K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

[Founder's Diary] Arti Profesionalisme Ala Bambang Pamungkas

August 12, 2020

Foto: www.persija.id 

 

 

"Pengertian profesional adalah ketika di otak pemain itu adanya hanya berpikir bagaimana untuk meningkatkan performance, performance dan performance"

 

Kanal Youtube Persija Jakarta menyajikan program Become A Pro dengan menghadirkan Bambang Pamungkas. Sang manajer didaulat untuk memberikan sesi mentoring kepada pemain Persija Elite Pro Academy. Program lengkapnya dapat disaksikan di sini.

 

Bagian paling menarik dari episode tersebut adalah saat Sutan Zico bertanya kepada mentornya. "Apa yang kelebihan mindset pemain Eropa yang belum dimiliki pemain Indonesia?" Sang mentor yang memiliki pengalaman bermain di Belanda memberikan penjelasan yang sangat sistematis, tajam dan jelas. 


Mindset Profesional

Mas BP menempatkan diri sebagai pesepakbola yang humble. Di awal ia akui bahwa nasihatnya bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri. Ia juga beberapa kali sportif akui bahwa ia bukan teladan yang baik, karena tak tahan lama main di Eropa. Pelajaran terpentingnya adalah selalu refleksi diri, evaluasi diri dan koreksi diri. Kemampuan self reflection ini yang perlu dicontoh pemain muda! 

 

Mas BP menerangkan bahwa yang membedakan pemain Indonesia dengan pemain Eropa adalah pada cara pandangnya terhadap profesionalisme. Buat pemain Indonesia, profesionalisme hanya simbol semata. Belum benar-benar diterapkan dalam pikiran dan tindakan sehari-hari. 

 

Menurutnya, arti profesionalisme yang sebenarnya adalah mendedikasikan seluruh detik kehidupannya untuk kemajuan karir profesinya. Ini diwujudkan dengan terus menjaga sikap dalam latihan, pertandingan, makan, istirahat dan pergaulan. Pemain profesional harus tahu mana yang prioritas dan yang tidak. "Di otaknya cuma ada bagaimana meningkatkan performance, performance dan performance," pungkasnya. 

 

Sikap profesionalisme ini ditunjukkan dengan rela meninggalkan semua kesenangan hidupnya, demi karier sepakbola profesionalnya. "Katakanlah pesepakbola berkarier selama 15 tahun, maka selama itu pulalah, ia tidak dapat menikmati kesenangan manusia normal pada umumnya," serunya tegas!

 

Mindset inilah yang dimiliki pesepakbola di Eropa. Pemain di sana lebih mau berkorban untuk meninggalkan segala kesenangan, demi mendapatkan karier sepakbola pro yang lebih baik. Pemain di Indonesia kebanyakan belum bisa bersaing di sepakbola Eropa, karena mindset kita belum sekuat itu.

 

Kukuhkan Nyali!

Itu sebabnya Mas BP menantang para pemain muda untuk mengukuhkan nyalinya bermain di Eropa. Saat pemain Indonesia bersaing dengan pemain Eropa yang mindsetnya hanya peningkatan performance, hal itu akan menular. Harapannya, pemain Indonesia juga dapat mengorbankan segala kesenangannya demi peningkatan karier sepakbolanya! 

 

Jika Mas BP saja mengatakan nasehat itu juga berlaku untuk dirinya, tak salah kalau nasihat itu juga berlaku untuk kita para pembina (termasuk saya). Mustahil pembina mendorong anak didiknya berkarier di Eropa, tapi kita tak berikan teladan dengan mencoba berkarier di Eropa. Kerennya kita pembina harus "walk the talk!" atau "practice what you preach!"

 

Jadi urusan meninggalkan kesenangan, demi peningkatan karier profesional bukan cuma untuk pemain. Tapi juga untuk kita para pembina. Sebab tidak ada kesuksesan yang murah dan mudah. Semua perlu pengorbanan yang mahal dan penuh dengan kesusahan. Mari kita mulai dari diri sini! Tinggalkan kesenangan diri, pikirkan dan lakukan yang terbaik hanya untuk performance, performance dan performance!

 

Ganesha Putera
Founder KickOff! Indonesia 

 

*Per Senin, 3 Agustus 2020, KickOff! sajikan rubrik baru bertajuk "Founder's Diary". Namanya juga diary, maka ya harus terbit setiap hari. Ya, ini semacam rangsangan berkomitmen untuk menulis setiap hari. Sebuah kebiasaan baik di masa lampau yang kini mulai pudar.  Dukung usaha pelestarian kebiasaan baik ini dengan membacanya setiap hari! Selamat menikmati! 

 


 

Please reload