K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Berkenalan dengan Ragam Metode Melatih

February 4, 2019

“Jangan membunuh lalat dengan senapan” – Confucius

 

Pepatah filsuf Cina di atas bicara tentang pentingnya metode atau cara untuk mencapai `Dari beragam cara, tidak ada yang selalu benar dan juga tidak ada selalu salah. Suatu cara menjadi benar ketika cara tersebut tepat guna (efektif), tetapi juga tidak berlebih (efisien).

 

Ya, Anda tidak perlu membunuh lalat dengan senapan, cukup dengan pemukul lalat. Tetapi mungkin anda membutuhkan senapan untuk melumpuhkan seekor singa. Ibarat kotak peralatan berburu, seorang pemburu wajib menguasai semua alat. Dari senapan, pistol, belati, hingga busur misalnya. Meski demikian menguasai semua alat tidaklah cukup. Pemburu yang tangguh haruslah juga menguasai wawasan tentang senjata apa yang tepat untuk binatang yang diburunya.  

 

Hal yang sama juga terjadi di dunia kepelatihan. Ada beragam cara melatih yang sering juga dikenal dengan metode melatih. Dari beragam metode melatih, tidak ada yang selalu sepenuhnya benar, tetapi juga tidak ada yang selalu sepenuhnya salah. Untuk itu, pelatih harus menguasai berbagai ragam metode melatih. Pelatih juga harus memahami wawasan tentang metode melatih mana yang tepat menyesuaikan dengan pemainnya. Metode melatih yang tepat, di waktu yang tepat, pada situasi yang tepat, untuk pemain yang tepat.

 

Ragam Metode Melatih

Hal penting pertama adalah pelatih harus mengerti bahwa ada banyak metode melatih. Dimana semua ragam metode melatih haruslah dikuasai dengan baik. Beragam metode melatih ini dibagi ke dalam dua klasifikasi. Yaitu explicit coaching dan implicit coaching.

 

Explicit coaching adalah metode melatih dimana seorang pelatih secara aktif memberikan referensi kepada pemainnya secara eksplisit (langsung verbal). Sedangkan implisit coaching adalah metode melatih dimana seorang pelatih secara pasif dan implisit menciptakan situasi yang merangsang pemain untuk berpikir, menemukan solusi dan melakukan teorisasi terhadap situasi yang dihadapi.

 

 

 

Adapun ragam metode melatih adalah sebagai berikut:

 

1/ Metode STOP – FREEZE

Ad. suatu metode melatih secara aktif dengan cara memberhentikan latihan dan membekukan situasi SEGERA setelah kesalahan terjadi. Pada saat latihan diberhentikan, kemudian pelatih berkomunikasi lewat proses tanya jawab untuk mengajak pemain melihat dan berpikir tentang kesalahan apa yang terjadi di dalam latihan tersebut. Pelatih kemudian memandu pemain untuk bisa memperbaiki kesalahan.

 

Contoh pada bentuk latihan 2v1 cetak gol ke gawang, terjadilah kesalahan karena 2 pemain dengan bola selalu bermain passing ke kiri ke kanan. Dengan metode STOP-FREEZE, pelatih akan langsung menyetop situasi tersebut, lalu bertanya kepada pemain tentang kesalahan tersebut. Pelatih kemudian memandu pemain untuk memperbaiki kesalahan dengan memberi masukan agar pemain melakukan dribble mendatangi lawan, sehingga temannya bebas. Pemain dengan bola dapat memilih untuk pass ke teman yang free untuk finishing atau melewati untuk finishing.  

 

 Stop-Freeze Method

 

 

2/ Metode Coaching on the Run

ad. suatu metode melatih secara aktif dengan cara memberikan rangsangan verbal sepanjang latihan berlangsung. Rangsangan verbal ini dapat berupa saran atau instruksi yang mengajak pemain untuk lebih melihat situasi dan berpikir untuk mencari alternative solusi pada situasi tersebut. Metode ini sering diaplikasikan keliru, dimana pelatih kemudian seolah me-remote control pemain. Instruksi langsung seperti ini membuat pemain berhenti melihat dan berpikir, sehingga pada akhirnya pemain hanya tergantung pada instruksi pelatih.

 

Pada situasi latihan 2v1 misalnya, pelatih dapat menggunakan metode ini dengan berbagai tahap. Tahap awal adalah mengajukan task oriented question alias pertanyaan berbasis tugas seperti “Lihat, apakah sering terjadi gol?” Pertanyaan ini harapannya pemain mengevaluasi sambil melakukan latihan. Apabila kemudian pemain sadar bahwa tidak banyak gol terjadi, maka pemain mulai sadar bahwa ada yang salah dalam latihan tersebut.

