KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Merumuskan Kreativitas di Sepakbola (Bagian-3)

June 4, 2017

Tulisan ini merupakan sambungan dari bagian sebelumnya. Klik Di SINI

 

 

6. Kreativitas taktik dalam latihan sepakbola

 

Seperti yang dideklarasikan di poin 4 (Antara TGfU dan tactical-periodization), tactical-periodization (periodisasi taktik) merupakan metode latihan yang sangat mampu memfasilitasi pelatihan menghasilkan pemain-pemain yang memiliki kecerdasan dan kreativitas taktik memadai. Kenapa? Karena, mengacu kepada definisi kreativitas yang mana mengandung makna relevan/tepat/berguna, periodisasi berangkat dari ke-supradimensional-an taktik yang pada gilirannya menjadi acuan latihan-latihan yang ditujukan demi menghasilkan pemain yang kaya akan aksi/solusi kreatif.

 

Ada panduan/batasan yang harus dipahami pemain ketika mereka berusaha melakukan aksi kreatif. Ada taktik di sana. Ada “aturan main” yang tidak boleh dilanggar. Pep Guardiola termasuk sangat kaku dalam praktiknya. Testimoni Henry di Monday Night Football, bisa mewakili bagaimana Pep begitu kaku terhadap disiplin taktik. Hal yang berbeda bila Anda membandingkannya dengan Arsene Wenger atau Zinedine Zidane, misalnya, yang tampak lebih membebaskan pemain-pemainnya mengekspresikan kreativitas taktik, terutama dalam fase menyerang di separuh pertahanan lawan.

 

Bila mengacu kepada TGfU, pendekatan-pendekatan yang ditawarkan Memmert melalui 6-D TCA, dan prinsip-prinsip dalam periodisasi taktik, salah satu konsep yang mampu memfasilitasi menciptakan-taktik-sebagai-acuan bagi aksi/solusi kreatif para pemain adalah, mendesain model permainan dan mensosialisasikannya melalui latihan, dalam periodisasi harian yang mana setiap latihan terpusat pada target/tugas dengan spesifikasi yang kontekstual model permainan.

 

 

Mycrocycle, diadaptasi dari Tamarit.

 

 

Dalam periodisasi, pelatih dipandu untuk mampu menciptakan latihan dengan intensitas yang dan volum yang spesifik. Mulai dari passive-recovery, active-recovery, lalu memasuki sesi paling intens (mengacu pada mycrocycle 1 pekan 1 pertandingan), dan sampai hari H, pelatih harus memastikan pengaturan intensitas yang tepat yang mana setiap sesi latihan (harian) selalu memiliki tujuan/target serta mengacu kepada model permainan.

 

Sederhananya, berlatihlah dalam lingkungan yang mereplikasi (semaksimal mungkin) situasi pertandingan sesungguhnya. Mereplikasi sistem pressing lawan semirip mungkin, prediksikan seberapa banyak situasi-situasi semacam ini akan terjadi (Guntur Utomo, 2017), lalu masukan ke dalam lingkungan latihan di mana pemain harus dapat menaklukannya sesuai target spesifik taktik yang ditetapkan pelatih. Yang perlu diperhatikan, adalah, sebagai pelatih, tetapkan aturan main, tetapkan apa target spesifik pemain, apa reward (poin) ketika (grup) pemain mampu memenuhi target, dan biarkan para pemain menemukan solusi terbaik untuk mencapai target. Beberapa ide reward:

  • “Tim menyerang” mendapatkan 1 poin jika berhasil menciptakan gol ke gawang kecil;

  • Umpan yang mencerminkan konsep orang ketiga menghasilkan 1 poin; atau

  • “Tim bertahan” mendapatkan 2 poin jika berhasil menciptakan gol dari jarak minimal, yang ditentukan tim pelatih, ke gawang “tim menyerang”.

