KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Mengukur Performa Sepakbola dengan Kacamata Sepakbola

March 30, 2016

 

Dalam beberapa pekan terakhir sehubungan dengan Bhayangkara Cup 2016, penulis sering berinteraksi dengan kolega pelatih, staf bahkan pemilik klub. Umumnya mereka ingin meminta pandangan penulis sebagai “penonton” pertandingan. Memang perbincangan sepakbola yang paling menarik adalah pasca menyaksikan suatu pertandingan. Biasanya setelah pertandingan berlangsung, baik pelatih, staf, pemilik klub dan penonton akan bertukar pendapat. Dengan harapan interaksi percakapan tersebut dapat menjadi bahan perbaikan ke depan.

 

Sayangnya pada berbagai kesempatan, biasanya diskusi tersebut menjadi tidak produktif, mengambang di awang-awang. Penyebabnya menjurus pada tidak adanya kesamaan referensi sebagai kacamata dalam menonton pertandingan. Lalu diskusi sepakbola terlalu sering menggunakan bahasa non sepakbola abstrak yang tidak kontekstual dengan karakteristik permainan sepakbola itu sendiri.

 

Muncullah kemudian penggunaan ungkapan abstrak untuk menyimpulkan bagus tidaknya suatu tim bermain. Sebagai contoh terungkap istilah tim yang bermain “lamban, tidak greget, kurang tajam, habis bensin” Ini juga menurun ke penilaian terhadap pemain yang sering diungkapkan secara superfisial sebagai “tidak tempur, lembek, atau salon”.

Penggunaan bahasa abstrak ini amat tidak operasional. Jika evaluasi tim menyimpulkan bahwa tim bermain kurang greget. Maka pelatih harus membuat latihan peningkatan greget tim. Lalu seperti apa latihannya? Hal sama juga berlaku untuk pemain. Jika klub menetapkan bahwa kriteria gelandang yang ingin diburunya adalah “gelandang tempur”, lalu bagaimana scouter harus mencarinya?

 

 

 

Sepakbola Melayani Statistik?

Usaha menuju objektivitas bukan tidak dilakukan. Biasa praktisi berusaha menggunakan data statistic untuk membuat penilaian jadi lebih objektif. Sayangnya, data statistic yang beredar di sepakbola Indonesia selama ini cenderung bersifat “show” untuk kebutuhan hiburan televisi. Data yang tersaji juga mentah, karena tidak ditempatkan pada konteks permainan sepakbola itu sendiri.

 

Data prosentasi ball possession misalnya. Data ini tidak bicara apa-apa soal performa tim dalam menyerang. Sebab data ball possession tidak menyajikan lokasi penguasaan bola. Lalu struktur posisional tim saat memainkan ball possession tersebut. Juga tentunya tidak menjelaskan apa yang tim lakukan saat menguasai bola. Bisa saja sebuah tim menguasai ball possession 70% tapi semua ball possession dilakukan di depan blok 11 orang lawan. Bergunakah?

Hal yang sama berlaku pada penilaian individu. Data statistic prosentasi passing sukses juga tidak bicara apapun soal peforma pemain dalam menyerang. Seorang gelandang misalnya memiliki 90% passing sukses. Faktanya kebanyakan passing tersebut tidak sajikan progresi serangan ke depan. Passing lebih banyak melebar dan ke belakang. Apakah performa pemain tersebut bagus?

Sebaliknya, data negatif juga belum tentu menunjukkan buruknya performa seorang individu. Tidak boleh dilupakan bahwa sepakbola adalah permainan tim. Sering terjadi kesalahan passing yang dilakukan bukan semata kesalahan individu. Pada Semifinal Piala Dunia 2014, Brasil memainkan formasi 14231 kontra Jerman dengan 1433 nya. David Luis menjadi bulan-bulanan media, akibat seringnya ia melakukan salah passing. Padahal bila dicerna lebih dalam, Luiz sering salah passing akibat buruknya posisi dua gelandang yang diisi Fernandinho dan Gustavo. Keduanya membentuk kotak yang membuat Khedira dan Kroos mudah melakukan penjagaan (Analisa Lengkap di sini).

