K! EVENT
Recent Posts

Merumuskan Kreativitas di Sepakbola (Bagian-3)

Tulisan ini merupakan sambungan dari bagian sebelumnya. Klik Di SINI

6. Kreativitas taktik dalam latihan sepakbola

Seperti yang dideklarasikan di poin 4 (Antara TGfU dan tactical-periodization), tactical-periodization (periodisasi taktik) merupakan metode latihan yang sangat mampu memfasilitasi pelatihan menghasilkan pemain-pemain yang memiliki kecerdasan dan kreativitas taktik memadai. Kenapa? Karena, mengacu kepada definisi kreativitas yang mana mengandung makna relevan/tepat/berguna, periodisasi berangkat dari ke-supradimensional-an taktik yang pada gilirannya menjadi acuan latihan-latihan yang ditujukan demi menghasilkan pemain yang kaya akan aksi/solusi kreatif.

Ada panduan/batasan yang harus dipahami pemain ketika mereka berusaha melakukan aksi kreatif. Ada taktik di sana. Ada “aturan main” yang tidak boleh dilanggar. Pep Guardiola termasuk sangat kaku dalam praktiknya. Testimoni Henry di Monday Night Football, bisa mewakili bagaimana Pep begitu kaku terhadap disiplin taktik. Hal yang berbeda bila Anda membandingkannya dengan Arsene Wenger atau Zinedine Zidane, misalnya, yang tampak lebih membebaskan pemain-pemainnya mengekspresikan kreativitas taktik, terutama dalam fase menyerang di separuh pertahanan lawan.

Bila mengacu kepada TGfU, pendekatan-pendekatan yang ditawarkan Memmert melalui 6-D TCA, dan prinsip-prinsip dalam periodisasi taktik, salah satu konsep yang mampu memfasilitasi menciptakan-taktik-sebagai-acuan bagi aksi/solusi kreatif para pemain adalah, mendesain model permainan dan mensosialisasikannya melalui latihan, dalam periodisasi harian yang mana setiap latihan terpusat pada target/tugas dengan spesifikasi yang kontekstual model permainan.

Mycrocycle, diadaptasi dari Tamarit.

Dalam periodisasi, pelatih dipandu untuk mampu menciptakan latihan dengan intensitas yang dan volum yang spesifik. Mulai dari passive-recovery, active-recovery, lalu memasuki sesi paling intens (mengacu pada mycrocycle 1 pekan 1 pertandingan), dan sampai hari H, pelatih harus memastikan pengaturan intensitas yang tepat yang mana setiap sesi latihan (harian) selalu memiliki tujuan/target serta mengacu kepada model permainan.

Sederhananya, berlatihlah dalam lingkungan yang mereplikasi (semaksimal mungkin) situasi pertandingan sesungguhnya. Mereplikasi sistem pressing lawan semirip mungkin, prediksikan seberapa banyak situasi-situasi semacam ini akan terjadi (Guntur Utomo, 2017), lalu masukan ke dalam lingkungan latihan di mana pemain harus dapat menaklukannya sesuai target spesifik taktik yang ditetapkan pelatih. Yang perlu diperhatikan, adalah, sebagai pelatih, tetapkan aturan main, tetapkan apa target spesifik pemain, apa reward (poin) ketika (grup) pemain mampu memenuhi target, dan biarkan para pemain menemukan solusi terbaik untuk mencapai target. Beberapa ide reward:

  • “Tim menyerang” mendapatkan 1 poin jika berhasil menciptakan gol ke gawang kecil;

  • Umpan yang mencerminkan konsep orang ketiga menghasilkan 1 poin; atau

  • “Tim bertahan” mendapatkan 2 poin jika berhasil menciptakan gol dari jarak minimal, yang ditentukan tim pelatih, ke gawang “tim menyerang”.

Contoh, H+2 periodisasi bisa digunakan untuk mengevaluasi kekurangan di uji-tanding yang baru saja dilalui. Karena salah satu titik di mana kelemahan taktik teridentifikasi adalah, koneksi antara para pemain dalam fase konstruktif ketika mencoba berprogres melalui tepi l