 

Apabila rangsangan verbal dengan task oriented question tidak cukup, pelatih dapat masuk ke tahap berikutnya, yaitu: clue stimulation dan directive question alias petunjuk dan pertanyaan menyasar. Pada situasi 2v1 misalnya, pelatih dapat mengatakan: “2v1, harus sabar atau harus cepat finishing?” lalu dapat katakan “Lebih cepat dengan dribble atau passing kiri-kanan?”. Rangsangan verbal ini membuat pemain berpikir dan harapannya terjadi perbaikan.

 

 Coaching on the Run Method

 

 

3/ Metode Interval Coaching.

Ad. Suatu metode melatih secara aktif dengan cara memberhentikan latihan, setelah beberapa masa latihan berlangsung. Biasanya pemberhentian latihan ini dilakukan selain untuk keperluan melatih juga untuk rest minum dan ambil napas. Tujuan dari tidak langsung memberhentikan adalah memberi kesempatan pada pemain untuk berpikir mandiri dan mencari solusi secara mandiri.

 

Pada saat memberhentikan latihan, biasanya langkah pertama yang dilakukan pelatih adalah mengajak pemain untuk flashback mengingat kembali. Pelatih akan memulai dengan pertanyaan misal “apa tujuan latihan?”, “apakah sudah tercapai?”, “selalu tercapai? Jarang tercapai? Atau tidak pernah tercapai?”. Pertanyaan ini akan mengajak pemain mengevaluasi latihan yang sudah dilakukan. Tentu saja, pemain biasanya akan dengan jujur menjawab misal “Sering tercapai” atau “jarang tercapai”.

 

Setelah mendengar jawaban, pelatih akan mulai mengajukan pertanyaan analitik yang lebih mendalam yaitu “mengapa?”. Latihan sukses atau gagal, penting untuk pemain harus selalu memahami alasan atau factor kunci dibalik keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan itu. Tentu saja hal tersebut tidak mudah. Tidak selalu pemain dapat menjawab pertanyaan ini, mengingat tidak semua pemain memiliki kemampuan refleksi dan analitik yang baik.

 

Apabila pemain tidak mampu menjawab, maka pelatih harus membantu pemain tersebut. Pelatih bisa mengajukan clue stimulation dan directive question. Pada situasi 2v1 misalnya, pelatih dapat bertanya: “2v1, harus sabar atau harus cepat finishing?” lalu dapat katakan “Lebih cepat dengan dribble atau passing kiri-kanan?”. Rangsangan petunjuk dan pertanyaan menyasar ini tentunya akan dengan mudah dijawab oleh pemain. Sehingga pada akhirnya pemain mendapatkan kesimpulan teorinya.

 

Interval Coaching Method

 

 

4/ Metode Design/Modify Rules

Ad. suatu metode melatih pasif yang secara tidak langsung menciptakan suatu situasi yang membuat pemain memenuhi tuntutan latihan tanpa instruksi dari pelatih. Caranya dengan mendesain atau memodifikasi aturan khusus yang jika diikuti pemain dengan baik, tanpa sadar pemain akan melakukan suatu aksi sepakbola yang tepat dan akurat.

 

Misal pada latihan 2v1, ketimbang pelatih memberikan instruksi verbal dengan proses tanya jawab, Pelatih cukup menambahkan aturan sederhana misal “dalam waktu 5 detik harus terjadi finishing, jika tidak pelanggaran!”. Aturan ini tanpa sadar merangsang pemain untuk lebih cepat menyelesaikan situasi 2v1 dengan finishing. Di samping itu, aturan ini akan merangsang pemain berpikir untuk mencari cara terbaik untuk cepat finishing. Harapannya, akibat aturan ini, pemain bisa mengevaluasi aksinya. Pemain kemudian misal bisa memilih bahwa lebih baik lakukan dribbling datang lawan, ketimbang hanya passing kiri-kanan.

 

Modifying Rules Method

 

 

5/ Metode Reverse Coaching

Ad. suatu metode melatih pasif dengan cara memberikan explicit coaching kepada lawan tim yang ingin kita latih. Sederhananya, apabila kita ingin melatih tim yang menguasai bola, maka kita memeberikan instruksi pada tim yang tidak menguasai bola. Sebaliknya saat kita ingin melatih tim yang tidak menguasai bola, maka pelatih justru memberikan instruksi pada tim yang menguasai bola. 

 

Contoh, pelatih ingin agar tim bermain lebih vertikal cepat ke depan. Maka alih-alih memberi instruksi atau solusi pada tim menguasai bola, pelatih justru memberi instruksi pada tim yang tidak kuasai bola. Instruksinya adalah high pressing, agar tim yang tidak kuasai bola meninggalkan ruang besar di belakang lini. Harapannya situasi ini merangsang tim yang pegang bola, untuk menggunakan ruangan di belakang lini lebih dini dan sering. 

