KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Mencari Jurus Ampuh Portugal Taklukkan Wales

July 5, 2016

Laga semifinal pertama Wales kontra Portugal bakal menyajikan pertarungan adu taktik menarik. Secara reputasi dan komposisi pemain, Portugal jelas jauh unggul dari Wales. Nama besar Ronaldo, Nani dan Pepe adalah jaminan mutu. Sedangkan Wales? Siapa sangka negeri liliput sepakbola ini mampu lolos ke Piala Eropa. Lima tahun silam, Wales masih berada di rangking 117 FIFA. Penampilan EURO terakhirnya adalah pada 1976 alias 40 tahun silam.

 

Pada kenyataannya, nama besar dan reputasi menjadi tidak penting dalam pagelaran EURO 2016 ini. Portugal sendiri tak pernah menang dalam laga 90 menit. Anak asuh Fernando Santos harus berdarah-darah menuju semifinal. Beruntung mereka memiliki banyak talenta individu yang mampu mengubah jalannya permainan.

 

Sebaliknya kiprah skuad Chris Coleman cukup menjanjikan, meski terus diterpa inkonsistensi. Pasca kalah 1-2 dari Inggris, Bale dkk bangkit taklukkan Rusia 3-0. Anehnya, di 16 besar, penampilan Wales drop walau menang atas Irlandia Utara. Beruntung, penampilan Si Naga kembali pulih saat tumbangkan Belgia 3-1 secara meyakinkan. Apakah fluktuasi performa Wales kembali terulang kontra Portugal? 

 

Kalah Jumlah Pemain

Coleman diyakini tetap mainkan formasi 13421 (1541) kontra Portugal. Tetapi, Wales harus kehilangan Ramsey dan Davies. Kemungkinan Coleman akan turunkan Hennesey di bawah mistar, mengkomandoi trio bek Chester, Williams dan Gunter. Perpindahan Gunter jadi bek tengah gantikan Davies, membuat Jazz Richards isi wingback kanan. Wingback kiri tetap diisi Taylor menopang kuartet Ledley, Allen, Bale dan Jonathan Williams yang gantikan Ramsey. Robson Kanu akan bermain sebagai striker tunggal. 

 

 

Menarik ditunggu pilihan formasi Santos untuk dapat menyikat Sang Naga. Di penyisihan, Portugal berganti antara 1433, 14312 atau 1442. Di dua pertandingan terakhir lawan Kroasia dan Polandia, Santos memilih 1442. Bila demikian, maka Patricio akan mengawal gawang di belakang kuartet Guerreiro, Fonte, Pepe dan Cedric. Lini tengah diisi Danilo dan Adrien di tengah, Mario di kanan dan Gomes di Kiri. Duet Ronaldo-Nani akan memainkan tombak kembar di depan.

 

Ini berarti adalah pertarungan 13421 melawan 1442. Situasi yang memusingkan untuk Portugal. Secara natural situasinya adalah 3v2 di pertahanan Wales. Lalu 6v4 di lini tengahnya. Tentu, kenyataan di lapangan tidak selalu demikian. Sebab kedua tim tidak mainkan formasi statis. Melainkan lakukan pergerakan dinamis untuk mencari keuntungan menang jumlah pemain di suatu lokasi tertentu.

 

Pertanyaannya, bagaimana Portugal melakukan penyesuaian terhadap kondisi natural kalah jumlah pemain di depan? Yakni kondisi 2v3 saat Wales mulai bangun serangan dengan 3 beknya. Dari pengalaman laga sebelumnya, Santos gemar lakukan pressing berorientasi man to man. Kemungkinan salah satu dari Mario atau Gomes akan naik ke depan untuk press 3 bek Wales. Portugal bertransformasi menjadi 1433.

 

Jika itu yang dilakukan, Portugal punya PR lain. Kemana 3 gelandang tersisa akan berorientasi? Jika mereka berorientasi ke tengah, mereka akan tetap kalah jumlah 3v4. Plus, wingback Wales akan bebas. Andai Santos ingin wingback Wales dijaga oleh fullbacknya, maka Cedric dan Guerreiro harus naik tinggi. Gawatnya, ruang di belakang fullback adalah ruang favorit bagi Bale dan Robson Kanu. Nah, makin pusing Santos.

 

 

Model pressing ini bisa mengulangi problem kontra Polandia . Di laga itu, lawan bertransformasi dari 14231 jadi 13421 saat menyerang. Portugal pressing tinggi dengan harapan lawan umpan panjang. Padahal Polandia sengaja pancing lawan pressing, diikuti umpan panjang. Memang umpan panjang mudah dimentahkan Pepe dkk. Tapi bola kedua dari adu heading selalu dimenangkan Polandia. Sebab 2-3 gelandang Portugal telah naik tinggi untuk pressing. Sehingga terjadi 3 bahkan 4 bahkan 1 di depan back 4 Portugal.    

