KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Kiper: Sendirian dalam Sebelas, Atau Satu dalam Sebelas?

December 11, 2014

 

 

Topik periodisasi penjaga gawang menambah kualitas rangkaian kegiatan WEM South Africa 2014. Lieven de Veirmen, Direktur “BeNumber1-Goalkeeper Performance Center” menjadi presenter untuk topik ini. Lieven de Veirmen adalah pelatih kiper yang juga memiliki latar belakang kepelatihan fisik. Ia terakhir kali bekerja sebagai pelatih fisik di klub Al-Ahli (Arab Saudi).

 

 

WFA sendiri dalam beberapa tahun terakhir melakukan pengembangan kepelatihan penjaga gawang. Pengembangan ini dipimpin oleh Frans Hoek, pelatih kiper timnas Belanda yang sekarang membesut kiper Manchester United. Hoek yang selain pelatih kiper, juga merupakan educator kiper UEFA. Ia merasa galau menengok perkembangan kepelatihan penjaga gawang di dunia sepakbola. Dimana ada jurang besar antara tuntutan permainan sepakbola 11vs11 dengan latihan spesialisasi kiper.

 

 

Berangkat dari kegalauan Hoek itulah, Lieven sebagai murid WFA merefleksikannya dalam sebuah presentasi menantang. Ia memberi judul provokatif pada presentasinya, yaitu: “Periodisasi Kiper: Sendirian dalam Sebelas atau Satu dalam Sebelas?”.

 

 

Kiper Juga Pemain

 

Judul provokatif presentasi Lieven ibarat gayung bersambut bagi penulis. Hampir satu dasawarsa berkecimpung di sepakbola, penulis juga merasakan bahwa kepelatihan kiper berkembang ke arah yang salah. Kiper seringkali ditempatkan secara terpisah dari tim. Keistimewaan kiper dengan seragam berbeda dan boleh gunakan tangan disalahartikan bahwa kiper bukanlah pemain. Tak heran di dunia sepakbola, penyebutan formasi 1-4-3-3 misalnya, sering disederhanakan jadi 4-3-3 dengan melupakan kiper.

 

 

Salah kaprah bahwa kiper bukan pemain juga berimbas pada latihan. Seringkali pelatih kiper melakukan banyak latihan yang terisolir dari tim. Padahal, pada saat main, kiper harus menyatu dengan timnya. Bahkan celakanya, sering terjadi antara pelatih kepala dan pelatih kiper bekerja sendiri-sendiri. Keduanya saling tak mengetahui progam masing-masing.

 

 

Keprihatinan penulis terjawab saat Lieven dengan tangkas memaparkan kepelatihan kiper berbasis referensi sepakbola. Untuk terakhir kalinya di pertemuan tersebut, kembali tersaji konsep sepakbola sebagai permainan 11v11 yang terdiri dari menyerang, bertahan dan transisi. Di tiap momen terdapat berbagai AKSI yang merupakan produk dari KEPUTUSAN dan EKSEKUSI.

 

 

Lieven kemudian sajikan berbagai fakta AKSI yang dibuat KIPER dalam pertandingan. Ia mengambil sampel rata-rata frekeunsi AKSI kiper Liga Primer Inggris musim 2012/13. Dalam data tersebut Wayne Hennesey jadi kiper yang tersering menerima shot on goal (enam kali) dan melakukan penyelamatan (empat kali). Sedangkan Petr Cech hanya menerima dua shot on goal dan tiga penyelamatan. Kesimpulan kiper melakukan sedikit aksi. Rata-rata dalam 90 menit, kiper hanya lakukan tiga hingga enam kali penyelamatan.

 

 

Lieven juga paparkan sampel lain. Yakni aksi Fernando Muslera dan Cech di pertandingan Liga Champions antara Galatasaray dan Chelsea. Dari game tersebut, Lieven menyimpulkan bahwa jumlah aksi kedua kiper tidak banyak dalam 90 menit. Juga, ia mengurai bahwa jarak antaraksi begitu panjang. Artinya seorang kiper bisa ambil napas panjang setelah melakukan satu aksi. Menariknya, kedua kiper melakukan jumlah aksi yang nyaris berimbang antara bertahan dan menyerang. Muslera dan Cech juga menggunakan kaki hampir sebanyak tangannya.

 

 

Konsekuensi ke Latihan

 

Berangkat dari fakta tuntutan kiper di permainan, tentunya latihan sepakbola untuk kiper memiliki karakteristik tersendiri. Seperti yang telah dijelaskan di tulisan sebelumnya, tuntutan sepakbola ialah: 1) aksi yang lebih baik, 2) aksi yang lebih sering, 3) pelihara aksi baik 90 menit; dan 4) pelihara aksi sering 90 menit.

 

 

Dalam kasus kiper, tidak ada tuntutan untuk melakukan aksi yang lebih sering dan pelihara aksi sering selama 90 menit. Kiper memiliki waktu istirahat yang amat banyak setelah melakukan aksi. Artinya hampir di setiap aksinya kiper melakukannya dalam kondisi 100 persen setelah waktu istirahat yang memadai. Di sini jelas bahwa latihan sepakbola untuk kiper sangat mengedepankan kualitas, ketimbang kuantitas.

 

 

Lieven menyarankan latihan kiper harus selalu mengedepankan kualitas. Setiap aksi yang dilakukan harus dibarengi dengan istirahat cukup. Sehingga setiap aksi yang dilakukan selalu 100 persen tanpa kelelahan. Lieven menilai kebanyakan pelatih kiper terfokus pada kuantitas ketimbang kualitas. Ini dilakukan dengan membuat latihan dengan jumlah repetisi amat banyak dan waktu istirahat minim. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan tuntutan permainan itu sendiri.

 

 

Keseimbangan porsi latihan antara bertahan, menyerang dan transisi juga seringkali timpang. Kebanyakan pelatih kiper lebih banyak melatih defending (terbang, tangkap, blok, dan lain-lain), ketimbang melatih penyerangan (passing, kontrol, lempar, dll). Ini juga berimbas pada minimnya penggunaan kaki di dalam latihan kiper. Padahal fakta menunjukkan selama 90 menit, kiper banyak sekali menggunakan kaki.

 

 

Lieven juga sarankan bahwa kiper harus dilatih dalam situasi permainan. Untuk itu kiper wajib dilibatkan dalam banyak latihan bersama pemain lain. Kiper akan mendapatkan keuntungan komunikasi lebih baik, bila banyak terlibat dalam passing exercise atau position games. Hal ini berlaku terlebih lagi pada saat latihan taktikal. Akhirnya, latihan kiper terbaik adalah game 11v11. Lieven menegaskan pelatih kiper wajib meng-coaching salah satu kipernya yang sedang main dari belakang gawang. <>

 

@ganeshaputera

Tulisan asli dimuat di www.goal.com

 

 

Please reload