KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Tanpa Playing Style Sepakbola Ternyata Membingungkan

September 6, 2016


Tidak lama setelah dikontrak oleh Persipura Jayapura, Jafri Sastra dengan terpaksa harus mengundurkan diri, setelah menjalani pertandingan pekan ke 13 Torabika Soccer Championship 2016. Perjalanan yang cukup singkat untuk ukuran pelatih yang seharusnya cukup kompeten, setelah sebelumnya dia bisa membuktikan diri dengan membawa Mitra Kukar menjuarai Piala Jendral Sudirman.

"Hasil evaluasi menunjukkan pencapaian Persipura tidak sesuai ekspektasi manajemen. Tim ini tim besar dan beberapa kali menjuarai kompetisi maupun turnamen, tapi sekarang sedang terpuruk," ungkap Jafri Sastra seperti dikutip Bola.com. "Melihat hasil evaluasi itu, saya berinisiatif mundur karena saya tak ingin terus membuat Persipura semakin terpuruk."

Dengan skuat yang berisi pemain-pemain juara seperti Persipura, lalu ditambah dengan pelatih juara selevel Jafri Sastra, tentunya impian untuk membentuk tim yang mengerikan cukup masuk akal. Tapi kenyataan berkata lain. Realitas di lapangan berbeda dari harapan dan sepakbola ternyata memiliki logikanya sendiri.

Jauh di pulau seberang, tepatnya di kota Bandung, juga terjadi situasi yang mirip dengan yang terjadi di Jayapura. Dejan Antonic juga memilih untuk mengundurkan diri dari Persib Bandung, setelah tidak bisa mengangkat Maung Bandung dari peringkat 13 klasemen di kompetisi yang sama. Tentu kita semua sudah tahu besarnya nama Persib Bandung, yang juga jawara Liga Indonesia edisi terakhir. Begitupun dengan kualitas Dejan Antonic, pelatih berlisensi UEFA Pro, yang bisa mengangkat Arema atau Pelita Bandung Raya sampai ke level tertinggi sepakbola nasional.

Dua contoh kasus di atas menunjukkan jika ternyata kita tidak bisa sekedar mencampur-adukkan pemain dan pelatih terbaik, lalu otomatis akan menghasilkan sebuah tim juara. Mungkin dulu kita meyakini begitu adanya. Tapi dengan berkembangnya analisa dalam sepakbola dan semakin detailnya kita mengamati permainan setiap tim, ternyata ada syarat penting yang harus dipenuhi terlebih dahulu, sebelum sebuah tim bisa memaksimalkan semua potensi yang dimiliki.

Komponen yang tidak boleh terlewatkan adalah kesamaan pandangan, atau ide, dari setiap personel yang berada di dalam tim, tentang bagaimana mereka melihat sepakbola. Setiap pemain atau pelatih, akan mempunyai subjektifitas mereka masing-masing, tentang bagaimana cara terbaik untuk memainkan si kulit bundar. Jika yang berkumpul di dalam tim tersebut mayoritas memandang sepakbola dengan cara yang sama, di situlah cikal bakal sebuah tim yang nantinya akan bisa berkembang dengan baik.

Bagaimana jika ternyata ada perbedaan yang terlalu besar tentang cara pandang ini? Kalau cuma satu-dua pemain mungkin tidak akan terlalu berpengaruh. Si pemain tersebut mungkin akan pindah klub dalam waktu yang tidak lama. Tapi kalau perbedaan terletak di pelatih, yang juga sebagai pemegang tongkat komando tertinggi, dan dia memiliki ide yang berbeda dengan mayoritas pemain, maka tim tersebut sedang berada di persimpangan ide, yang di sebagian besar kasus akan diikuti oleh performa tim yang negatif.

Ide-ide tentang cara pandang terhadap sepakbola, seperti yang kita diskusikan di atas, di era modern lebih dikenal dengan istilah Playing Style (gaya bermain), biasa juga disebut sebagai ideologi atau filosofi bermain. Playing style merupakan refleksi dari pemaknaan sempit dari masing-masing orang, baik itu pemain, pelatih, manajemen klub, atau penggemar, tentang bagaimana cara bermain sepakbola yang paling benar.

