KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Kalau Semua Baik-baik Saja, Rusaklah!!

August 15, 2016

 

Dalam situs blognya, Rasmus Ankersen menyampaikan cerita menarik tentang Tiger Woods, salah satu pegolf terbaik dunia sepanjang masa. Pada tahun 1997, Tiger Woods mencapai puncak prestasinya. Ia meraih gelar Tur PGA, sekaligus menjadi pegolf terbaik dunia di tahun tersebut. Di tengah puncak prestasinya, Tiger Woods mengambil keputusan gila. Ia memutuskan untuk mengganti teknik memukul bolanya. Teknik yang telah ia latih sejak kecil dan membawanya menjadi No.1 di dunia.

 

Woods merasa teknik pukulan yang digunakannya saat itu, tidak akan membuatnya bertahan lama sebagai No.1 dalam waktu panjang. Publik golf-pun gempar mencibirnya. Mengapa harus mengubah sesuatu yang berjalan sangat baik? “Kemenangan tidak selalu menjadi barometer bahwa Anda berkembang!” pungkas Woods tegas.  

 

Perubahan teknik pukulan Woods membuat sang juara kelihatan seperti anak TK bermain golf. Sepanjang tahun 1998, Woods mengalami masa suram prestasi dengan puasa gelar. Tetapi, pada akhirnya masa satu setengah tahun yang dilaluinya dengan suatu ketekunan, kesabaran dan konsistensi mulai buahkan hasil. Teknik memukul baru Woods terbukti menjadi senjata baru yang mematikan. Tak heran kemudian dengan teknik baru tersebut, Woods terus menguasai golf dunia hingga lebih dari satu dekade.  

 

Di dunia lain, Penulis mendapat cerita inspiratif berbeda dari kampus. Tahun 90-an, Blockbuster menjadi perusahaan sewa video No.1 di Amerika. Sumber pendapatan utama Blockbuster adalah denda pengembalian video terlambat. Jumlah denda bisa capai 800 juta dolar AS. Hingga kemudian Reed Hasting dari Netflix menawarkan sewa video tanpa denda keterlambatan.

 

Blockbuster sebagai No.1 dengan mudah dapat lakukan inovasi sama untuk tantang Netflix. Tetapi pilihan itu tidak dilakukan, mengingat perusahaan merasa baik-baik saja. Di samping itu, Blockbuster tak mau kehilangan 800 juta dolar AS dari sumber denda. Sesuatu yang kelihatan “rusak” dan “tidak sehat” di mata pemegang saham. Pilihan itu terbukti keliru. Pada akhirnya Blockbuster bangkrut dan Netflix berjaya.

 

Kebangkrutan Blockbuster bisa dihindari bila mereka mengambil langkah “merusak diri” seperti yang Tiger Woods lakukan. Jelas, pada jangka pendek mereka akan menderita akibat kehilangan 800 juta dollar. Tetapi pada jangka panjang, Blockbuster bisa mengadaptasi model bisnisnya untuk dapat berjaya di segala jaman. Inspiratif!

 

 

 

 

Nyaman dalam Ketidaknyamanan

Bagaimana dengan di sepakbola? Roberto Martinez, pelatih Timnas Belgia yang lama menukangi Swansea pernah menyampaikan pemikiran menarik. Saat berdiskusi soal cara bermain di pembinaan usia muda, ia katakan “Ajarkan pemain suatu taktik bermain hingga mereka merasa nyaman. Setelah nyaman, segera ubahlah agar tercipta ketidaknyamanan. Di situlah proses pengembangan dan pembelajaran pemain terjadi. Sepakbola top level menuntut fleksibilitas taktikal,” serunya.

 

Hal serupa disampaikan oleh Bernard Schumm, mantan Direktur Teknik PSSI. Dalam suatu kursus Lisensi D PSSI, ia katakan “Selalu konsisten mengajar dengan bentuk latihan yang itu-itu saja. Ulangi terus hingga mendekati sempurna. Setelah hampir sempurna, segera ubahlah bentuk latihan. Pemain harus terus menerus dikembangkan dengan kesulitan dan tantangan. Kesempurnaan adalah kenyamanan yang membuat pemain stagnan!” seru pelatih asal Jerman tersebut.

 

Pernyataan dua praktisi sepakbola tersebut begitu menggugah penulis. Salah satu problem sepakbola usia muda Indonesia adalah pembina selalu berusaha memberikan kenyamanan pada pemain. Filosofinya adalah kalau pemain muda senang, ia akan bermain maksimal. Suatu filosofi yang seringkali membuat pembina berusaha menjadi “teman” pemain.

