KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Indonesia vs Vietnam (2-2): Taktik Serupa Hasilkan Skor Serupa.

October 10, 2016

 

Setelah menjalani laga perdana kontra Malaysia dengan kemenangan meyakinkan, Alfred Riedl kali ini menemui banyak kendala menghadapi Timnas Vietnam. Partai yang dilangsungkan di Stadion Maguwoharjo, Jogjakarta pada Minggu (9/10) berlangsung menarik. Kedua tim yang menggunakan pendekatan taktik serupa akhirnya menghasilkan skor 2-2 yang serupa pula.

 

Riedl kembali memakai Formasi 1-4-4-2. Andritany mengawal gawang Garuda bersama kuartet Abdul Rahman, Fachruddin, Yanto Basna dan Benny Wahyudi. Kuartet lini tengah dimainkan oleh Zulham Zamrun, Evan Dimas, Dedi Kusnandar dan Andik Vermansyah. Di lini gedor, Irfan Bachdim mendampingi Boaz Sallosa, sang kapten.

 

Vietnam juga memainkan formasi 1-4-4-2 serupa. Dimana Tran mengisi pos kiper. Kuartet Hoan, Dinh, Thanh dan Duc mengawal lini belakang. Sedangkan lini tengah diisi Quyet, Hoang, Tuan dan Trong. Mereka menopang kinerja duet unjung tombak Thang dan Luong. Formasi yang sama membuat hampir di setiap lini terjadi situasi 1v1.

 

 

Pincang di Sektor Kanan

Seperti biasa, Boaz dkk memainkan blok pertahanan medium dengan pergeseran serta marking-cover yang rapi. Vietnam sendiri tidak melakukan rotasi posisi saat melakukan build up. Mereka tetap mem-build up serangan melalui back four yang beroperasi di kedalaman. Merekapun hanya memainkan bola ke kiri-kanan. Dengan struktur posisi seperti itu, jalur passing vertical ke depan nyaris sulit didapatkan.

 

Sayangnya, build up pasif Vietnam kurang disikapi teliti oleh Indonesia. Meski tak berbahaya, Garuda seperti tidak sabar melihat Vietnam terus melakukan possession. Tak heran, Andik Vermansyah mulai naik agak tinggi untuk mempressing Duc, bek kiri Vietnam. Sayangnya situasi ini sangat tidak terkoordinasi. Sehingga saat Andik naikkan blok pertahanan, tidak semua pemain ikut bersamanya.

 

Situasi ini harus dibayar mahal timnas. Naiknya Andik diikuti oleh naiknya Benny Wahyudi. Pada kesempatan yang sama Yanto Basna juga harus naik ikuti Luong yang drop ke. Praharapun terjadi, kombinasi Luong dan Tuan berhasil mengeksploitasi ruang di belakang Yanto dan Benny. Meski serangan berhasil diredam, tetapi bola kedua masih bisa dimanfaatkan Thang jadi gol.

 

 

Serangan Vietnam terus menerus dilancarkan ke sector kanan Indonesia. Rotasi sederhana sayap dan striker kiri Vietnam cukup mematikan. Variasi pertama Trong, sayap kiri turun untuk menarik Benny Wahyudi. Lalu Luong, sang striker akan eksploitasi ruang di belakang Benny. Variasi lain Trong masuk ke area halfspace menarik Yanto dan Benny. Lagi-lagi ruang di belakang Yanto dan Benny dihajar oleh Luong.

 

Itu sebabnya di menit ke-11, Vetnam lewat kombinasi passing 1-2 sentuhan cepat mengeksploitasi ruang di belakang Yanto dan Benny. Terpaksa Benny yang sudah tertinggal mengganjal Tuan. Seolah belum jera, ruang di belakang Benny kembali dimanfaatkan Vietnam lewat tendangan bebas berupa through pass.

