KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Kecerdasan Taktikal Italia Bungkam Hegemoni Spanyol

June 29, 2016

 

Italia datang ke EURO 2016 tanpa sedikitpun dijagokan public sepakbola dunia. Buruknya prestasi Negeri Pizza ini di Piala Dunia 2014, ditambah absennya pemain kunci seperti Marchisio dan Veratti membuat Italia menjadi tim semenjana. Persepsi itu berbalik drastic saat Italia mampu taklukkan generasi emas Belgia dengan meyakinkan di partai pembuka.

 

Antonio Conte, sang allenatore membuktikan pada public bahwa sepakbola adalah permainan tim. Dimana komunikasi kolektif berdasarkan taktik matang menjadi hirarki tertinggi dalam permainan sepakbola. Taktik rigid Conte memudahkan komunikasi antar pemain dan pada akhirnya membuat setiap individu mampu mengambil keputusan dan mengeksekusinya dengan prima.

 

Puncaknya di laga 16 besar kemarin, Italia mampu membungkam Spanyol 2-0. Sang juara bertahan bukan saja kalah dalam hal skor, tetapi juga kalah segala-galanya dalam permainan. Sesuatu yang tidak biasa, dimana Spanyol juga menunjukkan penampilan menawan di penyisihan grup. Taktik aduhai Conte membuat Italia bukan saja aduhai saat bertahan, tapi juga gemilang saat menyerang. Dominasi Total!!

 

Pressing Tinggi Italia

Baik Conte dan Del Bosque tidak banyak melakukan perubahan komposisi starternya. Del Bosque bahkan kembali memainkan formasi 1-4-3-3 dengan komposisi sama seperti di dua game perdana. De Gea berada di bawah mistar mendukung kuartet Alba-Pique-Ramos-Juan Fran. Busquets mengisi pos No.6 menopang kinerja Cesc dan Iniesta. Morata bermain sebagai No.9 yang didukung oleh Silva dan Nolito sebagai sayap masuk ke tengah.

 

Conte kembali ke formasi kemenangan 1352 vs Belgia dengan sedikit penyesuaian akibat cederanya Antonio Candreva. Buffon, sang kapten mengawal lini belakang bersama trio kolega Juve-nya Chielinni-Bonucci-Barzagli. De Rosi mengisi pos di depan back three Azzuri bersama Giacherini dan Parolo yang memerankan box to box midfield.  Posisi wingback diisi De Sciglio di kiri dan Florenzi di kanan. Duet maut Pelle-Eder menjadi ujung tombak kembar di depan.

 

Dari tumbukan formasi natural kedua tim, tampak Italia akan kesulitan dalam membangun serangan. Sebab trio bek Italia akan mendapat pressing dari direct opponent tiga striker Spanyol pada situasi 3v3. Selain itu tiga gelandang Italia yang notabene tidak kreatif harus bertarung 3v3 dengan trio Alumni La Masia. Di pinggir, Spanyol punya keunggulan 2v1, dimana Alba atau Juanfran akan free dan punya ruang besar. Dunia meyakini Spanyol akan terus kuasai bola dan Italia akan terus bertahan.

 

Keyakinan tersebut hanya isapan jempol belaka. Kenyataannya Italia bukan cuma melakukan pressing militan, tetapi juga menguasai bola dengan brilian. Spanyol gagal menguasai possession dengan nyaman. De Gea justru berulang kali harus memainkan bola panjang yang berakibat hilangnya kontrol Spanyol pada permainan. Italia justru membangun serangan konstruktif dari bawah dengan umpan-umpan pendek, dikombinasi umpan lambung. Tak heran statistik di babak ke-1, Italia mampu kuasai 48% possession. Sesuatu yang fantastis kontra Spanyol.

 

Pelle dkk melancarkan pressing tinggi yang berorientasi pada penjagaan man to man. Biasanya, menghadapi tim yang bermain 2 striker, dua stoper akan melebar dan No.6 akan drop deep untuk ciptakan situasi 3v2 di bawah. Harapan akan situasi tersebut digantungkan pada Busquets yang membantu progresi build up Spanyol.