 

Sedikit melakukan pengakuan dosa, itulah yang penulis juga lakukan di awal kiprah membina pemain usia muda. Pada suatu ketika, penulis berinteraksi membina winger berbakat. Kemampuan penetrasi dribbling solonya aduhai. Ia adalah mesin gol tim. Sayangnya, pemain ini tidak dapat bertahan. Tim selalu bermain 10 orang ketika tidak menguasai bola.

 

Usaha ajarkan bertahan sia-sia. Kewajiban pressing, covering, balancing atau backtracking fullback lawan membuatnya tertekan. Ketika tertekan, ia tidak gembira. Saat tak gembira, ia pun puasa mencetak gol. Langkah kompromi-pun diambil. Ok, khusus untuknya tak perlu bertahan. Selama dia terus mencetak gol, semua lebih dari cukup. Sebuah langkah yang membunuh karirnya dalam jangka panjang.

 

Cerita lain datang dari kolega saya Guntur Utomo, ex asisten pelatih Timnas U19. Ia alami ada pemain yang baru bermain bagus, bila ia dipasangkan peralatan olehnya. Ada lagi pemain tampil menggila, bila saat jeda dikupasin pisang. Diskusi intens kami kemudian berujung pada suatu kesimpulan bahwa meski sentuhan psikologis humanis seperti itu penting, tapi di sisi lain itu menunjukkan kelemahan otak pemain.

 

Otak pemain begitu lemah, karena ia bisa bermain bagus bila peralatan sepakbolanya ada yang bantu pasangkan. Atau baru main menggila kalau ada yang mengupaskan pisang untuknya. Itu adalah fakta. Pertanyaannya, apakah kita akan membantu memasangkan peralatan dan kupaskan pisang, agar pemain nyaman dan main menggila? Atau kita biarkan pemain belajar mandiri tanpa bantuan, dengan resiko pemain tak nyaman dan main tidak maksimal?

 

Kita Sudah Rusak Kok!

Pada akhirnya, langkah kompromi pada hal dasar esensial di sepakbola tidak akan membawa kita kemanapun. Di sepakbola top level, semua pemain dituntut mahir dalam menyerang, bertahan dan transisi. Pemain juga perlu tangguh dan terus bermain bagus, meski tanpa kupasan pisang.

 

Jadi bila hakekat pembinaan usia muda adalah mencetak pemain yang mampu eksis di sepakbola top level (dunia), maka kita tidak boleh memberi kenyamanan pada pemain muda. Pembina justru harus terus memberi kesulitan pada pemain muda. Lalu membimbingnya untuk belajar nyaman dalam ketidaknyamanan. Sama seperti Tiger Woods, perubahan dan pengembangan harus terus dilakukan meskipun kondisi baik-baik saja. Kalau pemain Anda kelihatan baik-baik saja, persulitlah mereka!  

 

Di akhir artikel ini, penulis baru tersadar bahwa menggunakan metafora Tiger Woods untuk sepakbola Indonesia sungguh bodoh. Tiger Woods adalah pegolf No.1 dunia di tahun 1997. Kehebatan Woods adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman pukulan lamanya untuk berlatih teknik baru. Ia berani merusak teknik yang telah membawanya jadi No.1 dunia demi prestasi lebih tinggi dalam jangka panjang.

 

Lha, sepakbola Indonesia kan memang sudah rusak. Kita terus lakukan hal yang sama bertahun-tahun walau terbukti tidak membawa kita kemanapun. Taktik long ball tanpa arah, striker hanya jago attack atau stoper hanya jago defend. Lalu, beri kenyamanan pada pemain muda agar tampil maksimal. Memang cara lama itu membuat kita nyaman. Dengan cara itulah penulis juga menikmati berbagai gelar juara regional dan nasional. Tapi itu cuma kelas Indonesia lho! Ibarat game playstation, kita hanya main level Easy, supaya juara terus!

 

Persoalan sepakbola kita lebih berat daripada Blockbuster. Di 90-an, Blockbuster memang No.1. Wajar kalau mereka merasa baik-baik saja. Kegagalan mengantisipasi ancaman bisnis membuatnya gulung tikar. Lha sepakbola Indonesia sudah terbelakang, kalah terus, kok masih merasa baik-baik saja. Mungkin impian kita memang kecil. Jadi juara antar SSB atau juara ISL sudah cukup. Nah, saat para juara ISL dan antar SSB melakukan suatu cara untuk sukses, maka semua berkata: “Mengapa harus melakukan sesuatu yang berbeda?”

 

Turut berduka cita! 

 

 

@ganeshaputera

Founder KickOff! Indonesia

 

Please reload