K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

[Founder's Diary] Oh, Susahnya Mengatur Pola Makan Pesepakbola Kita!

August 19, 2020

"Orang Indonesia belum makan, kalau belum kena nasi"

 

Sejak rezim Shin Tae Yong (STY) berkuasa, salah satu hal yang sangat ditekankan adalah soal pola makan sehat. Rezim STY sangat disiplin dalam mengatur ketat pola makan. Gorengan dan makanan bersantan diharamkan. Setiap hari pemain diminta mengirim gambar makanan di rumah. Memastikan pemain memiliki pola makan sehat.

 

Pasca TC Timnas Senior bubar, beberapa pemain timnas senior mem-posting kegiatan kulineran dengan menu yang diharamkan STY. Hujatan netizen menyergap. Pemain timnas dianggap tidak profesional. Tidak layak menjadi duta bangsa yang dibiayai oleh uang rakyat. Netizen pun meminta pemain-pemain tersebut tak perlu dipanggil timnas lagi.

 

Tulisan ini tidak akan membahas soal pola makan sehat. Saya bukan ahlinya. Tulisan kali ini ingin menganalisa mengapa susah sekali ajarkan pola makan sehat pada pemain Indonesia? Bukan sebagai "excuse", tapi agar publik paham bahwa problem kultural ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan edukasi semalam. 

 

Dari analisa saya, ada 5 alasan utama mengapa pesepakbola Indonesia sulit menerapkan pola makan sehat. Alasannya adalah sebagai berikut:

 

Alasan #1: Impian yang Kecil

Di suatu VLOG, Coach Simon McMenemy pernah bercerita pengalamannya menjadi juri sebuah event audisi. Pada sesi psikologi, pemain muda diminta untuk menceritakan impian sepakbolanya dalam sebuah poster. Simon shock! Tidak satupun pemain muda Indonesia punya mimpi untuk main di Liga Eropa, apalagi main di Liga Champions.

 

Lantas, apa hubungannya? Menjadi pemain Liga 1 memang butuh perjuangan, tapi tak sampai memaksa pemain harus mengubah pola makannya. Maklum, saingan di Liga 1 kebanyakan pemain lokal yang pola makannya sama parahnya. "Tuh lihat Si Mamat tukang kulineran, tapi kontraknya milyaran!" begitu gumam pemain muda. 

 

Nah, kalau saja pemain muda punya mindset "Main di Top Level Eropa atau Mati!" Dijamin yang bersangkutan akan melakukan segala cara untuk sukses. Mengingat saingannya di Eropa punya pola makan sehat, maka si pemain tak punya pilihan lain. Terapkan pola makan sehat, bersaing atau mati. Itulah saat rasa lidah kalah oleh impian yang kuat! 

 

Alasan #2: Makan Sehat Gak Langsung Bikin Menang!

Mindset yang paling sulit dikikis adalah tidak ada hubungan langsung antara pola makan sehat dengan skor pertandingan. "Lihat tuh klub itu, pemainnya tiap hari jajan, tapi menang terus," keluh pemain muda. Ini adalah bias cara berpikir yang menyesatkan.

 

Pola makan sehat itu proses. Sedangkan skor pertandingan itu hasil. Jangan campur adukkan keduanya. Di Liga 1, kalau boleh jujur mayoritas pemain dari 18 klub makannya rusuh. Jadi ini kompetisi antar klub dengan pola makan rusuh. Semua pola makan rusuh, tapi pasti tetap ada yang menang, kalah, juara dan degradasi. 

 

Oh ya, cerita-cerita setiap pemain Indonesia selalu berdoa sebelum pertandingan. Hasilnya? Kadang menang, kadang seri atau sering juga kalah. Ketika ada pemain yang berdoa, terus timnya kalah, apakah artinya doa itu salah? Sepakbola itu multi faktor. Pola makan sehat tidak menjamin kemenangan. Tapi pola makan sehat dapat membantu meraih kemenangan.  

