KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

[Bayern v Liverpool 1-3] Kontrol Permainan Menangkan The Reds

March 18, 2019

Liverpool berhasil memenangkan pertandingan dengan skor meyakinkan 1-3 atas Bayern Munich di Alianz Arena. Dominasi di judul maksudnya adalah dominasi penguasaan bola. Secara statistik Bayern mendominasi penguasaan bola 57.8% – 42.2% dan mencatatkan umpan sukses 82%-74%. Seperti di artikel sebelumnya, statistik mentereng tidak linier dengan hasil pertandingan. Analisis jalannya pertandingan diperlukan untuk mengetahui detail yang terjadi di lapangan. 

Bayern Mendominasi, Liverpool Mengontrol

Bayern memang secara mentereng menguasai bola hampir 60%, namun dari jalannya pertandingan, kendali di lapangan dipegang oleh Liverpool. Dari heatmaps yang dicomot dari whoscored di bawah terlihat, penguasaan Bayern (orange) malah lebih banyak berada di wilayahnya sendiri. Bahkan ruang di tengah dan kanan Bayern nampak kosong. Serangan lebih banyak dilakukan di koridor sayap kiri.

 

 

 

Formasi dan model pressing Liverpool

Bayern di atas kertas bermain dengan formasi 4-3-3 dengan Rodriguez yang lebih ke depan di belakang Lewandowski. Lebih terlihat bermain dengan 4-2-3-1. Penggunaan double pivot Martinez-Alcantara untuk memecah high pressing Liverpool. Namun taktik ini tidak banyak memecah garis pertama pressing yang dihuni trio Salah-Mane-Firmino.

 

Pressing pertama yang dimaksud adalah seperti pada gambar di bawah. Garis kuning adalah akses umpan antar bek. Mane dan Salah mempunyai tugas menjaga akses umpan ke fullback (Rafinha/Alaba) sekaligus melakukan pressing ke ball carrier (pembawa bola). Firmino mempunyai tugas melakukan pressing ke 2 center back sekaligus cover shadow ke Martinez (no. 6 role).

 

 

Model pressing ini tidak dimainkan dengan intensitas setinggi musim lalu (Klopp’s heavy metal football). Musim ini Klopp menurunkan intensitasnya. Namun walau dilakukan dengan menurunkan intensitas pressing, model ini tetap memberikan tekanan kepada bek lawan saat akan melakukan build up. Pemain depan akan membaca trigger-trigger untuk melakukan pressing secara unit, kompak & teroganisir.

 

Di menit ke-48 Liverpool menjalankan model pressingnya, membiarkan ball carrier menguasai bola (Hummels). Firmino melakukan cover shadow ke Martinez. Saat itu juga Firmino menyadari akan pergerakan Thiago (gesture menoleh ke arah Thiago) yang turun untuk membuka akses umpan Hummels. Firmino hendak melepas cover shadow ke Martinez untuk menutup akses umpan ke Thiago. Milner step up untuk menggantikan Firmino menjaga Martinez. Namun pemain asal Brasil ini kurang cepat dalam menutup akses Hummels ke Thiago.

 

 

Bayern melewati fase pertama pertahanan Liverpool. Nampak Gnabry (no. punggung 22) juga turun untuk membuka akses umpan. Saat lawan berhasil membuka fase pertama ini, lini belakang Liverpool akan turun rendah menunggu 3 pemain tengah (Milner, Wijnaldum, Fabinho) untuk mengganggu ball carrier. Fabinho akhirnya berhasil menggagalkan serangan ini dengan melakukan sapuan sehingga menghasilkan sepak pojok.

 

 

 

Respon Bayern, Respon Liverpool

Sekuens di atas mencakup apa yang dilakukan Bayern untuk membongkar fase pertama high pressing Liverpool, dan apa respon Liverpool ketika lawan berhasil melewati fase pertama ini yaitu dengan menerapkan low block/blok rendah. Membongkar pressing Liverpool dengan double pivot memaksa 1 pemain tengah Liverpool untuk naik (Milner/Wijnaldum) sehingga ruang untuk pemain depan lebih banyak. Menggunakan 2 DM juga akan menambah opsi akses umpan Hummels/Sule ke tengah. 

 

 

Respon Klopp untuk mengatasi ini dengan memainkan blok medium menggunakan formasi 4-4-2/4-5-1. Terutama setelah unggul 1-0 dan 2-1 di babak kedua. Dengan formasi ini, Salah akan turun ikut membantu Alexander Arnold yang sepanjang babak pertama diteror Ribery dan Alaba. Liverpool mampu mengatasi overload di sisi kanan pertahanannya dengan taktik ini.

 

 

Liverpool di pertandingan ini tidak banyak kecolongan dari skenario di atas. Thiago tidak banyak melakukan take ons karena trio Fabinho, Milner, Wijnaldum selalu mampu menghalau serangan yang dilewatkan di tengah. Itulah sebabnya di heatmaps Bayern tidak banyak bola ke tengah. Serangan di babak pertama lebih banyak lewat Ribery. Itupun bisa diatasi Klopp dengan menurunkan Salah lebih ke belakang.

 

Lewandowski juga kesulitan lepas dari kawalan Van Dijk. Bek asal Belanda ini mampu memenangkan duel udara 100% dengan Lewandowski. Ini menyebabkan buntunya long ball Bayern untuk bypass lini tengah Liverpool. Gol Bayern dilakukan lewat long ball Sule ke Gnabry.

Perubahan taktik Bayern tidak membuahkan hasil.

 

Coman masuk menggantikan Ribery di awal babak kedua. Bayern membutuhkan pemain yang mempunyai resistansi pressing tinggi dan mampu bermain di tengah. Goretzka yang dimasukkan menggantikan Rodriguez belum mampu juga memecah kebuntuan Bayern di lini tengah. Di depan, Lewandowski tidak berkutik meski berpindah posisi ke kiri (agar lepas dari Van Dijk di kanan).

 

 

Kesimpulan

Liverpool membiarkan Bayern menguasai lebih banyak bola namun menutup akses-akses untuk menciptakan peluang, terutama tengah. xG Bayern hanya 0.4 sementara Liverpool melakukan konversi yang baik meski hanya mencatatkan xG 1.2 (dari 3 gol). Klopp terkenal dengan filosofi gegenpressing/counter-press dan beberapa analis luar berpendapat Liverpool adalah salah satu tim yang memiliki pressing model paling baik. Berkat kekompakan dan progresi yang baik secara unit, Liverpool mampu mengontrol pertandingan ini tanpa mendominasi penguasaan bola. Tim yang secara awam disebut bertahan kenyataannya mampu memegang kendali permainan.

 

 

@sundaybedranger
Analis Taktik
penyerangruang.wordpress.com

 

Please reload