KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Merumuskan Kreativitas di Sepakbola (Bagian-2)

April 2, 2017

Tulisan ini merupakan sambungan dari artikel sebelumnya.

 

 

4)Antara TGfU, tactical-periodization, dan kreativitas taktik

 

Dalam pedogogi olahraga, dikenal sebuah konsep pembelajaran yang dinamakan Teaching Games for Understanding (TGfU). Konsep ini ditawarkan oleh David Bunker dan Rod Thorpe (Kirk and McPhail, 2002).

 


Model pertama TGfU
Model pertama ini kemudian direvisi oleh David Kirk and Ann MacPhail sendiri (Kirk and MacPhail, 2002) dengan mempertimbangkan situationed learning, yaitu sebuah teori yang mempelajari bagaimana manusia memeroleh (acquire) ketrampilan dan hubungan antara proses belajar dengan situasi sosial.

 

 


Model revisi TGfU

Pada “bagian akhir” dari model revisi, didapatkan sebuah kondisi Legitimate peripheral participation (LPP), yang menjelaskan bagaimana pelajar/pemain/murid menjadi (lebih) berpengalaman setelah melewati tahap-tahap pelatihan.

 

LPP describes how newcomers become experienced members and eventually old timers of a community of practice or collaborative project (Lave & Wenger, 1991, ).

 

Singkatnya, berdasarkan model di atas dan demi kepentingan penggunaan model TGfU dalam pendidikan jasmani di sekolah, Hari Amirullah Rachman, dalam jurnalnya tahun 2008, menyampaikan 6 komponen utama yang membentuk model pembelajaran TGfU:

  1. Bentuk permainan (game form) menyesuaikan karakteristik dan tahap perkembangan anak didik.

  2. Untuk memunculkan pemahaman anak mengenai permainan yang akan dilakukan, maka diperlukan konseptualisasi nilai-nilai permainan.

  3. Mengembangkan cara berpikir strategis (strategic), berdasarkan poin no. 2.

  4. Membuat keputusan (decision-making) mengenai apa yang harus dilakukan serta bagaimana cara melakukannya (pemahaman taktik).

  5. Pelaksanaan gerak dengan menggunakan teknik-teknik yang telah terpilih (movement execution).

  6. Mengembangkan suatu keterampilan bermain (skill development) yang didukung oleh pemahaman taktik dan pelaksanaan teknik gerak yang baik (mencapai tahap LPP).

 

Konsep TGfU sejalan dengan konsep non-linear pedagogy yang menekankan pentingnya melatih aspek teknis pada anak sekaligus fisik dan interaksi soasial di antara mereka. Pandangan ini sepikiran dengan ide menghadirkan kreativitas dalam permainan (tim), pada umumnya, dan sepakbola, pada khususnya.

 

Dalam sepakbola, aksi-aksi kreatif terdefinisi dalam aksi motorik. Aksi motorik sendiri merupakan representasi pemahaman pemain terhadap taktik dan pengambilan keputusan yang didukung oleh kemampuan teknis (eksekusi) dan fisik.

 

Pendekatan TGfU yang dimulai dari wilayah kognitif kemudian menuju ke wilayah teknis (Kirk and McPhail, 2002) membuat model ini mampu merangkul area kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam satu proses pembelajaran/pelatihan.

 

Dengan model TGfU, seorang trainee/partisipan/murid belajar memahami model dan konsep permainan, mengembangkan pengetahuan deklaratif dan analisis, mengambil keputusan, melakukan eksekusi (prosedural), sampai “akhirnya” menjadi terbiasa, lancar, fleksibel, dan tepat sasaran.

 

Model TGfU memiliki kesamaan kerangka berpikir dengan pemikiran yang memandang sepakbola sebagai sebuah entitas yang dibangun dari empat fakta objektif, yaitu taktik (model permainan), wawasan (pengambilan keputusan), teknik (eksekusi/psikomotorik), dan fisik (daya tahan).

 

Keempatnya sama pentingnya, walaupun, dalam model pemikiran ini sepakbola berangkat dari taktik. Pentingnya mengetahui (dan memahami) adanya kaitan antara TGfU dan 4 fakta objektif dapat membantu Anda untuk memahami tactical-periodization.

 

Model TGfU sangat sejalan dengan apa yang ditawarkan sekaligus menjadi tujuan tertinggi dari tactical-periodization (periodisasi taktik). Kenapa dinamakan periodisasi taktik, karena menurut Prof. Victor Frade, pencetus metode ini, taktik (yang supradimensional) berada pada hirarki paling atas.

