K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Milan Bukan Parkir Bus Biasa

October 16, 2014

 

“Secara umum kami bermain buruk, ini dikarenakan lawan bermain baik, terutama dalam memberikan tekanan pada kami.” – Dani Alves

 

 

“Saya sangat senang. Itu permainan yang luar biasa, terutama dari sudut pandang pertahanan, karena kami tidak kebobolan dari Barcelona.” Max Allegri 

 

 

"Saat ini mereka tim yang bagus, bermain sangat baik dengan gaya mereka dan bermain bagus dibanding tim lainnya." Carlos Puyol.

 

 

Dalam satu dekade terakhir ini, FC Barcelona (FCB) menjadi tim yang maha hebat. Superioritas FCB bukan hanya ditunjukkan lewat hasil akhir, tetapi lewat permainan tiki-taka yang menakjubkan. Sihir tiki-taka yang mengandalkan penguasaan bola selama mungkin lewat kombinasi passing pendek akurat telah membuat dunia sepakbola tercengang. Banyak gelar telah ditorehkan baik di level domestik, Eropa dan dunia.

 

 

FCB tak selalu menang, tetapi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir FCB hanya kalah dalam hal skor. Dalam hal penguasaan bola dan peluang FCB selalu di atas lawannya, berapapun skor hasil pertandingannya. Kekalahan FCB dari Inter di UCL 2010 dan dari Chelsea di UCL 2012 adalah contohnya. Dimana meski FCB takluk, tetapi secara statistik peluang (shots on goal), Barca jauh di atas lawannya. Artinya kemenangan Inter dan Chelsea bisa dikatakan berbau “luck”. Bila saja Barca mampu mengkonversi peluang tersebut menjadi gol, maka FCB akan tetap menang telak.

 

 

Rekor FCB terus jadi “pemenang” dalam statistik peluang pupus dalam partai 16 Besar UCL 2013 Rabu (20/2) melawan AC Milan. Untuk pertama kalinya, FCB kalah dalam skor dan juga kalah dalam hal statistik peluang. Sepanjang 90 menit pertandingan, Abbiati hanya menangkap bola dua kali. Sisanya 4 tembakan FCB lainnya melenceng dari gawang. Abbiati cukup santai, karena tidak perlu buat penyelamatan berupa tip, tepis atau blok.

 

 

 

 

Komentar, ulasan dan analisa di berbagai media banyak mengkritik Milan yang dianggap main membosankan. Seorang kolega pelatih dari Bumi Lancang Kuning menyebut taktik Milan sebagai taktik defense counter yang sudah biasa. “Kebetulan saja Milan melakukan taktik biasa tersebut secara luar biasa,” serunya. Taktik Allegri juga dianggap sebagai taktik “parkir bis“ yang klasik.

 

 

Sah-sah saja banyak pihak boleh mengatakan taktik Allegri klasik, kuno dan biasa saja. Kenyataannya, kontra strategi yang digagasnya sangatlah inovatif, canggih dan mutakhir. Pendekatan taktik Allegri sangat berbeda dengan pendekatan pelatih-pelatih lain saat kontra FCB. Termasuk pelatih sekelas Jose Mourinho sekalipun. Dari hasil analisa video, bisa tergambar dengan jelas beberapa poin taktikal yang dirancang Allegri untuk meraih hasil fenomenal sebagai berikut:

 

 

3 Gelandang 3 Striker

Allegri adalah pelatih yang gemar dengan formasi 4-3-1-2. Saat masuk gantikan Ancelloti, ia tidak mengubah skema pendahulunya. Dengan andalkan Boateng sebagai penyerang lubang. Saat hadapi Barca, ia menggunakan formasi 4-1-2-3. Menariknya adalah susunan komposisi pemain yang diturunkan. Allegri mendorong Boateng menjadi striker kanan untuk dampingi Pazzini di tengah dan El Sharawy di kiri. Ambrosini bermain di tengah diapit oleh Muntari dan Montolivo.

 

Meski tampil dengan 1 gelandang bertahan dan 2 gelandang serang, tetapi pemain yang dimainkan Allegri adalah gelandang bertipe petarung. Boleh dibilang pemain berkarakter bertahan untuk posisi gelandang serang. Komposisi 3 gelandang dan 3 striker inilah yang berperan penting bagi Allegri untuk memainkan beberapa poin taktikal di bawah ini.

 

 

 

 

Pressing di Depan Saat Lawan Goalkick

FCB terkenal dengan filosofi memulai serangan dari bawah. Atau dalam kepelatihan sepakbola sering dikenal dengan “build up play”. Saat lakukan goalkick, jarang sekali Valdes melakukan tendangan jauh ke depan. Ia selalu memberikan passing pendek ke salah satu dari beknya. Permainan “build up play” ini memberikan nyawa pada sepakbola possession FCB. Dengan membangun serangan kaki ke kaki dari bawah, FCB bisa menemukan ritme dan kesabaran untuk mencari peluang ke depan.

 

 

Allegri merespon gaya FCB ini dengan meminta ke 3 strikernya (El Sharawy, Pazzini dan Boateng) untuk naik melakukan pressing jauh ke depan. Bahkan ketiganya nyaris lakukan “man to man marking” pada bek-bek FCB. Taktik ini memaksa Valdes lakukan goalkick jauh ke depan. Tendangan melambung Valdes jauh ke depan membuat terjadinya situasi 50-50 dalam duel udara.

 

 

Artinya pemain Milan punya peluang merebut bola lebih mudah daripada harus mengahalau possession FCB. Taktik ini sukses. Terbukti Valdes tak sekalipun mampu melakukan “build up” dari bawah. Duel udara hasil tendangan gawang Valdes juga banyak berhasil dimenangkan pemain Milan.

