KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Kecoh Skema Emery Mudahkan Start Arsenal

March 14, 2019

Dua pelatih yang bisa dibilang masih ‘hijau’ di Premier League musim ini, bertemu untuk kedua kalinya. Pertemuan pertama menghasilkan kemenangan Solskjaer atas Emery di ajang piala FA dengan skor 1-3. Pertemuan kedua, di tempat yang sama, giliran Emery yang merayakan kemenangan dengan 2 gol tanpa balas. Kemenangan ini sekaligus memutus rekor tidak pernah terkalahkannya Manchester United di EPL di bawah asuhan Ole Gunnar Solskjaer. Di pertemuan kedua ini, mungkin akan jadi awal perang taktik antar kedua manager di musim-musim selanjutnya. Emery merespon dengan baik kekalahan di piala FA dengan mengecoh Solskjaer. Skema 4 bek yang digunakan di awal pertemuan diubah menjadi 3 bek. 

3-4-3 vs 4-3-1-2
Bermain 3 bek dengan formasi 3-4-3 melawan komposisi pemain dan skema 4-4-2 milik Solskjaer (di lapangan berubah dengan 4-3-3) memberikan keunggulan start yang mudah bagi Emery. Jika dianalogikan dengan balapan, Arsenal sudah start lebih dulu di depan Manchester United. 

 

 

Jika dilihat di gambar pertama, hampir semua pemain Manchester United (MU) dapat dikawal oleh 1 hingga 2 pemain. Hanya beberapa menit awal MU terlihat seperti di gambar pertama, Pogba di sayap dengan 4-4-2. Solskjaer segera menyadari ini dan mengubah posisi Pogba lebih ke depan (4-3-3). Pun begitu masih ada Sokratis, praktis Pogba akan menghadapi situasi 1 vs 2. Jika Lukaku membantu pun masih bisa diatasi bek Arsenal dengan bergeser (shifting) ke kanan. 

Taktik Overload Emery

Di gambar pertama bisa dilihat peran Ozil yang ketika bergeser ke koridor sayap kanan dan kiri sudah bisa menciptakan overload. Tanpa bergeser pun, di tengah, Ozil sudah menciptakan overload (3 vs 2) dengan Ramsey dan Xhaka vs Matic-Fred atau situasi yang sama dengan Lacazette dan Aubameyang vs Lindelof-Smalling. 

 

Skenario lain yang sering digunakan Arsenal, dicontohkan dengan gambar kedua ketika Ozil bergerak ke kiri. Situasi ini juga membuat Arsenal menang dalam jumlah 3 vs 2. Saat Ozil membawa bola, maka Young akan berusaha menutup. Saat melakukan ini maka akan ada celah di kanal antara Young/fullback (FB) dan Smalling/centerback (CB). 

 

Ruang ini yang akan dimanfaatkan Aubameyang atau striker lain. Jika Smalling menjaga Aubameyang pun akan menciptakan celah di kanal antara CB-CB. Seperti yang terlihat di skenario di bawah. 

 

 

Celah di kanal tercipta antara CB-CB (Smalling-Lindelof) karena Aubameyang menambah superioritas jumlah hingga ke sayap 3 vs 2. Smalling hendak menutup kekurangan tersebut dengan mengikuti Aubameyang. 

 

Opsi lain untuk mengantisipasi hal di atas, Matic yang menutup celah tersebut. Skenario terakhir ini yang menjadi awal gol pertama. Alih-alih menjaga Xhaka, Matic disibukkan untuk menutup celah yang ditimbulkan pergerakan pemain Arsenal di sayap kanan. 

 

 

Xhaka terlalu bebas saat menerima bola, jarak dengan pemain lain terlalu jauh. Akses ke gawang juga terbuka lebar. Xhaka mengeksekusi tendangan spekulasi ini dengan teknik tinggi. Meski ayunan kaki pemain yang punya adik dengan kebangsaan berbeda ini ke dalam, namun bola bergerak berkebalikan dari arah ayunan kaki. De Gea gagal mengantisipasi karena bergerak terlebih dahulu ke arah ayunan kaki. 

 

Respon Solskjaer

Analisis terhadap formasi dan susunan awal Solskjaer di pertandingan ini adalah melakukan counter overload Arsenal di kiri dengan memainkan Dalot dan Young. Berkaca pada pertandingan pertama, Arsenal lebih banyak memainkan bola di kiri. Meneror Young yang saat itu hanya berdiri Lukaku di depannya (4-3-3). 