 

Alasan #3: Tekanan Lingkungan Sosial

Di suatu kesempatan, kolega saya pemain asing di Liga 1 pernah kaget melihat ruang makan kosong saat jam makan malam. Sepi dan melompong, tidak satupun pemain lokal menunjukkan batang hidungnya. Praktis, makanan bergizi yang disiapkan dokter tim hanya disantap pemain asing.

 

Setelah makan malam, kolega saya berjalan di sekitar hotel untuk menunrunkan isi perut. Kebiasaannya sejak lama. Ia shock, di suatu warung tenda dekat hotel, sedang berkumpul para pemain menikmati makan malam. Celakanya, di situ ada Manajer Tim dan Presiden Klub. Rupanya, para pemain diajak kulineran oleh bosnya. 

 

Kolega lain di timnas junior punya pengalaman unik. Setiap hari, ia berdakwah soal pola makan sehat. Semua gugur, karena beberapa hari sekali timnas diundang makan oleh pejabat seperti Menteri, Gubernur, Bupati atau Duta Besar. Makanan yang terhidang full santan dan gorengan. Tanpa ba-bi-bu, semua pun melahap makanan tak sehat tersebut. Pertama, gak berani nolak. Kedua, itu enak gitu lho!

 

Lingkungan sosial kita memang labil. Di satu sisi, banyak yang menghujat pemain yang doyan kulineran. Di sisi lain, content youtube Tim Liga 1 lagi kulineran senantiasa dapat views selangit. Bagaimana mungkin klub profesional yang dagangan-nya performance malah mengekspose pola makan rusuh pemainnya? Banyak di-like pula. Dunia sudah terbalik! 

 

Alasan #4: Seragan Komersialisasi

Sepakbola masa kini erat dengan komersialisasi. Itu membuat banyaknya produk makanan tak sehat yang menggunakan model pesepakbola sebagai bintang iklannya. Makanan tak sehat ini misalnya mengandung pengawet, proses kimiawi, dst. 

 

Memang, tidak semua pesepakbola mengkonsumsi produk yang dibintanginya. Ryuji Utomo tidak mungkin makan mie instant di kesehariannya. Demikian juga Cristiano Ronaldo yang gak bakal makan ayam goreng tepung. Hanya saja efek iklan itu tetap menyeramkan. Bayangkan pemain cilik sejak bocah sudah dibombardir oleh iklan makanan tak sehat yang dibintangi oleh idola mereka.

 

Alasan #5: Tak Ada Panutan

Dalam suatu diskusi ringan membahas soal pola makan pemain muda, kolega saya pelatih menyarankan agar klub membuat Workshop Nutrisi. Usulan saya tolak dengan halus. Bukannya saya tidak percaya dengan edukasi soal nutrisi. Saya cuma tak percaya perkataan tanpa perbuatan. 

 

Buat saya, omong kosong pembina mengkampanyekan pola makan sehat, bila di ruang pelatih, gorengan masih berseliweran. Nah persoalannya, kita pembina seringkali belum mampu menjadi panutan yang baik. Mari bercermin! Lihat, betapa buruknya pola makan kita para pembina. Sebelum kita bisa mengubah diri, sebaiknya kita simpan dulu petuah soal pola makan sehat. 

 

Lantas, apa solusinya? Dari tadi kok masalah, masalah dan masalah terus. Tulisan kali ini hanya perumusan masalah dan belum ada solusinya. Lagipula solusi kan tidak harus selalu datang dari penulis. Sekali-kali solusi juga harus datang dari pembaca.

 

Wahai pembaca, ditunggu solusi cerdasmu!! 

 

SEKIAN  

 

Ganesha Putera
Founder KickOff! Indonesia 

 

*Per Senin, 3 Agustus 2020, KickOff! sajikan rubrik baru bertajuk "Founder's Diary". Namanya juga diary, maka ya harus terbit setiap hari. Ya, ini semacam rangsangan berkomitmen untuk menulis setiap hari. Sebuah kebiasaan baik di masa lampau yang kini mulai pudar.  Dukung usaha pelestarian kebiasaan baik ini dengan membacanya setiap hari! Selamat menikmati! 

 


 

Please reload