K! EVENT
Recent Posts

Mengintip Gaya Bermain Shin Tae Yong

Shin Tae Yong menukangi Korea Selatan yang berada satu grup bersama negara kuat seperti Jerman, Meksiko dan Swedia di Piala Dunia 2018. Korea Selatan tampil sebagai kuda hitam yang hanya mampu menduduki peringkat 3 dengan 1 kali kemenangan. Kalah di 2 pertandingan awal melawan Swedia dan Meksiko. Meski hasilnya tidak bagus, namun satu-satunya kemenangan wakil Asia ini justru diperoleh atas Jerman di pertandingan terakhir.

Di pertandingan tersebut Korea Selatan bertahan dengan sangat kompak dan disiplin. Mengandalkan counter attack dari 2 striker dan 2 winger. Di bawah ini adalah analisis ulasan kiprah Shin Tae Yong bersama Korea Selatan di Piala Dunia 2018.

Bangun Serangan dan Fokus Serangan

Kelemahan Korea Selatan ada di proses bangun serangan fase pertama. Seperti di pertandingan melawan Meksiko, jarak antar pemain dan antar lini terlalu jauh. Bola yang dilepaskan centerback terlalu dini. Tidak menunggu lawan untuk menekan terlebih dahulu (attract pressure). Korea Selatan bisa membentuk segitiga umpan (triangle pass) untuk lepas dari pressing pertama Meksiko jika struktur pemain dalam build up tidak terlalu jauh. Juga, centerback harus lebih berani membawa bola untuk memancing lawan melakukan tekanan (press).

Sementara itu, Korea Selatan tidak banyak melakukan bangun serangan dari bawah di pertandingan melawan Jerman. Tercatat hingga menit ke-10 melakukan 2x build up dari bawah dan gagal. Shin Tae Yong melakukan build up dengan pemain sayap yang start tinggi (di gambar bawah sampai tidak terlihat). Situasi di bawah, bek sayap sudah terkunci. Opsi umpannya masing-masing sudah dijaga (umpan ke belakang dan tengah). Opsi yang ada dan aman hanya ke depan di mana pemain sayap sudah naik dan umpan dari bek sayap ini kemudian berhasil dipotong pemain Jerman. Terbaca.

Situasi ini bisa dihindari jika pemain belakang rajin melakukan sirkulasi untuk menemukan pemain kosong di sisi lain ball side. Switch play dibutuhkan dengan mensirkulasikan bola ke arah serangan sisi yang berlawanan dengan ball side. Memaksa lawan untuk bergerak ke kiri dan ke kanan. Untuk melakukan ini dibutuhkan centerback yang berani membawa bola (ball playing defender) atau kemampuan fullback dalam melakukan perpindahan arah serangan dengan long pass (tapi ini terlalu beresiko).

Di pertandingan lain saat Korsel bermain lebih menyerang (vs Swedia) bisa dianalisis dan diberi kesimpulan bahwa start pemain sayap yang tinggi ini untuk memberikan lisensi menyerang kepada fullback. Daerah flank akan disisir bek sayap sementara pemain sayap bisa masuk ke dalam (cut inside).

Cara Bertahan/Off The Ball

Shin Tae Yong menggunakan formasi 4-4-2 dengan kombinasi blok tinggi dan medium. Blok tinggi diterapkan di babak pertama terutama ketika bola masih berada di fase pertama bangun serangan lawan (goal kick, dari kiper ke bek atau saat bola berada di bek/lini terakhir). Lalu akan mundur dengan blok medium/sedang saat lawan berhasil melewati pressing pertama yang dilakukan 2 striker Korsel. Waktu melawan Jerman, di babak kedua menurunkan blok pertahanannya menjadi medium dan rendah. Ini adalah pendekatan Shin Tae Yong ketika hendak bermain bertahan mengandalkan counter attack.

Hal yang paling terlihat menonjol adalah jarak antar lini belakang dan tengah yang cukup lebar saat melakukan pressing tinggi. Ini adalah imbas dari agresifnya 2 blok di depan (striker dan tengah) saat melakukan pressing. Hal ini berarti Shin Tae Yong lebih fokus mempertahankan ruang di belakang bek daripada di depannya.

2 blok di depan ini akan bergerak mengikuti arah bola dan membiarkan sisi tanpa bola kosong. Kompensasinya ketika lawan bisa melakukan switch play/mengubah arah serangan, maka akan terjadi disorganisasi. Pemain akan melakukan reorganisasi pertahanan dengan cepat sehingga membutuhkan fisik yang prima. Jarak antar lini ini akan menyempit jika lawan berhasil masuk ke setengah lapangan atau mendekati 1/3 akhir pertahanan Korea Selatan.

Korea Selatan menggunakan 2 pemain sebagai penekan/presser di depan (Son Heung Min dan Koo). Di belakangnya ada blok terdiri dari 4 pemain yang cenderung bertahan smart zonal pressing (kombinasi zonal dan man oriented) dan akan melakukan press/menekan bergantung terhadap pemicunya (pressing trigger).