K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Belajar Tactical Periodisation dari Suhu Mourinho

October 17, 2014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Buat saya, latihan adalah berlatih secara spesifik. Untuk itu, harus dibuat suatu bentuk latihan yang di dalamnya selalu mengakomodir game model sepakbola yang saya inginkan,” - (Jose Mourinho in Gaiteiro, 2006)

 

Tactical Periodisation (TP) adalah sebuah konsep periodisasi karya Prof. Dr. Vitor Frade dari University of Porto yang telah satu dekade lebih mengembangkan konsep ini di FC Porto.

 

Mahakarya inilah yang kemudian menjadi sistim periodisasi baku di FC Porto dari mulai di Akademi hingga ke 1st Team. Tactical Periodisation juga digunakan oleh para pelatih top alumnus FC Porto seperti Jose Mourinho, Andre Villas Boas dan Vitor Perreira.

 

Konsep Periodisasi atau sederhananya ilmu penjadwalan latihan telah dikenal di dunia olahraga sejak lama. Konon, sejak jaman Olimpiade Yunani Kuno, periodisasi telah dikenal dengan istilah “tetras” alias membuat penjadwalan latihan dengan siklus 4 harian. Lalu pada tahun 1950-an, Matveyev menyodorkan konsep periodisasi dengan membagi keseluruhan masa latihan menjadi periode dan unit latihan lebih kecil. Ada juga Verhojshanski (1978) dengan konsep block training-nya, membagi masa latihan dengan blok fisik, teknik dan taktik. Hingga yang paling populer adalah Bompa (1984) yang membagi masa persiapan menjadi tiga level kebugaran (umum, tinggi dan optimal).

 

Berbagai konsep periodisasi tadi telah lama menjadi pemuncak tren keilmuan olahraga di banyak belahan dunia. Prof. Dr. Vitor Frade sebagai seorang ilmuwan yang lama secara spesifik berkecimpung di sepakbola memiliki kegalauan tentang berbagai konsep periodisasi tadi. Ia merasa tak satupun konsep periodisasi yang ada mampu menjawab tantangan kebutuhan prestasi di sepakbola. Frade menginginkan suatu konsep periodisasi yang lebih spesifik sepakbola. Periodisasi yang mengakomodir banyaknya pertandingan sepakbola sepanjang tahun, sehingga peak performance bukan beberapa kali, tetapi setiap pertandingan. Juga kebutuhan atas periodisasi tim yang diisi beberapa individu dengan karakteristik dan kebutuhan yang spesial.

 

Revolusi Periodisasi

Frade merumuskan konsep “Tactical Periodisation” yang sangat revolusioner. Vitor Frade menilai kemenangan di sepakbola top level adalah sejauh mana seluruh pemainnya mampu memainkan suatu “playing style” (taktik) yang telah disepakati bersama. Di sepakbola ada kawan ada lawan. Baik kawan apalagi lawan tidak dapat terprediksi, karena setiap individu bebas untuk mengambil keputusannya sendiri-sendiri.

 

Pada konteks kawan (tim sendiri), tingkat keterpredikisian permainan bisa dimaksimalkan bila seluruh pemain menjalankan “playing style” yang telah disepakati. Dengan memaksimalkan tingkat keterprediksian saat bermain sepakbola 11v11, kemenangan akan lebih mudah dicapai. Berangkat dari pemikiran inilah Vitor Frade menggagas konsep Tactical Periodisation, yaitu sebuah model penjadwalan latihan (periodisasi) yang menggunakan “game model” sebagai titik awal.

 

Sebuah “game model” akan dirumuskan dengan berbagai pertimbangan. Diantaranya ide pelatih, materi pemain serta yang terpenting tradisi dan filosofi bermain klub. Sebagai contoh di FC Porto, setiap pelatih yang datang haruslah memainkan sepakbola menyerang dengan mendominasi penguasaan bola. Filosofi tersebut kemudian menjadi kerangka untuk dikembangan lewat ide-ide pelatih yang lebih spesifik, dengan materi pemain yang dicari untuk menjawab kebutuhan “playing style” tersebut.

 

Setelah “game model" itu terumuskan,  tugas selanjutnya adalah mendefinisikan prinsip-prinsip bermain dalam tiap momen permainan. Dalam hal ini tentu saja momen bertahan, menyerang, transisi positif dan negatif menjadi titik awal. Pada setiap momen, dikupas lagi menjadi prinsip besar, sub prinsip dan sub-sub prinsip. Prinsip besar merupakan prinsip permainan dalam konteks tim (11v11). Sedangkan sub-prinsip bergerak di tataran lini, unit, sektor atau inter-sektoral. Lalu sub-sub prinsip merupakan prinsip permainan pada level individu. Deskripsi di bawah bisa menjadi contoh rumusan pengupasan “playing style” pada momen transisi negatif. Dari prinsip besar hingga sub-sub prinsip.

