K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Berkenalan dengan Kiper “A” & “R”

January 31, 2016

 

Tulisan ini merupakan pengantar “KickOff! Goalkeeper Advanced Seminar” yang akan diadakan di GBK, 2-3 Maret 2016. Info lebih lanjut klik di sini.

 

Masih ingat laga perempat final Piala Dunia 2014 antara Belanda kontra Kosta Rika? Di laga itu, Louis Van Gaal membuat keputusan yang mencengangkan dunia. Melihat babak ke-2 perpanjangan waktu akan segera berakhir tanpa gol, Van Gaal meminta Tim Krul, kiper cadangan melakukan pemanasan. Ya, Van Gaal dan pelatih kiper Frans Hoek telah bersepakat bila pertandingan harus diakhiri adu penalti, maka Krul lah yang akan mengawal gawang Oranye.

 

Benar saja, Krul masuk gantikan Cillessen hanya beberapa menit sebelum wasit meniupkan peluit panjang. Taktik Van Gaal dan Frans Hoek sukses. Tim Krul berhasil menahan dua penalti Kosta Rika. Hebatnya lagi dalam 5 kesempatan tendangan Kosta Rika, tak satupun Krul salah dalam mengantisipasi arah tendangan.

 

Baia & Van Der Sar

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa pertimbangan Van Gaal dan Hoek memilih Krul ketimbang Cillessen. Logikanya, mengapa mengganti kiper nomor satu dengan cadangannya justru di momen paling krusial? Pertanyaan lain yang juga muncul adalah apakah memang kualitas Cillessen dalam hal menyetop penalty tidak cukup mumpuni?

 

Jawabannya ya! Pada permainan adu tendangan penalty, Cillessen harus bermain dengan kelemahannya. Sebaliknya Krul akan bermain dengan kelebihannya. Mengapa demikian? Cillesen bukanlah kiper yang kekuatan utamanya bukan pada reaksi. Sedangkan Krul adalah kiper yang memiliki reaksi sebagai kekuatan utamanya. Nah, pada kasus adu penalty, bola meluncur ke arah gawang hanya melalui 1 aksi. Oleh karena itu, dalam adu penalty, factor rekasi memegang peranan lebih ketimbang antisipasi.

 

Dalam artikel Soccer Coaching International, Frans Hoek (kini pelatih kiper MU) menceritakan pengalamannya saat menjadi pelatih kiper FC Barcelona. Ketika itu Louis Van Gaal datang menggantikan Bobby Robson. Warisan Robson adalah Vitor Baia, kiper asal Portugal yang saat itu menyandang status sebagai salah satu kiper terbaik dunia.

 

 

Persoalan kemudian muncul dimana ternyata Vitor Baia justru sulit tampil dalam performa terbaik. Bagaimana mungkin salah satu kiper terbaik di dunia kehilangan kualitas permainannya? Hasil analisa mendalam ternyata perubahan playing style menjadi biang keladinya. Bersama Robson, Barca bermain formasi 1-4-4-2 dengan blok pertahanan rendah. Sedangkan Van Gaal memainkan 1-4-3-3 dengan garis pressing yang amat tinggi.

 

Konsekuensinya, Baia harus bermain dengan ruangan yang luas di depannya. Fakta bahwa backline Barca jauh dari posisinya, membuat Baia tidak nyaman. Playing style Barcelona membuat Baia terekspose kelemahannya. Di sisi lain, kelebihan reaksi Baia menjadi kurang terutilisasi. Pada perjalanannya, Ruud Hesp sebagai kiper cadangan akhirnya lebih banyak diberikan tempat oleh Van Gaal.

 

Persoalan Baia juga dialami oleh Edwin Van der Sar. Ia datang dari Ajax ke Juventus dengan reputasi salah satu kiper terbaik di dunia. Kebalikan dari Baia, Van der Sar kesulitan beradaptasi dengan playing style Juventus. Seperti umumnya tim Italia, Juventus bermain dengan blok pertahanan rendah. Rendahnya lini belakang menyulitkan Van der Sar yang terbiasa bermain dengan ruangan besar. Kemampuan antisipasi dan permainan proaktif Van der Sar kurang terutilisasi dengan baik.

 

R dan A

Berdasarkan pengalaman tersebut, Frans Hoek menyimpulkan bahwa ada dua kutub ekstrim tipe kiper. Pertama apa yang disebut dengan kiper R (Reaction). Kiper type R cenderung memiliki postur tinggi besar dan muscular. Penampilannya eksplosif dengan karakter kepemimpinan dominan. Secara emosional, kiper type R cenderung meledak-ledak. Kelebihan utama kiper type R adalah reaksi dan shot stopping prima.

 

Tak heran kiper type R kurang nyaman bermain di tim dengan garis pressing tinggi. Sebab kiper type R kurang bagus dalam mengantisipasi through pass. 1v1 juga merupakan kelemahan terbesar kiper type R ini. Belum lagi kiper type R cenderung gagap saat menerima backpass atau saat harus membangun serangan dari bawah. Nah Tim Krul adalah kiper type R jempolan. Beberapa kiper type R lain yang mendunia adalah Hans Van Breukelen, Vitor Baia dan Oliver Kahn.

 

Type kiper berikutnya adalah type A (Anticipation). Kebalikan type R, kiper type A cenderung tidak memiliki perawakan yang muscular. Penampilannya tenang dengan karakter kepemimpinan komunikatif. Secara emosional, kiper type A sangat dingin dan piawai. Kehebatan terbesar kiper type A adalah kemampuan reading the game.

 

Ia menyukai bermain di ruang yang luas. Dimana, kiper type A memiliki kemampuan antisipasi through pass dan 1v1 mumpuni. Sifat antisipatif dari kiper type ini membuat ia lebih suka mengorganisir rekan-rekannya dengan komunikasi. Ketimbang harus aktif melakukan seluruh aksi penyelematan sendiri. Nilai plus lain dari kiper type A adalah kemampuan membangun serangan dan menerima backpass.

 

Problem kiper type A adalah cenderung lambat reaksinya. Sehingga kemampuan shot stoppingnya juga kurang begitu baik. Tak heran kiper type A selalu kesulitan bila tim memilih untuk menggalang pertahanan blok rendah. Apalagi menghadapi penalty atau tendangan bebas. Jasper Cillessen adalah kiper type A. Beberapa kiper type A lain yang mendunia adalah Jan Jongbloed, Van der Sar, Fabian Barthez dan Victor Valdez.

 

Sebagai konklusi akhir, Frans Hoek meyakini bahwa membangun kiper type A jauh lebih menguntungkan dalam konteks sepakbola modern. Sepakbola modern makin hari makin cepat. Sehingga yang lebih dibutuhkan adalah antisipasi daripada  reaksi. Sepakbola modern juga makin mengedepankan kerjasama tim. Kemampuan kiper type A dan mengorganisir 10 pemain lainnya akan membantu komunikasi taktik tim.

 

@ganeshaputera

ganesha@kickoffindonesia.com

 

*KickOff! Indonesia menyelenggarakan seminar kepelatihan kiper “KickOff! Goalkeeper Advanced Seminar” yang akan diadakan di GBK, 2-3 Maret 2016. Seminar akan dipandu oleh instruktur papan atas seperti Iwan Setiawan (AFC A License) dan Jarot Supriadi (GK Coach Bali United)

 

Pendaftaran Hub: 0856-9113-7325. Info lebih lanjut klik di sini.

 

Please reload