KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Tiga Bukan Satu, Apakah Efektif?

December 5, 2014

 

Dalam sebulan terakhir, PSSI "akhirnya" memakai jasa Direktur Teknik. "Hebatnya" PSSI berencana menempatkan 3 Direktur Teknik sekaligus. Direktur Teknik untuk Kepelatihan, Direktur Teknik untuk Timnas & Pembinaan, serta Direktur Teknik untuk Perwasitan. Sivaji (Singapore) menjadi Direktur Teknik Kepelatihan, sedang Pieter Huistra (Belanda) kawal Direktur Teknik Timnas & Pembinaan. Satu lagi belum ditentukan.

 

Sangat bersyukur, akhirnya PSSI "sadar" tentang begitu pentingnya Direktur Teknik. Tetapi Tiga bukan Satu, apakah bukan suatu keanehan? Tidak fair rasanya menghakimi sebelum semuanya mulai bekerja. Lebih baik, kita insan sepakbola mendukung mereka dalam suatu kerangka kritis yang konstruktif.

 

Empat tahun lalu, isu Direktur Teknik telah saya apungkan. Dengan pertimbangan utama, banyak kebijakan "baik" di sepakbola Indonesia yang kontraproduktif. Sebabnya karena kesemrawutan kooordinasi kerja yang saling tumpang tindih. Kini, tak ada salahnya membaca kembali tulisan tersebut. Sekedar mengingatkan kembali pentingnya seorang Direktur Teknik yang memiliki kekuasaan, akses dan budget. Sambil mereka-reka apa yang akan terjadi bila "Tiga tidak menjadi Satu"?

 

 

Mimpi Mesias Direktur Teknik & Kitab Suci Pembinaan


Sepakbola Indonesia makin terpuruk beberapa tahun belakangan. Tahun 2009 jadi momentum kehancuran prestasi sepakbola. Diawali dengan tidak lolosnya Timnas U19 ke Piala Asia. Kemudian Timnas U23 gagal di Sea Games Laos dengan rekor tak pernah menang dan takluk dari Laos. Rentetan kegagalan ditutup dengan ambruknya Timnas Senior di Pra Piala Asia setelah kalah dari Oman 1-2.

Kehancuran ini disikapi macam-macam oleh masyarakat sepakbola Indonesia. Kebanyakan menunjuk pada kualitas kompetisi ISL yang cuma hura-hura. Pihak lain menganggap persiapan timnas terlalu pendek. Seharusnya timnas disiapkan lewat TC jangka panjang seperti jaman dulu. Sebagian lagi menuding buruknya kualitas pembinaan usia muda. Ada juga pihak yang merasa kualitas pendidikan pelatih kurang mumpuni.

Dari berbagai analisa tersebut, jujur harus diakui bahwa semuanya benar. Biar bagaimanapun kualitas timnas haruslah ditopang kualitas kompetisi, klub, pembinaan usia muda, pendidikan pelatih dan tentunya litbang. Pangkal persoalannya, seluruh elemen yang ada di PSSI tersebut begitu semrawut dan serba tidak tertata. Setiap elemen serba berjalan sendiri-sendiri, miskin koordinasi dan minim komunikasi.

Semrawut
Kesemrawutan itu terjadi pada tataran operasional. Dimana subyek program justru kebingungan dengan beragam program PSSI yang tidak sinkron satu sama lain. Beberapa kejadian berikut bisa menjadi contoh. Sudah dua tahun belakangan, BTN dan BLAI tidak sinkron dalam penjadwalan. BTN yang memiliki kalender pertandingan AFC kesulitan membentuk timnas junior. Persoalannya timnas untuk Piala AFF U16 dan Pra Piala Asia U16 perlu pasokan pemain dari kompetisi BLAI bernama Piala Medco. Anehnya Piala Medco justru diadakan setelah event tim nasional selesai. 

Talent scouting juga bermasalah. SDM dan pembiayaan talent scouting disediakan BLAI. Padahal pelatih ditentukan BTN. Persoalannya, apakah tim talent scouter ini memahami visi pelatihnya? Lalu apakah pelatih bisa memilih sesuai seleranya bila talent scouter tidak paham keinginan pelatih?

