K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

7 Pelajaran Taktikal dari Brasil 2014.

November 15, 2014

 

Proses metamorfosa dari “tidak sadar bahwa dirinya bodoh” menuju ke “sadar bahwa dirinya bodoh” seringkali terjadi saat kesempatan berbaur dengan keberuntungan. Yakni kesempatan emas di waktu dan tempat yang tepat. Itulah yang penulis alami saat mengikuti kursus WFA Expert Meeting (WEM) 2014 di Afrika Selatan yang berbarengan dengan Piala Dunia 2014 di Brasil.

 

Materi “World Cup 2014 Tactical Trends” yang disampaikan Nikos Overheul, seorang blogger dan football freak begitu sensasional. Nikos menyampaikan banyak tren taktik baru di Piala Dunia begitu mendalam. Tak salah kalau kemudian penulis mendapat keberuntungan kedua saat mengunduh FIFA WC 2014 Technical Report. Bekal wawasan dari Nikos membuat pekerjaan membaca laporan teknik FIFA menjadi lebih mengasyikkan dan menantang.

 

Pepatah mengatakan, “sepakbola masa lalu-harus kita hormati, sepakbola hari ini-harus kita pelajari, sepakbola masa depan-harus kita antisipasi." Untuk itu, berdasarkan paduan referensi Nikos plus laporan teknik FIFA, penulis ingin memaparkan banyak hal penting yang Brasil 2014 ajarkan untuk dunia kepelatihan. Semua itu disimpulkan dalam 7 Pelajaran Taktikal Piala Dunia 2014 sebagai berikut:

 

(1) PROACTIVE PLAY.

Brasil 2014 sajikan pertandingan sepakbola yang begitu atraktif. Hal ini dibuktikan dengan maraknya gol. Tercatat 171 gol atau 2,68 gol per pertandingan yang berhasil ditorehkan. Laporan teknik FIFA menyabutkan hampir semua tim bermain untuk “mengejar kemenangan dengan cetak gol” ketimbang “menjaga tidak kalah dengan tidak kebobolan”. Sebuah etos kerja prima!

 

Nikos menjelaskan tren menyerang ini dengan dikotomi “REACTIVE PLAY” dan “PROACTIVE PLAY”. Dimana permainan reaktif adalah menunggu lawan berbuat salah, lalu kemudian balik menyerang. Sedangkan permainan proaktif adalah dominasi dengan memaksa lawan membuat kesalahan. Tren proaktif ini diwujudkan di Brasil 2014 dalam momen menyerang dan bertahan. Yakni dominan atur ritme saat menyerang. Lawan dipaksa mengikuti cepat lambatnya possession. Saat bertahan, tim lakukan pressing aktif yang membuat lawan harus mengikuti ritme cepat lambat pressing tim.

 

Meski Jerman, sang Juara Piala Dunia 2014 dominan dalam possession, tetapi possession itu sendiri tidak menjadi tren di Brasil. Possession yang dimaksud ini adalah possession yang berlama-lama kuasai bola ala Spanyol. Pengakhiran simbolis berlangsung saat Belanda dengan possession hanya 42% sukses gasak Spanyol 5-1.

 

Nikos menyebut Brasil 2014 sebagai Piala Dunia “Transisi”. Pressing aktif agresif seketika setelah hilang bola membuat jumlah transisi dalam satu game jadi sangat banyak. Ini tentunya ikuti tren di UCL. Dimana tim seperti Real Madrid sukses mendominasi possession, bukan dengan possession itu sendiri. Melainkan kerja trengginas anak asuh Carlo Ancelotti dalam pressing. Saat tidak menguasai bola, tim tetap “menyerang” dengan pressing!

 

(2) THE REBIRTH OF BACK 3.

Brasil 2014 menandai lahirnya kembali tren Back 3, yaitu sistim pertahanan dengan 3 pemain sejajar. Tercatat Belanda, Mexico, Chile dan Kosta Rika sukses mainkan sistim pertahanan ini. Argentina sempat memainkan sistim 3 bek di penyisihan grup, sebelum kembali ke patron 4 bek.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi gejala taktikal di sepakbola top level berupa penumpukan banyak pemain di sektor tengah (Lihat MIDFIELD OVERLOAD) untuk dapat dominasi possession dan jaga area vital dari gempuran serangan. Hal ini biasa dilakukan dengan mengurangi jumlah striker. Maka muncullah formasi popular seperti 1-4-2-3-1, 1-4-1-4-1 atau 1-4-3-2-1 yang kesemuanya menempatkan lima orang gelandang di tengah.

 

Tren ini bertambah dengan makin banyaknya tim yang melakukan pressing aktif jauh mulai dari depan. Penggunaan 2 striker tampaknya lebih menguntungkan secara numerical untuk high pressing. Terutama jika lawan gunakan sistim back 4, dimana bisa terjadi situasi 2v2 antara 2 striker dengan 2 stoper lawan.