 

Perlu ditegaskan fenomena ini bukanlah kesalahan data statistic itu sendiri. Data tersebut factual dan tidak dapat diperdebatkan. Bukan juga kesalahan penyedia jasa statistic yang bertugas melakukan koleksi dan presentasi data. Kesalahan justru dilakukan oleh praktisi sepakbola. Dimana kita semua dengan begitu bodohnya mengambil kesimpulan keliru dari data mentah tersebut. Seharusnya berbekal referensi playing style dan taktik yang diinginkan, praktisi sepakbola “memesan” secara spesifik data statistic yang ingin diketahui.

 

Misal sebuah tim bermain 1343 dalam menyerang kontra 1433. Orientasi taktiknya adalah ciptakan jumlah orang lebih 3v2 di pinggir (Stoper, fullback, winger vs winger dan fullback lawan). Pada konteks taktikal ini, penyedia jasa statistic bisa menghitung tingkat keberhasilan momen ini. Dari data ini bisa disimpulkan misal ternyata winger lawan cenderung turun jaga fullback, sehingga stoper selalu free. Atau winger lawan cenderung press stoper, sehingga fullback free. Yes, ilmu statistic harus menjadi “pelayan” untuk sepakbola, bukan sebaliknya.

 

Referensi Sepakbola

Penilaian dan evaluasi yang objektif adalah menggunakan referensi sepakbola itu sendiri. Hasil analisa permainan sepakbola itu sendiri menyajikan beberapa fakta objektif yang universal. Fakta dasar adalah sepakbola dimenangkan dengan cara cetak gol lebih banyak dari kebobolan. Ini membuat sepakbola selalu sajikan 3 momen penting. Yakni, menyerang, bertahan dan transisi. Fakta ini valid di segala kondisi dan tempat. Sepakbola kelas dunia dan kelas kampung pasti menyajikan momen ini. Tidak bisa diperdebatkan!

Nah pada tiap momen, ada indicator baik buruknya. Pada momen menyerang, indicator utamanya adalah bagamana gol bisa tercipta. Sedangkan pada momen bertahan adalah bagaimana tim tidak kebobolan. Tentu saja menggunakan parameter jumlah gol dan kebobolan terlalu superfisial dan premature untuk mengukur performa tim dan individu. Sebab bisa saja jumlah gol lebih banyak dari kebobolan tidak diikuti oleh cemerlangnya performa tim.

Untuk bisa membuat parameter yang lebih spesifik. Perlu dilakukan pembedahan pada setiap momen sepakbola tersebut. Pertama, momen menyerang. Pep Guardiola membagi momen menyerang ke dalam 4 fase membangun serangan (build up), konsolidasi, distribusi dan finalisasi (goalscoring). Untuk menyederhanakan, tulisan ini hanya membagi momen penyerangan ke 2 fase. Yaitu membangun serangan (build up) dan menyelesaikan serangan (goalscoring).

Saat goalkick terjadi, disitulah fase membangun serangan bermula. Tujuan membangun serangan ialah memprogresi bola ke depan. Penilaian sukses membangun serangan dapat dibagi ke beberapa level skor. Prioritas pertama dalam bangun serangan adalah harus terjadi progresi bola ke 1/3 depan. Jika akibat situasi permainan, tim belum mampu progresi bola ke depan, maka prioritas berikut adalah terus kuasai bola. Jangan sampai tim hilang bola saat bangun serangan.

Setelah bola di-progresi ke area1/3 depan, fase berikutnya adalah menyelesaikan serangan. Di fase ini, SUKSES adalah saat terjadi penyelesaian akhir ke gawang. Jika hal tersebut tidak mungkin, maka tim harus terus kuasai bola. Supaya tim bisa terus mencari peluang untuk lakukan penyelesaian akhir. Hal yang tidak boleh terjadi adalah kehilangan bola.

Momen bertahan adalah kebalikan dari momen penyerangan. Fase pertama dalam bertahan adalah cegah lawan membangun serangan. Fase ini SUKSES jika tim berhasil rebut bola. Bila tim belum dapat rebut bola, maka prioritasnya adalah cegah lawan bisa progresi bola ke depan. Jika lawan berhasil memprogresi bola ke depan,  berarti kinerja tim di fase ini GAGAL total!

