K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Jangan Bikin Pemain Jadi Pendek

October 17, 2014

 

Pendek bukan masalah di sepakbola, tapi kalau pendek akibat pembinaan keliru, tentu ini masalah besar!

 

 

Sepakbola dunia semakin diyakinkan akan kelahiran gelandang visioner berkelas baru. Jordy Clasie, pemuda berusia 21 tahun asal  Feyenoord menjadi buah bibir akibat permainan trengginasnya pada EURO U21 di Israel 2013. Sebenarnya kemunculan Jordy Clasie telah diperkirakan banyak pihak. Media sepakbola di Belanda telah menyebutnya sebagai “The Next Xavi”.

 

 

Musim impresif bersama Feyenoord membuatnya terpanggil ke Timnas Senior Belanda besutan Louis Van Gaal. Debut manis Clasie di timnas senior pada akhir tahun lalu membuat publik Oranje berdecak kagum. Ya, pengganti Mark Van Bommel sebagai gelandang No.6 Belanda telah ditemukan!

 

 

Aksi brilian Jordy Clasie menghebohkan publik sepakbola dunia bukanlah sesuatu yang mudah tercapai. Kisah manis tersebut sempat melalui periode yang getir untuknya. Jordy Clasie lahir 27 Juni 1991 dan besar di Harlem. Ia memulai karir sepakbolanya di EDO, sebuah klub amatir kecil dekat rumahnya. Tak perlu menunggu lama, bakatnya segera tercium pemandu bakat Feyenoord Academy. Di usia 9 tahun, ia kemudian mulai berlatih di Varkenoord.

 

 

Hampir Terbuang

Di Varkenoord, Jordy Clasie terbukti amat spesial. Bergabung dengan pemain-pemain muda berbakat di seputaran Rotterdam tak membuatnya tenggelam. Ia justru terus menjadi andalan Feyenoord Academy dalam mengarungi kompetisi Liga Belia Wilayah Belanda Selatan.

 

Nyaris Clasie tak pernah absen mengikuti kerasnya latihan demi latihan dan tentu saja bermain penuh pada hampir setiap pertandingan akhir pekan. Ketika itu Feyenoord Academy menerapkan latihan 4x per minggu untuk pemain U13 dan kemudian 6x per minggu untuk pemain U14 ke atas.

 

 

Bakat hebat yang dimilikinya tak membuatnya kesulitan. Bahkan pada saat ia harus bermain di kelompok usia yang lebih tua sekalipun. Di usia 12 tahun, Clasie sepanjang musim berlatih dan bertanding dengan tim usia 13 tahun. Pada periode berikutnya, Clasie meski tak permanen sering juga diundang berlatih dan bermain di kelompok usia lebih tua, saat pelatih membutuhkannya untuk game penting.

 

 

 

 

 

Periode getir mulai dirasakan Clasie saat menginjak 15 tahun. Pelatih mulai mengurangi kepercayaan padanya. Persoalannya, Clasie adalah pemain yang sering cedera ketika itu. Di samping rentan cedera, Clasie dianggap memiliki postur terlalu kecil yang membuatnya sering kalah pada duel-duel jarak dekat. Ia juga tak pernah bisa bermain konsisten selama dua babak. Permainannya di babak kedua selalu menurun.

 

 

Kesimpulan para pelatih dan staf Feyenoord Academy saat itu adalah Clasie punya teknik dan visi bermain yang sempurna, tetapi sulit berkembang akibat keterbatasan postur dan fisiknya. Di akhir musimnya bersama tim U15, Clasie menjadi bahan diskusi sengit para pelatih dan staf akademi. Diskusi tentang masih perlukah Clasie dipertahankan di Feyenoord Academy.

 

 

Mayoritas pelatih dan staf ketika itu berkesimpulan Clasie tidak prospektif lagi dan harus angkat kaki dari Feyenoord. Beruntung pertengahan 2006, Stanley Brard dan Raymond Verheijen bergabung di Feyenoord Academy. Keduanya memiliki pendekatan berbeda. Clasie dianggap sebagai pemain dengan talenta hebat harus dilindungi. Verheijen menilai Clasie memiliki dua kendala, yaitu posturnya yang mungil dan perjalanan rumah-tempat latihan yang jauh. Kedua kendala ini bila dicarikan solusinya akan menolong Clasie menjadi pemain besar.

 

 

Periodisasi Individu

Setelah Brard dan Verheijen memilih untuk mempertahankan Clasie, berbagai langkah strategis segera diambil. Langkah awal adalah melakukan analisa terhadap profil Jordy Clasie dan konsekuensinya terhadap permainan. Pertama, orang tua Jordy Clasie keduanya tidak terlalu kecil. Artinya masih ada kesempatan untuk Clasie bertambah tinggi badannya. Kedua, sebagai pemain berpostur kecil, setiap aksi Clasie selalu mengeluarkan energi ekstra. Kondisi ini yang membuatnya tidak bisa dipaksakan main full. Terakhir jarak rumah yang amat jauh dari tempat latihan membuatnya alami kelelahan ekstra.

 

 

 

 

Solusi yang diambil adalah periodisasi individu bagi Clasie. Solusi ini amat ekstrim sebab Brard dan Verheijen telah mengurangi frekeunsi latihan seluruh pemain akademi dari 6x jadi 4x per minggu saja. Tapi khusus Clasie, cukup latihan 2 kali per minggu. Ini diambil agar ia bisa berlatih segar 100% dengan recovery cukup. Ini juga memberi energi baginya untuk bertumbuh tinggi badannya. Solusi berikut adalah rmain cukup 1 babak dalam setiap game. Tujuannya agar ia selalu segar dan terhindar dari cedera.

 

 

 

 

"Pemain tidak berkembang karena LATIHAN LEBIH SERING, tetapi karena LATIHAN LEBIH BAIK!!" - RV

 

 

Di musim sebagai pemain U16, Clasie langsung berlatih dan bermain dengan Tim U17. Telanta bermain yang dimilikinya dianggap lebih dari cukup untuk di level usia tersebut. Hanya saja Feyenoord Academy memproteksi talentanya dengan cara memberi beban latihan dan pertandingan 50% dari pemain lain. Baru setelah dianggap mampu beradaptasi, pelan-pelan beban latihan itu ditambah.

 

 

Hasil pendekatan ini amat dahsyat. Clasie berkembang menjadi pemain hebat. Ia selalu bermain baik karena memiliki kesegaran dan selalu diganti sebelum ia alami kelelahan. Pertumbuhan tinggi badan Clasie juga perlahan mulai ada peningkatan. Sebelumnya dengan banyaknya latihan dan selalu bermain full, ia nyaris tak bertumbuh. Di musim itu, ia mengalami kenaikan tinggi badang hampir 6cm dalam setahun (Lihat Tabel).

 

 

"Energi bisa pergi ke kiri (atihan) dan ke kanan (bertumbuh). Apabila seorang pemain terlalu lelah dan habiskan seluruh energinya hanya untuk berlatih, jelas ia akan bermasalah dengan pertumbuhan!" - RV

 

 

Pendekatan periodisasi individu ini terus dilakukan secara konsisten. Beban latihan Clasie selalu di bawah rekan-rekanya, baru ditambah secara berkala. Bahkan terus dipertahankan saat Clasie masuk ke dalam tim utama Feyenoord. Ronald Koeman menyukai bakatnya, tapi mengerti bahwa dari riwayatnya, pemain muda ini selalu perlu waktu lebih untuk beradaptasi. Ya, bintang dunia selalu datang saat bakat kelas atas bertemu dengan metode pembinaan kelas atas juga!!

 

GP

Please reload