 

 

Saya membayangkan ada baiknya Portugal tetap lakukan pressing dengan form 1442. Dimana keberadaan 2 striker focus melebar lindungi area halfspace. CR berorientasi ke Gunter sambil menutup jalur passing ke Jazz Richards. Sedang, Nani focus ke Chester sambil membayangi jalur passing ke Taylor. Sedang, 4 gelandang dan 4 bek Portugal bisa rapat melindungi area sentral.

 

 

Memang, model ini setengah melepas Ashley Williams, stoper tengah Wales. Toh, tak banyak yang bisa dilakukannya di area ini. Ia sulit mengakses kedua wingback dengan passing cepat. Varian long pass juga mudah diantisipasi karena 4 bek dan 4 gelandang telah berdiri di area tengah. Kalaupun Williams memutuskan untuk men-dribble bola ke depan, Ronaldo dan Nanti bisa berlari kembali untuk menjepitnya dari kedua sisi.

 

 

Bongkar Pertahanan

Saat menyerang, Santos juga harus berpikir keras. Satu hal yang Santos harus ingat adalah motto: “Cara tim menyerang adalah cara tim bertahan”. Maksud motto tersebut adalah struktur posisional tim saat menyerang haruslah tertata rapi. Agar saat tim hilang bola, semua pemain sudah berada di posisi ideal untuk transisi ke bertahan.

 

Santos harus menyiapkan dua skenario saat membangun serangan. Skenario pertama bila Wales mendorong Bale ke depan untuk pressing tinggi dengan 2 striker. Artinya akan terjadi situasi 2v2 di lini belakang Portugal. Situasi yang sulit untuk memprogresi bola ke lini tengah. Pepe dan Fonte harus sedikit lebih melebar dan dalam dari biasa, supaya Patricio punya ruang besar untuk memprogresi bola ke depan.

 

Fullback Portugal harus naik untuk memaksa Taylor dan Richards turun. Sehingga Wales tinggal memiliki 3 gelandang. Dengan posisi awal Mario dan Gomes yang menyempit, maka terjadi situasi 4v3. Gelandang Portugal bisa membentuk berlian dengan menaikkan salah satu dari Adrien dan Danilo untuk manfaatkan situasi 4v3 ini. Formasi menjadi 12332.

 

 

Skenario kedua yang lebih mungkin terjadi adalah Wales tidak lakukan pressing tinggi. Baik Bale atau Jonnie Williams akan turun melindungi area sayap. Wales akan bertransformasi menjadi 1541. Situasi ini tentu lebih memudahkan Pepe dan Fonte, karena mereka bertemu dengan situasi 2v1 kontra Robson-Kanu. Di skenario ini Portugal akan mudah memprogresi bola ke depan.

 

Meski mudah membangun serangan, tetapi skenario ini justru akan menyulitkan Portugal untuk menyelesaikan serangan. Akan ada 8-9 pemain Wales yang berada di belakang bola. Padahal Portugal sendiri di laga sebelumnya masih memiliki masalah koneksi antara Nani dan Ronaldo. Statistik menunjukkan tingginya jumlah passing ke 2 pemain itu. Anehnya, jumlah passing Ronaldo ke Nani dan sebaliknya sangatlah minim. PR untuk Santos!

 

Format yang mungkin efektif dicoba Santos adalah bertransformasi jadi 12323 bila Wales parkir dengan 1541. Dimana Ronaldo dan mungkin Mario bermain mengapung di antar lini. Ronaldo bisa berdiri diantara Gunter dan Allen. Posisi yang membingungkan untuk Gunter. Jika Gunter tidak ikut, maka Ronaldo mudah berputar. Jika Gunter ikut, berarti ia akan meninggalkan lobang di belakang. Format ini juga efektif untuk Portugal bisa langsung lakukan press saat kehilangan bola.

 

 

Doa

Kedua tim menatap semifinal dengan keuntungan dan masalah masing-masing. Secara taktikal, Wales jelas unggul. Komunikasi taktikal Bale dkk lebih terjalin mapan. Coleman juga tak pernah mengubah formasi dan cara bermainnya. Kalaupun ada penyesuaian terhadap lawan, lebih bersifat minor pada tataran taktik individu.

 

Masalah Wales terletak pada absennya Aaron Ramsey dan Ben Davies. Keduanya merupakan pilar penting dalam kesatuan taktik Coleman. Menjadi tanda tanya besar, apakah pengganti keduanya mampu jalankan tugas yang sama dengan kualitas selevel?

 

Portugal sendiri terkendala secara taktikal. Komunikasi taktikal mereka amburadul. Ini resiko tim yang banyak berorientasi pada individu. Meski demikian, usaha individu juga dapat mengubah banyak hal di sepakbola. Saat ini pasti Coleman berdoa: “berikan pengganti Ramsey dan Davies performa terbaik”. Sedang Santos berdoa: “mampukan Ronaldo menunjukkan magisnya!” Doa mana yang dikabulkan? Selamat menonton!

 

@ganeshaputera

* tulisan versi asli yang dimuat di www.bola.com

Please reload