K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

[Founder's Diary] Mungkin Sepakbola Bisa Meniru Kemendikbud

August 10, 2020

"Mari kita bekerja sama untuk memastikan anak dapat terus belajar dengan sehat dan selamat"

 

Kalimat di atas menjadi pamungkas Mas Menteri dalam paparan tentang Revisi SKB terkait kegiatan belajar mengajar di masa Pandemi. Di situ Mas Menteri membuat pernyataan yang mengandung beberapa kata kunci: terus belajar, sehat dan selamat. Tampak bahwa Revisi SKB mempertimbangkan bukan hanya dimensi pendidikan, tapi juga dimensi kesehatan, juga sosial kemasyarakatan. 

 

Saya adalah orang yang apolitis. Acuh dengan kebijakan pemerintah. Cuma, karena berkecimpung di dunia pendidikan (sepakbola), maka saya wajib mengikuti perkembangan. Sejauh ini, buat saya "policy in crisis" Kemendikbud cukup keren. Sistematis, komprehensif dan solusif untuk atasi permasalahan pendidikan di masa pandemi ini. 

 

Awalnya, Kemendikbud amat konservatif terkait kegiatan belajar mengajar. Hanya zona hijau yang diperbolehkan mulai kegiatan belajar mengajar, dengan persyaratan pembukaan yang berlapis. Intinya jika harus memenuhi persyaratan, 90% sekolah belum bisa dibuka. Masih harus lakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

 

Protes besar-besaran terjadi dengan berbagai alasan. Beberapa protes terkait logistik gawai, koneksi terbilang logis. Protes lain soal PJJ tanpa penyesuaian kurikulum lebih logis lagi. Sedangkan protes soal ortu jadi repot, anak jadi banyak main, dst tergolong  lebay dan tak perlu ditanggapi.

 

Dinamis

Hal positif dari kebijakan Mas Menteri ini adalah kebijakan awal yang "safety first". Kenceng, anak-anak harus sehat dan selamat dulu. Resiko pelaksanaan PJJ bermasalah sementara ditepikan. Sambil merapatkan barisan, mengumpulkan lebih banyak informasi, melihat perkembangan dan merumuskan kebijakan.

 

Setelah terus memonitor pelaksanaan PJJ dan mengevaluasinya, Kemendikbud kemudian menyiapkan beberapa kebijakan yang diharapkan bisa menjadi solusi. Hasilnya adalah kebijakan yang diumumkan beberapa hari lalu. (Bisa lihat di sini).

 

Pertama, Kemendikbud memperluas daerah yang boleh melakukan pembelajaran tatap muka. Dari hanya zona merah, sekarang ditambah zona kuning. Kedua, Kemendikbud menyiapkan Kurikulum Darurat. Suatu penyederhanaan Kurikulum 2013 yang bisa lebih kompatibel dengan model PJJ. Kemendikbud juga menyiapkan paket modul pendukung PJJ. Bahkan modul pengganti PJJ, misal untuk PAUD atau daerah minim koneksi. 

 

Pendekatan dinamis sangat krusial di masa tidak normal ini. Sebab ini adalah situasi baru yang belum ada kajian sebelumnya. Di samping itu, situasi selalu berubah dengan perkembangan detik per detik. Perlu kebijakan dinamis dengan monitoring dan evaluasi ketat, agar kebijakan tak basi.

 

Sepakbola Bisa Belajar

Pertanyaannya, apa yang sepakbola bisa tiru dan pelajari dari kiprah Kemendikbud? Banyak! Pertama, pemangku kebijakan perlu lakukan tinjauan multi dimensional. Yakni membuat suatu rumusan agar orang Indonesia bisa terus bersepakbola dengan sehat dan selamat! Pertimbangannya bukan sepakbola semata, apalagi ekonomi semata, tetapi juga kesehatan dan sosial kemasyarakatan.

