K! EVENT

Developing Smart Players using Ekkono Method | Zoom, 09.09.2020

1/2
Please reload

Recent Posts
Please reload

[Founder's Diary] Menengok Pabrik Pelatih Jerman

August 16, 2020

"Pabrik pelatih sepakbola Jerman beroperasi secanggih pabrik mobilnya yang kesohor. Menggabungkan tradisi dan inovasi."

 

Kemenangan Bayern Munchen atas FC Barcelona di Liga Champions dengan skor fenomenal 8-2, menandai adidaya pelatih Jerman di kancah sepakbola top level dunia. Bayangkan, 3 pelatih dari 4 klub semifinalis berasal dari Jerman. Hansi Flick (Munchen), Thomas Tuchel (PSG) dan Julian Nagelsmann (RB Leipzig) adalah produk pabrik pelatih German School. 

 

Pendidikan Kepelatihan DFB Jerman memang terkenal jempolan. Sama seperti kehebatan pabrik mobil Mercedes, BMW atau Volkswagen. Model pendidikan DFB selalu menggabungkan tradisi dan inovasi. Tradisi sepakbola kental menopang sistim jenjang karier pelatih bagi siapapun. Sedang inovasi dilakukan pada metode dan metodologi kepelatihannya. 

 

Kesempatan

Tradisi sepakbola untuk semua, memastikan kesempatan bagi siapapun pelatih dari berbagai latar belakang. Julian Nagelsmann adalah salah satunya. Cedera lutut menutup karir centerback elegan ini di usia 20. Tak pernah bermain di profesional, Nagelsmann  memulai karier sebagai pelatih di Akademi Ausburg. Ia juga membantu jadi analis bagi Thomas Tuchel.

 

Ia hanya perlu 8 tahun untuk menjadi pelatih Bundesliga termuda bersama Hoffenheim di usia 28 tahun. Karirnya sangat mengkilap. Setelah di musim pertama menyelamatkan Hoffenheim dari degradasi, di musim berikutnya langsung moncer. Ia sukses finish di 4 besar Bundesliga yang berujung pada tiket Liga Champions pertama kali sepanjang sejarah klub.

 

 

Salah satu inovasinya yang jadi buah bibir adalah memasang Layar Raksasa di Pusat Latihan. Tujuannya adalah Nagelsmann dapat melakukan koreksi dari rekaman latihan secara real time. Dahsyat! 4 tahun kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan mentornya Thomas Tuchel di semifinal Liga Champions. Perjalanan singkat dari seorang mantan pesepakbola gagal menuju pelatih elite top Eropa.

 

Kawah Candradimuka

Di belakang sukses besar para pelatih Jerman itu adalah Hennes-Weisweiler Akademie. Sekolah pelatih level tertinggi untuk mendapatkan gelar bergengsi  Fussball Lehrer (Guru Besar Sepakbola). Banyak pelatih top dihasilkan Akademie ini, tapi banyak juga yang gagal. Akademie ini terkenal susah masuk dan susah keluar.

 

Setiap tahun, Hennes-Weisweiler hanya menerima 24 siswa terbaik dari ratusan pelamar. Lisensi UEFA A menjadi persyaratan wajib, tapi bukan satu-satunya. Kandidat harus membuat paper sepakbola untuk menunjukkan kualitasnya. Setelah paper memenuhi syarat, pelatih harus menjalani 3 tahapan tes.

 

Pertama, tes tertulis dengan soal materi coaching maupun sports science. Lalu, kandidat harus melakukan tes praktek yang diawali presentasi. Kandidat diberi kasus dari Laporan Analisa riil misal membuat sesi pressing untuk menghadapi lawan yang bermain dengan 1-3-5-2. Presentasi meliputi Game Plan dan Training Plannya, diakhiri praktek di lapangan. 

 

Menariknya, Hennes-Weisweiler melihat jam terbang melatih kandidat tanpa memandang levelnya. Buat mereka, kelas yang ideal harus terdiri dari berbagai latar belakang. Setiap angkatannya, ada kandidat berlatar belakang pelatih pro, pelatih amatir, sport scientist dan tentunya mantan pemain pro. Tak heran misalnya Roger Schmidt yang merupakan "tukang listrik" bisa terpilih ke Akademi ini. 

 

Saat tulisan ini mendekati akhir, pasti pembaca menunggu hubungan bagian di atas dengan sepakbola Indonesia. Seperti biasanya, pembaca menginginkan kesimpulan terkait inspirasi apa yang bisa diambil dari Hennes-Weisweiler Akademie? Tapi di hari kemerdekaan ini, saya ingin memberi kemerdekaan bagi pembaca. Kemerdekaan untuk bebas menyimpulkan sendiri bagian tulisan di atas. Selamat HUT RI ke-75. Merdeka!!

 

 

Ganesha Putera
Founder KickOff! Indonesia 

 

*Per Senin, 3 Agustus 2020, KickOff! sajikan rubrik baru bertajuk "Founder's Diary". Namanya juga diary, maka ya harus terbit setiap hari. Ya, ini semacam rangsangan berkomitmen untuk menulis setiap hari. Sebuah kebiasaan baik di masa lampau yang kini mulai pudar.  Dukung usaha pelestarian kebiasaan baik ini dengan membacanya setiap hari! Selamat menikmati! 

 


 

Please reload