 

Fase selanjutnya jika lawan telah memprogresi bola ke area 1/3 pertahanan kita adalah  cegah lawan menyelesaikan serangan. Fase ini sukses tim bisa merebut bola. Bila tim belum dapat merebut bola, langkah selanjutnya adalah mencegah lawan membuat penyelesaian akhir ke gawang. Keberhasilan lawan melakukan penyelesaian akhir ke gawang kita pertanda BURUK-nya kinerja tim dalam fase ini.

Momen terakhir adalah transisi. Terdiri dari momen transisi dari bertahan ke menyerang (+) dan menyerang ke bertahan (-). Transisi selalu terjadi dalam kondisi tim dan lawan tidak terorganisir. Akibatnya pada momen transisi (+), tim tidak harus membangun serangan terlebih dahulu, melainkan harus segera menyelesaikannya. Jika tidak mungkin, maka tim akan kembali ke fase membangun serangan alias ke momen menyerang terorganisir.

Sebaliknya saat transisi (-), tim harus cepat mencegah lawan menyelesaikan serangan. Jika hal ini berhasil dilakukan, baru kemudian tim mencoba kembali mencegah bangunan serangan lawan. Alias tim kembali ke momen bertahan terorganisir.

 

 

Penjabaran momen sepakbola akhirnya bisa menjadi format penilaian performa yang objektif. Dimana seperti yang bisa dilihat pada Model Football Performance Indicator (FPI) di atas, semua momen dan fase dalam sepakbola telah dideskripsikan secara sistematis. Untuk tiap fase, ada 3 grade nilai. Hijau untuk performa sukses, kuning untuk performa biasa saja dan merah untuk performa buruk.

 

Jadi tim dikatakan performanya sukses dalam menyerang bila sepanjang 90’ tim selalu berhasil memprogresi bola ke depan saat membangun serangan dan menyelesaikannya. Lalu performa sukses saat bertahan apabila selalu berhasil mencegah lawan memprogresi bola ke depan dan melakukan penyelesaian akhir. Pada akhirnya bisa jadi performa tim tidak sempurna. Misal tim bagus dalam membangun serangan, tapi buruk dalam menyelesaikannya.

Subjektivitas dalam Objektivitas

Model dasar FPI di atas bersifat umum, factual, objektif dan universal. Berangkat dari model dasar tersebut, kemudian bisa diturunkan unsur penilaian yang lebih spesifik. Dimana di dalamnya mulai dapat dimasukkan unsur subjektivitas, opini dan local. Pada akhirnya sepakbola pada tataran filosofis adalah objektif dan universal. Tetapi pada tataran aplikasi bisa menjadi subjektif dan local.

Contoh, sepakbola di FC Bayern dan di Persija sama saja. Tetap ada bertahan, menyerang dan transisi. Tujuan dari tiap momen dan fase juga selalu sama. Hanya pada aplikasinya, mungkin Munchen dan Persija gunakan cara berbeda. Tujuan bangun serangan tetaplah memprogresi bola ke depan. Bayern misal progresi dengan cara Xabi Alonso turun jadi back 3 untuk buat 3v2. Persija misal progresi bola dengan minta stoper lakukan umpan panjang ke striker. Tujuan sama, caranya berbeda.

Hal terpenting adalah model FPI memulai dari suatu fakta sepakbola objektif, baru kemudian memasukkan unsur subjektivitas. Model indicator performa ini tentunya lebih dapat diandalkan ketimbang model penilaian yang dilakukan praktisi sepakbola selama ini. Dimana belum apa-apa, praktisi sepakbola sudah memulai dengan opini subjektif, tanpa landasan sepakbola yang objektif. Model ini bisa dikatakan menempatkan subyektivitas dalam kerangka objektif.

 

Pada pengembangannya, tabel FPI di atas sudah mencantumkan kolom untuk playing style, formasi dan taktik tim. Tugas pelatih adalah mengisi kolom tersebut sesuai factor eksternal yang dimilikinya. Misal ketersediaan pemain, tradisi klub, kultur, dst. Pendeskripsian playing style dan taktik tim penting untuk menjadi acuan dan kesepakatan bersama seluruh tim.

