K! EVENT

Workshop Kepelatihan "Bangun Serangan dari Bawah" | Malang, 30-31/12

1/2
Please reload

Recent Posts

September 11, 2019

Please reload

Mendalami Latihan Eksplisit vs Latihan Implisit

April 15, 2020

*Tulisan ini berhubungan dengan artikel “Berkenalan dengan Ragam Metode Latihan”

 

 

Di artikel KickOff! sebelumnya, pembaca telah diperkenalkan dengan Ragam Metode Latihan. Yakni Explicit Coaching dan Implicit Coaching. Explicit coaching adalah metode melatih dimana seorang pelatih secara aktif memberikan referensi kepada pemainnya lewat instruksi verbal. Sedangkan implicit coaching adalah metode melatih pasif dimana seorang pelatih menciptakan situasi yang merangsang pemain untuk berpikir, menemukan solusi terhadap situasi yang dihadapi.

 

Di artikel kali ini, penulis ingin mengulas tentang Explicit Exercise dan Implicit Exercise. Suatu penggunaan prinsip yang sama, tetapi pada konteks desain latihan. Explicit Exercise adalah suatu desain bentuk latihan yang secara kongkret menempatkan pemain (kita vs lawan) pada situasi sebenarnya dalam permainan 11v11. Sifat latihan menjadi spesifik, berbasis konteks formasi dan posisi.

 

Sedangkan implicit exercise adalah suatu desain bentuk latihan yang hanya mengambil intisari konsep dari permainan 11v11 tanpa harus menempatkan pemain pada situasi sebenarnya. Konsekuensinya, implicit exercise bersifat general dan berbasis konseptual permainan sepakbola secara umum.

 

Pada aplikasinya, satu hal sederhana yang dapat membedakan keduanya adalah penggunaan nomor posisi dalam desain latihan. Explicit exercise biasanya menggunakan nomor posisi untuk secara explicit menerangkan pada pemain, bahwa bentuk latihan berbasis formasi dan posisi. Sedangkan implicit exercise tidak menggunakan nomor posisi, sebab memang bentuk latihannya tidak mementingkan formasi dan posisi, tetapi lebih pada penguasaan konsep permainan.

 

 

Strategi Metodologis Explicit Exercise

Langkah metodologis yang harus dilakukan dalam membuat Explicit Exercise adalah memotret struktur dan fungsi riil dari konteks Game 11v11. Mengingat permainan sepakbola adalah interaksi antara kita dan lawan, maka pelatih harus memotret struktur vs struktur dan fungsi vs fungsi.

 

Pengertian struktur adalah formasi bermain yang dipakai oleh tim kita dan lawan. Sebagai contoh, tim kita dan lawan sama-sama gunakan struktur 1-4-3-3. Terjadilah tumbukan struktur 1-4-3-3 vs 1-4-3-3. Berangkat dari analisa struktur tersebut, pelatih dapat membuat latihan explicit position game dengan topik build up konstruktif seperti di bawah ini.

 

 

Bisa dilihat pada gambar, latihan explicit position game di atas merupakan potret atau potongan dari situasi tumbukan struktur 1-4-3-3 vs 1-4-3-3. Dimana pelatih kemudian menyederhanakan dengan kurangi jumlah pemain dengan hanya libatkan pemain yang terkait dengan topik build up kontruktif.

 

Selain struktur, hal lain yang perlu dianalisa adalah fungsi. Pengertian fungsi adalah tugas spesifik tiap pemain di dalam struktur tersebut. Sebab struktur yang sama, tidak selalu diikuti oleh fungsi yang sama. 1-4-3-3 Tim A bisa saja berbeda fungsinya dengan 1-4-3-3 Tim B. Misal Tim A, fungsi pemain #7/11 dalam defending adalah kembali sejajar dengan #8/10. Sedangkan tim B, fungsi pemain #7/11 dalam defending adalah sejajar dengan #9.

 

Analisa tentang fungsi ini harus diinformasikan ke pemain secara mendetail. Misal dalam latihan 5 (+3) v 5 pada gambar di atas, tim defending harus mempraktekkan fungsi sesuai cara mainnya. Sehingga pemain betul-betul dapatkan simulasi pertandingan akurat. Kesimpulannya tingkat sukses desain latihan eksplisit sangat ditentukan oleh kemampuan analisa pelatih dalam memotret struktur dan fungsi.

 

 

Strategi Metodologis Implicit Exercise
Jika explicit exercise ajarkan konteks 11v11, latihan implicit exercise bertujuan untuk ajarkan konsep. Sifat konsep ini universal dan tidak lekang oleh formasi dan posisi yang dimainkan. Misal saat menyerang, terdapat konsep lebar-panjang-koneksi, juga sirkulasi horizontal, progresi vertical ke antar lini atau belakang lini. Sebaliknya saat bertahan, terdapat konsep sempit-pendek-koneksi, juga pergeseran, marking-cover.