Seperti jika kita melihat perbedaan gaya bermain yang dibawa oleh Jose Mourinho dan Pep Guardiola. Di level klub bisa dicontohkan oleh Barcelona, Real Madrid dan Atletico Madrid. Untuk di tingkatan negara kita bisa melihat jelasnya perbedaan gaya bermain antara Spanyol, Portugal, Brazil ataupun Italia.

Masing-masing dari contoh di atas memiliki gaya permainan spesifik milik mereka sendiri. Mereka memiliki ide yang jelas tentang bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan, yang mereka percayai akan bermuara kepada prestasi. Nyatanya mereka semua memang berprestasi. Mereka mungkin memang tidak bisa menjadi juara di setiap kesempatan. Tapi dengan teguh terhadap playing style yang diyakini, mereka bisa membuat siklus tetap berputar, yang akhirnya selalu bisa membawa kembali naik ke puncak setelah keterpurukan.

Semua contoh kesebelasan di atas melakukan hal yang sama, yaitu melakukan penyempitan definisi dari bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan. Hal ini dilakukan karena memang bisa ada seratus, seribu ataupun sejuta pilihan cara untuk bermain sepakbola yang berbeda-beda. Tapi ternyata banyak opsi tidak selalu positif. Dalam aspek ini, terlalu banyak opsi justru bisa membingungkan.

Bisa membingungkan karena untuk setiap tim ada sebelas kepala di lapangan, ditambah satu pelatih di tepi garis pinggir yang tidak hentinya berteriak, memberikan instruksi. Masing-masing individu ini bisa saja membuat solusi yang berbeda-beda tentang situasi yang berada di dalam pertandingan. Jika hal itu benar-benar terjadi, maka hampir mustahil untuk bisa bermain sebagai satu unit kesatuan.

Pentingnya Memahami Playing Style
"Saya ingin siapapun yang terpilih menjadi pelatih baru Persib, tidak mengubah filosofi permainan yang sudah diterapkan Pak Djajang," ungkap Glen Sugita, Direktur Utama Persib Bandung. Keberhasilan Djajang Nurdjaman membawa Persib menjuarai Liga Indonesia merupakan pencapaian besar setelah mereka berpuasa gelar selama 20 tahun.

Di satu sisi manajemen Persib sudah mulai mengidentifikasi playing style yang cocok untuk mereka. Glen menekankan jika dia menyukai gaya Djanur (panggilan Djajang Nurdjaman) yang bisa membuat Persib bermain menyerang, lebih menekankan terhadap permainan tim daripada individu, serta suasana kekeluargaan yang dibangun di dalam dan di luar lapangan. Kedengarannya cukup lumayan. Tapi di sisi lain, hal ini sekaligus juga mengisyaratkan sebuah identifikasi tentang playing style yang masih cukup lemah.

Di antara lima kandidat pelatih yang disiapkan, akhirnya Dejan Antonic terpilih untuk menahkodai Maung Bandung. Di awal memang pilihan yang sepertinya masuk akal, karena kualitas kedua pelatih ini relatif berimbang. Tapi jika dikembalikan ke niat manajemen untuk meneruskan gaya yang diusung Djanur, Dejan bukanlah sosok yang ideal untuk itu.

Djanur memiliki gaya yang berbeda dengan Dejan. Dua pelatih ini berada di kutub yang berlawanan, filosofi yang bertentangan. Jika Djanur mengusung sepakbola yang attack minded (total menyerang), koleganya asal Serbia tersebut lebih menekankan terhadap keseimbangan dan disiplin. Gaya Djanur bisa memakai sampai dengan delapan pemain ketika menyerang. Sedangkan Dejan akan selalu berhitung dengan jumlah minimal pemain yang harus tetap di belakang untuk mendapatkan keseimbangan.

Dengan lebih banyak mendorong pemain ke depan, Persib milik Djanur terlihat lebih elegan, lebih sabar dan selalu mempunyai banyak opsi ketika menyerang. Hal demikian tidak terulang di era Dejan Antonic. Ketergantungan terhadap kualitas individu menjadi lebih tinggi, terutama untuk pemain sayap, karena ada batasan tertentu agar empat pemain belakang dan dua gelandang tengah jangan sampai berada di posisi yang tidak semestinya, terutama ketika bola terlepas.

