K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

Kiper Modern dalam Sepakbola Modern*

January 17, 2016

 

*Tulisan ini sebagai pengantar kegiatan “Goalkeeper Advanced Coaching Seminar” yang akan diadakan di GBK - Jakarta, 2-3 Maret 2016. Info lebih lanjut klik di sini.

 

Dalam FIFA Law of the Game, ada satu pemain sepakbola dalam tim yang memiliki kekhususan tersendiri. Ia menggunakan warna baju yang berbeda dan menjadi satu-satunya pemain yang boleh menggunakan tangan di kotak pinalti sendiri. Ya, ia adalah penjaga gawang alias kiper. Ia adalah pemain istimewa yang tentunya juga perlu mendapatkan penanganan istimewa pula.

 

Penanganan istimewa pada kiper diwujudkan dengan keberadaan pelatih kiper yang kemudian menangani latihan khusus kiper. Pada perkembangannya, terjadi suatu pemisahan cukup tegas antara latihan kiper dengan latihan tim. Secara umum, kebanyakan kiper berlatih secara terpisah dengan pelatih kiper. Integrasi kiper ke dalam tim baru terjadi saat game di akhir latihan.

 

Sepakbola terus berkembang. Demi mengikuti perkembangan sepakbola, dibutuhkan suatu metode latihan yang dapat mengakomodir berbagai tuntutan sepakbola modern. Untuk itu penting sebelum menentukan metode dan pola latihan, dilakukan suatu penelaahan terhadap permainan sepakbola itu sendiri. Pada kasus kiper, analisa itu dilakukan dengan cara meneliti apa yang seorang kiper lakukan selama 90 menit dalam pertandingan top level dunia.

 

Aksi Kiper

KickOff! melakukan riset sederhana pada beberapa game top level dunia. Salah satu game yang kami jadikan contoh adalah game Belanda vs Argentina, semifinal Piala Dunia Brasil 2014. Adapun elemen aksi yang dicatat adalah perbandingan aksi attacking dan aksi defending. Lalu perbandingan aksi yang dilakukan kiper dengan kaki dan tangan. Terakhir, waktu antar satu aksi ke aksi lainnya.

 

 

Hasilnya cukup menarik. Jasper Cillesen  melakukan 22 aksi sepanjang babak ke-1. Dari 22 aksi tersebut, 7 dilakukan saat tim tidak menguasai bola (Defending). 10 dilakukan saat tim menguasai bola (Attacking). Sisanya 5 aksi terjadi saat transisi. Romero melakukan 10 aksi. Masing-masing 4 aksi saat bertahan dan menyerang. Lalu sisanya 2 aksi saat transisi. Artinya kerja kiper dalam tiga momen pertandingan yaitu menyerang-bertahan-transisi cukup berimbang.

 

Bagaimana soal perimbangan penggunaan tangan dan kaki dalam pertandingan? Ternyata fakta mengatakan Romero melakukan 5 kali aksi dengan tangan. Juga 5 kali aksi dengan kaki. Sebaliknya, Cillessen lebih banyak melakukan aksi dengan kaki. Sepanjang babak ke-1, ia beraksi dengan tangan sebanyak 10 kali. Sisanya 12 kali, ia beraksi gunakan kakinya. Ini berarti kedua kiper dunia ini menggunakan kaki dan tangan hampir sama banyaknya.

 

Hal menarik lain dari riset sederhana ini adalah ternyata adanya jarak waktu yang sangat lama dari terjadinya satu aksi kiper ke aksi berikutnya. Jarak waktu antar aksi Cillesen paling cepat adalah 14 detik. Sedangkan yang paling lama adalah 10 menit 37 detik. Hal yang mirip terjadi pada Romero. Jarak antar aksi tercepat Romero adalah 12 detik. Sedang yang terlama adalah 10 menit 32 detik. Fakta ini membuktikan bahwa setelah kiper melakukan suatu aksi, ia memiliki waktu istirahat yang amat banyak sebelum kembali melakukan aksi berikutnya.