 

Nah, lalu pemain lini mana yang harus dikurangi? Umumnya pelatih memilih solusi menambah striker dengan mengurangi bek. Digunakanlah sistim pertahanan back 3. Pada tim dengan komposisi pemain tertentu, sistim back 3 memberikan keseimbangan dan fleksibilitas yang tinggi. Belanda, Kosta Rika dan Mexico adalah tim yang fasih melakukan penyesuaian dari back 3, back 4 dan back 5.

 

Hal ini terlihat jelas saat Belanda taklukkan Spanyol. Sistim back 3 Belanda tampak seperti back 5. Bila Costa drop deep untuk minta bola, Vlaar akan marking. Sedang Indi dan De Vrij cover. Hal serupa dilakukan Indi pada Silva dan De Vrij pada Iniesta. Dukungan Blind dan Janmaat sebagai wingback untuk melakukan support lagi-lagi ciptakan jumlah orang lebih di belakang.

 

Saat menyerang, sistim back 3 juga fleksibel bergantung pada jumlah striker lawan. Hadapi lawan dengan 3 striker tak menjadi kendala berarti. Selain, mengaktifkan kiper untuk ciptakan 4v3, tim biasa turunkan satu gelandang tengah atau wingback. Chile turunkan gelandang Marcelo Diaz untuk ciptakan 5v3. Sedang Mexico turunkan salah satu dari wingback Layun atau Aquilar untuk bikin 5v3.

 

(3) MIDFIELD OVERLOAD.

Tren menumpuk banyak pemain di sector tengah tetap menghiasi Brasil 2014. Hal ini malah terjadi makin ekstrim. Selain, menempatkan minimal 3 gelandang murni di tengah, banyak pelatih meminta pemain di posisi lain untuk secara konstan masuk ke tengah. Sudah pasti ini dilakukan untuk ciptakan superioritas jumlah di tengah.

 

Satu cara yang makin popular digunakan adalah meminta striker untuk turun ke tengah atau yang dikenal dengan istilah “False 9”. Tren ini jelas paling fasih dimainkan oleh Messi dalam formasi 1-4-4-2 Argentina. Juga Jerman saat Miroslav Klose tidak bermain. Peran false 9 ini dimainkan begitu brilian oleh Thomas Muller.

 

Inovasi midfield overload ini makin menjadi di Brasil 2014. Kini banyak tim bukan saja turunkan strikernya untuk jadi extra midfield, tetapi juga meminta sayap, bahkan stopper atau fullback untuk bergabung ke tengah menjadi extra midfield. Ozil, Muller atau Lavezzi adalah sayap yang justru banyak beroperasi masuk ke tengah. Lalu Boateng atau Zuniga adalah bek yang juga sering jadi extra midfield di tengah.

 

(4) FLANK OVERLOAD.

Tren menciptakan superioritas jumlah juga terjadi di pinggir. Sedikit berbeda dengan di tengah yang formasinya sudah menempatkan banyak pemain. Di pinggir, justru banyak tim hanya menempatkan satu pemain untuk jaga kelebaran. Umumnya pemain tersebut adalah fullback (Lihat ATTACKING FULLBACK). Begitu fullback telah berada di titik ideal mendekati attacking third, banyak pemain akan bergerak melebar untuk ciptakan menang jumlah di pinggir.

 

Bisa striker, bisa gelandang serang, bahkan gelandang bertahan yang lakukan underlap. Benzema adalah contoh striker yang rajin lakukan bantuan untuk flank overload. Sedangkan gelandang serang yang paling fenomenal lakukan peran ini adalah James Rodriquez yang gemar ke kanan. Pandit Eropa memberi terminologi “central winger” atau “false 10” untuk gelandang serang yang gemar melebar ciptakan superioritas jumlah di pinggir.

 

(5) ATTACKING FULLBACK.

Konsekuensi dari midfield overload adalah semakin pentingnya peran fullback dalam menjaga kelebaran tim saat menyerang. Boleh dibilang pemain sayap murni modern adalah seorang fullback. Pemain yang aslinya berposisi sayap justru kini jarang menyisir di pinggir. Mereka cenderung masuk ke kotak penalty untuk isi ruang yang ditinggalkan striker false 9 atau masuk ke tengah jadi extra midfield.

 

Untuk itu, attacking fullback menjadi sebuah keharusan. Peran menjaga kelebaran, dribbling menyisir garis diakhiri crossing atau cutback menjadi tugas utama fullback. Lahm, Debuchy atau Rojo jalankan fungsi attacking fullback dengan baik.

