K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

[Founder's Diary] Mengenang Coach SBI: Belajar Motorik dan Ejaan Nama

August 7, 2020

 

Dengan Coach Satia dan Coach Emral saat mengikuti FFA National Coaching Course di Brisbane, 2010.

 

 

"Tahap belajar motorik itu: kognitif, asosiatif dan otomatisasi. Sampai akhir hayatnya, Coach SBI terus berdakwah soal belajar motorik untuk dunia olahraga Indonesia yang lebih baik!"

 

Saya pertama kali mengenal beliau pada sebuah seminar kepelatihan sepakbola di Jakarta Utara, sekitar (mungkin) 15 tahun silam. Di seminar itu, saya pertama kali dikenalkan dengan konsep belajar motorik. Masih segar di ingatan saya, Pak Satia menjelaskan tentang proses informasi masuk lewat sensorik, diproses di otak, kemudian diolah menjadi suatu gerak!

 

Tahapan belajar motoriknya terbagi dari tahap kognitif, asosiatif lalu otomatisasi. Tahap awal kognitif sering disebut dengan tahap motor verbal, dimana atlit perlu memiliki pemahaman verbal yang dirumuskan pada bentuk yang terencana.

 

Tahap berikutnya adalah  tahap asosiatif yang sering disebut motor stage. Dimana atlet tidak lagi bergantung pada pemahaman verbal, tetap dapat lebih fokus pada gerakan yang dibuatnya. Output gerakannya menjadi lebih konsisten dan ajeg.

 

Tahap terakhir adalah tahap otomatisasi. Dimana atlet dapat melakukan gerakan yang benar dengan begitu ringan. Otomatis karena atlet tidak perlu lagi tuntunan verbal dan juga fokus yang berlebih saat pelaksanaan gerakan.

 

Belakangan di course WFA, saya dapat rumusan serupa lewat teori conscious dan unconscious thinking. Tahap kognitif itu adalah consciously incompetent, lalu tahap asosiatif itu adalah consciously competent dan tahap otomatisasi adalah unconsciouly competent! 

 

Latihan Ngawur

Aktivitas di pembinaan sepakbola membuat frekeunsi persinggungan kami menjadi lebih intensif. Kami sering duduk bincang bola dengan Coach Danur, juga terkadang dengan Coach Iwan Setiawan. Tempat pertemuan favorit kami adalah Citos di bilangan Cilandak. Andalan kami adalah Kafe Betawi atau TRS Diner.

 

Kami biasa ngobrol bola ngalor ngidul sampai seharian. Biasa mulai dengan makan siang di Kafe Betawi, terus sampai jam makan malam di TRS Diner, baru terakhir ngopi di Starbucks. Obrolannya bisa beragam. Dari mulai metode melatih, kebijakan PSSI, tim nasional, hingga pembinaan usia muda.

 

Suatu sore di TRS Diner, entah lagi ngobrolin apa? Tiba-tiba coach SBI, mengutarakan refleksinya sebagai instruktur. Dia bilang gini, "kita terkadang jadi instruktur hanya ikutin panduan AFC saja, padahal belum tentu pas!" ujarnya. Lalu beliau berikan contoh salah satu bentuk latihan passing support dari modul lisensi AFC. 

 

Coach SBI langsung mengambil tissue restoran dan menggambar diagram bentuk latihan di atasnya. Bentuk latihannya adalah passing lalu sprint ke garis yang kosong. Dia bilang, "Ini aneh, masak setelah passing, trus main lari nylonong aja, kan malah halangi opsi passing. Kalau ada lawannya apa mungkin kayak gini?" Kita pun tertawa terbahak-bahak bergurau dengan kebodohan di masa silam.

 

Latihan Passing Support

 

Salah Nama

Satu kenangan lain dengan Coach SBI adalah sangat sulit untuk mengingat penulisan namanya yang akurat. Saya sering lupa dan salah saat menuliskan nama beliau. Pertama, apakah yang benar Satia atau Satya? Lalu mana yang benar, Bagja atau Bagdja? Terakhir, apakah Ijatna atau Iyatna. 

 

Saya berulang kali dikoreksi oleh beliau tentang penulisan namanya yang benar, tapi berulang kali itu pula saya lupa. Saat kami bersama mengikuti kursus kepelatihan di Australia, beliau sudah wanti-wanti, "jangan salah tulis ya namanya!" Saya pun senantiasa cek paspor beliau untuk beli tiket dan saat daftarkan namanya ke FFA Australia. "Sudah benar kan?" ujar saya memastikan.

 

Makan malam dengan John Boultbee - FFA di Brisbane, 2010.


Saya sempat heran, kenapa kok beliau rewel banget soal penulisan nama. Rupanya, beliau punya pengalaman namanya salah berkali-kali di kursus AFC. Jadi konon ceritanya, beliau punya beberapa sertifikat AFC, tapi namanya beda-beda semua. Untung saja, bisa dicetak ulang koreksi sertifikatnya.

 

Hari perdana kursus lancar jaya, karena ternyata nama Coach SBI di daftar hadir memang ditulis dengan ejaan keliru. Beliau complain, tapi tahu bahwa itu bukan salah saya, karena beliau lihat sendiri form pendaftaran yang saya isi. Kami pun meminta panitia mengkoreksinya. Puji Tuhan, di hari terakhir saat sertifikat dibagikan nama beliau sudah diubah, tapi tetap salah. 

 

Beberapa tahun kemudian saat saya bekerja di PSSI, saya ikutan salah menuliskan nama beliau di daftar peserta kursus penyegaran instruktur. Beliau pun protes keras. Saya pun ngeles kayak bajaj sambil bergurau. Saya kan cuma ikut-ikutan AFC dan FFA, dua organisasi yang prestisius.

Buat yang ingin tahu ejaan penulisan yang benar untuk Coach SBI, saya masih menyimpan tiket perjalanan kami ke Australia via Singapura. Mungkin ejaan nama beliau sulit diingat, tapi kehangatan persahabatan dan dedikasinya untuk sepakbola Indonesia terlalu mudah untuk diingat! Rest In Peace Coach SBI!

 

 

Ganesha Putera
Founder KickOff! Indonesia 

 

*Per Senin, 3 Agustus 2020, KickOff! sajikan rubrik baru bertajuk "Founder's Diary". Namanya juga diary, maka ya harus terbit setiap hari. Ya, ini semacam rangsangan berkomitmen untuk menulis setiap hari. Sebuah kebiasaan baik di masa lampau yang kini mulai pudar.  Dukung usaha pelestarian kebiasaan baik ini dengan membacanya setiap hari! Selamat menikmati! 

 


 

Please reload