K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

[Founder's Diary] What you see is not always what you get...

August 16, 2020

"Jangan hanya melihat performa, lihatlah cerita di balik performa tersebut" - Stephen Francis.

 

Hari ini lanjut lagi masih soal Stephen Francis dan klub atletik MVP-nya. Di Founder's Diary kemarin, sudah diceritakan kegilaannya di dunia pembinaan atletik. Pertama, Francis adalah seorang Sarjana Statistik, bukanlah mantan atlet atletik. Kedua, fasilitas klub MVP "sengaja" dibuat pas-pasan untuk menguji motivasi atlet. 

 

Ternyata cerita nyleneh klub atletik MVP belumlah tuntas. Masih ada anomali lain yang dilakukan Stephen Francis dalam talent scouting dan rekruitmen atlet. Umumnya, pusat pembinaan elite di cabang olahraga apapun, akan berusaha selalu merekrut "best athete". Bahkan ada pameo yang mengatakan bahwa talent scouting dan strategi rekruitmen telah menyelesaikan setengah dari pekerjaan pembinaan. 

 

Soal ini, MVP lagi-lagi nyleneh. Di halaman situs resmi MVP tertulis tujuan yang tidak lazim berbunyi demikian, "memfokuskan target rekruitmen pada atlet sma non bintang untuk menjadi anggota klub." Singkatnya, MVP menolak merekrut atlet sma nomor satu. Francis lebih suka merekrut atlet nomor dua atau nomor tiga. 

 

Cerita di Balik Performa

Di buku Gold Mine Effect, kembali Rasmus Ankersen menceritakan tentang filosofi rekruitmen MVP. Saat ditanya alasan MVP tidak merekrut atlet sma nomor satu, Francis mengatakan bahwa "apa yang kamu lihat (performa hari ini) tidak selalu sama dengan apa yang akan kita dapatkan (performa masa depan). 

Francis tidak memungkiri bahwa ada fenomena yang sering disebut "shouting talent" atau talenta berteriak. Atlet model ini memiliki talenta dan performa hari ini yang hebat, tetapi juga memiliki potensi masa depan hebat. Usain Bolt adalah salah satunya. Sayangnya, jumlah talenta berteriak sangatlah langka.

Kebanyakan pembina gagal dengan apa yang disebut "whispering talent" alias talenta berbisik. Atlet yang performa hari ininya biasa saja, tetapi memiliki potensi masa depan hebat. Asafa Powell dan kebanyakan atlet top dunia biasa masuk kategori ini. 

 

Saat merekrut Powell, ia bukanlah sprinter terbaik. Tapi Francis berusaha menggali latar belakang Powell. Ia beranologi demikian: ada dua sprinter, yang satu berlari 10,2 detik, satunya 10,6 detik. Siapa yang Anda pilih? Mayoritas pelatih akan memilih sprinter dengan rekor 10,2 detik.

Nah, sprinter 10,2 detik ini telah berlatih bertahun-tahun dengan pelatih, metode latihan dan fasilitas hebat. Sedangkan sprinter 10,6 detik masih alami, belum mendapat pelatihan berkualitas. Pada konteks ini, Francis melihat bahwa sprinter 10,6 detik punya potensi masa depan lebih cerah. Jangan hanya melihat performa, tapi galilah cerita di balik performa!

 

Remehkan Karakter

Kesalahan pembina berikutnya, adalah seringnya kita mendewakan titel atau gelar juara junior, tapi meremehkan karakter. Francis menjelaskan hal terpenting pada pencapaian prestasi di top level senior bukanlah prestasi di masa silam, tapi karakter untuk jadi yang terbaik di masa mendatang. 

 

Itu sebabnya kriteria utama Francis dalam memilih atlet adalah soal karakter. Sayangnya, Francis lebih sering menemukan karakter bukan pada atlet junior nomor satu. Melainkan pada atlet junior nomor dua, nomor tiga dan seterusnya. Tak heran, MVP akhirnya percaya bahwa atlet junior nomor dua atau tiga lebih mudah untuk dibentuk menjadi sang juara! 

Di sepakbola, fenomena ini sangatlah familiar. Berapa banyak pemain timnas senior yang ternyata bukanlah pemain nomor satu di level junior? Sebaliknya berapa banyak pemain nomor satu di level junior yang kempos tak sampai ke level senior? Inilah kegagalan pembina (termasuk saya). Kita harus belajar untuk menggali cerita di balik performa dan lebih menghargai karakter!

 

 

Ganesha Putera
Founder KickOff! Indonesia 

 

*Per Senin, 3 Agustus 2020, KickOff! sajikan rubrik baru bertajuk "Founder's Diary". Namanya juga diary, maka ya harus terbit setiap hari. Ya, ini semacam rangsangan berkomitmen untuk menulis setiap hari. Sebuah kebiasaan baik di masa lampau yang kini mulai pudar.  Dukung usaha pelestarian kebiasaan baik ini dengan membacanya setiap hari! Selamat menikmati! 

 


 

Please reload