KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

[Analisa Sevilla vs Juventus 1-3] Menang Jumlah Pemain Menangkan Juventus

November 23, 2016

Juventus kembali memetik angka maksimal 3 poin dalam partai tandangnya. Tidak main-main, kali ini Sevilla yang sedang top-form di La Liga dikalahkan dengan skor 3-1.

 

4-5-1 man-oriented ala Juventus

Sevilla memainkan pola dasar 4-5-1/4-4-2. Dalam strategi menyerangnya, Sevilla membangun (build-up) serangan dari lini belakang. Juventus menghadapi strategi ini dengan memainkan pressing blok tinggi menggunakan varian man-oriented press.

 

 

Orientasi pressing Juventus

Dikarenakan peran Sami Khedira sebagai #8 yang sering masuk ke pos 10, pergerakan pressing Khedira berorientasi kepada #6 Sevilla, yaitu N’Zonzi. Khedira juga akan ikut maju ke lini serang ketika N’Zonzi bergerak turun ke lini pertama (belakang) Sevilla. Di belakang lini serang, Juan Cuadrado, Claudio Marchisio, Miralem Pjanic, dan Alex Sandro mengokupansi lini kedua dengan orientasi seperti yang diperlihatkan oleh infografik di atas.

 

Staggering atau transposisi dalam bentuk pressing Juventus dikembangkan berdasarkan orientasi pressing. Bentuk 4-5-1 menjadi bagian dari permainan bertahan Juve. Pada saat akses press yang memadai didapatkan, pemain-pemain Juventus akan melakukan press dengan orientasi seperti pada infografik di atas. Bila kehilangan akses atau mendapatkan akses yang kurang optimum, pemain-pemain Juve akan segera membentuk pola 4-5-1.

 

Salah satu taktik awal dalam build-up Sevilla, adalah memainkan bola secara horisontal dari satu sisi ke sisi lain untuk menemukan jalur umpan dari lini pertama menuju lini terakhir (depan). Bola diarahkan ke half-space http://fandom.id/analisis/taktik/2015/09/half-space-sebagai-ruang-strategis-dalam-sepak-bola-bagian-4/ sisi bola atau ke area tengah. Di half-space sisi bola, progresi serangan diarahkan kepada #8 atau pemain sayap. Sementara di sisi tengah, sasaran umpan adalah kepada #9 atau kepada #8 yang masuk ke lini serang atau ruang antarlini belakang Juventus. Sevilla tampak berusaha mengeksploitasi celah antarlini belakang dan tengah Juventus ketika memainkan taktik ini.

 

Hal ini, pada gilirannya, menyebabkan pemain-pemain belakang Juventus harus berada dalam antisipasi level top demi menghentikan (melakukan onward-pressing) atau, paling tidak, memperlambat sirkulasi atau progresi segera yang mungkin tercipta dari si penerima umpan. Onward-press sendiri adalah press ke arah depan.

 

Di awal pertandingan, sempat terlihat celah minor dalam pressing Juventus. Celah dalam mengantisipasi perpindahan bola Sevilla dari sisi overload ke sisi underload.

 

 

Celah di sisi jauh.

Celah ini terbuka juga disebabkan oleh fokus pemain-pemain sayap Juventus di sisi sayap jauh dan half-space jauh. Di sayap jauh, Alex Sandro terikat kepada Juan Merino yang sejak awal di awasi oleh Patrice Evra. Bek kiri Perancis itu sendiri konsentrasinya juga terpecah karena ia harus memberikan perlindungan yang cukup ke zona tengah yang ditinggalkan Leonardo Bonucci karena mengikuti pergerakan Vazquez di ruang antarlini belakang Juventus.

 

Menilik bentuk awal build-up Sevilla yang menempatkan 4 pemain di lini serangnya (3-3-4/3-3-1-3), pemilihan 4-4-2/4-5-1 daripada 3-5-2 oleh Massimo Allegri menjadi logis.