 

Dari taktik, semua bermula dan secara holistik merangkul eksekusi teknis, pengambilan keputusan, intensitas konsentrasi, priming, fisik, dan pemulihan - yang sejalan dengan teori-teori incubation (inkubasi) sebagai bagian krusial dari proses menghasilkan solusi kreatif.

 

 

5) Kreativitas taktik dalam olahraga tim

 

Martindale (1981) oleh Memmert 2007.


Semakin seseorang mampu berfokus ke banyak elemen secara simultan, semakin berpotensi dirinya untuk mendapatkan lebih banyak ide kreatif. Sederhananya, semakin seorang pemain sepakbola mampu mengakses dan melibatkan dirinya ke dalam lebih banyak permasalahan serta solusi taktis, semakin tinggi kemungkinan bagi dirinya untuk mendapatkan lebih banyak ide kreatif dan melakukan aksi kreatif ke depannya.

 

Daniel Memert - figur terdepan untuk penelitian di bidang sepakbola - melakukan sebuah tes yang bertujuan untuk mengukur pengaruh attention-broadening program dan narrow-breadth program terhadap breadth of attention dalam grup pelatihan (olahraga tim) anak-anak. Tes yang dilakukan Memert bertujuan untuk melihat pengaruh dua program tersebut terhadap performa kreatif dalam tes dengan dua level kompleksitas berbeda – kompleksitas sederhana dan kompleksitas kompleks.

 

Dalam grup attention-broadening:

  • Pelatih adalah memimpin sesi pelatihan dan menjelaskan ide permainan/latihan dan peraturan latihan.

  • Pelatih tidak memberikan nasihat/instruksi taktik juga tidak memberikan masukan selama sesi latihan. Tujuannya, untuk membiarkan anak untuk mendapatkan sebanyak mungkin stimulus, baik relevan maupun tidak, dalam situasi taktis yang kompleks.

 

Dalam grup narrow-breadth:

  • Pelatih memimpin dan memberikan instruksi taktik yang eksplisit, spesifik, dan penuh dengan koreksi (menurut interpretasi pelatih) untuk setiap reaksi/aksi anak dalam semua tipe dan sesi pelatihan.

 

Para partisipan diberikan pelatihan selama 6 bulan. Tes dilakukan dua kali, yaitu sebelum dan pasca pelatihan. Hasilnya, sesuai hipotesis pra-pelatihan, grup attention-broadening merupakan grup yang mengalami perbaikan signifikan dalam peforma kreatif. Grup attention-broadening mengalami peningkatan sampai ± 51% dan grup narrow-breadth mengalami perbaikan sebanyak ± 7,7 %.

 

Dalam kesimpulannya, Memmert berpendapat kreativitas taktik dapat dikembangkan berdasarkan model-model tertentu. Teori ini, pada gilirannya, bila digabung dengan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Memmert sendiri, membawa Memmert kepada sebuah model – sebuah kerangka kerja - yang kontennya, secara teoritis, dapat digunakan sebagai dasar-dasar untuk mengembangkan kreativitas taktik.

 

Model pengembangan kreativitas taktik

 

 

(Memert, 2011) mengatakan, “…On a micro level, there are three mechanisms that facilitate unexpected and original solutions:

  • By using fewer instructional options to focus attention in team ball sports (inattentional blindness, micro rule 1), and

  • By giving no external attention cues which point out ‘information rich areas’, the attention is not restricted and thereby facilitate creative behavior (micro rule 2);

  • With a large breadth of attention (micro rule 3) unexpected and potentially better alternative solutions can be perceived, used, and hence learned.

 

Micro-level - bisa dilihat dalam bagan di atas - merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas taktik. Sementara macro-level merupakan faktor-faktor yang mendukung kreativitas taktik.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas taktik

 

 Video yang digunakan dalam penelitian Memmert. Menarik, bukan?

 


Inattentinal-blindness merupakan sebuah kondisi, ketika perhatian seseorang difokuskan/diarahkan ke satu titik/aksi, yang akan terjadi adalah, orang tersebut tidak akan menyadari/mendeteksi/melihat unexpected-object - objek yang kemunculannya tidak diduga sebelumnya - walaupun objek tersebut tampil begitu masif di depan mata.

 

Paradigma inattentional-blindness, disadari atau tidak oleh para pelatih dan pemain, memainkan peran penting dalam produksi solusi kreatif. Praktik overload demi mendapatkan kesempatan memainkan umpan orang ketiga merupakan salah satu usaha mengalihkan perhatian lawan dalam menciptakan “pemain bebas” di dalam ruang/area strategis. Mengalihkan perhatian lawan merupakan sebuah usaha untuk memicu inattentional-blindness di tim lawan.