 

Uniknya, 1352 Italia cepat bermutasi menjadi 1523 (atau 1343). Adalah Giacherini yang memerankan tugas gila ini. Saat De Gea hendak lakukan goalkick, Giacherini otomatis naik mengambil orientasi penjagaan ke Pique. Diikuti penjagaan Eder pada Ramos. Pelle sedikit turun menutup akses passing ke Busquets. Bila bola mengarah ke Alba atau Juanfran, maka De Sciglio dan Florenzi telah bersiap untuk lakukan pressing. Jadilah De Gea harus melancarkan bola lambung hampir sepanjang pertandingan.

 

 

Kerja keras Giacherini bukan main-main. Di pertandingan tersebut ia tidak saja naik mem-pressing stoper lawan, tetapi juga terkadang melebar mengganggu kinerja Juanfran dari samping. Bahkan turun ke bawah untuk mematikan Cesc, bila gelombang pressing pertama Italia gagal. Pengorbanan Giacherini juga dilapis De Rosi dan Parolo dengan baik. Saat lakukan pressing tinggi, De Rosi bergeser ke kiri mengawal Cesc yang berusaha turun membantu progresi build up Spanyol.

 

 

Kelihaian Italia dalam pressing bukan hanya saat blok tinggi. Saat blok rendah, organisasi pertahanan Italia tetaplah spektakuler. Pelle dan Eder turun sampai lebih rendah dari Busquets. Form 1532 berubah jadi 15320 (atau 15230). Kondisi ini membuat area sentral menjadi begitu padat. Apalagi kedua winger Spanyol juga beroperasi masuk ke area tersebut. Untuk menembus lewat tengah, Iniesta hanya bisa lakukan kombinasi satu-dua. Usaha lakukan switch play sangat sulit, mengingat De Rosi dan Giacherini lakukan cover shadow membuat Cesc tak terakses.

 

Di babak ke-2, Del Bosque tampak telah menyerah untuk menyobek pertahanan Grendel Italia lewat tengah. Spanyol mengubah taktik permainannya dengan lebih banyak mem-push Alba dan Juanfran jauh ke depan. Tujuannya agar Spanyol mendapat lebih banyak peluang crossing. Ini ditandai dengan masuknya Aduriz yang terkenal jago heading. Cara ini menciptakan beberapa peluang, tetapi sayang di pertengahan babak ke-2, Aduriz justru harus menepi akibat cedera.

 

1-3-1-0-6 Saat Menyerang

Italia bertahan bagus itu sudah biasa, tetapi mendominasi serangan barulah luar biasa.  Di game ini, Conte mengedepankan vertical attack yang terstruktur dengan rapi. Setiap Buffon mendapatkan momen goalkick, ia selalu berusaha memainkan bola pendek ke salah satu dari stopernya. Terutama ke Chiellini di kiri atau Barzagli di kanan.

 

Permainan passing pendek di bawah ini sepertinya sengaja diperintahkan Conte untuk memancing pressing tinggi Morata dkk. Sengaja main pendek biar dipress! Dengan pressing tinggi Spanyol, Italia berharap agar organisasi pertahanan Tim Matador merenggang secara vertical. Ini terjadi sebab duet Pelle-Eder naik begitu tinggi. Diikuti juga oleh Giacherini dan Parolo yang juga naik tinggi. Tingginya posisi mereka seolah memblok back four Spanyol, sehingga kerenggangan vertical tak dapat dihindari.

 

 

Pada gambar di atas, selain tampak kerenggangan vertical Spanyol, juga terlihat jelas form Italia saat menyerang. Dimana Conte menyusun organisasi 13106 (atau 13304). Ya, angka 0 tersebut menunjukkan tidak ada satupun pemain Si Biru yang hadir sebagai koneksi di ruang antar lini tengah. Form ini merupakan tanda bahwa Conte ingin memainkan vertical attack. Dimana build up passing pendek dilakukan untuk mencari peluang vertical dengan bola-bola panjang.

 

Mungkin pertimbangan Conte adalah ingin mem-bypass Busquets. Bukan rahasia lagi, Si No.6 asal Barcelona ini adalah jagonya pemutus serangan. Kemampuan reading the gamenya dalam memotong passing  dan menutup jalur passing vertical lawan masih belum ada tandingannya. Rencana taktik Conte memaksa Busquets berdiri percuma. Ia menjaga zona lapangan tanpa lawan. 