 

Bila Alle memilih memainkan pola dasar 3 bek tengah, tentu saja lini belakang Juventus berada dalam kondisi kalah jumlah (3v4) dan sangat rentan ketika mengantisipasi bola-bola panjang diagonal atau horisontal Sevilla yang sering diperagakan ketika lawan melakukan pressure terhadap sisi overload dalam build-up Sevilla. Dari sudut pandang bentuk dasar, situasi 3v4 juga membuat pertahanan Juventus menjadi kurang stabil untuk mengontrol taktik eksploitasi ruang antarlini yang kerap diperagakan Sevilla.

 

Bentuk “4” atau “3+1” di lini terakhir Sevilla, dalam beberapa kesempatan, membantu mereka mendapatkan akses ke kotak 16 Juventus. Terutama ketika intensitas gerak vertikal dari lini

kedua mampu merebut bola-bola kedua hasil duel udara antara lini pertama Sevilla dengan pemain belakang Juventus.

 

Seperti yang disebutkan di atas, bek Juventus harus terus mempertahankan intensitas onward-pressing dalam menghadapi taktik eksploitasi celah antarlini milik Sevilla. Terhadap umpan pendek Sebilla, bek Juventus mampu menghadapinya dengan baik.

 

Namun, hal berbeda ketika berhadapan dengan bola-bola jauh dari lini belakang ke depan. Sampai sekitar 25 menit awal, berkali-kali Sevilla memenangkan bola kedua. Selain itu, pemain-pemain Sevilla dalam lini “3+1” pun lebih banyak memenangkan bola pertama. Taktik ini sedikit mengacaukan harmonisasi mekanis pertahanan Juventus dan membuka beberapa celah progresi bagi Sevilla.

 

Saat bergeser ke blok menengah, Juventus bertransposisi ke bentuk 4-5-1. Cuadrado dan Alex di masing-masing sisi terluar, menjepit trio Khedira, Miralem Pjanic, dan Claudio Marchisio. Khedira tetap menjadi pemain dari lini tengah yang bertugas ikut memberikan press kepada Adil Rami atau N’zonzi pada saat satu dari keduanya menguasai bola atau dalam posisi akan mendapatkan umpan.

 

Pola progresi Sevilla

Menghadapi blok menengah Juventus yang rapat, dalam fase non transisional, Sevilla mencoba masuk ke sepertiga akhir melalui overload sisi bola. Menggunakan 5 pemain, tuan rumah berusaha meng-overload half-space, tengah, dan sisi tepi area bola. Vazquez bertindak sebagai “free-player” di tengah overload-mini Sevilla. Sementara, ST, full back (FB), dan duo-CM mengokupansi zona di keempat titik sudut. Melalui si “free-player”, Sevilla berusaha mengembangkan akses progresi, baik melalui tepi lapangan maupun tengah.

 

 

 

Struktur penetrasi Sevilla vs blok rendah Juventus

Dengan compactness pertahanan yang sangat baik, Juventus mempersulit penetrasi yang terus dicoba oleh pemain-pemain Sevilla. Ketika overload mini gagal, Sevilla akan melakukan back-pass untuk memindahkan permainan ke sisi seberang. Dalam transisi perpindahan inilah ditemukan beberapa faktor yang membuat penetrasi setelah penetrasi pasca perpindahan menjadi sulit. Apa itu?

 

Perpindahan bola ke sisi berseberangan sering tidak diikuti oleh intensitas pergeseran pemain yang memadai. Setelah terjadi perpindahan dan Sevilla berusaha berprogre, sering ditemukan overload yang tidak maksimum dikarenakan salah satu #9 yang tidak melakukan pergeseran dengan kecepatan yang pas. Hasilnya, Juventus blok pertahanan Juventus dengan mudah memadati area di mana bola

 

Sevilla sendiri berhasil mendapatkan beberapa peluang melalui fase transisi. Di mana dalam fase ini, permainan umpan panjang dimainkan.melambung dari belakang ke lini teratas memberikan tuan rumah beberapa situasi penciptaan peluang yang menjanjikan.