 

Contoh, H+2 periodisasi bisa digunakan untuk mengevaluasi kekurangan di uji-tanding yang baru saja dilalui. Karena salah satu titik di mana kelemahan taktik teridentifikasi adalah, koneksi antara para pemain dalam fase konstruktif ketika mencoba berprogres melalui tepi lapangan, diberikanlah latihan 4+1v2 diberikan. Yang mana spesifikasi latihan adalah memperbaiki koneksi antara no. 4, no.5, no. 8, no. 10 - ketika meng-overload zona 4 dan 7 dan mendapatkan pressing dari lawan - demi mendapatkan progresi yang “bersih” kepada pemain terjauh/terdepan di zona 10 atau 13.

 

Menghindari technical individual/group isolated-training (latihan eksekusi teknis terisolasi) - yang tidak spesifik terhadap model permainan - menjadi opsi ideal dalam mengembangkan kreativitas taktik. Tentu saja, untuk selalu diingat, pelatih perlu mendesain latihan beserta penyederhanaan kompleksitasnya, sehingga, para pemain bukan hanya mendapatkan latihan yang kontekstual terhadap taktik tetapi sekaligus mampu merangkul wilayah kognitif, eksekusi, dan daya tahan. Dengan ini, pemain mendapatkan knowledge yang memadai selama diberikan latihan. Penyederhanaan kompleksitas merupakan elemen yang sangat krusial dalam periodisasi. Penyederhanaan dapat menghindarkan pemain dari over-trained (dilatih berlebihan) yang pada gilirannya menyebabkan lelah otak yang menjadi faktor timbulnya cidera.

 

Melalui small-sided game (SSG) atau permainan grup kecil, pelatih bisa mendesain latihan dengan fokus spesifik. Apakah mengurangi jumlah pemain dari 5v5 ke 3v3 demi membidik peningkatan kebugaran, membatasi jumlah sentuhan bola untuk melatih pemain mengembangkan akses penerimaan umpan dan berpikir cepat (speed), atau sebagai bagian dari pemanasan dalam bentuk 6v2.

 

SSG juga berdampak positif kepada detak jantung. SSG dapat menekan detak jantung pemain ke level lebih rendah. Contoh, 4v4 menghasilkan detak jantung lebih rendah 14-15 beat tiap menit dibandingkan dengan 11v11. Detak jantung lebih rendah berkorelasi positif dengan fokus (konsentrasi). Dengan mengatur (menekan) prosentase detak terhadap detak maksimum, pemain lebih mampu berkonsentrasi dalam menjalankan dan memelihara aksi yang memenuhi kebutuhan spesifik latihan.

 

Selain itu, mengingat periodisasi menekankan bahwa fokus/konsentrasi-terhadap-target-sesifik-latihan merupakan refleksi level intensitas (sesungguhnya), menjaga detak jantung menjadi sangat beralasan. Sederhananya, detak jantung terjaga = fokus terjaga = intensitas terjaga = berlatih spesifik = kecerdasan dan kreativitas taktik meningkat.

 

Menurut Gaiteiro, 2006, seperti yang disebutkan oleh Tamarit, sepakbola merupakan sebuah rangkaian yang mana semua keputusan dan aksi merupakan inisiatif dan produksi aktivitas “tak sadar” (unsconcious). Menurut McCrone, 2002, proses “tak sadar” yang memungkinkan manusia bereaksi cepat, tidak lain tidak, adalah automasi (automatism). Dalam tahap automasi aksi, shortcut (jalan pintas) terbentuk, dan mempersingkat waktu (koneksi rangsangan/informasi-otak-aksi motorik) melalui setting stimulus yang spesifik.

 

Mekanisme sederhananya, ketika otak menjumpai stimulus yang identik (dalam pertandingan) dengan yang ia pernah hadapi/alami (selama berlatih), otak bereaksi “tak sadar” (dan cepat sekali) terhadap stimulus yang identik tersebut. Mekanisme semacam ini membuat otak mengalokasikan waktunya lebih banyak untuk aksi motorik yang lebih kompleks (Jensen, 2002), mengijinkan aksi “tak sadar” untuk mengurus elemen dasar pengambilan keputusan dan eksekusi. Umpan tumit, rabona, no look-pass, atau Zidane’s roullete, merupakan contoh aksi motorik yang kompleks.