Perbedaan dua gaya ini terlalu lebar dan menghasilkan rupa tim yang jauh berbeda. Sayangnya manajemen Persib kurang jeli untuk memahaminya ketika proses memilih pelatih baru. Sementara Dejan sepertinya sudah mencium problem ini sedari awal. Dia mencoba mempercepat proses adaptasi sistemnya dengan pemain-pemain yang sudah ada. Tujuh pemain baru didatangkan, empat diantaraanya merupakan anak asuh lama Dejan, yang sebelumnya sukses menjadi tulang punggung gaya yang dipakai.

Tapi situasi ideal tak kunjung ditemui. Dejan sendiri juga tidak bisa menjamin sampai kapan proses adaptasi akan menuai hasil. Suporter mulai bersuara sumbang, merasa klubnya sedikit demi sedikit mulai kehilangan identitas dan tak juga mendapatkan hasil yang memuaskan. Pelatih berusia 47 tahun tersebut akhirnya memilih mundur karena terlalu besarnya tekanan yang datang dari luar.

Hanya karena perbedaan ide tentang bagaimana cara terbaik untuk bermain, ternyata bisa mengarahkan pihak-pihak yang ada di dalamnya ke situasi yang sangat buruk. Di era sekarang, kecocokan gaya bermain yang sudah dimiliki, dengan pelatih atau pemain baru yang akan direkrut adalah mutlak. Tidak bisa lagi asal comot, layaknya yang selalu dilakukan di kompetisi tarkam.

Melestarikan Playing Style
Semakin jauh kita membicarakan playing style, kita akan semakin paham juga tentang peran pentingnya untuk menjaga sebuah tim agar tidak keliru ketika mengambil keputusan. Playing style akan menjaga sebuah tim agar tetap berada di jalur yang seharusnya. Playing style akan menjadi tembok pembatas dari terlalu banyaknya macam ide yang ada di sepakbola, yang jika salah pilih, begitu mudah membuat kita tersesat tanpa disadari.

"Persipura mempunyai pemain dengan talenta yang hebat. Asal ditangani dan bisa mengeksplorasi potensi mereka dengan cara yang tepat, maka mereka akan muncul ke permukaan," kata Jafri Sastra dalam wawancara dengan Goal Indonesia sesaat setelah dia resmi dikontrak.

Tapi sayangnya niat baik Jafri Sastra tidak kesampaian. Bukan karena pelatih asal Payakumbuh tersebut tidak kompeten. Bukan juga karena pemain-pemain Persipura yang tidak bisa berkembang. Tapi problemnya terletak di gaya bermain yang berbeda yang diusung oleh kedua pihak. Persipura sangat lekat dengan gaya bermain yang selalu dominan dalam hal ball possession. Sedangkan Jafri Sastra sejak di Semen Padang memiliki gaya pertahanan yang rapat dengan transisi serangan balik yang cepat.

Sejak awal Jafri Sastra mencoba membuat Persipura bertahan di posisi yang lebih dalam dan lebih cepat ketika transisi. Tapi cukup mudah terlihat jika pemainnya kurang nyaman dengan ide bermain seperti itu. Sedikit demi sedikit para pemain Persipura kembali ke karakter bermain aslinya, menyerang lebih lambat dengan kecenderungan akan mengurung pertahanan lawan. Sedangkan di pihak lain, yang dilakukan anak asuhnya tersebut justru membuat Jafri Sastra mulai kehilangan kontrol atas cara bermain yang dia inginkan. Bentrokan dua gaya di dalam tim ini justru yang mereduksi performa tim, yang juga berbanding lurus dengan posisi mereka di tangga klasemen.

Ternyata tidak gampang bagi pelatih berusia 51 tahun tersebut untuk menanamkan gaya baru ke Persipura. Mungkin dikarenakan Persipura memang sedang tidak membutuhkan gaya bermain baru. Mungkin mereka cuma sedang sial karena salah pilih pelatih. Sebuah kekeliruan yang tidak disengaja terjadi. Bahkan buat tim yang memang sedang ingin merevolusi gaya bermainnya, proses transformasi yang harus dilalui juga tidak pernah mudah.

