KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Gagal Atur Tempo, Indonesia Gagal Menang Kontra Filipina

November 24, 2016

Tim Nasional Indonesia kembali meraup hasil kurang memuaskan di laga kedua ajang AFF Cup 2016. Dengan tuntutan untuk menang, setelah sebelumnya dibekap Thailand di laga perdana, mereka hanya bisa bermain imbang 2-2 melawan tuan rumah Filipina.

 

Hasil kurang baik yang didapatkan kedua negara di laga pertama membuat laga ini menjadi krusial untuk keduanya. Baik Indonesia ataupun Filipina diwajibkan untuk menang. Tuntutan ini uniknya direspon kedua pelatih dengan pendekatan yang sama. Baik Alfred Riedl dan Thomas Dooley, sama-sama membuat timnya meningkatkan tempo menjadi sangat tinggi, dengan serangan yang cenderung vertikal. Tak ayal dengan sama-sama memainkan direct football, area permainan menjadi merenggang secara vertikal dan membuat masing-masing tim saling bergantian mendapatkan peluang.

 

Jalannya pertandingan menjadi sangat menarik untuk penonton netral. Peluang membanjir dengan Indonesia bisa membuat 13 tembakan, yang delapan diantaranya menemui sasaran. Sedangkan Filipina bisa melakukan 18 tembakan, dengan sembilan diantaranya berhasil diselamatkan oleh Kurnia Meiga.

 

1442 vs 14231

Alfred Riedl tidak banyak mengubah susunan pemain di laga ini. Hanya Evan Dimas yang menggantikan Bayu Pradana sebagai starter di lini tengah, untuk berduet dengan Stefano Lilipaly. Selebihnya susunan pemain masih sama dari laga sebelumnya, dengan Rizky Pora yang masih lebih dipercaya dibanding Zulham Zamrun sebagai sayap kiri.

 

Dengan masih sama memakai formasi 4-4-2, tidak banyak perubahan tentang bagaimana pemain akan mengeksekusi formasi tersebut. Pasukan Garuda masih mengandalkan medium block sebagai posisi awal untuk bertahan. Sedikit perbedaan adalah tentang timing dan agresifitas pressing. Sekarang mereka jauh lebih agresif untuk melakukan pressing vertikal.

 

Jika sebelumnya duet striker, Boaz Salosa dan Lerby Eliandry, lebih pasif dengan hanya berusaha menutup jalur umpan ke dua gelandang lawan, kali ini mereka lebih cepat untuk mendekat ke dua bek tengah Filipina untuk melakukan pressing. Hal yang sama juga dilakukan oleh dua winger, Andik Vermansyah dan Rizky Pora, terhadap dua fullback lawan. Jika sebelumnya prioritas mereka untuk sekedar menutup jalur umpan, sekarang setiap pressing yang mereka lakukan dimaksudkan untuk langsung bisa mencuri bola dari kaki fullback Filipina.

 

 

Perubahan cara pressing yang dilakukan dua striker Timnas juga mempengaruhi bagaimana aksi dua gelandang, Evan Dimas dan Lilipaly, ketika bertahan. Karena dua striker lebih mengincar bek tengah lawan, mereke berdua terpaksa untuk ikut naik menutup dua gelandang bertahan Filipina. Situasi ini membuat tidak terkawalnya gelandang serang Filipina, Philip Younghusband, yang harus dikompensasi oleh salah satu dari bek tengah Timnas untuk juga menjaga pemain kelahiran Inggris tersebut.

 

Sadangkan untuk fase menyerang, Timnas melakukannya cukup sederhana dengan secepat mungkin menemukan posisi dari Boaz Salosa. Bola dari fullback ataupun gelandang hampir semuanya diarahkan striker Persipura tersebut. Untuk meningkatkan efektifitas taktik ini, Boaz selalu akan berlari diagonal ke sisi sayap yang lebih dekat dengan bola. Setelah bola di kaki Boaz, dua winger, satu striker dan satu gelandang akan naik bersamaan dan mengincar area di belakang backline lawan.

 

Di pihak Filipina, Dooley masih memakai 4-2-3-1 sebagai formasi andalan. Tapi dengan melihat bagaimana Timnas bertahan, yang membuat bek tengah Indonesia lebih dekat dengan gelandang serang mereka, formasi Filipina lebih sering tampak seperti 4-4-2. Hal ini juga didukung oleh direct attack yang diterapkan oleh pelatih asal Amerika Serikat tersebut.

 

Filipina relatif punya skema build up sedikit lebih kompleks dari Indonesia. Dua gelandang bertahan, Mike Ott dan Manuel Ott, akan selalu mencari ruang bebas di depan dua bek tengah mereka. Melihat dua striker Indonesia cepat sekali melakukan pressing ke dua bek tengah mereka, pelatih Thomas Dooley membuat fullback kanan, Martin Steuble, lebih lambat naik daripada fullback kiri, Kevin Ingreso, untuk tetap mendapatkan pemain yang bebas di build up fase pertama dalam situasi 3 vs 2.

 

Karena mendapatkan pressing dari striker Indonesia secara vertikal, bek tengah Filipina mencoba mengalirkan bola ke gelandang secara diagonal. Seringkali cara ini berhasil, karena baik Evan Dimas atau Lilipaly tidak cukup cepat untuk melakukan marking. Dari dua gelandang bertahan mereka tersebut, serangan mulai mengalir ke salah satu sisi sayap.

 

Jika salah satu sayap sudah menguasai bola, pemain sayap di sisi yang lain langsung bergerak masuk ke tengah untuk menemani sang striker, Stephan Schrock. Hal yang sama juga dilakukan oleh Phillip Younghusband sebagai gelandang serang. Aksi yang dilakukan oleh empat pemain terdepan Filipina ini dilakukan cukup cepat dan sistematis, yang akhirnya memungkinkan mereka tetap bisa menjaga tempo agar tidak turun untuk mendukung rencana direct attack yang sudah disusun. Di fase ini, salah satu gelandang bertahan, terutama Manuel Ott, juga akan ikut ke depan untuk berperan sebagai late runner.

