KickOff! Indonesia (c) 2014

Pamulang Permai Y-19, Jl. Witanaharja Raya | T/F: 62-21-7440126 | info@kickoffindonesia.com

  • Facebook - Black Circle
  • Twitter - Black Circle
  • Instagram - Black Circle
  • YouTube - Black Circle
K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Mengintip Gaya Bermain Shin Tae Yong

January 14, 2020

Shin Tae Yong menukangi Korea Selatan yang berada satu grup bersama negara kuat seperti Jerman, Meksiko dan Swedia di Piala Dunia 2018. Korea Selatan tampil sebagai kuda hitam yang hanya mampu menduduki peringkat 3 dengan 1 kali kemenangan. Kalah di 2 pertandingan awal melawan Swedia dan Meksiko. Meski hasilnya tidak bagus, namun satu-satunya kemenangan wakil Asia ini justru diperoleh atas Jerman di pertandingan terakhir.

Di pertandingan tersebut Korea Selatan bertahan dengan sangat kompak dan disiplin. Mengandalkan counter attack dari 2 striker dan 2 winger. Di bawah ini adalah analisis ulasan kiprah Shin Tae Yong bersama Korea Selatan di Piala Dunia 2018.

Bangun Serangan dan Fokus Serangan

 


Kelemahan Korea Selatan ada di proses bangun serangan fase pertama. Seperti di pertandingan melawan Meksiko, jarak antar pemain dan antar lini terlalu jauh. Bola yang dilepaskan centerback terlalu dini. Tidak menunggu lawan untuk menekan terlebih dahulu (attract pressure). Korea Selatan bisa membentuk segitiga umpan (triangle pass) untuk lepas dari pressing pertama Meksiko jika struktur pemain dalam build up tidak terlalu jauh. Juga, centerback harus lebih berani membawa bola untuk memancing lawan melakukan tekanan (press).

 

 

Sementara itu, Korea Selatan tidak banyak melakukan bangun serangan dari bawah di pertandingan melawan Jerman. Tercatat hingga menit ke-10 melakukan 2x build up dari bawah dan gagal. Shin Tae Yong melakukan build up dengan pemain sayap yang start tinggi (di gambar bawah sampai tidak terlihat). Situasi di bawah, bek sayap sudah terkunci. Opsi umpannya masing-masing sudah dijaga (umpan ke belakang dan tengah). Opsi yang ada dan aman hanya ke depan di mana pemain sayap sudah naik dan umpan dari bek sayap ini kemudian berhasil dipotong pemain Jerman. Terbaca.

 

 

Situasi ini bisa dihindari jika pemain belakang rajin melakukan sirkulasi untuk menemukan pemain kosong di sisi lain ball side. Switch play dibutuhkan dengan mensirkulasikan bola ke arah serangan sisi yang berlawanan dengan ball side. Memaksa lawan untuk bergerak ke kiri dan ke kanan. Untuk melakukan ini dibutuhkan centerback yang berani membawa bola (ball playing defender) atau kemampuan fullback dalam melakukan perpindahan arah serangan dengan long pass (tapi ini terlalu beresiko).

Di pertandingan lain saat Korsel bermain lebih menyerang (vs Swedia) bisa dianalisis dan diberi kesimpulan bahwa start pemain sayap yang tinggi ini untuk memberikan lisensi menyerang kepada fullback. Daerah flank akan disisir bek sayap sementara pemain sayap bisa masuk ke dalam (cut inside).

 

Cara Bertahan/Off The Ball

Shin Tae Yong menggunakan formasi 4-4-2 dengan kombinasi blok tinggi dan medium. Blok tinggi diterapkan di babak pertama terutama ketika bola masih berada di fase pertama bangun serangan lawan (goal kick, dari kiper ke bek atau saat bola berada di bek/lini terakhir). Lalu akan mundur dengan blok medium/sedang saat lawan berhasil melewati pressing pertama yang dilakukan 2 striker Korsel. Waktu melawan Jerman, di babak kedua menurunkan blok pertahanannya menjadi medium dan rendah. Ini adalah pendekatan Shin Tae Yong ketika hendak bermain bertahan mengandalkan counter attack.

 

Hal yang paling terlihat menonjol adalah jarak antar lini belakang dan tengah yang cukup lebar saat melakukan pressing tinggi. Ini adalah imbas dari agresifnya 2 blok di depan (striker dan tengah) saat melakukan pressing. Hal ini berarti Shin Tae Yong lebih fokus mempertahankan ruang di belakang bek daripada di depannya.