 

 

 

Game Model

Langsung lakukan pressing seketika

Prinsip Besar

Pemain terdekat lakukan pressing ke pemain dengan bola, pemain lain memperkecil ruang, menutup jalur passing, menjaga pemain yang bisa di-passing, memaksa lawan menjadi tidak  menguntungkan.

Sub-Prinsip (Back 4)

Ikut memperkecil ruang, waspada bola direct, bersiap untuk dropback.

Sub-sub prinsip (Stoper)

Baca permainan, keputusan untuk posisi, arah, timing dan kecepatan saat press up, maupun saat dropback.

 

Periodiasi Mingguan

Setelah pelatih merumuskan “game model” beserta prinsip besar, sub prinsip dan sub-sub prinsip, tugas selanjutnya adalah menyebar kebutuhan latihan tersebut pada jadwal latihan mingguan. Dalam hal ini periodisasi mingguan yang dibuat Frade amatlah sederhana, karena selalu berulang, serta tidak mengenal fase. Baik itu pre season ataupun in-season sama saja. Mengingat tujuan dari Tactical Periodisation adalah peningkatan kemampuan taktikal pemain dan tim sehingga mampu menjalankan “playing style” yang telah disepakati. Periodisasi Mingguan – TACTICAL PERIODISATION (Vitor Frade):

 

MINGGU : Game Liga

SENIN  : Libur

SELASA : Recovery Training

RABU : Sub Prinsip

KAMIS  : Prinsip Besar

JUMAT  : Sub-sub Prinsip

SABTU  : Recovery Training (Active Recovery) atau Libur

MINGGU  : Game Liga

 

Libur menjadi pilihan sehari setelah pertandingan dalam Tactical Periodisation. Pertimbangan utamanya adalah pertandingan merupakan puncak dari kelelahan berpikir. Selama 90 menit, pemain dituntut selalu berpikir dan mengambil keputusan dalam suatu tekanan besar. Untuk itu Frade menginginkan sehari setelah pertandingan adalah libur total. Menjauhkan pemain dari lapangan, rutinitas latihan sambil melupakan permainan sepakbola.

 

Hari Selasa menjadi hari latihan perdana setelah pertandingan. Tujuan dari latihan hari Selasa ini ialah Recovery Training. Biasanya recovery training dibuat dengan prinsip intensitas rendah dan repetisi sedikit melalui relax jogging, latihan teknik  atau permainan ringan. Akan tetapi, Frade membuat recovery training dengan prinsip intensitas tinggi, volume rendah dan istirahat panjang. Jose Tavarez dalam WFA Expert Meeting yang penulis ikuti memberi contoh recovery training dengan permainan 5v5 di area 20x30m selama 1 menit, kemudian diikuti rest selama 8 menit.

 

Alasan Tavarez adalah recovery training di sini selain untuk kebutuhan pemulihan fisik, juga harus memenuhi kebutuhan pemulihan otak pemain untuk kembali lagi berpikir soal “game model” yang telah disepakati. Tentu saja dengan istirahat yang amat panjang, pemain akan mengalami pemulihan fisik. Juga akan mengalami suatu blok 1’ sesi permainan sepakbola yang berkualitas.

 

Hari Rabu, Vitor Frade memulai implementasi kebutuhan taktikal pada level sub-prinsip. Dimana latihan sub-prinsip ini diberikan dengan cara memotong permainan 11v11 pada lingkup yang lebih kecil dan sederhana. Misal 6v6, terfokus pada playing style back four dan gelandang saat bertahan. Atau mungkin 4v4 + 2N fokus pada playing style gelandang saat lakukan possession. Rumus latihan sub-prinsip adalah jumlah pemain sedang, space sedang, durasi sedang dan istirahat cukup (complete rest).

 

Hari Kamis adalah latihan prinsip besar. Sesuai dengan namanya, maka format latihan di hari tersebut adalah game 11v11. Ini adalah latihan yang paling melelahkan dalam kacamata taktikal. Mengingat game 11v11 merupakan permainan yang paling kompleks, menuntut semua pemain berpikir keras. Itulah sebabnya latihan prinsip besar diletakkan di hari Kamis, karena ini adalah 72 jam setelah pertandingan Liga. Prinsip latihan prinsip besar adalah volume tinggi berupa durasi panjang 3-4 x 8-10 menit. Disertai istirahat singkat selama 2-3 menit.

 

Hari Jumat merupakan hari untuk melatih sub-sub prinsip. Sesuai dengan namanya, bentuk latihan sub-sub prinsip banyak berupa latihan spesialisasi menyerupai posisi bermain dalam 11vs11. Misal latihan spesialisasi sayap dan striker untuk finishing. Atau back four dalam lakukan antisipasi crossing dan clearance. Perlu diingat, latihan hari ini juga merupakan hari recovery pertama setelah kerja lelah di hari Kamis. Untuk itu latihan sub-sub prinsip rumusnya adalah sedikit pemain, volume amat rendah dengan durasi hanya beberapa detik, repetisi maksimal dan tentunya istirahat yang panjang.

