper lawan bakal memulai serangan dari bawah kontra dua direct opponent alias tercipta 2v2. Ini akan memaksa lawan memainkan bola panjang dari bawah.

 

Jika cara menyerang menentukan cara bertransisi saat hilang bola, maka cara bertahan juga akan menentukan cara timnas bertransisi saat merebut bola. Organisasi pertahanan secara natural merupakan titik awal dari serangan balik timnas. Inilah alasan lain begitu efektifnya 1442 Narrow. Dengan menempatkan dua striker (Boas dan Gonzales). Dimensi serangan balik timnas menjadi kaya. Utilisasi Gonzales yang bisa menahan bola akan berpadu dengan Boaz yang gemar melebar, plus bantuan dari Bachdim dan Terens.

 

 

Untuk tinggi-rendahnya line of confrontation, sebaiknya timnas menyiapkan dua skenario. Skenario pertama adalah high block dengan menekan lawan sejak kiper memulai serangan dari bawah. Pressing jauh di depan juga harus diikuti oleh perencanaan pressing trap. Dalam hal ini memaksa lawan bermain ke pinggir, kemudian menjebak lawan di sana merupakan pilihan bijaksana.

 

 

Skenario lain adalah menyiapkan low block dengan form 14420. Pengertian “0” di depan ini ditujukan pada orientasi penjagaan kedua striker pada gelandang bertahan lawan. Bukan pada stoper lawan. Rencana low block diyakini efektif bila gelombang high pressing sebelumnya mengalami kebocoran. Untuk itu penting timnas memiliki kecepatan dalam “melorot” menuju low. Pressing low block ini juga terfokus menutup ruang di tengah dan memaksa lawan bermain ke pinggir. Passing vertical dan long diagonal adalah tabu!

 

 

 

Keluar dari Zona Nyaman

Lamunan ide tentang kesegaran skuad timnas dan cara bermainnya tentunya mudah dituliskan, tetapi sulit diwujudkan. 1001 faktor akan menjadi alasan penghambat. Hanya saja membahas factor penghambat sungguh membosankan. Membuat kita menjadi pesimis, apatis dan problem oriented.

 

Penulis ingin menutup tulisan dengan suatu optimisme. Dua kutipan Walt Disney berikut akan menebalkan optimism tersebut:

 

“If you can dream it, you can do it!”

“Kalau Anda mampu mengimpikannya, Anda mampu melakukannya!”

 

“It’s kind of fun to do the impossible!”

“Sesuatu yang menyenangkan untuk melakukan hal yang mustahil!”

 

Ya, tak perlu lagi lakukan hal-hal yang itu-itu saja. Tokh cara bermain yang itu-itu saja tidak membawa level sepakbola kita kemana-mana. Mengapa kita tidak keluar dari zona kenyamanan dan mencoba sesuatu yang baru? Untuk itu pesan penulis pada Alfred Riedl adalah: “Selamat mencoba hal baru dan bersenang-senanglah!”

 

@ganeshaputera

*Tulisan ini merupakan versi asli dari yang dimuat di bola.com

Please reload