KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Ayo Loew, Mainkan Lagi 1352!

July 7, 2016

 

Reputasi Joachim Loew sebagai pelatih papan atas tentu tak perlu diragukan lagi. Gelar Juara Piala Dunia 2014 buktikan Loew sebagai juru taktik cerdas. Terakhir Loew kembali menunjukkan kepiawaiannya saat menekuk Italia di perempat final. Dengan berani, ia mengubah 14231-nya menjadi 1352 untuk memulangkan Buffon dkk.

 

Kini, Jerman menghadapi tantangan lebih berat kontra tuan rumah Prancis. Selain harus melawan tuan rumah dengan suporter fanatiknya, Jerman juga kehilangan Hummels, Basti dan Gomez. Faktor kesegaran juga patut diperhitungkan. Mengingat Jerman bermain ketat 120 menit, plus adu penalty. Sedang Prancis mainkan laga santai kontra Islandia yang mereka menangkan telak 5-2.

 

Pressing Prancis

Deschamps diperkirakan akan turun dengan 1433. Lloris bersama kuartet Evra-Koscielny-Rami-Sagna akan mengawal lini belakang. Kante akan menjadi kontroler di belakang Pogba-Matuidi. Payet mengisi pesisir kiri, sedangkan Griezman akan memulai dari kanan. Giroud masih menjadi pilihan utama sebagai No.9 Prancis.

 

 

Kemungkinan Jerman akan kembali ke 14231. Neuer kawal gawang Panser. Howedes berduet dengan Boateng, didampingi Kimmich di kanan dan Hector di kiri. Untuk pengganti Khedira, Loew bisa memilih antara Weigl atau Emre Can. Kelihatannya, Loew akan mainkan Weigl bersama Kroos dan Ozil. Muller akan menjadi false-9 gantikan Gomez. Draxler kembali main di kiri dan Gotze di kanan.

 

Seperti biasa, Jerman akan kontrol tempo permainan dengan penguasaan bola. Saat bangun serangan, Jerman akan mulai secara konstruktif dari kiper, lalu lini ke lini. Loew harus mempersiapkan dua skenario membangun serangannya. Ada baiknya Prancis lakukan pressing tinggi seperti saat kontra Swiss. Boateng dan Howedes akan dipress langsung oleh Giroud dan Griezmann.

 

Untuk mengatasi pressing demikian, Jerman harus gunakan Neuer sebaik mungkin. Boateng dan Howedes perlu ambil posisi lebih lebar dan dalam untuk memecah Giroud dan Griezmann. Kemudian Neuer bisa memiliki banyak pilihan untuk mencari pemain kosong di lini tengah. Tergantung posisi 4 gelandang Prancis (Payet-Pogba-Matuidi-Kante) yang tersisa.

 

 

Kemungkinan Prancis akan lakukan man to man pada 3 gelandang dan 1 fullback Jerman. Fullback  jauh dari bola akan dilepas. Dengan demikian, rotasi gelandang menjadi krusial. Dengan dimainkannya Weigl, mungkin ada baiknya Loew meminjam taktik rotasi milik Thomas Tuchel (Dortmund).

 

 

Misal saat bola di Boateng, Kimmich dan Gotze naik tinggi. Tujuan Kimmich naik adalah menarik Payet turun. Jika Payet tidak ikut, maka Boateng atau Neuer bisa men-chip bola ke Kimmich yang berdiri diantara Payet dan Evra. Jika Payet ikut, maka Kroos bisa melebar manfaatkan ruang tersebut. Jika tidak diikuti, ia bebas. Jika Pogba ikut, maka akan terbuka jalur lewat area sentral ke Gotze yang masuk ke dalam.

 

 

Alternatif lain adalah bila Prancis bertahan pasif dari garis tengah seperti saat lawan Islandia. Pertahanan blok rendah Prancis kemungkinan mainkan formasi 14141. Jika ini yang terjadi, maka ada situasi 2v1 di lini belakang antara Boateng-Howedes vs Giroud. Artinya Jerman bisa kontrol tempo dengan possession.

 

Tempo saat kuasai bola beri banyak keuntungan. Pertama, bila Jerman kesulitan progresi ke depan dan terancam hilang bola, selalu ada opsi back pass ke Howedes dan Boateng. Ini bisa jadi momen Jerman ambil napas. Cocok mengingat mereka masih lelah pasca kontra Italia. Kedua, Jerman bisa sempurnakan struktur posisionalnya. Sehingga bila kehilangan bola, dapat lakukan pressing secepat mungkin. 