 

Teori ini semakin diperkuat bila kita kembali kepada teori Mednick tentang serendipity, similarity, dan mediation,  yang mana solusi kreatif bisa dipicu keluar oleh sebuah kebetulan menyenangkan (serendipity) di mana kondisi saat ini (pertandingan) memiliki kesamaan dengan situasi-situasi masa lalu (latihan). Sekali lagi, teori ini sesuai dengan apa yang dibuktikan oleh Naissar tentang perilaku manusia yang context-dependant.

 

Selain dikarenakan periodisasi membuat latihan dan model permainan (taktik) selalu berjalan beriringan, periodisasi dengan konsep intensitas dan volum berinterval, pada dasarnya selaras dengan teori incubation. Dalam periodisasi, ditekankan perlunya recovery dan pengaturan intensitas yang spesifik demi menghindari brain-fatigue (lelah otak). Selain penting untuk meminimalisir potensi cidera, menghindarkan diri dari brain-fatigue mampu membuat pemain untuk terus menjaga mood dan motivation.
 

Dalam teori incubation, terdapat 6 jenis operasi incubation, yaitu, conscious work; opportunistic assimilation; forgetting inappropriate mental sets; recovery from fatigue; remote association; dan unconscious work. Berdasarkan pandangan periodisasi taktik yang menyarankan istirahat penuh (recovery-passive) pada H+1, recovery from fatigue menjadi model operasi yang paling mengena. Jose Mourinho dan banyak pakar psikologi olahraga tim sepakat bahwa brain-exhausted (jenuh otak) membutuhkan lebih banyak waktu untuk dipulihkan ketimbang muscle-exhausted (jenuh otot). Memberikan istirahat penuh diharapkan mampu menyegarkan otak dan memfasilitasi peningkatan kreativitas taktik.

 

Bila Anda menelaah lebih dalam masing-masing jenis operasi, bisa dikatakan hanya forgetting inappropriate mental sets yang tidak/kurang relevan dengan sepakbola (perlu dikaji lebih dalam). Teori concious work, opportunistic assimilation, remote association, dan unconscious work memiliki kesamaan pola pikir dengan sepakbola. Karena, dalam berlatih dan bertanding, kita bisa merasakan, bahwa ada kerja sadar (conscious work) dan tidak sadar (unconscious work) otak dalam memahami pergerakan, taktik, formasi, dll. Juga, kita bisa temukan bahwa apa yang diterima otak dalam sesi latihan dapat dikategorikan sebagai elemen asosiatif demi memunculkan solusi kreatif. Yang mana dalam proses kemunculannya, opportunistic assimilation dan remote association memiliki banyak kemiripan.

 

Yang juga perlu diperhatikan, seperti yang dijelaskan oleh Tory Higgins yang juga disebutkan oleh Memmert dalam jurnalnya, ada keperluan untuk memastikan pemain agar memiliki self-regulation yang promotion-focus (ingat deliberate-motivation, dari pendekatan 6-D ala Memmert). Promotion-focus berfokus kepada penyelesaian/pencapaian tugas/target. Model lain self-regulation adalah prevention-focus yang lebih berfokus kepada safety dan tanggung jawab. Melalui penelitiannya, Higgins (juga direfrensikan oleh Memmert) menyatakan, promotion-focus lebih mendukung produksi solusi taktik yang kreatif ketimbang prevention-focus.

 

Salah satu cara memicu kemunculan promotion-focus di dalam latihan, adalah menetapkan latihan dengan target spesifik yang jelas sekaligus memberikan reward (poin) bagi pemain/tim yang berhasil memenuhi target spesifik tadi. Dengan reward (penghargaan), pemain berfokus kepada pencapaian target ketimbang sekadar memenuhi tanggung jawabnya untuk terlibat dalam latihan. Metode ini, menurut Tamarit (2014), juga mampu menumbuhkan motivasi (intrinsik).