 

 

Untuk fase bertahan, negara dengan ranking 124 FIFA tersebut memulai dengan high pressing, yang berorientasi ke dua gelandang tengah Indonesia, dengan posisi kedua sayap masuk ke tengah terlebih dahulu. Mereka memaksa bola untuk dialirkan ke fullback Indonesia dan mulai melakukan pressing lebih agresif di area flank tersebut. Ketika mengeksekusi fase ini, backline Filipina tetap menjaga posisinya tetap tinggi untuk mendapatkan kompaksi yang lebih baik.

 

Timnas Menangkan Adu Serangan Vertikal

Walaupun rencana high pressing Filipina terlihat cukup baik, tapi dari aspek efektifitas, persentasenya sangat rendah. Hal ini disebabkan Indonesia tidak berencana terlalu lama menguasai bola di belakang. Sekali mendapatkan bola, fullback Indonesia langsung mengirim bola ke depan, terutama mencari Boaz Salosa yang berlari secara diagonal.

 

 

 

Karena garis pertahanan yang cukup tinggi di awal, Boaz otomatis mengincar area flank di belakang backline Filipina. Aksi ini ternyata sangat efektif, karena hampir semua pemain terdepan Indonesia lebih cepat daripada barisan pertahanan lawan. Tim merah-putih mendapatkan sangat banyak peluang memakai cara ini. Selain itu, Timnas juga memvariasikan serangannya, dengan Andik yang bergerak ke tengah ketika Boaz berada di sayap. Kombinasi ini akhirnya melahirkan gol kedua untuk Indonesia.

 

Jika Indonesia berhasil memanfaatkan area di belakang bek karena garis pertahanan lawan yang tinggi, Filipina justru memanfaatkan area di depan bek Indonesia, karena kelemahan cara bertahan Timnas sendiri. Agresifitas enam pemain terdepan Indonesia untuk melakukan pressing secara vertikal, ternyata tidak diikuti juga oleh naiknya garis pertahanan. Hal ini mengakibatkan ada ruangan yang cukup luas di depan bek, yang membuat Filipina sering sekali mendapatkan situasi 4 vs 4 dengan bek Timnas.

 

 

Kombinasi dari cara menyerang dan bertahan dari kedua tim ini, menciptakan permainan dengan tempo sangat cepat, karena selalu tercipta ruangan yang bisa dieksploitasi. Masing-masing mempunyai banyak peluang, terutama Filipina. Tapi Indonesia unggul secara kualitas peluang, karena yang mereka eksploitasi adalah ruang yang berada di belakang bek. Hal ini bisa dilihat dari catatan offside, dimana Indonesia empat kali terparangkap offside, sedangkan Filipina hanya satu kali.

 

Lebih cepat berada di belakang bek lawan, memungkinkan Indonesia memiliki posisi melakukan tembakan yang lebih dekat dengan gawang lawan. Sedangkan bagi Filipina, posisi yang mereka dapatkan untuk mengeksekusi tembakan relatif masih cukup jauh dari gawang, karena walaupun mereka mendapatkan ruang di depan bek, mereka seringkali cuma tertahan di depan bek Indonesia, tanpa bisa merangsek ke posisi yang lebih menguntungkan di dalam kotak penalti.

 

Manajemen Taktik Yang Buruk

Seperti kita ketahui bersama jika di laga melawan Thailand, Timnas memulainya dengan sangat buruk. Mereka memulai dengan lambat, telat panas dan harus tertinggal dua gol terlebih dahulu. Walaupun sempat berhasil mengejar angka, akhirnya mereka harus tetap kalah 2-4.

 

Sangat wajar jika Riedl tidak ingin kesalahan yang sama terjadi. Di laga ini mereka tidak lagi telat panas di awal, dengan langsung bermain cepat sejak peluit kickoff dibunyikan. Alhasil mereka berhasil unggul cukup awal dan seharusnya bisa menjalani pertandingan dengan lebih nyaman.

 

Tapi yang terjadi tidak demikian. Timnas seperti tidak mempunyai rem untuk diinjak ketika seharusnya mereka mulai memainkan tempo pertandingan. Kita harus menghargai bagaimana kesuksesan Riedl memotivasi pemain, sehingga mereka mau melakukan pressing hingga 90 menit. Tapi jika melihat jalannya pertandingan, seharusnya manajemen taktik yang dipakai bisa lebih baik.

 

Seperti yang sudah disebut di analisa di atas, serangan Timnas cukup efektif dan menghasilkan banyak peluang menjanjikan. Kesempatan untuk menambah keunggulan pun terbuka lebar. Tapi di saat yang sama, lini belakang cukup kedodoran oleh serangan Filipina, tanpa adanya proteksi yang memadai dari lini tengah.

 

Mungkin Filipina memang tidak mendapatkan gol dari situasi open play. Tapi peluang-peluang yang mereka dapat, cukup untuk membentuk rasa percaya diri buat pemainnya, di saat mereka tertinggal. Di pertandingan ini, timnas memulai dengan baik tapi merespon keunggulan skor dengan buruk. Harga yang harus dibayar cukup mahal, jika nanti ternyata mereka harus gagal (lagi) menembus semifinal.

 

 

@dribble9

Pemilik situs sepakbola dribble9.com

Pelatih Lisensi D PSSI, sempat menjadi Analis Taktik Mitra Kukar FC & Frenz United.

 

*tulisan versi asli dari yang dimuat di bola.com

Please reload