 

Blok rendah Prancis juga cocok untuk Muller yang bermain sebagai false-9. Muller adalah jagonya bermain di ruang antar lini. Ia akan mengapung diantara garis bek dan gelandang bertahan Prancis. Dilema untuk Koscielny atau Rami. Bila ikut Muller, aka ada lubang yang siap dimakan Draxler, Gotze atau Ozil. Bila tetap tinggal, Muller akan bebas menerima bola. 

 

 

Skenario blok rendah jelas bukan pilihan bijak. Gaya Jerman beda dengan Islandia. Islandia gemar di-press untuk renggangkan lawan secara vertical. Jika terjadi, Islandia lancarkan umpan panjang dan manfaatkan bola kedua. Tak heran Prancis menunggu di bawah agar mudah antisipasi bola panjang. Sebaliknya, Jerman akan berbahaya jika terus kuasai bola. Pressing tinggi memaksa Jerman long ball adalah taktik lebih bijak.

 

Antisipasi Griezmann

Saat tidak kuasai bola, isu Loew adalah mengantisipasi trio lini depan Prancis yang begitu cair dan dinamis. Dengan formasi serupa, serangan Prancis mirip Jerman. Griezmann yang mulai dari posisi kanan, sejatinya doyan mengapung di belakang Giroud. Payet juga sering masuk ke dalam, eksploitasi halfspace kiri.

 

Melihat potensi serangan Prancis, pertahanan blok rendah juga bukan pilihan tepat. Akan tetapi, memaksakan pressing tinggi terus-menerus juga mengandung resiko. Mengingat Muller dkk masih sisakan kelelahan akibat laga 120 menit kontra Italia. Bisa-bisa Jerman kempos di 15-20 menit terakhir.

 

Sebaiknya Loew ambil jalan tengah. Mainkan pertahanan blok tinggi, tapibiarkan situasi 1v2 di depan. Artinya Muller dibiarkan sendirian menghadapi Koscielny dan Rami. Muller cukup mengarahkan serangan lawan ke satu arah yang dianggap lebih lemah.

 

 

Ini dilakukan agar trio gelandang Jerman tak harus melangkah ke depan. Mereka bisa focus lindungi area sentral. Menutup jalur passing lewat tengah ke Griezmann dan Payet. Harapannya, Prancis bisa sedikit kuasai bola, tapi banyak melebar ke pinggir. Saat Prancis masuk ke area pinggir, Jerman bisa lancarkan jebakan pressing untuk rebut bola.

 

Taktik pressing ini tidak kaku, bisa mengikuti situasi pertandingan. Jika perlu, sesekali Jerman bisa mendorong Ozil naik pressing ke depan. Menciptakan situasi 2v2 untuk duet stoper Prancis. Sehingga memaksa Koscielny atau Rami lakukan umpan panjang.

 

Taktik Conte

Meski bisa dianggap berjudi, tak ada salahnya Loew kembali pinjam taktik Conte. Sebenarnya kembali mainkan 1352 kontra Prancis bukanlah perjudian. Melihat cairnya lini serang Prancis, pilihan ini justru logis. Trio bek bisa diisi Howedes-Boateng-Mustafi. Hector dan Kimmich kembali jadi wingback. Trio gelandang diisi Weigl-Kroos-Ozil. Sedang Muller dan Draxler akan jadi duet striker.

 

Saat bangun serangan Ozil bisa naik ke depan. Draxler-Muller-Ozil bisa mengikat 3 dari 4 bek Prancis yang dekat bola. Kondisi ini akan buat wingback Jerman jadi bebas. Jika Payet atau Griezmann turun ikuti wingback Jerman, maka situasi 3v1 di bawah akan janjikan tempo bagi Jerman. Jika tidak ikut, maka wingback Jerman akan leluasa.  

 

 

Turunnya Payet dan Griezmann akan menjauhkan keduanya dari area tengah favorit mereka. Formasi 3 bek juga lebih melindugi area halfspace, tempat kedua sayap Prancis beroperasi. Untuk serangan balik, keberadaan 2 striker Jerman akan ciptakan 2v2 di belakang. Intinya ini kejutan untuk Prancis. Ayo Loew, mainkan lagi 1352! Dijamin Top!  

 

@ganeshaputera

*tulisan versi asli dari yang dimuat di bola.com

Please reload