 


Umpan orang ketiga. No. 6 sebagai 3rd man runner. Pertukaran posisional antara 2 dengan 7, lalu pertukaran di antara 8, 10,  dan 6 – yang menjadi orang ketiga – merupakan usaha tim biru untuk mengalihkan perhatian lawan demi mengeksploitasi ruang antarlini tim kuning.

 

Dalam tes yang dilakukan untuk menguji focus of attention (Breadth of Attention, Inattentional Blindness, and Decision Making in Complex Situations in Team Sports) didapatkan kesimpulann,“Players do not find creative tactical solutions if they receive attention-directed instructions, because of their reduced attention focus.” (Memmert 2011). Akibat diberikan  instruksi langsung (eksplisit) yang mengarahkan (attention-directed instruction) fokus partisipan, 45% dari subjek gagal mengidentifikasi rekan setimnya yang berdiri bebas di area strategis. Memmert melanjutkan teorinya dengan mengatakan, “… That means that instructions that give a narrow focus, for example, just mark a player, lead to players not seeing as many creative opportunities as when instructions are less specific”.

 

Bila ditelaah lagi, attention-directed instruction yang dikatakan dalam tes ini, dalam dunia praktis nyata, bisa dikatakan sebagai instruksi “salah” dari pelatih kepada pemain.

 

Breadth of attention. Ini merupakan sebuah istilah yang oleh Memmert didefinisikan sebagai, “…to refer to the number and range of stimuli that a subject attends to at any one time.”(Memmert 2011). Memmertmelakukan tes terhadap 34 pemain (remaja) bola tangan yang dibagi ke dalam dua grup.

  • Dalam grup attention-narrowing (ANG), partisipan menerima dua instruksi eksekusi. Instruksi pertama, kalau bek lawan maju mendekat, lakukan feint (tipuan) sebelum melempar bola ke gawang. Yang kedua, kalau bek lawan tetap pada posisi bertahannya, dekati dan melompatlah untuk melempar bola ke gawang. Hasilnya, 17% partisipan mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan kehadiran rekan setim yang berdiri bebas (free-player) di samping bek lawan.

  • Dalam grup attention-broadening (ABG), semua opsi eksekusi diserahkan kepada partisipan. Instruktur tidak memberikan instruksi spesifik. Targetnya sama, partisipan harus mencetak gol ke gawang. Hasilnya, 83% partisipan mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan kehadiran rekan setim yang berdiri bebas di samping bek lawan.

 

Dengan instruksi yang bersifat narrow-breadth, tidak semua stimulus dan informasi yang dapat memicu solusi kreatif dapat diterima. Sebaliknya, dengan instruksi yang bersifat wide-breadth, respon lebih baik didapatkan ketika partisipan diharapkan mampu mengakses lebih banyak stimulus dan informasi.

 

Salah satu metode yang tepat untuk mempraktikan konsep wide-breadth adalah, berlatih dalam sebuah lingkungan yang game-like situation - seperti pertandingan sesungguhnya - di mana latihan didasarkan pada model-permainan (taktik), dengan kompleksitas (intensitas, luasan, jumlah pemain, dll) yang disederhanakan, peraturan (target) yang tegas, tanpa mengekang pemain melalui instruksi yang dapat membatasi eksekusi, dan pemberian reward (poin) sebagai penanda keberhasilan pemain menyelesaikan setiap target. Pemain dilatih secara implisit untuk mencapai level komunikasi yang diharapkan.

 

Faktor-faktor yang mendukung kreativitas taktik.

Dalam macro-level, didapatkan diversification, deliberate-play, deliberate-practice, dan deliberate-coaching.

 

Memmert melakukan penelitian panjang selama 15 bulan (tes pra-pelatihan dan tes pasca pelatihan) yang hasilnya bisa menjadi pertimbangan dalam menyusun program latihan kepada anak-anak (U7 sampai U14). Dasar teori yang menjadi pegangan penelitian ini, adalah “…

 

Unpublished studies by the second author show that gathering games experience in several different sports games is an ideal medium for the creative development of players. Children still profit from the varied experiences and perceptions of situations in sports games gathered during their childhood” (Baker, Coˆ te´, & Abernethy, 2003 seperti yang disebutkan oleh Memmert 2007).