 

13106 yang menempatkan Parolo atau Giacherini tinggi mendekati fullback lawan membuat Alba maupun Juanfran menjadi tak bisa mempressing dua wingback Italia. Tentu saja Florenzi dan De Sciglio menjadi bebas merdeka di ruang yang amat besar. Kedua wingback inilah yang menjadi kunci koneksi antara lini belakang dan depan saat Italia memprogresi serangan.

 

 

Saat bola katakanlah di Barzagli, ia mempunyai pilihan passing ke Florenzi yang bebas total. Kondisi ini membingungkan bagi Iniesta. Apakah ia harus tetap focus di area sentral dan biarkan Florenzi bebas menerima bola?  Atau ia harus keluar melebar lakukan marking? Jika itu pilihannya, maka sontak membuka jalur passing Barzagli ke De Rosi. Dilema!!

 

 

Pada banyak kesempatan, faktanya wingback Italia tidaklah selalu bebas. Terkadang misal Iniesta memutuskan untuk me-marking Florenzi. Atau pada kesempatan lain, Alba bisa me-marking Florenzi juga. Situasi pressure seperti ini tampak telah diantisipasi Conte. Solusinya adalah wingback Italia diminta menahan bola sambil membelakangi gawang. Kemudian dengan posisi kaki berlawanan dilakukan umpan lambung ke Pelle. Florenzi dengan kaki kiri, De Sciglio dengan kaki kanan (Lihat Videonya di sini).

 

Klik di Gambar untuk Lihat VIDEO

 

Cara yang tergambar di atas efektif, sebab Pelle selalu memenangkan duel bola udara. Striker Southampton itu bahkan begitu nyaman gunakan kepala dan dada sebagai tembok pemantul ke Eder-Giacherini-Parolo. Model umpan lambung ini tak melulu ke Pelle. Tetapi juga bisa dilakukan stoper atau wingback ke wingback di sisi lapangan yang lain. Seperti pada gol ke-2 yang dicetak Pelle. Insigne yang melebar ke kiri menahan bola membelakangi gawang. Lalu dengan kaki kanannya memberi umpan lambung  pindah arah ke Darmian di kanan.

 

Penggunaan umpan lambung Italia juga menjadi pembeda signifikan bila dibanding dengan Spanyol. Iniesta dkk jarang lakukan switching play dengan satu umpan lambung diagonal. Mereka lebih gemar memindahkan arah serangan dengan kombinasi umpan pendek. Tentu saja ini menjadi makanan empuk bagi organisasi pertahanan Barzagli dkk.

 

Meruntuhkan Stigma

Kesimpulannya, kecerdasan taktik Italia mampu membungkam hegemoni Spanyol. Sang juara bertahan harus mengakui kolektivitas Italia yang efektif. Pressing tinggi, man to man orientation, plus vertical attack menjadi resep Italia dominasi permainan dan kalahkan Spanyol.

 

Pedihnya untuk Spanyol, Conte dengan bangga mengakui bahwa taktik briliannya merupakan kombinasi antara taktik FC Barcelona dan Atletico Madrid. Ya, menyerang bak Barca dan bertahan seperti Atleti. Di satu sisi menujukkan hegemoni Spanyol di pentas antar klub Eropa. Tetapi di sisi lain begitu ironi mengingat banyaknya pemain Barca dan Atleti di Timnas Spanyol.

 

Taktik Italia memang telah meruntuhkan stigma. Sebuah stigma yang dibuat media dan fans bahwa Spanyol jagonya sepakbola menyerang dan Italia suhunya sepakbola bertahan. Kenyataannya menyerang-transisi-bertahan adalah sebuah siklus yang tidak bisa dipisahkan dari sepakbola.  Sesuai hakekat sepakbola untuk cetak gol lebih banyak daripada lawan, maka Italia pun menang dengan pertahanan dan penyerangan prima.

 

@ganeshaputera

*tulisan versi asli dari yang dimuat di bola.com

Please reload