Keseragaman visi teknikal menjadi persoalan pelik lainnya. Diklat PSSI berusaha meningkatkan kualitas pelatih lewat kursus. BLI juga melakukan coaching clinic keliling ke klub ISL. Ternyata, keduanya tak selalu seragam. Diklat menganjurkan coaching grid 10x15m. BLI menyarankan coaching grid 10x10m. Keduanya tak salah dengan segala alasan teknik di baliknya, tetapi keduanya jelas membingungkan. 

Ada lagi masalah tes fisik pemain. Timnas Senior dan Diklat kini telah sejalan dalam masalah tes endurance. Timnas memakai Blip Test sebagai alat, sama dengan yang diajarkan pada kursus pelatih. Anehnya, timnas U23 justru memakai Yoyo Test yang tidak diajarkan di kursus. Tak ada yang salah, hanya membingungkan.

Keberadaan pelatih timnas makin mengerutkan dahi kita. Timnas Senior kabarnya akan dibesut Ruud Krol (Belanda). Timnas U23 dilatih Alfred Riedl (Austria). Timnas U19 tetap dipegang Cesar Payovich (Uruguay). Terakhir beredar kabar Timnas U16 akan dikawal pelatih Inggris. Indonesia Football Academy yang katanya kepanjangan BPPUM akan dilatih Kevin Kent (Inggris).

Tak satupun dari nama pelatih di atas bereputasi kacangan. Masalahnya, adakah keseragaman visi diantara mereka? Sepakbola Belanda mendewakan possesion dan positional play. Sedang Uruguay gemar high pressing dan direct play. Lalu Inggris dengan kick and rushnya. Perbedaan visi macam ini tentunya tak akan meningkatkan kualitas sepakbola Indonesia. Haruskah pemain muda Indonesia dilatih dengan visi gado-gado? 

Direktur Teknik
Contoh di atas menunjukkan suatu kesimpulan ringan. Bahwa sebenarnya PSSI memiliki program-program yang baik. Hanya saja amat tidak tertata alias semrawut. Solusi dari berbagai kesemrawutan tersebut sebenarnya sangat sederhana. PSSI cukup melakukan re-organisasi dan menunjuk seorang Direktur Teknik. Sosok Direktur Teknik ini sebaiknya berasal dari negara yang sepakbolanya sudah maju. 

Tugas utama Direktur Teknik mencakup pada 5 aspek. Yakni: pengembangan tim nasional, pembinaan usia muda, pemberdayaan klub, pendidikan pelatih dan litbang. Ini merupakan harga mati. Sebuah kesalahan bila Direktur Teknik dikerdilkan fungsinya dengan hanya memimpin BTN atau BPPUM. Bila itu yang terjadi, Direktur Teknik tidak memiliki akses ke pembinaan usia muda, klub dan pendidikan pelatih. Ini berbahaya untuk sepakbola ke depan, karena lagi-lagi keseragaman visi yang diidamkan menjadi sirna.

Untuk struktur organisasi, ada dua pilihan. Pilihan pertama agak ekstrim, tapi dipercaya memudahkan koordinasi dan komunikasi. Pilihannya adalah membentuk Departemen Teknik dan membubarkan seluruh badan-badan (kecuali BLI). Mirip dengan yang ada di federasi sepakbola lain. Nantinya, Direktur Teknik dibantu sekretaris, dan manajer-manajer. Yaitu: Manajer Bidang Tim Nasional, Manajer Pembinaan Usia Muda, Manajer Diklat, Manajer Riset, Manajer Kompetisi Amatir dan manajer lain sesuai kebutuhan. Solusi ini akan menjamin seluruh program pembinaan menjadi satu visi.

Pilihan kedua meski tak seefektif yang pertama adalah membentuk Pokja yang dipimpin oleh Direktur Teknik. Di dalam Pokja ini terdapat elemen kunci dari BLI, BLAI, BTN, Diklat, BPPUM dan Litbang. Hanya saja pilihan ini mengandung resiko, yakni belum tentu semua keputusan Pokja akan dilaksanakan Badan/Bidang. Lalu, sampai sejauh mana Direktur Teknik bisa mengintervensi kebijakan Badan/Bidang yang otonom. PSSI harus memberikan kekuasaan besar pada Direktur Teknik untuk bisa mengakses seluruh Badan/Bidang.

Kitab Suci
Mengibaratkan Direktur Teknik sebagai mesias sepakbola, maka langkah selanjutnya adalah merumuskan kitab suci. Di sepakbola, kitab suci ini sering dikenal dengan Kurikulum Pembinaan. Direktur Teknik dan stafnya perlu melakukan riset mendalam tentang kekuatan dan kelemahan sepakbola Indonesia. 