 

Desain implicit exercise harus benar-benar menempatkan bentuk latihan tersebut sebagai alat utama pelatih untuk mengajar. Itu sebabnya di metodologi sepakbola modern kini popular istilah “let the exercise be the teacher”. Ekstrimnya, desain bentuk latihan harus sebisa mungkin meminimalisir peran aktif pelatih dalam pelaksaan sesi latihan. Pertanyaannya, bagaimana caranya?  

 

Ada 6 alat yang dapat digunakan pelatih saat mendesain bentuk latihan implisit. Keenam alat ini dapat dikombinasikan satu sama lain untuk memastikan terjadinya proses belajar yang optimal pada pelaksanaan bentuk latihan tersebut. Alat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

 

 

1/ Grid Shape

Bentuk grid latihan memiliki efek terhadap perilaku yang akan dibuat pemain. Pada diagram di atas, bentuk latihan yang sama akan memiliki efek berbeda ketika dimainkan di bentuk grid berbeda. Pada diagram L1, pemain merah dengan bola berada dalam 1 garis vertical yang sama. Akibatnya 1 pemain hijau dapat mudah menjaga 2 pemain sekaligus.

 

Di diagram L2, situasi berubah karena bentuk grid merangsang pemain untuk tidak berdiri dalam 1 garis vertical. Melainkan membentuk opsi diagonal untuk menyulitkan pemain hijau. Tanpa sadar bentuk grid mengajar pemain soal body position membentuk sudut, juga merangsang pemain memiliki body shape terbuka dengan pandangan lebih optimal.

 

Bentuk grid diagram L3 memberikan rangsangan lainnya. Tim merah praktis tidak punya opsi untuk melakukan progresi vertical dari samping. Tim merah harus mencari cara untuk melakukan progresi vertical dari tengah. Atau progresi dari samping dengan menggunakan diagonal passing serta dribbling.

 

 

2/ Gawang

Jumlah, letak dan arah memasukkan Gawang menjadi strategi terpenting dalam desain latihan implisit. Pada diagram G1, jumlah 1 gawang akan rangsang tim merah compact di tengah pada saat bertahan. Sedang tim hijau akan terangsang untuk lakukan kombinasi dan penetrasi dribbling di area sempit saat menyerang.

 

Sebaliknya, saat tim hijau bertahan, 3 gawang merangsang untuk mereka cepat lakukan pergeseran dan cegah lawan pindah arah. Tim merah akan berusaha menyerang dengan banyak lakukan sirkulasi horizontal sebelum progresi vertical. Manfaatkan ruang di sisi lapangan yang berlawanan.

 

Pada diagram G2, letak gawang diagonal di pinggir merangsang pemain tim merah untuk ambil kelebaran. Sebab tanpa kelebaran, tim yang kuasai bola tidak akan mudah mencetak gol. Di sisi lain letak gawang merangsang tim yang kuasai bola untuk menjaga panjang lapangan. Lagi-lagi, apabila pemain berusaha mendekat ke bola, maka mereka akan kesulitan untuk cetak gol.

 

Arah cetak gol juga bisa memberikan rangsangan yang beragam. Pada diagram G2, jika dibuat aturan tidak boleh cetak gol ke arah sama berturutan, maka itu akan merangsang tim dengan bola untuk memprogresi bola ke ruangan yang lain. Sebaliknya jika tim diperbolehkan untuk cetak gol ke arah sama berturutan, maka itu merangsang untuk tim yang tidak kuasai bola untuk lakukan backward pressing, setelah lawan bisa lakukan progresi.

 

 

3/ Zonasi

Strategi zonasi juga dapat menjadi pembeda pada desain implicit exercise. Pada diagram Z1, dibuat latihan implisit 7v4 tanpa strategi zonasi. Untuk pemain pemula dengan pemahaman konsep terbatas, sangat mungkin pemain tidak aplikasikan konsep panjang-lebar-koneksi. Sehingga pelatih harus berikan banyak instruksi eksplisit. Pada akhirnya visi “let the exercise be the teacher” sulit tercapai dengan desain Z1.

 

Pada diagram Z2, dibuatlah strategi zonasi yang misalnya haruskan setiap zona diisi minimal 1 orang dari tim merah. Strategi zonasi ini akan rangsang tim yang kuasai bola untuk tanpa sadar aplikasi konsep panjang-lebar-koneksi. Secara posisional, zonasi juga tingkatkan pemahaman pemain terhadap ruang. Untuk tim hijau, zonasi ini juga bermanfaat untuk merangsang konsep zonal defending.

 

 

4/ Pemain Netral

 Jumlah dan lokasi pemain netral merupakan strategi penting dalam desain implisit exercise. Dari segi jumlah, semakin banyak pemain netral akan semakin mempermudah tim yang menguasai bola. Sebaliknya tim yang tidak kuasai bola, makin banyak pemain netral, merangsang pemain untuk aplikasikan zonal defending. Sebab situasi kalah jumlah akan sulit direspon dengan penjagaan berbasis man to man.