 

Model FPI ini juga bisa menjadi indicator penilaian terhadap kinerja pelatih. Sebelum penandatanganan kontrak, klub bisa minta pelatih mempresentasikan playing style dan taktik seperti di kolom FPI. Bukan rahasia lagi, banyak pelatih yang tidak pernah mendeskripsikan secara rigid, style bermain dan taktik tim yang ia inginkan. Ini merupakan alarm bagi klub. Sebab seburuk-buruknya ide taktik tim yang dibuat pelatih jauh lebih baik ketimbang tidak ada ide!

Tentunya menilai performa pelatih tidak cukup hanya dengan memintanya mempresentasikan ide taktik. Lebih jauh dari itu, pelatih harus mampu mengaplikasikan ide tersebut di pertandingan melalui proses latihan. Nah, dengan penetapan ide taktik tim tersebut, manajemen klub bisa memonitor sejauh mana ide tersebut mampu diaplikasikan dalam permainan.

Kembali penilaiannya, sejauh mana ide taktik dalam membangun serangan misalnya senantiasa membuat tim mampu memprogresi bola ke depan. Atau misal taktik pressing build up yang dibuat mampu membuat tim cepat rebut bola. Disitulah menajemen klub bisa melakukan penilaian yang lebih objektif terhadap kinerja pelatih. Bukan sekedar melihat hasil akhir, tetapi juga melihat proses. Sebab seperti kata Bielsa: “Ada banyak kekalahan yang bermanfaat dan ada banyak kemenangan yang tidak berguna sama sekali!”

Penilaian Individu

Model  FPI juga amat berguna untuk memonitor dan mengevaluasi performa individu dalam konteks sepakbola. Perlu diingat bahwa sepakbola adalah permainan tim. Dimana setiap aksi yang dilakukan seorang pemain adalah hasil interaksi (komunikasi) dengan pemain lain. Untuk itu performa seorang individu dalam sepakbola adalah sejauh mana individu tersebut menjalankan tugas untuk menunjang performa tim.

 

 

Setelah pelatih mendeskripsikan gaya bermain dan rencana taktik timnya, langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan tugas setiap pemain di seluruh posisi. Setiap pemain, dari mulai kiper hingga striker pasti memiliki tugas yang harus dijalankan untuk menunjang taktik tim. Tugas ini meliputi apa yang pemain harus lakukan dalam menyerang (membangun dan menyelesaikan), bertahan (cegah lawan membangun dan cegah lawan menyelesaikan) dan transisi.

 

Deskripsi tugas pemain yang jelas akan memudahkan proses monitoring dan penilaian performa pemain. Tentu saja, pemain yang performanya baik adalah pemain yang menjalankan dengan sempurna tugas individunya dalam kerangka taktik tim (Kode Warna Hijau). Pemain yang bermain tidak menjalankan tugasnya adalah pemain yang performanya buruk (Kode Warna Merah).

 

Gambar di atas contoh Rapor Individu seorang pemain berposisi fullback. Bisa dilihat pelatih telah mendeskripsikan style bermain, formasi dan taktik timnya. Berangkat dari taktik tim tersebut, pelatih juga mendeskripsikan tugas spesifik yang harus dilakukan seorang fullback dalam taktik tersebut. Untuk setiap tugas, pelatih kemudian mengevaluasi tugas mana saja yang telah dilakukan dengan baik. Juga memberi catatan pada tugas yang belum dijalankan dengan sempurna.

 

Model rapor individu FPI juga bisa menjadi referensi bagi pelatih untuk memberikan porsi latihan individu. Dengan referensi rapor ini, pelatih tidak akan memberi latihan individu yang terisolir tanpa konteks situasi. Melainkan pelatih bisa membuat latihan dengan menyederhanakan situasi yang terus berulang-ulang dialami seorang fullback.

Dengan adanya FPI, harapannya setiap praktisi sepakbola bisa mengembalikan sepakbola pada khitahnya. Merumuskan masalah sepakbola dengan referensi dan bahasa sepakbola. Bukan referensi dan bahasa non sepakbola yang tidak kontekstual. Ayo, jadikan sepakbola lebih sepakbola! <>

 

@ganeshaputera

Please reload