Hasil riset akan menjadi dasar untuk menentukan Visi Sepakbola Indonesia. Dalam Visi Sepakbola Indonesia tersebut digariskan gaya sepakbola yang diinginkan pada masa depan. Bisa sepakbola possesion dan positional play ala Belanda. Bisa juga sepakbola pertahanan ala Italia atau sepakbola direct ala Britania. 

Visi tersebut lalu diturunkan dalam bentuk kurikulum sebagai cara atau langkah-langkah untuk mewujudkannya. Di kurikulum akan tercantum formasi dasar sebagai strategi pembinaan. Penekanan pembinaan teknik, taktik, fisik, mental pada tiap-tiap kelompok umur. Juga metode melatih yang akan digunakan.

Kitab suci inilah yang akan menjadi sumber keseragaman visi sepakbola kita. Tim nasional dibangun berdasarkan ajaran kitab suci. Demikian juga format kompetisi usia muda, amatir dan ISL U21. Para instruktur kursus juga dengan lugas akan mengajarkan isi kitab suci kepada calon pelatih. Tak lupa juga dengan pola latihan di SSB dan klub.

Disiplin dan Konsisten
Keberadaan Direktur Teknik sebagai mesias dan Kurikulum sebagai kitab suci diyakini akan membawa kita keluar dari keterpurukan. Akan tetapi disiplin dan konsistensi dalam implementasi ialah harga mati. Hasil kerja Direktur Teknik dan kontribusi kurikulum tidak akan didapat dalam hitungan tahun. Ketika PSSI sepakat ingin membangun sepakbola dari nol, maka seluruh jajaran PSSI harus siap untuk tidak berprestasi 5-10 tahun mendatang.

Kesiapan tersebut harus tercipta di wilayah internal, sebelum disosialisasikan sebagai bentuk edukasi terhadap masyarakat sepakbola. Salah satu hal yang harus diedukasi adalah mentalitas harus juara. Mentalitas mau menang memang harus ditanamkan sejak dini, tetapi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai pembinaan sebagai proses belajar menuju tim nasional tangguh di masa mendatang.

Konsistensi implementasi kurikulum harus dikedepankan. Bila katakanlah kurikulum menyatakan possesion play dan positional play adalah gaya sepakbola Indonesia, serta 4-3-3 menjadi formasi dasarnya. Maka seluruh timnas kelompok umur (kecuali senior) haruslah memakai 4-3-3 dan gaya bermain tersebut. Tanpa mempedulikan gaya bermain lawan, ketersediaan pemain dan aspek eksternal lainnya.

Kasus Ajax
Saya terkagum melihat video Ajax U15 vs Australia U16. Australia unggul usia dan postur, menerapkan pressure ketat di pertahanan Ajax. Ini agar Ajax tidak possesion dari bawah. Nyatanya, Ajax tetap main possesion dari bawah tanpa peduli postur, taktik dan hasil akhir. Skor 3-1 untuk Australia. Tetapi Ajax tetap konsisten pada kitab suci sepakbola mereka. ”Kami tak mau mengorbankan filosofi dan proses belajar demi hasil akhir partai ini. Hasil akhir mereka ada di level senior,” ujar John Van Schip, pelatih Ajax U15. 

Saya tak yakin contoh tersebut bisa terjadi di masyarakat sepakbola Indonesia. Mengandaikan Ajax adalah timnas junior kita, pasti caci maki sudah bertebaran. Media dan pengamat akan mengatakan, ”Sudah tahu dipress, ngapain main dari bawah.” Pendapat lain mengatakan, ”Sudah jelas kalah usia dan kualitas, kenapa main terbuka?”

Semua itu pasti akan terjadi, tetapi itulah tantangan menuju sepakbola Indonesia yang lebih baik. Tinggalkan budaya kuping tipis, tingkatkan budaya optimistis. Kita harus percaya pada arahan Direktur Teknik dan Kurikulum demi sepakbola kita di masa depan. Tapi tunggu dulu, bukankah PSSI sekarang belum punya direktur teknik? Bukankah PSSI sekarang belum punya kurikulum? Ah, rupanya saya tadi masih bermimpi. Semoga mimpi saya menjadi kenyataan!!

 

Maret 2010

GP

Please reload