KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Optimalisasi Operasi Sepakbola untuk Performa Sepakbola (1)

April 7, 2016

 

 

Jelang persiapan ISC 2016, satu isu yang menjadi perbincangan hangat adalah bagaimana sebuah klub professional seharusnya menjalankan operasi sepakbolanya? Operasi sepakbola adalah seluruh operasional kegiatan yang berhubungan dengan teknis sepakbola. Di Indonesia operasi sepakbola biasa dipimpin oleh Pelatih Kepala berkolaborasi dengan Manajer Tim dan Direktur Teknik.

 

Cakupan operasi sepakbola meliputi seluruh kegiatan yang berhubungan dengan operasional latihan dan pertandingan. Baik kegiatan latihan dan pertandingan itu sendiri, maupun kegiatan pendukung seperti medis, analisis, pemanduan bakat. Bahkan hingga urusan logistic, akomodasi dan transportasi. Kegiatan non sepakbola tapi berhubungan langsung dengan performa sepakbola!

 

Aroma sepakbola professional sebenarnya sudah mulai merebak di klub pro Indonesia. Hal ini ditandai dengan usaha klub pro untuk melengkapi SDM dalam organisasi operasi sepakbola mereka. Dulu, banyak klub pro tak memiliki pelatih fisik atau fisioterapi. Kini hampir semua klub pro pasti memiliki pelatih fisik dan fisioterapi. Bahkan kemajuan makin terasa saat klub pro kental bersahabat dengan dunia analisa berbasis statistic atau video.

 

Sepengetahuan penulis, Bali United, Arema, Persela, PBFC bahkan PSS Sleman telah memasukkan analisa berbasis statistic dalam operasi sepakbola mereka. Lalu, Mitra Kukar pernah menggunakan jasa @dribble9 sebagai analis performa berbasis video. Tentu yang tergres PBFC dengan Jaino Matos sebagai Manajer Performa, didukung football science mutakhir.

 

Referensi

Persoalan terbesar yang kemudian muncul adalah klub (pemilik klub) cenderung menempatkan banyak SDM ahli hanya sekedar gaya-gayaan. Klub misal  dianggap primitif kalau tidak menggunakan jasa statistik. Atau klub dianggap kuno kalau tidak punya fisioterapis. Pakai statistic, fisioterapis atau analis ialah symbol operasi sepakbola modern.

 

Sayangnya utilisasi dari organisasi operasi sepakbola modern ini masih begitu buruk. Bukan rahasia lagi, koordinasi dan komunikasi antar pelatih dan staf cenderung terisolir satu sama lain. Sehingga output kerja mereka cenderung tumpang tinding dan kurang berkontribusi optimal terhadap performa tim.

 

Ada beberapa pangkal masalah buruknya integrasi antar SDM dalam operasi sepakbola. Pertama adalah referensi. Hal yang selalu terjadi adalah setiap pelatih dan staf tidak memiliki referensi yang sama. Pelatih kepala dan asisten teknik gunakan referensi sepakbola. Pelatih fisik gunakan referensi fisiologi, analis gunakan statistic, lalu psikolog jadikan psikologi sebagai referensinya.

 

Kekacauan pun terjadi. Dalam suatu latihan, pelatih fisik misal beri kesimpulan bahwa seorang centerback bekerja di bawah standar. Pelatih fisik gunakan referensi heart rate pemain yang sangat rendah. Padahal sepanjang permainan si centerback jalankan semua fungsi sepakbolanya dengan baik. Selalu berhasil memprogresi bola ke depan saat menyerang. Lalu selalu menggagalkan usaha penetrasi lawan saat bertahan.

 

Pelatih kepala gunakan referensi sepakbola. Sedang pelatih fisik gunakan referensi heart rate. Ibarat operasi penerbangan, pilot (pelatih kepala) gunakan referensi rute dengan tujuan ke Bali. Sedangkan co-pilot (pelatih fisik) gunakan referensi tujuan terbang ke Medan. Bagaimana mungkin?

 

 

Model FPI (klik di sini untuk baca artikelnya) bisa menjadi referensi sepakbola yang objektif.  Di operasi penerbangan, destinasi terbang menjadi referensi utama. Di operasi sepakbola, destinasinya ialah memenangkan pertandingan. Jika di penerbangan, take off-on air-landing adalah referensi selanjutnya, maka di sepakbola: menyerang-bertahan-transisi menjadi referensi lanjutannya. Dengan referensi sepakbola, semua pihak yang terlibat di operasi sepakbola akan bekerja dengan visi yang sama.

 

Bahasa dan Sistem

Persoalan perbedaan referensi berujung pada permasalahan kedua. Yakni penggunaan bahasa. Pelatih fisik gemar bicara soal VO2Max, Aeorobik, Anaerobik dan berbagai kata canggih lainnya. Lalu psikolog bicara soal kecemasan, kepercayaan diri atau pantang menyerah.  Ragam bahasa ini membuat komunikasi dalam operasi sepakbola menjadi carut marut.

 

Ibarat sebuah operasi penerbangan. Semua pihak yang terlibat dari mulai pilot, co pilot, awak kabin, hingga petugas menara gunakan Bahasa Inggris. Apa yang akan terjadi bila Pilot Garuda gunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan Menara Bandara Tokyo? Lalu dibalas dengan bahasa Jepang oleh petugas menara. Pembaca berani ikut terbang dengan pesawat tersebut?

 

Nah sama seperti di operasi penerbangan, sepakbola juga perlu bahasa yang seragam. Tentu saja bahasa sepakbola harus menjadi bahasa di operasi sepakbola. Passing, pressing, overlapping, membuka ruang, dll adalah bahasa sepakbola yang kontekstual dan dapat diturunkan dalam operasi latihan.

 

Persoalan terakhir adalah sistem kerja operasi sepakbola. “20 menit” kata pelatih kepala pada pelatih kipernya. Atau “Coach, aku minta 45 menit” seru pelatih fisik pada bosnya. Ini adalah perbincangan umum yang selalu terjadi dalam latihan klub pro di Indonesia.

 

Lalu pelatih kiper menghujamkan puluhan tendangan ke kipernya. Padahal latihan inti hari tersebut adalah membangun serangan dari bawah. Atau pelatih fisik melakukan latihan sprinting. Kemudian diikuti latihan serupa oleh pelatih kepala dalam bentuk crossing and finishing. Sehingga terjadi double overload!

 

Pengalaman kolega penulis di suatu klub pro Jawa Timur lebih mengerikan. Dokter tim putuskan striker andalannya boleh kembali berlatih bersama tim pasca rehab cedera ACL. Dengan komunikasi minim antara dokter dan pelatih, striker tersebut kembali latihan. Kebetulan menu latihan hari tersebut banyak lakukan shooting. Apa yang terjadi? Ya sesuai dugaan, Re-Injury!

 

Sebagai solusinya perlu diciptakan suatu sistim operasi sepakbola yang lebih terorganisir rapi. Dimana semua pihak dengan referensi dan bahasa sepakbola bekerja terintegrasi utuh. Di tulisan selanjutnya, penulis akan mendeskripsikan sistim kerja operasi sepakbola ala klub sepakbola di Eropa yang terintegrasi dalam suatu sinergi solid. <Bersambung>

 

@ganeshaputera 

 

Klik di sini untuk membaca tulisan sambungannya

Please reload