Tentunya masih hangat di ingatan niat Bayern Munchen untuk mengadopsi gaya bermain Barcelona, dengan bantuan sang maestro, Pep Guardiola. Setelah tiga musim berlalu, kita bisa bilang rencana klub Bavaria tersebut sukses dan gagal secara bersamaan. Sukses karena mereka bergelimang gelar dengan playing style barunya. Gagal karena produk akhir yang dihasilkan masih juga belum bisa bersanding dengan level Barcelona di kompetisi Eropa.

Kita bisa membuat pemain agar memainkan gaya yang baru, yang tidak biasa mereka mainkan. Dengan memberi waktu agar ide yang baru tersebut bisa dipahami, kita mungkin bisa mulai melihat perubahan yang menjanjikan. Tapi walaupun begitu, seberapa maksimal performa pemain nantinya, masih sangat tergantung dari seberapa besar perbedaan cara bermain yang baru dengan karakter asli yang mereka miliki. Di level tertentu, di pertandingan penting dengan tekanan yang paling tinggi dan situasi menjadi buruk, sangat mungkin pemain menjadi kehilangan ide dan kesulitan mencari solusi berdasarkan gaya main yang baru tersebut.

Gaya bermain akan melekat erat ke masing-masing individu pemain, karena merupakan hasil dari tempaan bertahun-tahun, sejak mereka masih muda. Gaya bermain juga bisa dipengaruhi oleh kultur sepakbola dan kultur sosial yang ada di sekitar lingkungan sang pemain tumbuh. Sangat sulit untuk menanamkan ide bermain yang baru dan berharap potensi maksimal pemain, jika perbedaannya terlalu drastis dengan ide lama yang sudah terbenam di otak mereka.

Berangkat dari tidak adanya jalan pintas untuk menanamkan playing style baru kepada pemain, dibutuhkan mekanisme yang bisa menjamin tercukupinya stok pemain (dan pelatih) potensial, yang nantinya mempunyai karakter yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Dari sini lahirlah ide dari klub untuk membentuk akademi sampai dengan tingakatan usia termuda.

Dengan sistem akademi, setiap pemain muda bisa dijamin akan mendapatkan latihan untuk playing style yang diinginkan sejak dini. Gaya bermain yang diberikan juga bisa konsisten untuk semua tingkatan usia, karena klub memiliki kontrol penuh atas kurikulum yang diajarkan. Pemain-pemain ini yang nantinya akan menjaga identitas klub dan mencegah klub agar tidak keluar dari jalur ketika mengambil setiap keputusan.

Ketika beranjak matang, hasil produk akademi tidak perlu waktu lama untuk menyatu dengan tim senior. Hambatan adaptasi akan selalu minimal, karena kesamaan ide yang sudah dibangun sejak jauh hari. Jika nantinya pensiun sebagai pemain, mereka bisa menjadi pilihan utama jika klub membutuhkan pelatih, baik itu untuk pelatih akademi ataupun pelatih tim senior, yang akan mewariskan playing style milik klub ke generasi yang lebih muda.

Metode akademi ini sudah lama dikenal dan diadopsi oleh banyak negara, karena memang merupakan cara yang paling baik untuk melestarikan filosofi bermain. Dengan cara ini pula klub dan negara elit sepakbola terus menjaga status mereka dan tak tergoyahkan di level yang paling tinggi. Mereka bisa meminimalisir kebingungan yang tidak perlu, dengan konsisten terhadap satu ide bermain yang mereka anggap paling ideal.

Lantas bagaimana dengan klub-klub dan Timnas Indonesia, yang menjaga level yang sudah ada saja terasa berat? Sebenarnya gaya bermain seperti apa yang ingin kita mainkan dan kembangkan, atau kita lestarikan saja tradisi membubarkan tim setiap kompetisi selesai seperti tarkam? Semoga sepakbola kita bisa segera berbenah dan mulai terlepas dari kebingungan yang tak berkesudahan. <>

 

Rochmat Setiawan

Founder www.dribble9.com

Mantan Analis Taktik Mitra Kukar dan Frenz United FC.

Please reload