 

Kedua, pemangku kebijakan sepakbola perlu merumuskan suatu panduan kegiatan bersepakbola di masyarakat. Dimana panduan ini menyentuh segala jenjang (timnas, klub pro/amatir, akademi pro/amatir, SSB, Sekolah, dst). Juga menyentuh semua area dengan berbagai tingkatan risikonya (Zona Hijau, Oranye, Kuning, Merah). 

Untuk di profesional, mungkin saat ini tengah disiapkan oleh Federasi dan Operator Liga. Harapannya ada suatu protokol yang komprehensif dan mendetail. Di level profesional yang terorganisir, ini tidak terlalu rumit. Dengan kebijakan isolasi sistematis, pelaksanaan kegiatan sepakbola tidak terlalu perhitungkan zona bahaya Covid.

 

Nah. yang perlu dipikirkan mendalam adalah pelaksanaan sepakbola grassroot. Sepakbola level ini tidak bisa diisolasi, sehingga bergantung pada zona bahaya Covid. Protokol kegiatan sepakbola di zona merah, orange dan kuning akan berbeda-beda. Harus ada kebijakan dan modul panduan bersepakbola untuk setiap zona. Kalau Kemendikbud keluarkan kurikulum darurat, harusnya pemangku kebijakan juga keluarkan kurikulum pembinaan sepakbola darurat.

 

Misal di zona merah dan oranye, kegiatan sepakbola yang disarankan adalah latihan invididual di rumah. Sama seperti Kemendikbud, pemangku kebijakan sepakbola juga harus membuat Panduan Latihan Sepakbola Di Rumah, dengan segala protokolnya. Baik untuk Pelatih, Orang tua dan Pemain.

 

Lalu di zona kuning, kegiatan sepakbola yang disarankan adalah latihan grup kecil terbatas. Pemangku kebijakan juga harus menyiapkan modul-modul latihan grup kecil terbatas. Ada panduan tentang cara mengorganisirnya, model bentuk-bentuk latihannya dan juga metode asesmennya. 

 

Semua panduan tadi dikemas dengan cantik dalam bentuk Video Tutorial, E-Book, Poster, Pamflet dan seterusnya. Menggunakan bahasa renyah yang mudah dipahami. Tata letak dan desain grafisnya pun dibuat semolek mungkin, sehingga panduan bersepakbola di masa pandemi ini enak dibaca. Pesanpun tersampaikan!

Lost Generation

Ah, mungkin saya terlalu berlebihan mau meniru Kemendikbud yang menyiapkan kurikulum darurat beserta seluruh modul dan bahan ajar untuk guru, orang tua dan siswa. Sepakbola memang bukan pendidikan formal. Tapi, sama seperti Kemendikbud khawatir dengan lost generation anak terpelajar, sepakbola juga akan mengalami lost generation pesepakbola muda, kalau tidak bikin apa-apa.

 

Kalau banyak anak Indonesia umur 6-10 tahun berhenti main bola, jangan kaget 10 tahun lagi, kita akan punya generasi buruk. Ingat, semakin rendah angka partisipasi bersepakbola, maka semakin kecil pula talent pool yang dimiliki. Semakin kecil talent pool, makin rendah pula output talenta yang dihasilkan untuk pembinaan elite profesional. Jadi, tirulah Kemendikbud! Pastikan sebanyak mungkin anak Indonesia tetap bisa bersepakbola dengan sehat dan selamat!

 

Ganesha Putera
Founder KickOff! Indonesia 

 

*Per Senin, 3 Agustus 2020, KickOff! sajikan rubrik baru bertajuk "Founder's Diary". Namanya juga diary, maka ya harus terbit setiap hari. Ya, ini semacam rangsangan berkomitmen untuk menulis setiap hari. Sebuah kebiasaan baik di masa lampau yang kini mulai pudar.  Dukung usaha pelestarian kebiasaan baik ini dengan membacanya setiap hari! Selamat menikmati! 

 


 

Please reload