 

“If a punishment follows a behavior, it will occur less frequently. Because of the pain and fear that punishment causes, Skinner advocated the use of reinforcers to control behavior. His analysis of creativity followed this principle precisely. Creative behavior could be promoted, he argued, by following it with a reinforcer (Skinner disebutkan oleh Conti dan Amabile, 1999).

 

Ini kenapa, pelatih juga harus mampu menempatkan pemain dalam sebuah latihan yang secara implisit memberikan efek positif terhadap perasaan dan emosi (feelings and emotions), yang pada gilirannya terbawa (priming) ke dalam aksi-aksi sepakbola yang unconscious (tak disadari).

 

“… a player realizes and feels good when he behaves according to the principles, subprinciples, and subrinciples of subprinciples of the playing model.” (Freitas seperti yang disebutkan oleh Tamarit). Ujaran ini, secara tidak langsung memiliki kesamaan pola pikir dengan promotion-focus dalam model self-regulatory milik Higgins, bukan?

 

Pada akhirnya, mendesain sebuah sesi yang sekaligus melatih kecerdasan (level strategis) dan kreativitas (level taktik), sangat mungkin dipraktikan. Berlatih dalam sebuah lingkungan (environment) yang mana titik berat latihan adalah berfokus melatih kreativitas taktik pun sangat mungkin dilakukan.

 

Bentuk konseptual small-sided game 11v10 dengan poin latihan untuk melatih model permainan. Perilaku dalam fase “menyerang” (kuning), perilaku pressing (merah), fase transisional, dan berbagai aspek prinsip dasar level individual.

 

Konsep bentuk dan spesifikasi latihan di atas adalah kecerdasan pemain (penempatan posisi dalam struktur, okupansi spasial, memberikan dukungan terhadap formasi overload, menjaga compactness, dll) maupun kreativitas taktik (siasat dalam melewati taktik bertahan lawan, bersiasat dalam menemukan celah untuk memainkan konsep orang ketiga, usaha memicu inattentional-blindness di tim bertahan, dll) dalam satu latihan yang sama. Pemain dimainkan di dalam sebuah lapangan (environment) yang didesain agar pemain tetap menjaga kesadaran akan ruang statis utama, yaitu sayap, half-space, dan tengah (berada dalam koridor vertikal) dan ketiga sepertiga lapangan (yang masuk dalam koridor horisontal). Kisi-kisi - ditandai dengan garis putus-putus – di permukaan lapangan merupakan pembagian lapangan berdasarkan ruang statis yang dimaksudkan.

 

Lapangan berbentuk oktagonal, secara implisit, ditujukan untuk mem-priming pemain untuk bergerak diagonal baik ketika, berada dalam fase konstruktif di sepertiga awal (melebar) maupun mendekati gawang lawan (menyempit) . Bentuk lapangan juga memiliki dampak psikologis kepada tim bertahan. Dalam bentuk oktagonal, ketika tim menyerang mendekati gawang tim bertahan, para pemain bertahan dilatih untuk melindungi 3 koridor vertikal di tengah demi mendorong lawan menjauh dari gawang, ke tepi lapangan.

 

Lebih spesifik terhadap pelatihan kreativitas taktik, bisa dilakukan, salah satunya, melalui sebuah latihan dalam lapangan yang lebih kecil, misalnya, disertai pemberian target/tugas spesifik kepada para pemain. Pelatih harus menjelaskan peraturan permainan, latihan dilakukan tanpa instruksi yang bersifat narrow-breadth atau bisa dilakukan tanpa instruksi sekaligus, dan menuntut intensitas fokus otak serta intensitas fisik yang tinggi.

 

 

 Contoh latihan 4v4+3 untuk melatih penciptaan aspek diagonal maupun antisipasi terhadapnya.