 

Pressing Sevilla vs skema progresi Juventus

Orientasi awal pressing Sevilla adalah kepada 3 pemain Juventus di lini pertama, yang diisi oleh Daniel Rugani dan Bonucci ditambah Marchisio yang secara situasional turun ke lini belakang. Ketika Marchisio menahan posisinya di pos no. 6, orientasi pressing Sevilla mengalami penyesuaian. Mereka akan berusaha menghambat akses ke pos 6, tanpa keharusan untuk selalu menjaga #6 Juventus dengan ketat. Pemain-pemain di area tengah dari lini pertama Sevilla mengokupansi area di sekitar pos 6, dengan tetap mempertahankan akses langsung ke bek tengah Juventus yang memegang bola.

 

Pada dasarnya, tuan rumah memulai pressing blok tinggi menggunakan pola 4-4-2. Bentuk ini terus dipertahankan sampai blok menengah dan blok rendah. Beberapa kekurangan minor terlihat dalam eksekusi pressing Sevilla. Salah satunya, adalah konsistensi dari lini pertama Sevilla dalam membatasi pergerakan lari tanpa bola pemain lawan yang bertujuan untuk menciptakan akses umpan. Pembatasan ini penting karena dengan membatasi ruang gerak bagi si pelari, Sevilla sedang menghambat progresi Juventus.

 

Inkonsistensi nii yang sering terlihat baik dalam blok medium maupun blok rendah. Sevilla menempatkan dua pemain di lini pertama dan keduanya tampak pasif dalam melakukan backward-press (arah pressing menuju ke gawang sendiri) terhadap pergerakan pemain Juventus di pos 8 Sevilla. Kepasifan yang membantu Juventus mendapatkan superioritas jumlah.

 

Juventus mencoba berprogresi melewati pressing Sevilla dengan mendayagunakan umpan-umpan diagonal, baik jarak pendek maupun jarak jauh melambung.

Dalam umpan jarak pendek, sebagian besar umpan dilakukan dari tepi lapangan kepada pemain yang mengisi half-space atau tengah terdekat. Beberapa kali Juventus mendapatkan kesempatan berprogres dari skema ini, dikarenakan posisi gelandang sayap Sevilla yang terlalu dekat ke koridor tepi lapangan serta pemain-pemain di area tengah dan sisi jauh berjarak horisontal terlalu berjauhan dengan pemain-pemain Sevilla sisi bola. Sehingga, menyebabkan gelandang tengah Juventus memeroleh jalur umpan yang nyaman di half-space.

 

Alternatif lainnya, Juventus memainkan bola diagonal dari lini pertama langsung ke pos 10 atau 9 menjadikan penerima umpan sekaligus sebagai papan pantul di ruang antarlini lawan. Umpan kepada pemain di pos 9 atau 10 ini biasanya dikombinasi dengan gerak vertikal tanpa bola dari lini tengah oleh gelandang yang berada terdekat dengan bola. Tidak harus selalu #8 - Khedira dan Pjanic - yang melakukannya, tetapi Allegri juga memanfaatkan eksplosivitas Claudio Marchisio untuk menyambut sodoran dari kombinasi umpan satu sentuhan.

 

 

Pressing Sevilla vs progresi Juventus

Kekonyolan Franco Vazquez melakukan 2 pelanggaran sekaligus menerima 2 kartu kuning dalam waktu berdekatan, di babak pertama, mengacaukan mekanisme permainan Sevilla, baik dalam fase menyerang maupun bertahan.

 

Dalam fase serang, overload Sevilla di sisi sayap dan half-space dibangun berdasarkan pergeseran horisontal para penyerangnya. Tanpa satu dari #9, apalagi Vazquez yang berposisi lebih dalam ketimbang Luciano Vietto, tentu saja menganggu intensitas penciptaan dan kestabilan overload Sevilla. Di babak kedua, overload semacam ini praktis hilang, dikarenakan Jorge Sampaoli melakukan perubahan bentuk.