 

 

Konsekuensi Latihan

Dari riset sederhana, bisa diambil beberapa kesimpulan penting. Pertama, tiga momen penting di sepakbola, yaitu attacking-defending-transition juga terjadi pada kiper. Itulah sebabnya seorang kiper harus secara proporsional mengalami tiga momen sepakbola tersebut dalam latihan. Tidak bisa dipungkiri, umumnya latihan kiper lebih terfokus pada aksi bertahan. Seperti lompat, tangkap, blok, tip dan tinju. Amat jarang kiper berlatih aksi menyerang seperti passing, kontrol atau lempar.

 

Kesimpulan kedua adalah sepakbola modern menuntut seorang kiper untuk sama-sama lihai gunakan kaki dan tangan. Tentunya kembali latihan kiper harus merangsang kiper untuk gunakan tangan dan kaki sama banyaknya. Lagi-lagi, kita harus mengakui bahwa umumnya kepelatihan kiper yang berlaku sekarang masih sedikit sekali mengakomodir penggunaan kaki. Tak heran, banyak kiper di Indonesia selalu gagap saat menerima backpass.

 

Fakta berikutnya adalah jarak waktu antar aksi kiper umumnya sangatlah lama. Langka sekali terjadi dua atau tiga aksi beruntun dalam waktu singkat. Kesimpulannya, untuk seorang kiper kualitas aksi seorang kiper jauh lebih penting dari pada kuantitas aksi. Sebab umumnya setiap aksi kiper dilakukan dalam keadaan segar. Setelah kiper pulih secara total (fully recovered). Untuk itu, latihan kiper juga harus memberi penekanan lebih pada kualitas aksi, ketimbang kuantitas aksi. Bukan rahasia lagi, latihan kiper yang ada masih sering lebih menekankan pada repetisi daripada kualitas aksi!

 

Kesimpulan terakhir adalah kiper modern senantiasa terlibat pada permainan tim. Dalam pertandingan kiper tidak bekerja sendirian, tetapi bersama kawannya. Ini berlaku saat menyerang, bertahan maupun transisi. Untuk itu, kiper juga harus banyak terlibat dalam permainan bersama kawan dalam latihan. Menyesuaikan levelnya, harus ada proporsi lebih banyak untuk latihan kiper yang terintegrasi pada latihan tim. Penting misalnya kiper juga terlibat pada latihan position game atau pressing. Proses komunikasi dan pengambilan keputusan kiper akan terasah dengan sendirinya.

 

Tantangan terbesar adalah wrong mindset alias pola pikir keliru. Pada kasus filosofi latihan kiper, problem mindset ini bisa datang dari pengurus, pelatih kepala, pelatih kiper, bahkan kiper itu sendiri. Mindset keliru itu diantaranya adalah latihan bersama tim bukanlah latihan kiper! Jadi ketika kiper terlibat pada latihan 4v2, meski didampingi oleh pelatih kiper, sering dianggap bukan latihan kiper. Jika ini terjadi, maka selamanya kiper-kiper kita akan sulit memenuhi tuntutan sepakbola modern. Pertanyaannya ialah, “apakah kita mau membiasakan yang benar, atau membenarkan yang biasa?”. Selamat mencetak kiper modern! <>

 

@kickoffid

 

*KickOff! Indonesia menyelenggarakan “Goalkeeper Advanced Coaching Seminar” yang akan diadakan di GBK - Jakarta, 2-3 Maret 2016. Pada seminar tersebut, akan hadir Iwan Setiawan (AFC A License), Jarot Supriadi (GK Coach Bali United) & Jan Saragih (UEFA B Coach) yang akan mengupas kiper modern pada sepakbola modern. Berbagai materi kepelatihan kiper yang terintegrasi dengan tim juga akan dibagi dalam seminar tersebut.

 

Info lebih lanjut klik di sini.

 

 

 

Please reload