 

Pengalaman bermain atau berlatih dalam beberapa olahraga yang berbeda merupakan media ideal dalam perkembangan kreatifitas taktik anak-anak (Memmert, 2006). Pengalaman yang beragam memberikan keuntungan banyak bagi anak-anak. Perkembangan kreativitas sangat mungkin terjadi, terutama apabila olahraga-olahraga yang mereka lakukan memiliki kesamaan taktis walaupun eksekusinya (keterampilan motorik) beragam.

 

“In our experience the best novice soccer players are those with experience of field hockey, ice hockey, basketball or other team ball sports, because these players already understand the spatial aspects of soccer. Tactically these games are similar even though the skills used are completely different.” (Griffin et al., 1997, seperti yang disebutkan Memmert 2007).
 

Memmert, bersama Klaus Roth, melakukan tes untuk mempelajari efek dari specific-concept dan non-specific concept terhadap perkembangan kreativitas taktik anak-anak usia 7 tahun. Hasilnya, anak-anak yang dilatih menggunakan specific-concept, memperlihatkan perbaikan signifikan di bidang olahraga yang memang secara spesifik diajarkan dan dikompetisikan untuk mereka (spesifik sepakbola, spesifik hoki es, dan spesifik bola tangan).

 

Sementara, melalui pelatihan non-specific concept, hasil penelitian Memmert dan Roth memperlihatkan bahwa anak-anaka yang mendapatkan pelatihan non-specific sepakbola (60% sepakbola, 20% hoki, 20% bola tangan), tetap mencatatkan perbaikan nilai kreativitas taktik dalam hoki es dan bola tangan. Anak-anak yang mendapatkan pelatihan non-specific hoki es juga mencatatkan perbaikan nilai kreativitas taktik dalam bola tangan.

 

Saat membandingkan antara efek yang ditimbulkan dari pelatihan specific dan non-specific, kedua konsep ini memiliki efek (positif) yang sama terhadap perkembangan kreativitas anak-anak dalam olahraga tim. Hanya saja, dengan konsep pelatihan yang lebih universal, konsep non-specific bisa berefek lebih besar dalam jangka panjang bagi anak-anak.

 

Dalam deliberate-practice, sebuah latihan dipusatkan kepada peraturan/target spesifik dengan struktur yang didesain sedemikian rupa mengacu kepada target. Yang harus digaris bawahi dari paradigma deliberate-practice, adalah

 

“… deliberate environmental influences and organizational conditions benefit the generation of original thinking in sport.” (Memmert, Roth, 2011).

 

Deliberate-play mengacu kepada permainan yang dilakukan tanpa instruksi dan tanpa struktur terencana (more unstructured). Partisipan dibiarkan bermain sesuai keinginan mereka, bebas mengekspresikan kemampuannya (keputusan dan eksekusi). Anda pernah merasa terlibat di dalamnya? Kalau Anda menghubungkan deliberate-play dengan sepakbola jalanan, Anda benar belaka!! Varreland, melalui model motivasinya menegaskan,

 

“… that early deliberate play will have a positive effect on intrinsic motivation over time”. Sebuah teori menarik bagi Anda yang berfokus dalam sepakbola anak-anak.

 

Paradigma deliberate-play, tentu saja, di satu sisi, kontradiktif dengan “aturan main” di sepakbola profesional level senior. Dalam level senior level top, bermain bebas tanpa instruksi tentu saja bukan sesuatu yang direkomendasikan. Ada taktik yang menjadi pemandu dan “pembatas” (constraint). Ini menjadi tantangan bagi pelatih level senior, yaitu menerapkan taktik yang tetap mampu memfasilitasi kreativitas taktik pemain didukung oleh instruksi taktik yang tepat-guna.

 

Untuk deliberate-coaching, Anda bisa membaca ulasannya dalam poin di atas, di bagian breadth of attention - yang termasuk dalam micro-level yang mempengaruhi kreativitas -. Singkatnya, instruksi/masukan yang bersifat wide-breadth lebih berefek positif terhadap kreativitas taktik ketimbang instruksi yang narrow-breadth.

 

Berdasarkan model 3x4 di atas, dapat dikatakan, latihan dengan situasi dan bentuk seperti pertandingan sesungguhnya (game-form training) tanpa instruksi terindikasi lebih efektif. Temuan ini mengarahkan kita pada rekomendasi Tactical Creativity Approach (TCA) 6-d ala Daniel Memmert.

 

6-D TCA ala Daniel Memmert. Dari jurnal Tactical Creativity in Team-Sport, 2014.

 

 

- Bersambung -

 

 

@ryantank100

blogger dan analis taktik sepakbola

Please reload