 

Menariknya, tim yang menggunakan sistim back 3, juga dapat fungsikan stopper kiri dan kanannya sebagai attacking fullback. Chile lewat Jara dan Silva melakukan hal ini dengan baik. Jorge Sampaoli dengan 1-3-4-3 nya gemar menciptakan flank overload dengan tempatkan 3-4 orang di pinggir. Belanda juga lakukannya kontra Kostarika dengan dorong Indi dan De Vrij bermitra dengan Kuyt dan Blind ciptakan 2v1 kontra Bolanos atau Ruiz.

 

(6) SWEEPER GOALKEEPER.

Tren agresifitas pressing yang dilakukan jauh di depan (high pressing) meninggalkan lubang space amat besar di belakang garis akhir pertahanan. Dalam momen defensive, kiper masa kini adalah kiper sweeper yang cekatan cepat keluar dari sarangnya untuk antisipasi bola daerah serangan balik lawan. Semua sepakat Manuel Neuer adalah yang terbaik dalam bisnis mengawal space ini.

 

High pressing juga berikan kiper konsekuensi riskan pada momen attack. Yakni, banyaknya pemain lawan yang berada di defensive third untuk pressing bek. Bila kiper hanya dapat lakukan tendangan direct jauh ke depan, maka itu menjadi keuntungan lawan. Umumnya tujuan dari high press adalah memaksa tim kita lakukan tendangan bola udara yang berujung pada situasi 50-50 dalam adu heading.

 

Dalam kondisi ini jelas kiper masa kini dituntut memiliki kemampuan passing, receiving dan supporting prima agar tim dapat lakukan build up from the back. Juga sesekali jika situasi memungkinkan melakukan tendangan direct jauh ke depan. Lagi-lagi, untuk urusan kemampuan sepakbola komplet ini Neuer tetaplah juaranya. Meski begitu, kompetensi prima Cillessen dan Bravo tak boleh dilupakan.

 

(7) TACTICAL COMPENSATION.

Brasil 2014 sajikan duel taktik sepakbola terbaik abad ini. Faktor taktikal menjadi prioritas tertinggi area pengembangan. Taktik sering menjadi pembeda, bahkan penentu sukses tim dalam suatu laga. Tim semenjana seperti Kolombia, Chile, Kostarika dan (maaf) Belanda buktikan bahwa taktik prima dapat tutupi kurangnya kualitas individu yang mereka miliki.

 

Di Brasil 2014, secara umum kemampuan 32 tim nyaris merata. Tantangan terbesar adalah mempersiapkan fisik tim untuk dapat bermain sepakbola baik tempo tinggi selama 90 menit. Di tengah kendala cuaca ekstrim dan jauhnya jarak antar stadion. Nah, fisik sepakbola adalah konsekuensi dari taktik. Tim yang mampu mendominasi permainan dengan atur ritme saat menyerang dan bertahan cenderung unggul.

 

Itu sebabnya solusi taktikal untuk ciptakan superioritas jumlah (midfield overload/flank overload) amat penting. Kalah jumlah di suatu sector berarti aksi lebih berat dan aksi lebih sering. Posisi yang lebih baik dan jumlah kawan yang lebih banyak akan mengurangi frekuensi dan jarak berlari. Yes, taktik yang lebih baik akan membuat teknik dan fisik pemain jadi lebih baik.

 

Latihan Top Level = Pertandingan Top Level

Sudah barang tentu, tujuh pelajaran taktikal dari Brasil 2014 memberi konsekuensi dan PR berat bagi pembinaan sepakbola usia muda. Terlebih lagi untuk Indonesia yang sepakbola nya telah tertinggal beberapa decade. Tren taktikal sepakbola top level dunia merupakan referensi tepat untuk mengantisipasi sepakbola masa depan. Juga sebagai gambaran pemain masa depan ideal yang harus dicetak.

 

Belajar dari Brasil 2014, hal terpenting adalah mencetak pemain yang mampu bermain sepakbola (bertahan-menyerang-transisi) dengan baik, tempo tinggi selama 90 menit. Jelas, satu level di bawah bermain sepakbola adalah berpikir sepakbola. Sebab sebelum lakukan aksi, pemain selalu berpikir dan ambil keputusan. Diperlukan pemain yang mampu berpikir sepakbola dengan baik (wawasan taktik) selama 90 menit.

 

Jika itu golnya, maka latihan harus mengarah kesana. Pertama, latihan terbaik adalah latihan sepakbola, bukan yang lain. Kedua, latihan sepakbola dengan tempo dan tekanan tinggi. Ketiga, pemain harus senantiasa berpikir saat berlatih. Bukan intuitif atau sekedar ikuti teriakan pelatih. Memang mewujudkan tiga hal ini tak mudah, tetapi harus dilakukan. Kalau kita mau cetak pemain top level dunia, kita harus berlatih dengan kompleksitas taktikal, tempo dan tekanan yang sama seperti Piala Dunia. Tak ada cara lain!! Harga mati!!

 

@ganeshaputera

Co-Founder KickOff!

www.kickoffindonesia.com

Please reload