 

 

 

 

 

Pressing di Zona 2/4

Zona 2/4 sebenarnya istilah yang saya gunakan secara spontan saja setelah melihat zona pressing dari Milan. Biasanya di kepelatihan sepakbola lebih dikenal istilah zona 1/3 belakang (defensive third),  zona 1/3 tengah (middle third) dan zona 1/3 depan (attacking third). Saya istilahkan lapangan dibagi jadi empat. Zona ¼ adalah zona ¼ di depan gawang. Zona 2/4 adalah zona ¼ di belakang garis tengah. Zona ¾ ialah zona ¼ di depan garis tengah dan zona 4/4 adalah zona ¼ di depan gawang lawan.

 

 

Sama seperti Chelsea dan Inter saat sukses taklukkan FCB, Milan juga melakukan retreat. Setiap hilang bola dan FCB telah nyaman dalam lakukan possession, seluruh pemain Milan turun hingga ke belakang garis tengah. Bedanya Chelsea dan Inter menumpuk banyak pemain di depan kotak penalti, Milan justru menumpuk banyak pemain di belakang garis tengah. Tak salah kalau saya mengistilahkan Allegri melakukan retreat kemudian pressing ketat di Zona 2/4.

 

 

Pilihan pressing di zona 2/4 ini diaplikasikan Allegri dengan menurunkan formasi 4-1-2-3. Praktis saat retreat di belakang garis tengah, Milan punya 6 pemain di zona 2/4. Yaitu Ambrosini, Montolivo, Muntari, Boateng, Pazzini dan El Sharawy. Allegri secara cerdik menciptakan menang jumlah orang saat bertahan di zona 2/4 dengan mengadu 6 pemain tadi untuk meredam Busquets, Xavi, Iniesta/Fabregas.

 

 

Kesuksesan taktik ini mulai terlihat saat FCB sering kehilangan bola di zona 2/4, karena gelandang mereka kalah jumlah. Dengan sering hilang bola di zona 2/4, otomatis Milan sukses mengasingkan Messi dari permainan. Messi menjadi jarang mendapat bola di dekat kotak penalty. Kalaupun Messi bisa mendapat bola, ia harus turun jauh ke bawah untuk menjemput bola. “Saya tak bermain di pertandingan ini karena aturan UEFA, tapi saya tidak tahu mengapa Lionel Messi juga tidak bermain dalam pertandingan malam ini.” Sindir Ballotelli.

 

 

Taktik Milan “parkir bis” di zona 2/4 inilah yang menjawab mengapa FCB sedikit sekali menciptakan peluang dan tembakan ke gawang Abbiati. Ini terjadi akibat FCB tidak diberi kesempatan untuk mendekati kotak penalty. Tentu berbeda saat menyaksikan keberuntungan Chelsea ketika dibombardir oleh Messi dkk pada UCL tahun lalu. Kerja keras 3 gelandang dan 3 striker di zona 2/4 ini justru mirip kerja 3 bek dan 3 gelandang bertahan. Tak heran Constant, Mexes, Zapata dan Abate, apalagi Abbiati amat nyaman mengawal gawang Milan.

 

 

Keuntungan lain dari pressing di zona 2/4 adalah kecepatan serangan balik. Merebut possession di zona 2/4 tentu lebih memudahkan serangan balik, ketimbang saat merebut bola di zona ¼. Milan mencatatkan gol keduanya lewat serangan balik kilat akibat pressing sedikit di depan zona 2/4.

 

 

 

Menunggu Respon Tito dan Jordi 

Sukses Milan meredam kehebatan FCB masih menyisakan PR besar bagi kedua pelatih. Bagaimanapun, Milan belum lolos ke putaran selanjutnya. Masih ada Leg ke-2 di Nou Camp yang pastinya akan menjadi ajang adu taktik kelas atas. Feeling saya mengatakan, Milan akan tampil dengan strategi yang sama. Yaitu memainkan formasi 4-1-2-3, dengan 3 gelandang dan 3 striker yang difungsikan sebagai 3 bek dan 3 gelandang bertahan di Zona 2/4. Rossoneri akan tetap “memarkir bis” dengan lakukan pressing ketat di zona 2/4.  

 

 

Seandainya Milan kembali sukses taklukkan FCB, yakinlah inovasi Allegri ini akan dicontoh banyak pelatih. Taktik Allegri juga akan menjadi pembahasan di berbagai kursus kepelatihan di seluruh dunia. Sebuah resep baru untuk meredam sepakbola menyerang berbasiskan possession telah lahir. Akankah taktik anti possession ini akan menjadi mazhab baru di dunia kepelatihan bertajuk “The Allegri Way”??

 

 

Sebaliknya, menarik ditunggu respon Tito dan Jordi untuk bisa merubuhkan “bis” di zona 2/4, merengsek ke kotak penalty Milan dan kembali menciptakan banyak peluang. Jujur, saya sebagai penggemar sepakbola posssession amat menunggu inovasi baru FCB untuk bisa melewati pressing Milan di Zona 2/4.

 

Beberapa ide sempat terlontar di otak saya. Mungkin FCB cukup meningkatkan kecepatan aliran bola di Zona 2/4. Mungkin juga hal tersebut tak cukup, sebab mungkin FCB harus menambah pemain sebagai “extra midfield”?? Mungkin juga untuk mengaplikasi “extra midfield” tersebut, FCB perlu mengubah skema menjadi 3-4-3?? Mungkin, semua mungkin!! Kita tunggu saja adu taktik papan atas Leg ke-2 di Nou Camp!!

 

GP

Please reload