 

Hari Sabtu adalah hari recovery kedua setelah hari Kamis yang melelahkan. Di samping itu, hari Sabtu juga merupakan H-1 menuju ke game Liga. Untuk itu, Frade mangajukan dua alternatif. Pertama, libur dengan tujuan mengistirahatkan otak yang selalu terus berpikir sepakbola, karena esoknya otak akan bekerja begitu berat di pertandingan. Alternatif berikutnya tetap berlatih dengan konsep active recovery seperti hari Selasa. Rumusnya volume rendah dengan durasi pendek, intensitas tinggi, tetapi istirahat amat panjang.

 

Konsekuensi Fisik

Menyimak konsep Tactical Periodisation mencengangkan penulis. Konsep revolusioner yang dipakai pelatih top sukses seperti Mourinho dan Villas Boas ini selalu mengedepankan sepakbola. Tak bisa dibayangkan sepanjang musim dan setiap saat pemain hanya berlatih sepakbola dengan tujuan meningkatkan kemampuan taktikalnya agar dapat memainkan “playing style” yang disepakati sebaik mungkin. Pertanyaan yang terbersit di benak penulis dan para expert lainnya adalah dimanakah porsi latihan fisik?

 

 

Tavarez dengan tangkas menjelaskan bahwa sesuai dengan namanya Tactical Periodisation tidak mengenal latihan fisik. Vitor Frade percaya bahwa tim akan menang bila memiliki kemampuan taktik mumpuni dalam menjalankan “game model” yang telah disepakati. Ia juga yakin dengan berlatih taktik sepakbola, secara tak langsung juga turut meningkatkan kondisi fisik. Kini tinggal kemampuan seorang pelatih memainkan rumusan volume, intensitas, loading dan rest agar latihan taktik yang dibuat memberikan konsekuensi fisik yang pas.

 

Setiap latihan taktik memiliki konsekuensi kontraksi otot yang berbeda. Latihan sub prinsip memiliki konsekuensi berupa meningkatnya tensi atau kekuatan otot dalam berkontraksi. Sedangkan latihan prinsip besar mampu meningkatkan durasi otot dalam berkontraksi. Terakhir latihan sub-sub prinsip berfungsi untuk meningkatkan kecepatan otot dalam berkontraksi. Jadi, semua kebutuhan fisik telah terakomodasi dengan melakukan latihan taktik!

 

Perdebatan menarik lainnya adalah soal prinsip progressive loading. Banyak expert bertanya kepada Tavarez kemungkinan penambahan beban latihan setelah memasuki periode tertentu.

 

Contoh pada latihan prinsip besar, digariskan rentang durasi 3-4 x 8-10 menit, kemudian setelah mencapai titik tertentu, ditambah bebannya jadi 4x11 menit misalnya. Jose Tavarez menjelaskan dengan bijak bahwa konsep Tactical Periodisation selalu berangkat dari kebutuhan taktikal sebuah “playing style”. Sehingga progress beban latihan tidak diberikan dalam konteks durasi, melainkan kompleksitas taktikalnya. Peningkatan beban latihan misal bisa diberikan dengan jumlah lawan lebih atau area yang lebih kecil.

 

Latihan Kekuatan

Bagaimana dengan latihan kekuatan menggunakan alat di Gym? Jose Tavarez membeberkan bahwa yang dibutuhkan seorang pesepakbola adalah “functional strength” bukan “ideal strength”. Jadi kekuatan seorang pesepakbola bukan dilihat dari kemampuan ideal melakukan tahanan dengan jumlah beban tertentu, tetapi kemampuan untuk menggunakan kekuatan dalam aksi sepakbola. Dalam hal ini kekuatan digunakan untuk menendang, duel, lompat, mendarat, sprinting, akselerasi, deselerasi, dll.

 

Oleh karena itu Tactical Periodisation tidak mengenal latihan strength menggunakan alat. Elemen strength sudah terakomodir dalam latihan sepakbola. Ketika pemain melakukan aksi-aksi sepakbola seperti sprint, lompat, duel, menendang, dll, maka secara tak langsung ia juga sedang melatih strengthnya. Tentu saja strength secara fungsional dalam melakukan aksi spesifik sepakbola.

 

Meski demikian, Tavarez menjelaskan bahwa latihan kekuatan dengan alat tetap dapat dilakukan dengan pertimbangan alasan klinikal dan alasan kultural. Alasan klinikal misalanya untuk pencegahan atau pemulihan cedera. Bisa juga apabila terjadi muscle defficiencies pada lokasi tertentu atau mungkin untuk memperbaiki muscle imbalance. Sedang alasan kultural biasa terjadi pada pemain tua yang telah memiliki kebiasaan berlatih di gym dengan alat. Kedua alasan ini dapat diterima, tetapi tetap harus diminimalisir hingga idealnya pesepakbola tidak berlatih kekuatan gunakan alat lagi.

 

GP

Please reload