 

 

Metode Ideal

Seperti yang telah disampaikan pada awal artikel ini, ragam metode di atas tidaklah tunggal. Melainkan ragam metode tersebut ibarat kotak peralatan berburu, dimana pemburu harus memilih senjata mana yang tepat untuk binatang yang diburu. Pada situasi latihan pada pemain tertentu, terkadang metode STOP-FREEZE adalah yang terbaik. Tetapi bisa pada situasi lain, modifikasi rules adalah yang terbaik. Tak heran dalam satu sesi latihan saja, pelatih bisa menggunakan berbagai ragam metode sekaligus.

 

Meski demikian, tuntutan dan karakter permainan sepakbola jelas menuntut suatu situasi latihan dengan metode melatih yang ideal. Metode melatih seperti apa yang ideal? Metode melatih yang paling ideal untuk kondisi sepakbola yang ideal tentu saja adalah metode implicit coaching. Mengapa?

 

Jika kita menganalisa permainan sepakbola dengan tuntutan, karakteristik dan aturan main yang ada di dalamnya, jelas sepakbola adalah permainan yang terbuka, dinamis dan kompleks. Sepakbola juga lebih merupakan players sport, bukan coach sport. Di permainan rugby atau basket, pelatih banyak memegang peranan lewat keputusan set playnya karena bola tertutup. Di sepakbola, situasi bola terbuka membuat pemain harus mengambil keputusan mandiri setiap saat.

 

Untuk itu, idealnya latihan sepakbola harus selalu menyajikan situasi dimana pemain setiap saat berpikir dan ambil keputusan secara mandiri. Situasi yang hanya dapat terjadi jika pelatih lebih mengedepankan metode implicit coaching. Metode melatih aktif STOP-FREEZE menjadi metode yang paling tidak kontekstual terhadap tuntutan sepakbola level tinggi. Mengingat di permainan yang sebenarnya, STOP tidak dapat dilakukan. Pelatih hanya bisa membantu pemain secara aktif dengan coaching on the run dan interval coaching (saat halftime). Sisanya, lebih banyak pemain yang harus berpikir, analisa dan ambil keputusan secara mandiri.

 

Tentu saja, bukan berarti metode melatih aktif STOP-FREEZE diharamkan. Pada situasi tertentu, metode ini bisa jadi justru paling efektif digunakan jika dilakukan pada timing yang tepat secara efisien. Pada saat pemain memulai pendidikan (usia muda-level rendah), pelatih akan memulai dengan implicit coaching. Lalu setelah bertambah usia-level, pelatih bisa mulai ajarkan referensi dengan explicit coaching. Saat pemain telah mencapai usia-level lebih tinggi, maka pelatih kembali akan kedepankan metode implicit coaching.

 

 

Metode Tunggal

Sayangnya selama ini pendidikan pelatih kita yang berkiblat ke AFC (baca kuno), hanya terfokus pada satu metode melatih. Yaitu metode yang sering kita kenal dengan metode STOP – FREEZE. Form Penilaian Ujian Praktek Kursus AFC (dari C ke A) misalnya tidak pernah mengakomodir penilaian untuk kemampuan pelatih dalam lakukan reverse coaching, modifying rules, interval coaching dan coaching on the run. Padahal seharusnya makin tinggi level pemain, pelatih harus lebih banyak gunakan metode melatih pasif.

 

Hal yang kemudian terjadi adalah, pelatih tidak akan mendapat penilaian optimal apabila tidak melakukan STOP-FREEZE. Seolah tanpa STOP-FREEZE, pelatih tidak melatih. Mispersepsi ini yang perlu diluruskan ke depannya. Mengingat satu macam metode melatih tentunya tidak akan mencetak pesepakbola yang cerdas di masa mendatang.

 

Seorang pelatih harus belajar menguasai beragam metode melatih dan memiliki wawasan tentang waktu penggunaannya secara tepat dan efisien. Kondisi sepakbola kita yang tertinggal saat ini memang akan mendorong pelatih lebih banyak menggunakan metode melatih aktif. Ini adalah sesuatu yang wajar. Tetapi, pelatih secara perlahan juga harus memprogresi kualitas metodik latihannya. Dengan bertambahnya wawasan pemain, maka perlahan pelatih bisa lebih mengedepankan metode melatih pasif. Untuk sepakbola yang lebih sepakbola!! <>

@ganeshaputera

Founder KickOff! Indonesia

 

Please reload