 

 

Through pass tendangan bebas Vietnam masih bisa diselamatkan recovery run Benny dan Dedi. Sayangnya saat pemain Vietnam mendribble ke belakang, koordinasi marking covering Garuda tak kunjung membaik. Untuk ketiga kalinya lobang besar di belakang Benny kembali dimanfaatkan pemain Vietnam. Sebelum diakhiri sebuah cross ke tiang jauh yang berbuah gol cantik.

 

 

 

Rotasi Serupa

Ketinggalan 2-0 mendorong Garuda lebih aktif menyerang. Ternyata selain formasi serupa, taktik progresi serangan Indonesia juga serupa dengan Vietnam. Langkah awal yang dilakukan Indonesia saat build up adalah menurunkan Evan Dimas di sebelah kiri Fachruddin atau Dedi Kusnandar di sebelah kanan Yanto. Sehingga sejenak Garuda bertransformasi menjadi 3 pemain di belakang.

 

Turunnya salah satu gelandang membuat Abdul Rahman dan Benny lebih leluasa untuk naik lebih tinggi. Naiknya kedua fullback membuat Indonesia bisa memainkan rotasi andalannya. Yaitu Andik atau Zulham masuk ke area halfspace. Gerakan sayap ke dalam ini membingungkan fullback Vietnam. Bila ia tidak ikut, winger akan free. Bila ia ikut, maka akan tercipta ruang besar di belakangnya.

 

 

 

Ruang besar di belakang fullback Vietnam merupakan makanan empuk. Terkadang ruang itu dieksploitasi striker melebar atau fullback yang naik. Rotasi sederhana yang mirip dengan rotasi Vietnam cukup manjur. Bahkan terasa lebih manjur, mengingat baik Andik, Zulham, Boaz atau Irfan memiliki kemampuan solo play yang lebih baik ketimbang winger dan striker Vietnam.

 

Varian serangan lainnya mengandalkan kecerdikan Irfan mencari posisi di ruang antar lini (lini back 4 dan midfield 4). Dalam beberapa kesempatan Irfan sering drop lebih dalam sebagai koneksi serangan dari tengah ke depan. Gerakan Irfan ini sering membuat back four Vietnam agak keriting, karena salah satu bek harus mengikutinya. Praktis ruang di belakang bek yang ikuti Irfan bisa dimanfaatkan pemain lain.

 

Meski varian progresi serangan ini cukup manjur, tetapi tak cukup membuat Indonesia bisa mencetak banyak gol. Eksekusi pergerakan dengan intensitas rendah, serta kualitas penyelesaian akhir buruk merupakan masalah besar anak asuh Riedl. Praktis dua gol Indonesia tercipta lebih diakibatkan karena kesalahan individu lawan.

 

Ruang Perbaikan

Pada momen bertahan, timnas terlihat makin mantap dengan blok pressing mediumnya. Hanya saja, bila situasi permainan menuntut perubahan menjadi low atau high block, timnas terlihat gagap dan kompaksi blok menjadi berantakan. Saat blok dinaikkan, ada pemain yang tercecer di belakang. Sebaliknya saat blok dipelorotkan, pemain depan sering tercecer juga.

 

Pada momen penyerangan, varian rotasi dan progresi serangan harus diperhalus dengan intensitas lebih tinggi. Jika menurunkan gelandang satu lini dengan stoper menjadi pilihan untuk mem-build up serangan, maka rotasi sayap-fullback-striker harus lebih dipertajam. Dalam banyak momen, saat gelandang turun segaris dengan stoper, fullback juga masih rendah membuat opsi di depan menjadi minim.

 

Pertandingan vs Vietnam ini terbukti lebih menantang ketimbang kontra Malaysia. Di samping itu timnas juga memperoleh banyak pelajaran berharga yang bisa dijadikan bahan evaluasi jelang AFF. Harapannya Riedl dapat memperbaiki dinamisasi blok pertahanan dan varian progresi serangan.

 

@ganeshaputera

*tulisan aseli dari yang dimuat di bola.com

 

 

 

Please reload