 

Lokasi pemain netral juga memberikan rangsangan yang berbeda. Pada diagram N1, pemain netral ada di tengah dah di kedalaman. Desain ini merangsang tim pegang bola untuk variatif bermain ke antar lini maupun ke belakang lini.

 

Sedangkan di diagram N2, sulit untuk terjadi permainan lewat antar lini. Tim dengan bola dirangsang untuk banyak bermain direct ke belakang lini. Desain N2 juga merangsang pemain untuk banyak bergerak melepaskan diri dari marking.

Desain N3 adalah kebalikannya. Dengan adanya 2 orang lebih di tengah, tim yang kuasai bola akan terangsang untuk banyak bermain ke ruang antar lini.

 

 

5/ Reverse Coaching

Strategi lain yang bisa digunakan adalah reverse coaching. Yaitu mengatur perilaku lawan secara eksplisit dengan tujuan tim yang ingin dilatih mendapatkan kasus yang spesifik dan terangsang untuk menemukan solusinya. Apabila pelatih ingin melatih tim menyerang, maka pelatih akan atur perilaku tim bertahan. Sebaliknya, jika pelatih ingin melatih tim bertahan, maka ia akan atur perilaku tim menyerang.

 

Pada diagram di atas, ada perbedaan pada perilaku pressing tim yang bertahan. Di Diagram P1, tim bertahan diminta untuk lakukan pressing dengan struktur 2-2. Sedangkan di P2, tim bertahan diminta lakukan pressing dengan struktur 1-3.

 

Perilaku tim bertahan ini merangsang tim dengan bola merespon dengan cara berbeda. Di P1, tim merah akan cenderung progresi melalui pemain di ruang antar lini. Pada P2, tim merah akan cenderung lebih cepat untuk progresi vertical ke belakang lini, mengingat di depan banyak ruang kosong.

 

 

6/ Aturan Lain

Ada banyak strategi lain yang bisa dipakai untuk mendesain implicit exercise. Seperti jumlah sentuhan, misal harus 1 sentuhan, harus 2 sentuhan, maksimal 2 sentuhan, dll. Ada juga aturan jumlah passing. Misal jumlah passing minimal atau maksimal di suatu zona, dst.

 

Pada diagram di atas, dibuat aturan khusus. Tim hijau bermain 2v1 untuk cepat cetak gol. Pemain yang lakukan finishing, apapun hasilnya harus berlari untuk memegang tiang gawang. Pada saat finishing terjadi, 2 orang tim merah masuk untuk kembali cepat cetak gol. Aturan ini menciptakan situasi 2v1 sementara. Pemain akan terangsang untuk cepat finishing. Sebab jika lambat, pemain yang pegang tiang akan kembali dan situasi 2v1 menjadi 2v2.

 

 

Kombinasi dan Optimalkan!

Ketika coba membandingkan explicit exercise dan implicit exercise, seringkali muncul pertanyaan. Manakah desain exercise yang lebih efektif untuk pengembangan pemain dan tim? Jawabannya sederhana. Keduanya! Explicit dan implicit exercise bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya adalah alat yang dapat dan harus dipakai pelatih sesuai dengan tuntutan kondisi dan kebutuhan.

 

Kedua model exercise ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Model explicit exercise akan lebih cepat diterima dan mudah dipahami, karena menyajikan situasi spesifik yang secara langsung sama dengan struktur dan fungsi dalam Game 11v11. Kelemahannya, model rigid ini akan membuat pemain mengarah ke hafalan tanpa pemahaman konsep solid. Padahal struktur fungsi permainan sepakbola bersifat dinamis kompleks. Akibatnya model latihan eksplisit akan menyulitkan pemain untuk merespon perubahan situasi dan tekanan pertandingan.

 

Model implicit exercise focus pada pengajaran konsep yang universal. Model ini lebih lekang terhadap perubahan situasi dan tekanan pertandingan. Hanya saja, efek latihan model implicit exercise pada permainan 11v11 baru akan terjadi dalam waktu yang panjang. Di samping itu, model ini sangat kontraproduktif apabila pelatih tidak cukup kreatif dalam mengatur bentuk grid, zonasi, gawang, pemain netral, perilaku lawan dan aturan.

 

Solusi terbaik adalah mengkombinasikan kedua model untuk mendapatkan efek latihan yang positif. Di satu sisi penting pemain menguasai konsep, tetapi penting pula pemain juga menguasai konteks permainan 11v11. Kombinasi kedua model akan memperdekat gap antara latihan dan pertandingan. Kedua model akan saling menguatkan selama pelatih dapat menerapkan strategi metodologis secara sistematis. Kombinasikan dan Raih Hasil Optimal!

@ganeshaputera

@novalaziz

 

 

*Saksikan K! Webinar yang menjelaskan artikel ini lebih detail: 

 

 

Please reload