 

 Heatmap Arsenal di pertemuan pertama

 

 

Harapannya, dengan memainkan Dalot, Matic dan Fred tidak perlu bergeser membantu pemain ke sayap. Namun Solskjaer terkecoh, adaptasi taktiknya di luar perkiraan karena Arsenal bermain dengan 3-4-3, tidak seperti pertemuan pertama 4-2-3-1/4-3-3. Respon Solskjaer pertama menaikkan Pogba untuk melakukan pressing saat Arsenal membangun serangan. Saat membangun serangan, Emery juga mendapatkan keuntungan karena saat bola di kiri, Lukaku dan Rashford akan bergeser ke kiri. Menyisakan 1 pemain yang tidak terkawal (Sokratis). 

 

Lalu di menit ke-26 Solskjaer mengintruksikan untuk bermain 3 bek. Shaw didorong ke depan untuk menambah jumlah pemain tengah di sayap kiri (mirroring formation). Sayangnya dalam rentang waktu tersebut, Arsenal sudah unggul lewat gol Xhaka. 

 

 

Dengan formasi ini, MU cenderung lebih stabil. Maitland Niles melepaskan markingnya ke Pogba, atau jika tidak dilepas, Shaw akan bebas.

 

 

 

Tidak hanya memberikan lisensi menyerang yang lebih stabil, adaptasi taktik yang dilakukan Solskjaer juga membuat organisasi dalam bertahan jadi lebih baik. Shape lebih terjaga dan padu dengan formasi bertahan 5-3-2/5-4-1. Dalot dan Shaw hanya perlu mundur segaris dengan bek lain untuk menutup celah di ruang kanal yang timbul di awal babak. 

 

 

 

Buruknya Konversi Peluang Manchester United

Intensitas pressing tinggi membuat Manchester United bersusah payah lepas untuk lepas dari tekanan Arsenal. Lacazette dan Aubameyang ikut melakukan pressing mundur sehingga saat bola dikuasai pemain tengah United, pemain Arsenal sudah mengepung dan menutup akses ke pemain lain. Kemampuan individual pemain MU yang membuat beberapa peluang bisa dihasilkan. Namun hal ini tidak dibarengi dengan penyelesaian yang baik. Hanya 1 peluang dengan nilai xG tinggi (0.73) yang didapat saat MU berada dalam tekanan (Menit 26 ke bawah). Di menit ke-9 sontekan Lukaku membentur mistar. Bermain lebih stabil, Arsenal mampu mencetak gol di menit ke-12. Baru setelah menit ke-26 (dimana Solskjaer merubah skema bermain) MU mampu menciptakan setidaknya 3 peluang lain bernilai xG tinggi (menit 35 total xG 1.47) 

 

 4 lonjakan xG Man United, 3 dihasilkan setelah berganti skema

 

 

Kesimpulan

Pertandingan berakhir dengan skor 2-0 untuk Arsenal. Solskjaer di MU secara taktikal sangat adaptif, proaktif & reaktif terhadap taktik lawan. Emery pun punya gameplan yang variatif. Meski nampak sesederhana mengurangi 4 bek menjadi 3 bek, namun jika keseluruhan sistem tidak dikuasai dengan baik maka bisa jadi bumerang. Ada hal positif yang bisa diambil dari seringnya Emery mengubah-ubah skema dari 4 bek menjadi 3 bek. 

 

Secara statistik Manchester United pun cukup mentereng (xG 1.53 vs 2.37). Namun taktik, statistik, dan skor di sepakbola tidak selalu berjalan linier. Pengambilan analisis berdasarkan statistik pun harus didasarkan dengan jalannya pertandingan. Penyelesaian yang buruk merugikan Manchester United yang sejatinya sudah melakukan adaptasi dan reaksi taktikal yang cukup baik. 

 

Kualitas individu pemain nampak di bawah rata-rata, counter attack yang seharusnya dilakukan dengan passing agar sirkulasi bola lebih progresif, beberapa pemain malah melakukan dribbling yang digagalkan dengan kesalahan sendiri atau dengan sigapnya pertahanan Arsenal menggagalkan serangan. Faktor internal seperti kelelahan, mental, cedera bisa jadi penyebab. Namun tidak bisa mengesampingkan faktor eksternal seperti taktik Arsenal yang membuat pemain melakukan kesalahan dan itu tidak bisa dinilai dengan statistik.

 

 

 

@sundaybedranger
Tulisan asli di https://penyerangruang.wordpress.com

 

Please reload