 

Ia memasukan Pedro Sarabia menggantikan Vietto serta memainkan Vitolo sebagai penyerang tunggal dalam pola dasar 4-4-1. Dengan memainkan #9 tunggal, Sevilla kehilangan spacing yang biasa tercipta diakibatkan pergeseran horisontal dari pemain-pemain di lini serang.

Dalam fase beratahan pun, Sevilla mengalami beberapa keterbatasan. Kehilangan 1 pemain tentu akan melemahkan satu dari 3 lini besar dalam struktur blok pertahanan Sevilla. Yang paling kentara, adalah berkurangnya level pressure Sevilla terhadap lini belakang Juventus, baik dalam blok tinggi maupun blok rendah.

 

Kekurangan intensitas pressure di lini pertamanya, membuat Sevilla secara tidak langsung memberikan ruang lebih bagi kedua bek tengah Juventus untuk mengokupansi ruang sejauh yang mereka mampu. Seperti yang terlihat, Bonucci di kiri dan Rugani di kanan beberapa kali maju hingga sepertiga akhir membantu Juve mensirkulasi bola dan melakukan overload.

Sampai akhirnya, Juve menemkan efek maksimal dari banyaknya ruang vertikal bagi kedua bek tengahnya ketika Bonucci membuat tim tamu berbalik unggul melalui tendangan berjarak kurang 20 meter dari gawang Sergio Rico.

 

Dengan 4-4-1, lini kedua (lini tengah) Sevilla hanya bisa melakukan onward-pressing secara situasional berdasarkan di zona mana bola berada dan siapa pemain lawan yang berada di dekat bola. Karena Vitolo berfokus kepada #6 dan duo bek tengah Juve, maka 4 pemain Sevilla di lini kedua yang bertugas terus melakukan press kepada pemain-pemain #8 serta sayap Juventus ketika masing-masing dari pemain Juventus tersebut bergerak turun lebih dalam, misalnya.

 

Juve sendiri mencoba menguasai area tengah dan half-space semaksimalnya dengan memainkan strategi inverted full back.

 

Terutama di sisi kanan, Daniel Alves kerap kali terlihat masuk ke half-space dan tengah mendampingi Marchisio di pos 6. Pengambilan posisi Alves ini mengijinkan kedua #8 serta Cuadrado Juventus untuk, berturut-turut, berfokus ke area depan serta koridor sayap. Sayangnya, taktik ini, secara umum, hanya berhasil membuat Juve menstabilkan fase penguasaan bolanya tanpa progresi berarti.  

 

Kesimpulan

Secara umum, Sevilla lebih mengkontrol pertandingan. Di babak pertama, sampai 25-30 menit, tuan rumah bukan hanya menguasai prosentase penguasaan bola, tetapi juga sedikit lebih baik dalam hal penciptaan peluang, dan membuat tim tamu kesulitan melalui permainan pressing.

Di babak kedua, tuan rumah memang lebih banyak berada dalam blok rendah, karena bermain dengan 10 pemain, dan membuat Juve menguasai ball-possession. Tetapi, dalam blok rendah pun pertahanan Sevilla membuat serangan Juve nyaris tidak menemukan jalan masuk di area tengah. Juve masih kesulitan berprogres dan Sevilla mampu mengontrol area tengah dengan cukup baik.

 

Kartu merah Vazquez jelas mengubah arah permainan. Dan Juventus mampu memaksimalkan keuntungan bermain melawan 10 pemain. Pertandingan yang sulit bagi Juventus, tetapi diakhiri dengan 3 poin yang juga meningkatkan peluang untuk mengakhiri fase 32 Besar dengan menjuarai grup.

 

@ryantank100

analis taktik fandom.id & bundesligafanatics.co

Please reload