 

2 blok di depan ini akan bergerak mengikuti arah bola dan membiarkan sisi tanpa bola kosong. Kompensasinya ketika lawan bisa melakukan switch play/mengubah arah serangan, maka akan terjadi disorganisasi. Pemain akan melakukan reorganisasi pertahanan dengan cepat sehingga membutuhkan fisik yang prima. Jarak antar lini ini akan menyempit jika lawan berhasil masuk ke setengah lapangan atau mendekati 1/3 akhir pertahanan Korea Selatan.

 

 

Korea Selatan menggunakan 2 pemain sebagai penekan/presser di depan (Son Heung Min dan Koo). Di belakangnya ada blok terdiri dari 4 pemain yang cenderung bertahan smart zonal pressing (kombinasi zonal dan man oriented) dan akan melakukan press/menekan bergantung terhadap pemicunya (pressing trigger).

 

 

Pressing trigger yang terjadi di antaranya: bola berada di area flank, lawan tidak siap/aware terhadap sekitar saat menerima bola. Jadi, pemain akan membaca arah umpan dan targetnya. Saat umpan diluncurkan, pemain bertahan sudah siap untuk menekan penerima umpan. Pemain bertahan mengincar umpan yang terlalu lemah atau control bola tidak maksimal dari penerima bola. Pemicu ini sering dimanfaatkan presser Korsel yang secara agresif mengganggu penerima bola bahkan dengan melakukan pelanggaran.

 

 

 

 

Transisi ke Menyerang

Di pertandingan melawan Jerman, transisi ke menyerang dilakukan secara direct. Begitu bola berhasil didapatkan, serangan balik dilakukan dengan cepat langsung ke kotak penalty lawan. Terlihat di babak kedua, serangan balik ini hanya dilakukan oleh 4 pemain saja: 2 striker dan 2 winger.

 

 

Sementara no. 6 dan no. 8 atau pemain tengah tetap di belakang bersama 4 bek sehingga ketika transisi ke bertahan masih ada 6 pemain di belakang.

 

 

Catatan penting dalam melakukan serangan balik ini adalah bola cenderung datar, baik untuk umpan pendek atau jauh dan dilakukan dengan cepat. Serangan balik juga dikombinasikan dengan kemampuan individu untuk melakukan penetrasi 1 v 1 yang juga jadi keunggulan pemain Korea Selatan selain kecepatan.

 

Set Piece – Corner

Menghadapi set piece corner yang bisa mengeksploitasi kekurangan pemain Korea Selatan dari segi postur, Shin Tae Yong menggunakan pendekatan zonal marking untuk mengantisipanya. 4 pemain berada di antara garis 6 yard box. 2 pemain bertahan near post/dekat gawang. 1 bertugas untuk menghalau bola flick on/dipantulkan ke belakang dan 1 pemain yang bertahan khusus di bawah mistar. 3 pemain akan melakukan man marking guna menghambat atau melakukan blok ke pemain yang lari dari belakang/running from deep.

 

Dengan struktur zonal marking seperti ini, pemain Korsel menutup hampir semua ruang di 6 yard box yang rawan dimanfaatkan lawan. Bola di luar 6 yard box cenderung mudah diantisipasi karena berjarak lebih jauh dari bola yang berada di dalam box.

 

 

Kesimpulan

Ada beberapa poin plus dari Shin Tae Yong terutama untuk urusan pertahanan. Korea Selatan membuktikan bahwa kekurangan postur dapat ditutupi dengan system bertahan yang lebih terstruktur. Salah satunya dalam menghadapi set piece menggunakan zonal marking.

 

Shin Tae Yong juga menerapkan system pertahanan smart zonal pressing seperti yang digaungkan di filanesia dengan baik di pertandingan melawan Jerman. Pemain paham terhadap trigger-trigger atau pemicu-pemicu dalam melakukan pressing. Ada mekanisme untuk disturbing. Ada shadow cover. Hal ini bisa dijadikan model untuk pemain Timnas dalam bertahan.

 

Kekurangan Shin Tae Yong ada di build up dari bawah yang terlihat shaky. Build up ini ketika berhasil melewati fase pertama, relatif lancar di fase kedua. Fase di mana bola dimainkan oleh gelandang dan penyerang. Kekurangan ini bisa diatasi dengan membiasakan, melatih atau mencari bek yang tidak hanya mampu bertahan, namun mampu juga terlibat dalam bangun serangan. Bek harus nyaman dengan bola untuk attract pressure lawan dan mempunyai akurasi umpan yang baik.

 

 

Wendi Faiz

@sundaybedranger

Analis taktik penyerangruang.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

Please reload