 

 

Pemain diharuskan banyak melakukan pergerakan tanpa bola dibarengi penciptaan bentuk segitiga maupun berlian. Karena pemain di netral (kuning) koridor sayap dibatasi 1 kali sentuhan bola, secara implisit, koridor half-space dan tengah akan menjadi pilihan utama bagi para pemain dalam melakukan sirkulasi dan progres serangan. Di sisi lain, walaupun latihan ini berfokus ke kreativitas taktik, tetapi intensitas (baik fokus otak maupun ketahanan fisik) latihan yang tinggi, membuat mentalitas pemain dalam fase transisonal, stamina, dan eksekusi teknis ikut dilatih.

 

Latihan merupakan media paling tepat untuk membekali pemain dengan pengetahuan yang mereka butuhkan dalam pertandingan kompetitif. Desain latihan yang tepat (lingkungan, peraturan, target spesifik, saran, interaksi antarpemain) yang mengacu kepada model permainan adalah koentji.

 

7. Kreativitas taktik dalam sepakbola usia dini

 

Penyederhanaan latihan dalam usia dini (anak-anak) juga merupakan keharusan. Kesalahan atau tidak melakukan penyesuaian/penyederhanaan dalam praktik sepakbola usia anak-anak = membahayakan masa depan sepakbola si anak. Berbagai penelitian menyebutkan, bahwa kreativitas berkembang dan berakselerasi sangat cepat di usia anak-anak. Kreativitas itu sendiri juga berkembang lebih lambat ketimbang perkembangan dalam aksi motorik, misalnya.

 

Akan sangat baik, bila anak-anak, selain diberikan latihan berkonsep deliberate-play juga dimainkan di lapangan yang lebih kecil (sesuai kemampuan fisik mereka) dan bertanding dalam kelompok kecil (small sided-game).

 

Kenapa ini penting? Pertama, deliberate play bisa terus mendorong anak untuk terus termotivasi- dalam jangka panjang diharapkan membentuk motivasi intrinsik yang kuat - sekaligus bergembira. Semua ahli psikologi olahraga sepakat menyebutkan, bahwa kesenangan (pleasure) menjadi elemen yang krusial bagi anak-anak, karena, dengan kesenangan, anak-anak secara otomatis termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik. Menurut Fonseca, 2006, seperti yang disebutkan oleh Tamarit, “That period that preceds admission to a club (street football) seems to be fundamental part in the training process of elite players, extreme important in the development of the different qualities of the player.”

 

Kedua, lapangan yang lebih kecil. Kenapa lapangan yang lebih kecil? Ukuran lapangan harus disesuaikan dengan daya jelajah anak. Dengan ukuran lapangan yang tepat, pelatih sedang memfasilitasi keharusan agar anak-anak lebih banyak menyentuh bola. Dalam Coaching The Tiki-Taka Style of Play, Jed Davies menyampaikan sebuah studi. Pemain memiliki kesempatan menyentuh bola 3,9 kali lebih banyak dalam 4v4 ketimbang 11v11 dan 2 kali lebih banyak ketimbang 7v7. Menyentuh bola berarti berinteraksi dengan bola dan belajar mengambil keputusan dan melakukan aksi motorik dengan bola. Tentu saja, semakin sering seorang anak bersentuhan dengan bola, kualitas interaksinya akan semakin membaik seiring perkembangan usia dan daya tangkapnya.
 

Pendekatan lain yang bisa dijadikan pertimbangan adalah, diversification. Daniel Memmert menyebutkan, bahwa konsep berlatih non-specific yang universal - non-specific yang menitik beratkan ke satu dari dua atau tiga olahraga dalam satu unit latihan yang sama - dan konsep specific ke satu olahraga saja, bisa menjadi pertimbangan dalam melatih kreativitas taktik dalam olahraga tim. Konsep non-specific dengan titik berat ke salah satu olahraga, bisa dilakukan dengan cara, misalnya, melatih sepakbola sebanyak 70%, bola basket 15%, dan bola tangan 15% (non-specific sepakbola).

 

Menurut penelitian Memmert kepada anak-anak, perbaikan kreativitas taktik tergambar jelas (secara statistik) setelah anak-anak diberikan latihan menggunakan kedua konsep di atas. Baik efeknya terhadap olahraga terkait maupun efek lintas olahraga. Hasil penelitian Memmert membuktika ada efek positif dalam kreativitas taktik yang diperoleh dari hasil pelatihan konsep specific dan non-specific.

 

Konsep non-specific sepakbola maupun konsep specific sepakbola, termasuk deliberate-play dalam latihan sepakbola, pada dasarnya, membuat anak-anak berlatih (bermain) sepakbola sambil sekaligus melatih faktor taktik, teknik, dan fisik. Tidak bisa tidak, ketiga faktor ini harus dilatih berbarengan. Desain permainan/latihan yang tepat agar anak-anak terus belajar (dengan gembira) tentang bagaimana menyesuaikan aksi-aksi mereka dalam situasi-situasi berbeda (secara kolektif) sangat diperlukan dalam fase ini.

 

Yang juga perlu untuk selalu diingat oleh pelatih, adalah, seperti yang disampaikan oleh Jed Davies dalam Coaching Tiki-Taka Style of Play, berikanlah pujian terhadap usaha keras yang dilakukan oleh anak-anak ketimbang terus-menerus memuji keberhasilannya. Anak-anak yang menerima dukungan/dorongan atas usahanya terindikasi berusaha keras lebih konsisten ketimbang mereka yang dipuji akan keberhasilannya.

 

Pelatih juga bisa menggabungkan pendekatan latihan yang didesain agar anak-anak berusaha mencapai target/tugas sebagai fokus dengan gaya melatih tanpa penggunaan instruksi yang mempersempit fokus/perhatian pemain – yang memicu inattentional-blindness –. Pencapaian tugas/target disertai reward bisa diterapkan agar anak-anak terdorong untuk terus berusaha semaksimalnya tanpa merusak kesenangan bermain. Dengan adanya target yang menjadi tujuan, anak-anak akan berpikir untuk menemukan solusi terbaik bagi mereka.

 

Dr. Heri Rahyubi, 2014, mengatakan, “…pada fase anak besar (6-12 tahun), aspek yang menonjol adalah perkembangan sosial dan intelegensia. Di usia ini, selain muncul kekuatan juga mulai menguasai fleksibilitas dan keseimbangan…. Peningkatan/perkembangan gerak pada fase remaja (sampai 18-20 tahun) terus berjalan pesat… yang bisa diidentifikasi dalam bentuk:

  • Gerakan dengan mekanika yang semakin efisien;

  • Gerakan yang semakin lancar dan terkontrol;

  • Pola atau bentuk yang semakin variatif; dan

  • Gerakan yang semakin bertenaga.

 

Dari kutipan di atas, terlihat sekali adanya siklus yanag mana perkembangan fisik dan motorik yang membaik disertai adaptasi sosial dan intelegensia (penalaran) yang meningkat. Dalam fase ini, tentu akan sangat menguntungkan bagi anak-anak, apabila pelatih mampu memberikan/melibatkan anak-anak ke dalam permainan yang, sekali lagi, mampu sekaligu merangkul/melatih aspek motorik, fisik (stamina, kekuatan), pengambilan keputusan (termasuk kreativitas), kepercayaan diri (mental), dan kemauan bekerja sama dalam sebuah tim.

 

Apa yang disampaikan Dr. Heru di atas, sejalan dengan Jurnal Hari Amirulah Rahman, 2008. Rahman, berdasarkan model pembelajaran Teaching Games for Understanding (TGfU), mengatakan pentingnya meningkatkan apresiasi anak terhadap prinsip permainan (afektif) sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan sendiri bentuk-bentuk permainan.

 

- Bersambung -

TGfU sebagai panduan pemberian latihan sepakbola kepada anak-anak (dari Rahman, 2008).

 

Please reload